Suling Maut

Suling Maut
Mendiskusikan Bukti yang Didapat


__ADS_3

Keadaan Bukit Merak berjalan dengan wajar, seperti ketika Cheng Sam belum mengkhianati mereka. Banyak pemuda dan pemudi berdatangan untuk menjadi anggota Bukit Merak.


Kepulangan Tuan Chang dan Fei Yu ke Bukit Merak disambut dengan gembira oleh para anggota lama yang kewalahan karena harus mengurusi dan memberi petunjuk pada para anggota baru. Tuan Chang sendiri kaget dan tidak menyangka bahwa banyak sekali yang berminat menjadi anggota Bukit Merak setelah ia mengumumkan bahwa Bukit Merak menerima anggota baru.


Pendekar Sung sudah kembali ke Kota Lok Yang dan Siu Hung masih ada di Lembah Nada. Hal ini membuat Fei Yu sedikit kesepian dan menyibukkan diri dengan melatih para anggota baru.


Tuan Chang puas melihat putranya yang semakin lama semakin menampakkan jiwa kepemimpinannya. Ia semakin bangga akan Fei Yu. Diam-diam ia mempunyai rencana untuk putranya itu.


Usia Fei Yu sudah cukup dewasa. Sudah waktunya ia mempunyai pendamping. Maka Tuan Chang diam-diam memikirkan nama beberapa orang gadis yang menarik minatnya untuk dijodohkan dengan Fei Yu.


Ia memikirkan Siu Hung. Gadis itu adalah putri orang yang paling berpengaruh di Dunia Persilatan. Tentu bagus bagi masa depan Fei Yu kelak jika mereka berjodoh. Gadis itu juga sangat akrab dengan Fei Yu. Hubungan mereka begitu erat. Namun, pikirnya dengan kening berkerut, terlalu akrab. Lebih seperti kakak beradik ketimbang kekasih. Sedikit pun tidak tampak kemesraan antara mereka berdua. Ia menghela napas dan menggeleng. Tidak. Jangan Siu Hung.


Lalu A Ming, keponakannya sendiri. Usia A Ming sedikit lebih tua dari Fei Yu. Hal itu tidak menjadi masalah seandainya Fei Yu suka. Namun sekarang A Ming entah berada di mana. Tuan Chang merasa agak cemas saat ini bila memikirkan A Ming.


Kemudian ada Wu Kui Fang. Gadis itu sangat menarik dan merupakan putri dari ketua sebuah partai besar. Tentu sangat serasi bila disandingkan dengan Fei Yu. Ia juga tampak sangat baik dan berani membela kebenaran. Namun... ia curiga gadis itu berhubungan lebih dari sekadar berteman dengan Chien Wan. Buktinya ia begitu mati-matian membela Chien Wan kala pemuda itu mengalami kesulitan.


Nama terakhir di benaknya adalah nama Ouwyang Ping. Inilah yang paling menarik minatnya. Gadis dari Lembah Nada. Sejak dahulu ia punya kecenderungan menyukai orang Lembah Nada. Dahulu pun ia sangat merestui hubungan adiknya dengan Sung Cen yang notabene merupakan anggota senior Lembah Nada.


Benar. Ouwyang Ping saja.


Dengan berbekal pikiran seperti itu, ia memanggil Fei Yu pada suatu malam. Malam kelima setelah kepulangan mereka dari Wisma Bambu.


“Ada apa, Ayah?” tanya Fei Yu.


Tuan Chang memperhatikan putranya dengan seksama. Perubahan besar terjadi dalam diri Fei Yu akhir-akhir ini. ia tampak lebih serius, padahal dahulu selalu seenaknya. Pembawaannya lebih tenang, tidak seemosional dulu. Penampilannya juga sekarang jauh lebih sederhana.


“Mengapa melihatku seperti itu, Ayah?” tanya Fei Yu heran.


Tuan Chang tersenyum. “Kau sudah dewasa.”


Fei Yu tergelak. “Tentu saja. Sekarang usiaku sudah dua puluh satu tahun. Aku juga sudah cukup banyak pengalaman. Mana mungkin aku tidak bertambah dewasa? Atau Ayah lupa usiaku?”


“Aku tidak lupa,” geleng Tuan Chang. “Kau memang sudah dewasa. Sudah waktunya kau mempunyai pendamping,” tambahnya.


Fei Yu merengut. “Huh! Ayah mulai lagi,” gerutunya.


“Maksudmu?” Tuan Chang mengerutkan kening.


“Ayah selalu saja begitu! Selalu mendikteku melakukan sesuatu yang sebenarnya belum terlintas di benakku. Dulu Ayah mendikteku agar mematuhi Cheng Sam. Sekarang menyuruhku mencari istri.”


“Hei, aku tidak memaksa. Aku cuma bilang sudah saatnya kau mempunyai pendamping. Masa itu dibilang memaksa?” bantah Tuan Chang. “Baiklah, aku keliru mengenai Cheng Sam. Kau mau terus mengingatkanku akan kekeliruanku dan menyodorkannya di depan mataku, ya?”


