Suling Maut

Suling Maut
Berjumpa Paman Khung


__ADS_3

Sore itu Paman Khung tengah duduk di bagian depan pondoknya. Ia meniup suling bambunya tanpa bermaksud memainkan lagu apa pun. Ia melakukannya separuh melamun memikirkan masa lalunya.


Memikirkan Chien Wan.


Ia menurunkan sulingnya, menghela napas. Beban di hatinya terasa menyiksa. Sebentar lagi, pikirnya. Sebentar lagi....


Tiba-tiba ia tersentak kaget. Ia menengadahkan kepalanya.


Chien Wan berdiri di hadapannya.


Paman Khung bangkit dengan jantung berdetak kencang.


“Chien Wan?”


“Paman, aku kembali.” Chien Wan tersenyum kecil. Ia senang melihat Paman Khung-nya sama sekali tidak berubah.


Paman Khung berhasil meredakan perasaannya yang bergemuruh. Menuruti hatinya. Ia ingin sekali memeluk Chien Wan. Namun sebelum ia melakukannya, ia berhasil mengendalikan diri. Ia mengangguk kecil. “Kau baik-baik saja?”


“Ya, Paman.”


“Berhasil menjadi murid Tuan Ouwyang Cu?”


“Benar.”


“Kalau begitu, kemampuanmu sekarang sudah melebihi aku.”


Chien Wan tidak menjawab. Ia tidak tahu sampai di mana kemampuannya menurut mata Paman Khung.


“Mainkan saja lagumu untukku.”


Hati Chien Wan lega. Baginya jauh lebih mudah menunjukkan kemampuannya lewat perbuatan daripada lewat omongan. Ia bukan orang yang pandai berkata-kata. Lebih mudah mengungkapkan isi hatinya lewat musik. Tanpa banyak bicara ia pun mulai meniup sulingnya. Paman Khung pun duduk kembali.


Lagu yang luar biasa indahnya mulai berkumandang ke seluruh penjuru Hutan Bambu yang semula sunyi. Musik indah yang teramat manis dan menyentuh kalbu siapa saja yang mendengarnya. Angin laksana berhenti bertiup karena khawatir takkan mampu menyaingi suara yang luar biasa itu.


Irama lagu yang luar biasa itu membuat mata Paman Khung terbelalak. Astaga...! Kemampuan bocah ini bahkan sudah melebihi Tuan Ouwyang Cu sendiri, pikirnya takjub. Dahulu saja Chien Wan sudah membuatnya takjub. Namun kemampuan Chien Wan yang dulu tidak ada apa-apanya dibanding sekarang. Suara suling itu entah mengapa terdengar jauh lebih indah dan jernih. Paman Khung tahu itu bukan karena sulingnya, melainkan karena kemampuan Chien Wan yang sudah sangat maju.


Hati Paman Khung seperti teriris-iris mendengar musik yang menyentuh hati itu. Tanpa disadarinya, matanya berkaca-kaca. Ia tak pernah merasa tersentuh seperti ini. Tangannya mengepal erat-erat. Ini memang takdir!


Ketika Chien Wan menyudahi permainan sulingnya, Paman Khung tak dapat menahan dirinya lagi. Ia bangkit dan menghampiri Chien Wan, merangkulnya erat-erat. Chien Wan agak kaget dengan kelakuan Paman Khung yang tak seperti biasanya, namun tak sampai hati menolak.


Agaknya orang tua itu terkejut sendiri dengan perbuatannya. Ia cepat-cepat melepaskan rangkulannya dan mundur untuk kembali ke tempatnya.


Chien Wan duduk di dekat Paman Khung.


“Aku tidak perlu menanyakan kemajuan pelajaranmu. Tiupan sulingmu tadi sudah menunjukkannya.” Paman Khung menyandarkan dirinya dengan tenang. “Apa mereka bersikap baik padamu?”

__ADS_1


“Ya.”


“Bagaimana dengan Tuan Ouwyang Kuan? Apa dia memperhatikanmu?”


“Ya. Beliau sangat baik.”


Paman Khung menghembuskan napas lega. “Bagus,” gumamnya. “Dan... istrinya?”


“Istri Paman Ouwyang meninggal saat melahirkan, Paman.”


Tubuh Paman Khung langsung tegak. “Apa?”


Chien Wan mengerutkan dahi. “Kenapa, Paman?”


Cepat-cepat Paman Khung bersikap biasa lagi. “Tak apa. Lalu Nyonya Ouwyang?”


“Nyonya Ouwyang?” tanya Chien Wan ragu.


“Istri gurumu.”


“Beliau juga sudah meninggal. Aku tidak tahu mengenai beliau kalau bukan Kakak Kam yang mengatakannya,” kata Chien Wan.


“Kam Sien? Salah satu anggota Empat Tambur Perak?”


“Paman tahu dia?”


Meskipun bingung, Chien Wan tidak ingin mengusiknya. Ia menduga ada sesuatu yang membebani Paman Khung. Mungkin saja Paman Khung pernah berurusan dengan Lembah Nada lebih serius daripada yang diakuinya.


Akhirnya Paman Khung berhenti mondar-mandir. Ia menghampiri Chien Wan yang segera bangkit berdiri. Kini mereka berdiri berhadapan. Paman Khung meletakkan kedua tangannya di bahu Chien Wan. Ia telah membuat keputusan.


“Dengar, Chien Wan—“


“Kakak Wan!”


Suara yang jernih dan merdu itu memotong kata-kata Paman Khung. Dengan gusar, pria tua itu menoleh dan seketika tertegun.


