
Sen Khang kembali ke kamarnya dengan amat marah. Ia tidak menyangka Pendekar Sung terang-terangan mengatakan bahwa dirinya telah salah menuduh Chien Wan! Bagaimana ia bisa salah? Ia melihat sendiri kejadiannya! Bukan hanya dirinya, Ouwyang Ping dan Kui Fang juga melihat hal itu. Dan jika itu masih belum cukup, bagaimana dengan kesaksian Meng Huan dan Ting Ting yang mengaku mereka diserang oleh Chien Wan? Masa mereka pun berdusta?
Ia menghenyakkan diri di pembaringan. Pikirannya berkecamuk.
Ia agak tidak nyaman manakala menyadari kekasaran sikapnya terhadap Ouwyang Kuan dan istrinya tadi. Sebab walau Chien Wan putra mereka, dan ia melakukan dosa yang tak termaafkan terhadap Wisma Bambu, namun mereka sendiri tidak bersalah sama sekali. Mereka tidak tahu apa-apa mengenai kejadian itu.
Rahang Sen Khang mengetat. Satu-satunya kesalahan mereka hanyalah melahirkan Chien Wan ke dunia ini!
Ia terus berpikir dan semakin lama ia semakin kesal.
Ia kesal karena entah bagaimana ia terus memikirkan perkataan Pendekar Sung tentang kemungkinan adanya pihak ketiga yang sengaja mengadu domba mereka. Tetapi hal itu mustahil! Adu domba hanya bisa dilakukan jika kedua pihak sama-sama tidak bersalah. Sedangkan Chien Wan jelas-jelas bersalah!
Tetapi tunggu dulu!
Siapakah yang telah menyebarkan kabar ini ke pihak luar? Dia tidak melakukannya. Meng Huan dan Ting Ting juga sudah pasti tidak. Para pelayan tidak tahu apa-apa. Mereka adalah pelayan baru, orang-orang kampung yang lugu. Siapa lagi yang kira-kira mungkin menyebarkan kabar itu?
Sebentar!
Di mana A Ming?
Betul! A Ming putri Sung Cen. Semua orang bisa tewas di Wisma Bambu, dan Sung Cen sendiri tewas di Hutan Bambu. Lalu mengapa A Ming tidak kelihatan batang hidungnya?
Mungkinkah dia adalah orang ketiga yang selamat selain Meng Huan dan Ting Ting? Dan dia pula yang menyebarkan berita ini dengan tujuan supaya Chien Wan bisa segera tertangkap dan terbunuh!
Tetapi mengenai Ting Ting yang ternoda....
Seharusnya tidak ada orang yang tahu selain dia, Meng Huan, Kui Fang, dan Ouwyang Ping, di samping Chien Wan sendiri sebagai pelaku tentu saja. Mengapa kabar itu pun tersebar?
Sen Khang amat terpukul. Nama baik adiknya rusak sudah!
__ADS_1
Sekarang semua anggota Dunia Persilatan sudah tahu bahwa Ting Ting telah diperkosa. Bagaimana pandangan mereka terhadap gadis itu nantinya? Ting Ting memang korban, namun bagaimana dengan masa depannya kelak? Mana ada pria yang mau menerimanya sebagai istri bila mengetahui ia sudah tidak suci? Mana ada keluarga yang mau menerimanya sebagai menantu?
Sen Khang marah sekali. Dalam hati ia mengutuk. Mengutuk Chien Wan yang telah menyebabkan penderitaan itu. Mengutuk si pembawa berita yang sudah menyebarkan aib keluarga mereka.
Mendadak ia menyadari bahwa semenjak kemarin, sejak para tamu berdatangan, ia tidak melihat Ting Ting. Bahkan semenjak peristiwa itu ia jarang sekarang melihat adiknya. Perasaan sesak menggumpal di dadanya, membuatnya bangkit dari pembaringan dan berjalan ke pintu hendak mengunjungi adiknya.
***
Para pendekar kembali berdiskusi mengenai hal yang sama dengan perdebatan yang kembali memanas. Beberapa dari mereka merasa bahwa yang dibicarakan oleh Pendekar Sung itu masuk akal, bahwa mungkin ada pihak-pihak tertentu yang sengaja ingin mengadu domba antara Chien Wan dan Sen Khang, lebih jauh lagi; antara Wisma Bambu dan Lembah Nada.
“Bukan tidak mungkin,” kata Pendekar Fu murung. Ia merasa tidak enak hati. Bagaimana jika Chien Wan tidak bersalah? Bagaimana jika selama ini mereka salah menuduh orang?
