Suling Maut

Suling Maut
Dua Hati Menyatu


__ADS_3

Chien Wan tiba di kamar Kui Fang. Ia heran karena pintu kamar masih tertutup rapat. Matahari sudah tinggi. Biasanya pada waktu seperti ini, Kui Fang sudah bersamanya. Diketuknya pintu kamar itu.


“Kui Fang!”


Tak ada sahutan.


Chien Wan mengetuk sekali lagi dan memanggil dengan lebih keras, “Kui Fang! Ini aku!”


Tetap tak terdengar sahutan.


Ouwyang Ping yang memperhatikan kelakuan kakaknya sejak tadi menjadi bingung. “Masuk saja, Kak,” usulnya.


Chien Wan membuka pintu kamar dan masuk. Ouwyang Ping mengikutinya.


Ternyata tak ada siapa-siapa di dalam kamar. Kamar itu kosong dan rapi seperti baru saja dibereskan.


Chien Wan mulai panik. Kepanikan itu tersirat di wajahnya yang biasanya tenang dan tanpa ekspresi. Hal ini tak luput dari pandangan Ouwyang Ping yang merasa takjub sekali. Tak pernah Chien Wan sepanik ini. Chien Wan yang dikenalnya adalah Chien Wan yang kaku, tenang, dan dingin. Chien Wan yang tak pernah menampakkan perasaannya.


Gadis itu melayangkan pandangannya dan melihat sepucuk surat di atas meja. Ia menghampiri meja itu dan meraihnya.


“Kakak Wan.”


Chien Wan menoleh dan melihat adiknya mengulurkan sepucuk surat padanya. Diambilnya surat itu. Ia heran sekali. Ada apa ini? mengapa Kui Fang menulis surat padanya?


Chien Wan membuka dan membacanya. Isinya singkat saja: “Kakak Wan yang baik, maaf aku pergi tanpa pamit. Mohon pamitkan aku pada yang lainnya. Kudoakan semoga kau bahagia bersama Ting Ting. Tertanda, Kui Fang.”


Surat terlepas dari tangan Chien Wan.


Ouwyang Ping memungutnya dan membacanya. Keningnya berkerut. “Kak, ada apa ini?”


“Kui Fang tahu aku akan dijodohkan dengan Ting Ting, maka dia pergi.” Chien Wan menelan ludahnya yang terasa pahit.


“Kalau begitu dia....”


Chien Wan mengangguk.


Ouwyang Ping menatap resah. “Dan kau...?”


Chien Wan melayangkan pandangannya pada adiknya. “Kita berdua butuh orang lain untuk bisa melupakan masa lalu. Yang membantumu adalah Sen Khang. Sedangkan aku... berkat Kui Fang aku bisa bangkit lagi.”


Ouwyang Ping terpana.


Saat itu, masuklah seorang pelayan ke dalam kamar. Pelayan itu tampak kaget karena di sana ada Chien Wan dan Ouwyang Ping.


“Maaf, Tuan dan Nona. Saya kira....”


“Kau tahu kapan Nona Wu pergi?” potong Chien Wan.


Pelayan itu mengangguk. “Kira-kira dua jam yang lalu, Tuan.”


Ouwyang Ping tersenyum. “Sebaiknya kau kejar dia, Kak.”


Chien Wan mengangguk. “Sampaikan pamit kami pada Ayah dan Ibu, Ping-er!” serunya. Lalu ia berkelebat pergi meninggalkan tempat itu.


Ouwyang Ping memandangi kepergian Chien Wan dengan mata berlinang air mata. Ternyata waktu bisa mengubah perasaan mereka. Sekarang kakaknya telah memiliki seseorang untuk menjalani masa depannya. Sudah saatnya baginya juga untuk memulai hidup baru.


“Semoga kau bahagia, Kakakku....”


Setelah merenung beberapa saat lamanya, gadis itu kembali ke ruang depan untuk menemui keluarganya.


“Ping-er, mana kakakmu?” tegur Ouwyang Kuan.


Ouwyang Ping tersenyum. “Kakak Wan pergi bersama Kui Fang. Mereka memintaku untuk menyampaikan kepergian mereka sekaligus doa restu dari kalian semua. Terutama Ayah dan Ibu.”


Semua orang di sana terperanjat.

__ADS_1


“Maksudmu?” seru Sui She.


“Kakak Wan dan Kui Fang telah memutuskan untuk bersatu.”


Kedua orangtuanya berpandangan.


Sen Khang menghampiri Ouwyang Ping dan melihat mata basah gadis itu. “Ping-er....”


Ouwyang Ping menatapnya. “Kakak Wan sudah menemukan kebahagiaannya. Sekarang sudah waktunya bagiku untuk melangkah juga,” katanya. Mulai saat ini ia akan mencoba mencaritahu perasaannya yang sebenarnya pada Sen Khang. Dan dengan begitu, mungkin kebahagiaan akan menjadi miliknya juga.


