
Setelah berada di Lembah Nada selama tiga minggu lamanya, Sung Cen berniat mengunjungi Wisma Bambu. Ia ingin bertemu dengan Tuan dan Nyonya Luo. Bagaimana pun ia pernah tinggal di sana selama belasan tahun dan menerima keramahan hati kedua suami-istri itu. Ketika itu mereka berdua memang tidak tahu siapa dirinya sebenarnya, namun kebaikan hati mereka yang tulus membuat hati Sung Cen tersentuh.
Tentu saja ia akan mengajak putrinya, Fei Yu, dan Siu Hung.
“Menurutku itu niat yang sangat baik, Sung Cen. Kakak Luo dan istrinya pasti sangat senang bertemu denganmu lagi.” Ouwyang Kuan berkata senang.
“Sebenarnya aku sendiri juga ingin pergi ke sana. Sudah lama aku tidak mengunjungi kakak dan kakak iparku. Aku sudah rindu pada mereka semua,” aku Sui She, agak murung.
Ouwyang Kuan berpikir-pikir. “Lalu, mengapa kita semua tidak ke sana saja? Bukankah akan sangat menyenangkan bila kita semua berkunjung ke Wisma Bambu?”
Wajah Sui She berseri. “Bisakah?”
“Tentu saja! Hanya saja, kita terpaksa harus menunggu sampai Ayah kembali. Sebenarnya aku agak khawatir juga. Sudah hampir sebulan beliau tidak juga kembali.” Ouwyang Kuan mengerutkan kening.
“Betul juga,” sela Sung Cen. “Sejak kami datang, Guru tidak pernah kelihatan. Memangnya dia bilang mau ke mana pada kalian?” tanyanya.
Ouwyang Kuan menggeleng. “Kau tahu tabiat ayahku, mana pernah dia berpamitan kalau mau pergi ke mana-mana?”
Mereka bercakap-cakap tanpa tahu bahwa Tuan Ouwyang tengah berada di dekat jurang di sebelah timur Lembah Nada. Orang tua itu tengah memperhatikan Siu Hung yang sedang berlatih dengan Fei Yu disaksikan oleh Sen Khang dan Ouwyang Ping. Mereka berempat memang selalu bersama-sama. Tanpa A Ming—yang sejak penolakan Sen Khang, selalu berusaha untuk menghindarinya.
“Perhatikan baik-baik, Siu Hung!” perintah Fei Yu. Lalu ia memperagakan gerakan silat yang merupakan ilmu khas keluarganya.
Siu Hung memperhatikannya. Ia berkacak pinggang dan mengamati setiap gerakan. Tidak ada satu gerakan pun yang lolos dari pengamatannya.
Akhirnya Fei Yu berhenti. “Sudah paham?”
Siu Hung menjentikkan jarinya dengan sombong. “Itu sih mudah!”
Mata Fei Yu menyipit. “Kalau mudah, coba kau lakukan sendiri!”
Siu Hung melompat ke tengah dan mulai melakukan gerakan-gerakan yang sama dengan yang diajarkan Fei Yu tadi. Ia melakukannya dengan sangat baik. Semua gerakan tangan dan kaki, serta pengaturan napas dan tenaga dalam, semua dilakukannya dengan sempurna.
“Wow!” Sen Khang menggeleng-gelengkan kepala. “Anak itu sangat berbakat!”
Fei Yu memandangnya dengan kaget bercampur ngeri. “Tolong jangan katakan itu di depannya! Dia akan menjadi sangat sombong. Kau tidak mengenalnya seperti aku!”
Siu Hung memainkan jurus terakhir dengan sempurna. Lalu ia berhenti dan tertawa keras. “Bagaimana? Tidak ada yang salah, kan? Aku ini kan sangat hebat! Kungfuku tiada duanya!” celotehnya sok.
__ADS_1
“Kungfu sejelek itu berani kaupertontonkan di tempatku?!”
Suara garang itu membuat mereka semua menoleh. Seorang tua berpakaian keemasan berdiri tak jauh dari mereka. Tuan Ouwyang berkacak pinggang dan menatap angkuh pada Siu Hung.
Fei Yu baru kali ini melihatnya dan tercengang. Entah sejak kapan orang tua itu ada di sana. Dan mengapa ia tidak mendengarnya? Rupanya kakek tua ini adalah seorang datuk sakti yang berilmu tinggi! Ia kaget ketika Ouwyang Ping tersenyum dan mendekati pria tua itu serta menyapa, “Kakek.”
Yang lain belum sempat bereaksi karena Siu Hung melesat ke hadapan Tuan Ouwyang dan berkacak pinggang di depannya. “Apa maksudmu kungfuku jelek? Kau sendiri yang jelek!”
Tuan Ouwyang menyipitkan matanya dengan gusar. “Siapa kau anak ingusan?”
“Anak ingusan!” Siu Hung meledak. “Aku ini pendekar nomor satu di dunia! Dan aku masih muda! Kau sendiri siapa, Kakek jelek?”
“Siu Hung, sopanlah!” hardik Sen Khang. “Dia Kakek Ouwyang, Majikan Lembah Nada!”
Fei Yu tertegun mendengarnya.
Namun Siu Hung tidak kaget sedikit pun. “Majikan Lembah Nada? Bah! Aku tidak peduli!”
“Anak kurang ajar!” maki Tuan Ouwyang.