Kata-kata Tuan Chang mulai terdengar kesal sehingga Fei Yu merasa geli. “Ayah mau mengajak bertengkar, nih?” godanya. “Boleh saja. Sudah lama juga kita tidak bertengkar.”


Tuan Chang mendengus. Ternyata sifat Fei Yu tidak sepenuhnya berubah!


“Baiklah, baiklah!” Fei Yu menghentikan tawanya melihat ayahnya tampak begitu serius. “Ayah bilang sudah waktunya aku punya pendamping. Tetapi aku sendiri belum memikirkan masalah itu. Sebaiknya kita bicarakan ini lain hari saja, ya?”


“Tunggu dulu!” tukas Tuan Chang melihat putranya sudah mulai bergerak hendak berdiri. Fei Yu mendesah, namun tidak membantah. “Bagaimana pendapatmu tentang Ouwyang Ping?”


Fei Yu mengerutkan kening. “Ouwyang Ping?”


“Dia gadis yang sangat menarik, berasal dari keluarga yang berpengaruh, dan baik hati tentunya. Bagaimana jika kau kujodohkan dengannya saja?” tanya Tuan Chang tanpa basa-basi.

__ADS_1


Fei Yu membelalakkan mata, menatap ayahnya seolah pria setengah baya itu memiliki tanduk di kepalanya. Lalu ia tergelak. “Astaga! Astaga! Aku dengan Ouwyang Ping?”


Tuan Chang kontan berdiri dan berkacak pinggang. “Kau ini kenapa sih? Apa salahnya?”


Fei Yu menyeka air mata gelinya. “Aku tidak menyangka ternyata Ayah punya pikiran semacam itu! Sejak kapan? Apa sejak kita mulai menyusun sandiwara itu? Ternyata selama menyusun rencana, jiwa makcomblang Ayah ikut tergerak juga, ya?”


“Lho, tidak ada salahnya, bukan? Aku sangat menyukai gadis itu dan senang sekali bila dia menjadi menantuku. Aku melihatnya sangat cocok dengan anakku, jadi mengapa tidak kujodohkan saja kalian?” tantang Tuan Chang gusar. Ia tidak melihat ada yang lucu dengan usulnya.


Fei Yu menggeleng-geleng. “Aku dan Ouwyang Ping memang saling menyukai. Namun rasa suka itu tidak cukup untuk menjadi lebih dari sekadar teman baik,” katanya. Lalu ia mendesah. “Sebaiknya pembicaraan ini kita sudahi saja, ya? Aku tidak ingin membicarakan masalah ini lagi. Ouwyang Ping... astaga!”


Tuan Chang mendengus kesal, namun ia tidak memaksa.


“Sebaiknya kita lebih memikirkan bagaimana supaya kita bisa mengembalikan pusaka Bukit Merak ke tempat asalnya. Aku berencana untuk mengembara, mencari Cheng Sam dan memberinya pelajaran!” geram Fei Yu sambil mengepalkan tangannya. “Mungkin dengan menemukan Cheng Sam, aku sekalian bisa mengungkap misteri pembunuhan di Wisma Bambu!”


Tuan Chang tertegun. Ia mengangguk tanpa sadar.


Tok tok tok!


“Masuk!”


Pintu terbuka dan masuklah A Nan. “Permisi, Tuan Besar, Tuan Muda.”


“Ada apa, A Nan?” tanya Fei Yu.


“Pendekar Ouwyang dan Nona Wu ada di depan. Mereka datang bersama dua orang anggota Empat Tambur Perak.”


Fei Yu menyeringai. “Sudah saatnya!”


***


Tak berapa lama kemudian, Fei Yu dan ayahnya memasuki ruangan.


Chien Wan dan teman-temannya segera berdiri dan memberi hormat.


“Chien Wan!” Fei Yu menghampiri dan menepuk bahu temannya itu. “Kau ini ke mana saja? Menghilang seperti itu, membuat kami semua cemas!” tegurnya.


“Aku berusaha datang ke sini, tapi sulit sekali. Di mana-mana orang mau membunuhku. Terpaksalah aku bersembunyi sampai keadaannya tenang,” bilang Chien Wan. Ia memandang penuh rasa terima kasih. “Aku mendengar kalian telah berjuang untuk membersihkan nama baikku. Aku sangat berterima kasih untuk itu.” Ia memberi hormat pada ayah dan anak itu dengan penuh kesungguhan.


“Sudahlah!” sergah Fei Yu agak risih.


“Itu kewajiban kami, Chien Wan. Kau sendiri telah banyak membantu kami selama ini,” sela Tuan Chang. “Lagi pula usaha ini tidak hanya dilakukan oleh kami saja. Banyak pihak terlibat. Adik Sung, Kui Fang, bahkan adikmu sendiri Ping-er.”


Chien Wan terdiam mendengarnya.


