
Ketika Chien Wan membuka matanya, orang pertama yang dilihatnya adalah Kui Fang. Melihat wajah manis Kui Fang yang pucat dan cemas membuat hatinya perih. Ia berusaha tersenyum pada gadis itu untuk menyatakan dirinya tidak apa-apa. Lalu ia melihat ibu dan ayahnya. Senyumnya kembali diperlihatkan. Ia tak mau membuat semua orang cemas dan sedih karena dirinya.
Sui She duduk di samping pembaringan putranya, menggenggam tangan pemuda itu erat-erat. Kui Fang berdiri di sampingnya.
“Chien Wan!” Tuan Ouwyang mendekat.
Melihat kakeknya, Chien Wan berusaha bangkit. “Kakek....”
“Terlalu! Sudah lemah seperti itu masih mau memaksakan diri!” omel Tuan Ouwyang melihat raut kesakitan pada wajah cucunya. “Sudah! Kau tidur saja!” perintahnya galak.
Chien Wan mematuhinya. Saat itu ia melihat Ting Ting berdiri berdampingan dengan Fei Yu tak jauh dari tempat tidurnya. “Ting Ting, Fei Yu,” sapanya. “Terima kasih mau melihatku,” katanya. Suaranya parau dan napasnya agak tersengal.
Ting Ting menggigit bibir. “Kakak Wan... maafkan aku.”
Chien Wan menggeleng. “Bukan salahmu.”
Fei Yu angkat bicara. Ia ingin mengalihkan pembicaraan dan mengalihkan perhatian mereka dari masalah maaf-maafan. “Kau sudah merasa enak sekarang, Chien Wan?”
Chien Wan mengangguk.
“Chien Wan!”
“Kakak!”
Seruan-seruan itu diucapkan bersamaan oleh Sen Khang dan Ouwyang Ping. Mereka berlari-lari menghampiri Chien Wan. Wajah mereka tampak cerah oleh binar kebahagiaan yang timbul saat mengetahui Chien Wan sudah sadar.
“Sen Khang. Ping-er....” Chien Wan memandangi adiknya. Betapa lembut dan anggunnya dia! Betapa indah binar matanya! Binar mata yang dulu pernah dilihatnya, yang sempat hilang setelah mengetahui kenyataan pahit itu. Kini muncul kembali tanpa disangka-sangka. Chien Wan merasa lega dan bahagia.
Sen Khang tampak tersenyum gembira. Saat ini parasnya begitu penuh kharisma dan wibawa. Ia begitu dewasa dan mantap. Merupakan sosok pendekar sejati yang mempesona.
Sahabatnya sejak kecil!
Dan adik perempuannya.
Mereka berdua adalah orang yang paling pantas bahagia melebihi apa pun juga. Dan itulah yang selalu diharapkan Chien Wan mengenai mereka berdua.
“Bagaimana, Chien Wan?” tanya Sen Khang prihatin.
“Aku sudah tak apa-apa...Huk huk!” Chien Wan terbatuk-batuk.
“Kakak Wan!” Kui Fang membungkuk dan mengelus-elus dada Chien Wan dengan lembut. Ia sangat cemas. Saat ini Chien Wan masih dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Semalaman ia berjaga di sana. Ia-lah yang paling sering mendengar batuk tersengal Chien Wan. Ia melihat Chien Wan kesakitan setiap kali terbatuk.
Chien Wan tersenyum lemah agar gadisnya tidak terlalu cemas.
Tuan Ouwyang memandang cucunya dengan prihatin. Paru-paru Chien Wan tersumbat darah beku. Napasnya tak lancar. Saat ini jangankan meniup suling, bicara saja merupakan pekerjaan berat untuknya!
__ADS_1
Pendekar Sung yang datang bersama Siu Hung segera meminta semua orang menyingkir agar ia bisa memeriksa Chien Wan. Diperiksanya Chien Wan dengan seksama. Ia menggeleng-geleng. Walau Chien Wan sudah sadarkan diri, namun kondisinya tak mengalami kemajuan. Ia masih tetap berada dalam bahaya.
“Adik Sung?” Sui She mendekat.
“Keadaannya masih sama,” jawab Pendekar Sung.
Kui Fang meninggalkan yang lain untuk kembali ke sisi Chien Wan. Ia tak ingin mendengarkan penjelasan apa-apa. Yang diinginkannya saat ini hanyalah berada di dekat Chien Wan. Hatinya sangat sedih. Mau rasanya ia menggantikan Chien Wan mengalami kesakitan itu.
Pendekar Sung keluar dari kamar Chien Wan. Ia meminta semuanya pergi ke ruang tengah. Ia ingin membicarakan sesuatu. Ia meminta semua orang meninggalkan kamar Chien Wan agar ia dapat bernapas lega. Hanya Kui Fang yang diperbolehkan berada di sana untuk menjaganya.