Pendekar Hua bangkit berdiri. Ia merupakan salah satu pendekar yang masih berkeyakinan teguh bahwa Chien Wan bersalah. “Saudara Fu, jangan plin-plan begitu! Kita sudah sepakat bahwa Suling Maut bersalah. Dia pembunuh keji yang telah menghancurkan Wisma Bambu!”
“Ya, tetapi... keterangan Pendekar Sung tadi sangat masuk akal. Selama ini kita tahu bahwa Suling Maut bersahabat baik dengan Saudara Luo. Tidak ada kesan permusuhan di antara mereka. Lalu mengapa dia tega melakukan hal ini?” tanya Pendekar Fu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Bisa saja Suling Maut menyimpan iri dan dengki terhadap Saudara Luo!”
Pendekar Hua membuka mulut dengan panas, namun tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya karena ia sendiri pun tidak tahu jawabannya.
Pendekar Can menimpali, “Kita jangan sampai goyah karena pembelaan ini!” Ia menatap Pendekar Sung dan Tuan Chang dengan tajam. “Kita semua tahu bahwa Pendekar Sung dan Tuan Chang bersimpati pada Suling Maut!”
“Saudara Can!” Pendekar Sung berucap penuh wibawa. “Aku mengemukakan pendapat yang telah kupikirkan secara matang. Aku berkepala dingin dalam memikirkan setiap masalah. Bukan hanya karena emosi sesaat lalu menyimpulkan sesuatu yang bisa membahayakan kehormatan dan nyawa orang lain!”
Pendekar Can bungkam dengan agak mendongkol.
Para pendekar lain mulai berbicara untuk mengemukakan pendapatnya masing-masing. Mereka bicara bersamaan sehingga seisi ruangan menjadi riuh rendah oleh suara percakapan.
Saat itulah Tuan Chang diam-diam menyelinap keluar untuk menemui Ouwyang Ping. Para pendekar sedang berkumpul dan berdebat, inilah saat yang paling tepat untuk melaksanakan rencana mereka.
__ADS_1
Para pendekar itu terus saja bicara. Meng Huan ada di tengah-tengah mereka, tampak kebingungan dan berusaha agar tidak terjadi pertengkaran. Bagaimana pun hari ini adalah hari peringatan 40 hari kematian gurunya. Ia tidak ingin mereka membuat keributan di sana.
Meng Huan berdiri dengan maksud untuk menenangkan suasana. Namun ia belum sempat berbicara karena tiba-tiba saja terdengar teriakan dari arah pekarangan luar.
Teriakan itu mengejutkan mereka dan serentak semuanya berlari ke luar.
Apa yang terjadi di luar sungguh mengejutkan!
Sen Khang berdiri di tengah-tengah kepungan para pendekar. Ia berada di belakang Ouwyang Ping yang tengah disanderanya. Tangan Sen Khang berada di leher Ouwyang Ping, seolah hendak mencekik leher gadis itu.
“Ping-er!” jerit Sui She cemas.
“Ibu...! Ayah...!” seru Ouwyang Ping dengan suara tertahan karena tenggorokannya tertahan oleh cengkeraman Sen Khang.
“Sen Khang, apa yang kaulakukan?!” seru Meng Huan dengan wajah pucat.
“Sen Khang, lepaskan putriku! Bukan begini caranya membalas dendam!” bentak Ouwyang Kuan marah. “Balaskanlah dendammu kepadaku kalau kau mau, tapi lepaskan Ping-er!”
Sen Khang tidak menjawab. Dilemparkannya tatapan tajam dan mengejek ke arah mereka semua, lalu ia melompat menjauh dengan ilmu ringan tubuh yang luar biasa.
“Ping-er!”
“Celaka!” seru Pendekar Sung. “Ayo kita kejar!”
“Dia lari ke Hutan Bambu!”
Mereka beramai-ramai mengejar Sen Khang yang tengah menyandera Ouwyang Ping. Meng Huan berlari paling depan diiringi oleh Ouwyang Kuan dan Sui She. Semua pendekar yang ada menyusul di belakang mereka, tak ada yang mau ketinggalan.
Ilmu meringankan tubuh Sen Khang ternyata amat tinggi. Mereka kehilangan jejak dengan mudah. Namun mereka terus saja mengejar karena yakin Sen Khang akan menuju Hutan Bambu. Itulah satu-satunya jalan keluar dari Wisma Bambu.
__ADS_1
***