Sen Khang cepat-cepat menengahi, “Kakek Ouwyang, jangan marah. Dia masih kanak-kanak, tidak tahu siapa yang dihadapinya.”
Siu Hung mencibir. “Kakek jelek, kau ini sudah tua pemarah pula. Mudah-mudahan saja anak-cucumu tidak menuruni sifat jelekmu.”
“Memangnya sifatku kenapa?” bentak Tuan Ouwyang.
“Pemarah, suka cemberut, sok! Siapa yang tahan menghadapimu?”
“Sudah, jangan banyak omong!” Fei Yu menjewer telinga Siu Hung.
“Aduh! Aduh! Sudah kukatakan, aku paling benci kalau ada orang menjewer telingaku!” seru Siu Hung heboh.
Tuan Ouwyang menyeringai puas. “Rasakan, Bocah bandel!”
“Kakek jelek tidak sportif! Sukanya melihat orang lain susah!” seru Siu Hung di sela-sela perlawanannya terhadap jeweran Fei Yu.
Ouwyang Ping menghampiri kakeknya. “Sudah, Kek. Sebaiknya kita masuk saja. Ayah dan Ibu sudah cemas memikirkan Kakek.”
__ADS_1
Tuan Ouwyang melirik Siu Hung penuh kemenangan. Lalu mendengus angkuh dan melangkah masuk ke dalam rumah induk.
Siu Hung mengomel panjang-lebar.
Fei Yu melepaskan jewerannya sambil nyengir. Pertengkaran Siu Hung dengan Tuan Ouwyang tadi merupakan pertengkaran paling menghibur yang pernah disaksikannya.
***
Kedatangan Tuan Ouwyang disambut hangat oleh semua orang. Mereka semua sibuk menanyakan kepergiannya selama sebulan ini. Mengapa dia tidak pernah mengirim kabar dan sebagainya.
“Sudah, jangan banyak tanya! Kalau kalian mau pergi ke Wisma Bambu ya pergi saja segera!” suruh Tuan Ouwyang kesal.
Ouwyang Kuan terperanjat. “Bagaimana Ayah tahu kami mau ke Wisma Bambu?”
“Bagaimana dia tidak tahu?” sela Siu Hung tidak tahan lagi. “Dia pasti tidak ke mana-mana selama ini! Dia itu suka bersembunyi sambil menguping pembicaraan orang!”
“Siu Hung!” hardik Sung Cen pada keponakannya dengan cemas.
Tuan Ouwyang mendelik pada gadis remaja itu. Mau tak mau wajah keriputnya memerah.
Ouwyang Kuan membelalakkan mata. “Jadi betul?”
“Sudah! Sudah! Sana kalian berkemas-kemas!” sergah Tuan Ouwyang.
Sen Khang melirik Sung Cen dengan jenaka. “Betul, kan dugaanku? Pertemukan Siu Hung dengan Kakek Ouwyang, hasilnya pasti seru.”
Sung Cen terpaksa harus membuang muka menahan senyum.
Tuan Ouwyang menatap Siu Hung, ekspresi wajahnya sangat angkuh. Diam-diam ia tertarik dengan sifat Siu Hung. Aneh sekali bahwa anak itu mempunyai sifat yang mirip dengannya. Padahal anak kandung serta cucu-cucunya sendiri tidak ada yang mewarisi sifatnya. Sekarang ada seorang gadis yang tidak punya hubungan darah dengannya namun memiliki tabiat sama seperti dia. Ia bertambah senang mengetahui bahwa gadis itu ternyata memiliki kecerdasan yang luar biasa. Ia nyaris tak dapat mempercayai matanya melihat gerakan silat yang dilakukan Siu Hung tadi. Gadis itu bertulang baik, berotak cerdas, dan berbakat sangat besar.
Walau tak pernah diungkapkannya secara terang-terangan, ia merasa kecewa dengan keturunannya sendiri. Ouwyang Kuan jelas tidak bisa diharapkan, maka ia menaruh harapan besar pada cucu-cucunya. Tak terlintas sedikit pun di benaknya untuk mewariskan Lembah Nada kepada orang lain selain keturunannya.
Chien Wan cucunya yang pertama. Ia ingin mewariskan Lembah Nada padanya. Maka itu, Chien Wan harus menguasai ilmu silat tinggi. Namun Chien Wan tidak suka pada ilmu silat. Selain yang berhubungan dengan suling, ia tidak mau mempelajarinya.
Ouwyang Ping jelas tidak bisa. Dia anak perempuan. Kelak ia akan menikah dengan orang lain dan keluar dari Lembah Nada.
Harapan satu-satunya tinggal A Lee. Tetapi anak itu masih sangat kecil. Tuan Ouwyang sudah berusia hampir 70 tahun. Ia khawatir tak bisa menunggu A Lee hingga dewasa, dan karenanya ia tidak bisa menurunkan ilmu-ilmu simpanannya pada cucunya itu. Maka ia harus menemukan cara supaya A Lee dapat mempelajari seluruh kepandaiannya walau bukan dirinya yang mengajarinya secara langsung.
__ADS_1
Selama ini ia dipusingkan oleh pemikiran itu. Kini ia melihat Siu Hung. Sebuah rencana muncul di benaknya.
Tetapi nanti dulu. Rencana ini harus dipikirkan sematang-matangnya. Untuk itu ia harus tahu dulu sampai di mana kemampuan Siu Hung.