Senyum Sen Khang merekah. Akhirnya setelah sekian lama, gadis ini mau memberinya kesempatan. Ia bahagia.


Dan Ouwyang Ping pun tersenyum membalas senyum hangat pemuda itu.


***


Chien Wan berlari menelusuri Hutan Bambu. Ia berlari tak kenal lelah hingga akhirnya tibalah ia di makam Paman Sung. Ia berhenti dan tertegun.


Seorang gadis berbaju ungu tengah berlutut di depan makam. Gadis itu tampak lunglai dan tak berdaya.


Chien Wan berdiri di belakang gadis itu. Ia tidak mengusiknya dan membiarkan gadis itu tenggelam dalam lamunannya. Sesungguhnya tidak ada yang lebih diinginkannya dari pada menghampiri gadis itu dan merengkuhnya ke dalam pelukannya. Namun ia tahu gadis itu sedang melamun. Dan ia sendiri pun membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya.


Setelah menarik napas panjang, ia memanggil, “Kui Fang.”


Gadis itu tersentak. Ia bangkit dan membalikkan tubuh secepat kilat. Mulutnya ternganga melihat kehadiran Chien Wan. Ia tak menduga bahwa pemuda itu akan datang untuk menyusulnya. Ia bahkan berpikir saat ini upacara pertunangan sudah dilaksanakan.


Chien Wan tak mengucapkan apa-apa. Hanya sepasang matanya yang mengungkapkan berjuta hasrat yang selama ini dipendamnya. Mengungkapkan perasaan cinta yang tak pernah dikatakannya. Sekian lama ia mencoba memahami hatinya sendiri. Dan saat ini, ia tak ingin memikirkan apa-apa selain cintanya terhadap gadis itu.


Dengan kepolosan dan kejujurannya, Kui Fang telah berhasil meruntuhkan tembok yang membentengi hatinya. Gadis itu telah merebut hatinya.


Kui Fang menggigit bibirnya dan menggeleng-geleng. “Kakak Wan....”


Tak mampu berkata, Chien Wan mendekat dan akhirnya berdiri berhadapan dengan gadis itu. Tubuh mereka berdekatan. Dan entah siapa yang lebih dahulu memulai, mereka berpelukan.


Kui Fang membenamkan wajahnya yang basah di dada Chien Wan. Saat ini semua kebimbangan lenyap dari hatinya. Ia tak ingin mengingat siapa-siapa lagi, termasuk Ting Ting.


Sekian lama mereka berpelukan dengan hangat dan penuh kasih. Akhirnya Kui Fang sadar dan melepaskan pelukannya. Wajahnya merona dan sepasang matanya menatap pemuda yang dikasihinya itu dengan polos.


Chien Wan memandanginya dengan sejuta perasaan yang bergejolak. Ia mengangkat tangannya ke wajah Kui Fang. Dengan jemarinya yang kokoh ia membelai pipi gadis itu. Ditelusurinya pipi Kui Fang, merasakan kelembutan dan kehalusan kulitnya.


“Kenapa, Kakak Wan?” desah Kui Fang penuh haru. “Mengapa menyusulku?”


Chien Wan memandang lembut. “Aku tak akan tahu perasaanmu bila Meng Huan tidak mengatakannya.”


Pipi Kui Fang semakin merona. “Kau menyusulku karena... sudah tahu perasaanku. Lantas... Ting Ting bagaimana?”


“Bagaimana kau tahu aku akan dijodohkan dengan Ting Ting?”


“Aku....” Kui Fang merasa malu sekarang. “Aku mendengarkan pembicaraanmu dengan orangtuamu. Maaf....”


Chien Wan tersenyum. “Tidak apa.”


“Ya... lalu bagaimana Ting Ting? Bukankah dia mencintaimu?” desak Kui Fang.


“Meng Huan sudah menceritakan semuanya, bukan?” Chien Wan menghela napas.


Kui Fang mengangguk. Ia menarik lengan Chien Wan dengan lembut dan mengajaknya duduk di bawah pohon. “Kakak Chi menceritakan semuanya. Tentang cinta segi lima di antara kalian. Tentang hubunganmu dengan Ping-er di masa lalu. Tentang semua rahasia yang akhirnya memisahkan kalian. Tetapi terutama tentang bagaimana Ting Ting mencintaimu.”


“Dan kau....”


“Aku sudah mengerti semuanya. Semula aku ingin mempertahankanmu. Aku ingin berterus-terang tentang perasaanku, untuk itulah aku pergi ke kamarmu semalam. Tapi aku mendengar pembicaraanmu dengan orangtuamu. Saat itu aku kecewa sekali, Kakak Wan.” Kui Fang menghela napas.


“Semalam aku memang menyanggupi untuk menikahi Ting Ting.”