Ouwyang Ping datang diiringi Sen Khang. Wajah cantiknya berseri-seri bahagia. Ia sangat bersemangat karena hendak bertemu dengan Paman Khung. Menurut cerita yang didengarnya dari Sen Khang, Paman Khung telah menjadi semacam ayah angkat bagi Chien Wan. Tadi pun sebenarnya ia ingin ikut dengan Chien Wan saat Chien Wan mengatakan bahwa ia akan pergi sebentar untuk menemui Paman Khung. Namun ia menahan diri karena menyadari bahwa mungkin Chien Wan ingin bicara berdua dulu dengan Paman Khung. Namun setelah beberapa lama ia tak dapat menahan diri. Dimintanya Sen Khang untuk mengantarkannya ke pondok Paman Khung.


“Ping-er,” senyum Chien Wan. Wajahnya yang kaku berubah lembut melihat gadis itu. Perubahan ini pun diperhatikan oleh Paman Khung, membuat wajah tuanya murung.


Ouwyang Ping menghampiri mereka dengan gembira.


Chien Wan memperkenalkan gadis itu pada Paman Khung. “Paman, dia adalah Ouwyang Ping. Dia putri Paman Ouwyang Kuan.”


Ouwyang Ping memberi hormat dengan sopan.

__ADS_1


Namun Paman Khung hanya mengangguk kaku. Ia kembali berpaling pada Chien Wan. “Kita lanjutkan saja pembicaraan itu besok,” katanya.


Sambutan Paman Khung yang dingin terhadap Ouwyang Ping membuat gadis itu heran dan sedih. Sen Khang pun menyadarinya, maka ia segera menghampiri dengan maksud mengubah sikap Paman Khung. “Paman, apa kabar?”


“Tuan Muda, lama tidak jumpa,” sahut Paman Khung—masih dengan nada kaku.


Senyum Sen Khang mengembang. “Paman tahu tidak? Nona Ouwyang ini kekasihnya Chien Wan. Dan karena Chien Wan boleh dibilang anak angkat Paman, maka Nona Ouwyang ini akan menjadi menantu angkat Paman,” beritahunya dengan nada menggoda. Ia melirik Ouwyang Ping yang mukanya langsung merah padam. Chien Wan juga tampak agak malu mendengarnya.


Namun sikap kaku Paman Khung semakin menjadi. Ia bahkan tidak mau menatap Ouwyang Ping. “Aku masuk dulu. Badanku capek sekali. Sampai nanti, Chien Wan, Tuan Muda.” Dan ia bahkan tidak berpamitan pada Ouwyang Ping.


Dengan heran, ketiga anak muda itu menatap kepergian Paman Khung. Dan saat pintu pondok Paman Khung menutup, Ouwyang Ping mendesah kecewa.


“Paman Khung tidak menyukaiku,” keluhnya.


“Jangan diambil hati, Ping-er. Dia memang begitu.” Chien Wan merasa sangat tidak enak. Ia tahu bahwa Ouwyang Ping berharap Paman Khung akan menyukainya saat mereka bertemu. Mendapat sambutan dingin seperti itu tentunya membuat gadis itu sedih dan kecewa. Ia sendiri tidak mengerti mengapa Paman Khung bersikap begitu.


“Paman Khung kan memang orang yang kaku dan dingin. Kau ingat Chien Wan? Sikapnya pada Meng Huan dulu juga sangat dingin. Padahal kita semua menyukai Meng Huan,” bilang Sen Khang menenangkan.


Chien Wan mengangguk.


Ouwyang Ping menarik napas, belum merasa lega. Ia memandangi pintu pondok Paman Khung dengan wajah murung. Mengapa Paman Khung tidak menyukainya? Padahal jelas-jelas Sen Khang memperkenalkannya sebagai calon istri Chien Wan. Apakah Paman Khung tidak ingin ia bersama Chien Wan?


“Sudahlah, Ping-er.” Chien Wan menyentuh lengan gadis itu. “Sebaiknya kita kembali ke Wisma Bambu.”


Sen Khang mengangguk mengiyakan dengan penuh semangat. “Benar. Sebaiknya kita kembali. Sudah hampir waktunya makan malam. Ibuku pasti sudah menyiapkan masakan istimewa untuk merayakan kepulangan kita!”


Walau gundah, Ouwyang Ping mengangguk dan melangkah mengikuti kedua pemuda itu.


***


Paman Khung berjalan mondar-mandir di dalam pondoknya dengan hati resah. Perasaannya sangat kacau sejak pertama kali bertemu gadis itu. Apalagi saat mendengar hubungan istimewa yang terjalin di antara Chien Wan dan Ouwyang Ping.


“Ouwyang Ping... Ouwyang Ping....”


Mulut Paman Khung berkomat-kamit menggumamkan nama Ouwyang Ping.


Gadis itu begitu anggun dan menawan. Wajahnya teduh dan sangat memikat, juga cantik. Mungkin Ting Ting sedikit lebih cantik darinya, namun keanggunan dan daya tariknya jelas sangat luar biasa. Gadis itu jenis perempuan yang tak mudah dilupakan orang!


Tak dapat disangkal lagi bahwa Chien Wan jatuh cinta kepadanya! Mana mungkin tidak? Tetapi....


“Tidak. Ini tidak boleh dibiarkan!” geram Paman Khung.


Ketika ia mengusulkan untuk mengirim Chien Wan ke Lembah Nada, masalah ini tidak pernah terlintas dalam benaknya. Siapa yang menyangka bahwa di Lembah Nada akan ada seorang gadis remaja yang menjatuhkan hati Chien Wan?


“Aku tidak akan membiarkannya!”

__ADS_1


Mata Paman Khung menyipit.


__ADS_2