“Di samping itu kalau bukan karena Kui Fang datang ke sini memberitahu rincian kejadiannya, mungkin rencana itu tidak akan terlintas di benak kami!” ujar Fei Yu penuh semangat.


Chien Wan melirik gadis di sampingnya yang tengah tersenyum malu itu. Hatinya terasa hangat.


Hauw Lam dan Lo Hian memberi salam pada Tuan Chang. Mereka belum pernah bertemu, namun Tuan Chang sudah mendengar banyak mengenai Empat Tambur Perak. Dengan ramah ia menyambut mereka dalam rumahnya.


“Silakan duduk!” ujar Tuan Chang.


Mereka kembali duduk di tempat masing-masing dan menunggu sampai A Nan dan dua gadis pelayan datang membawakan arak dan makanan kecil. Kemudian mereka mulai bercakap-cakap serius.

__ADS_1


“Sebenarnya kedatanganku ke tempat ini adalah untuk bertemu Paman Sung dan Anda, Paman Chang. Aku ingin meminta pendapat,” kata Chien Wan mengawali pembicaraan.


“Sayangnya Adik Sung sudah pulang ke Kota Lok Yang untuk menyelesaikan urusan yang tertinggal,” kata Tuan Chang. “Pendapat mengenai apa? Mungkin aku bisa membantu!”


Chien Wan meletakkan pedang pembunuh dan cabikan kain sutra hitam ke atas meja. Semua memandangi kedua benda itu dengan seksama.


“Pedang ini....” Fei Yu tercengang.


“Senjata yang dipergunakan untuk membunuh anggota Wisma Bambu,” sela Chien Wan datar.


“Pedang yang kaucabut dari tubuh Tuan Luo?” tanya Tuan Chang muram.


Chien Wan mengangguk.


“Ternyata kau membawa-bawa barang bukti ini bersamamu.” Fei Yu menggeleng-geleng. “Kuduga kau hendak mencari kesimpulan yang bisa didapatkan dari benda ini.”


“Betul.”


“Sudah kaudapatkan?”


“Sebagian.” Chien Wan menceritakan pertemuannya dengan si Kamus Silat Tung Pei. Ia juga menguraikan kesimpulan yang dibuatnya bersama Kui Fang setelah melihat kain itu. Semua mendengarkan keterangan itu dengan takjub.


“Bukan main!” seru Fei Yu bersemangat. “Petunjuk yang kita dapatkan semakin lengkap!”


“Menurut kalian bagaimana?” tanya Chien Wan serius.


“Sekarang kita tahu bahwa pembunuh itu adalah seorang laki-laki bertubuh tinggi sedikit kurus, pesolek dan senang wewangian, pandai menyamar—atau setidaknya mempunyai teman yang ahli menyamar, serta memiliki ilmu pedang yang luar biasa—dalam hal ini bisa dipastikan Ilmu Pedang Bayangan.” Fei Yu berdiri dan berjalan mondar-mandir.


“Kok kedengarannya mengarah padamu, Fei Yu?” gumam Tuan Chang geli.


“Apa?!” Fei Yu mendelik sengit.


Tuan Chang mengangkat tangannya sambil menahan tawa. “Jangan gusar! Aku hanya bercanda!”


Fei Yu merengut.


Chien Wan langsung menggeleng. “Bagaimana dengan ilmu pedang? Fei Yu menguasai Ilmu Pedang Bayangan, tetapi dia kan menggunakan kipas sebagai pengganti pedang.”


Fei Yu menyoja pada Chien Wan dengan lega. “Hah! Akhirnya ada juga orang yang berpikiran jernih!”


Semua meledak tertawa.


“Baiklah, sekarang kita anggap saja pembunuh itu memang orang seperti itu. Jelas semua itu menandakan bahwa Cheng Sam memang terlibat. Dia bisa membuat samaran, juga mencuri Kitab Pedang Bayangan, maka jelas dialah otak rencana busuk itu. Sekarang tinggal mencari pelaku pelaksananya,” kata Fei Yu tegas.


“Di situlah sulitnya,” angguk Chien Wan. “Kita tidak cukup mengenal sekutunya untuk bisa memastikan siapa orang yang paling mendekati pembunuh itu. Aku pernah bertarung dengan enam orang dari Khitan saat hampir mencapai Hutan Bambu—“


“Kapan?” sambar Fei Yu kaget.


“Waktu aku pergi ke Wisma Bambu setelah kita mendengar kabar Cheng Sam terlihat....” Chien Wan tercengang. “Astaga!” gumamnya terkejut. “Ternyata begitu!”


“Apa? Apa?”


“Mereka sengaja menyerangku saat itu untuk menahan langkahku. Pada saat mereka menyerangku, pembunuhan itu pasti tengah berlangsung!” Wajah Chien Wan pucat pasi. “Seandainya saja aku tidak tertahan oleh enam orang itu, aku pasti bisa mencegah terjadinya musibah itu!” keluhnya penuh sesal.

__ADS_1


***


__ADS_2