Kui Fang menoleh dan memandang cemas. “Lalu mengapa kau menyusulku? Ting Ting sudah terlalu menderita. Sudah selayaknya dia bahagia bersamamu, Kak. Ya Tuhan! Aku tidak mau menjadi perusak kebahagiaannya!” Ia mulai bangkit dan menarik lengan Chien Wan, bermaksud mengajaknya kembali ke Wisma Bambu.

__ADS_1


Namun Chien Wan menahan tubuh gadis itu hingga ia batal berdiri. “Ting Ting menolakku, Kui Fang.”


Kui Fang terpana. “Hah?”


Chien Wan tersenyum dan mulai menceritakan kejadian tadi. Ia menceritakan penolakan Ting Ting padanya. Juga lamaran yang diajukan Meng Huan setelah pertunangannya dengan Ting Ting tidak jadi diadakan.


Wajah Kui Fang semakin lama semakin cerah mendengar keterangan Chien Wan.


“Ting Ting akan bahagia bersama Meng Huan. Sejak dulu, Meng Huan memuja Ting Ting, semua orang sudah tahu.”


Usai Chien Wan berkata-kata, Kui Fang mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan pemuda itu. “Bolehkah aku terus bersamamu, Kakak Wan?” bisiknya. Pipinya yang mulus merona kala mengucapkan kata-kata itu.


Tenggorokan Chien Wan terasa pekat, seolah napasnya tersangkut di sana. Ia mengangguk.


Perlahan, Kui Fang meletakkan kepalanya di dada Chien Wan yang bidang. Dipejamkannya sepasang matanya yang basah. Ia merasakan kedamaian yang menyelusup sampai ke batinnya. Kebahagiaan melanda jiwanya. Seandainya waktu berhenti sampai di sini, ia takkan peduli. Sebab dia telah bersama dengan orang yang dicintainya.


Tangan Chien Wan terulur ke kepala gadis itu, membelai dengan lembut. Tanpa sadar ia menyurukkan hidungnya ke rambut lebat yang halus, menghirup keharumannya. Itulah perbuatan paling mesra yang pernah dilakukannya terhadap seorang gadis. Ia tak pernah begini, bahkan saat bersama Ouwyang Ping dahulu.


Beberapa waktu lamanya mereka berdiam diri meresapi kemesraan itu. Akhirnya Kui Fang mengangkat kepalanya dan menengadah menatap Chien Wan. Kasih sayang yang teramat besar tampak di matanya.


“Sekarang kita mau ke mana, Kak?”


Kening Chien Wan berkerut. Ia seperti dilemparkan kembali ke dunia nyata setelah menikmati mimpi yang indah selama beberapa saat. Kebahagiaannya karena telah menemukan cinta tidak hilang, namun sekarang dibauri dengan perasaan bersalah. Tak sepatutnya ia berbahagia selagi musibah masih menimpa keluarganya.


“Kau ingin kembali ke Wisma Bambu?” tanya Kui Fang lagi.


Chien Wan menggeleng. “Aku sudah berpamitan hendak pergi.”


Hidung Kui Fang berkerut saat ia meringis. “Karena sedih sekali, aku sampai tidak berpamitan pada keluargamu. Sekarang pandangan mereka terhadapku pasti buruk,” sesalnya.


Mau tak mau Chien Wan tersenyum. “Jangan berpikir begitu.”


“Lalu sekarang kita mau ke mana?”


“Aku ingin mencari pelaku pembunuhan itu.”


Mendadak Kui Fang resah sekali. “Kakak Wan....”


“Ya?”


“Seandainya tadi Ting Ting mau menikah denganmu, kau pasti takkan menyusulku, kan?” gumam Kui Fang.


Chien Wan tertegun. “Eh....”


“Aku tak menyalahkanmu, Kak. Hanya saja....”


Chien Wan menarik tangan Kui Fang dan menggenggamnya erat-erat. “Memang betul. Aku tak akan menyusulmu. Karena aku tidak mungkin mengejar seorang gadis saat aku sudah terikat dengan gadis lain.”


Kui Fang menunduk.


“Tapi seandainya aku tahu perasaanmu padaku, aku pasti akan menolak usul ibuku. Ibuku sangat menginginkan kebahagiaanku. Jika beliau tahu aku bahagia bersama gadis lain, beliau takkan mengusulkan perjodohan itu. Perjodohan itu tak akan terjadi.”


Kepala Kui Fang terangkat dan mata mereka bertemu dalam suatu pandangan mesra yang penuh pengertian. Seketika perasaan Kui Fang menjadi lega.


“Sekarang sebaiknya kita pergi ke Kotaraja.”


“Ke Kotaraja?”


“Kita kan berjanji pada Fei Yu untuk menemuinya di sana.”


“O ya!” Kui Fang tersenyum. “Betul juga.”


Mereka bangkit dan memberi penghormatan di makam Paman Sung. Lalu mereka melangkah pergi meninggalkan tempat itu. Berpegangan tangan.


***

__ADS_1


__ADS_2