***
“Kita harus mencari cara untuk menyembuhkan Chien Wan!” kata Tuan Ouwyang dengan suara menggelegar.
Pendekar Sung mengangguk. “Sebenarnya aku mengenal orang yang mungkin dapat menyembuhkan Chien Wan.”
“Siapa?” sambar Sui She.
“Mendiang guruku mempunyai seorang saudara seperguruan yang dijuluki Dewa Obat. Beliau tinggal di Pulau Ginseng. Beliau-lah satu-satunya orang yang dapat menolong Chien Wan.”
“Dewa Obat?” dengus Tuan Ouwyang. “Maksudmu Si Tua Pai Tin Fung?”
Pendekar Sung menoleh kaget. “Rupanya Tuan Ouwyang mengenalnya juga?”
“Tentu saja!” geram Tuan Ouwyang. “Sudah puluhan tahun kami tidak saling bicara!”
Tuan Ouwyang berdiri. “Bah! Aku akan memaksanya! Kalau si tua itu tak mau menolong cucuku, aku akan menantangnya berkelahi!”
“Ayah, sudahlah. Sudah puluhan tahun berlalu, masa perselisihan itu belum berakhir juga?” sela Ouwyang Kuan.
“Berkelahi? Siapa yang bisa berkelahi dengan Kakek?” tanya Siu Hung penuh minat.
“Jangan mencampuri kalau orang tua sedang bicara!” tegur Tuan Ouwyang galak.
Siu Hung mendengus. “Mengaku juga akhirnya kalau dia sudah tua!” gumamnya sebal.
“Apa?”
“Tidak apa-apa!” elak Siu Hung konyol.
“Lagi pula dia tidak sehebat aku!” geram Tuan Ouwyang Cu.
“Masa?” Ouwyang Kuan memandang penuh minat. “Kalau begitu mengapa Ayah bisa kalah?”
“Kalah?” sambar Siu Hung kegirangan. “Kakek kalah?”
__ADS_1
“Tidak!” bantah Tuan Ouwyang. “Dia itu cuma beruntung!”
Siu Hung bertepuk tangan. “Kakek, sebaiknya kau mengaku saja! Dewa Obat itu memang hebat, kan? Ayolah! Jadilah Tuan Ouwyang Cu, Majikan Lembah Nada yang jantan dan sportif!”
“Enak saja! Aku tidak kalah! Aku sial waktu itu!” elak Tuan Ouwyang tak terima.
Siu Hung hendak bicara lagi, namun tidak jadi karena melihat ayahnya melotot kepadanya. Ia meringis.
“Jadi, bagaimana? Sebaiknya kita bawa saja Chien Wan ke Pulau Ginseng,” usul Pendekar Sung. “Aku bisa membawanya ke sana.”
“Tidak perlu! Biar aku yang pergi!” tolak Tuan Ouwyang.
“Tapi, Ayah....” Sui She cemas. Bukankah Tuan Ouwyang bermusuhan dengan Dewa Obat? Bagaimana kalau Dewa Obat tak mau mengobati Chien Wan karena masih mendendam pada Tuan Ouwyang?
“Jangan takut! Si Tua itu pasti mau menuruti permintaanku!” tukas Tuan Ouwyang tanpa bisa dibantah. “Sebaiknya aku mengajak Kui Fang juga. Dengan begitu Chien Wan bisa lebih santai. Si Bandel jelas harus ikut!”
“Aku? Mengapa aku?” protes Siu Hung pura-pura keberatan.
“Jangan membantah!” kecam Tuan Ouwyang.
“Huh!” Siu Hung memberengut.
Pendekar Sung tersenyum diam-diam. Ia senang melihat betapa sayangnya Tuan Ouwyang pada putrinya. Walau mereka berdua selalu bertengkar, sesungguhnya mereka saling menyayangi dan tak bisa berjauhan.
Ouwyang Kuan melirik putrinya dan Sen Khang. Dalam hatinya ia merasa bahwa sudah saatnya lebih mendekatkan hubungan mereka. Maka ia angkat bicara, “Ayah, sebaiknya kau juga mengajak Sen Khang dan Ping-er. Mereka bisa menemani kalian.”
Sen Khang menoleh kaget. Diam-diam ia memang ingin sekali ikut. Sudah terlalu lama ia terkurung di Wisma Bambu, mengurusi berbagai hal yang membuatnya penat. Ia ingin menyegarkan diri, namun ia juga ragu meninggalkan rumahnya. Apalagi mengingat keadaan Ting Ting.
“Paman, bagaimana dengan Wisma Bambu?”
“Di sini kan ada aku dan bibimu. Kami akan menangani urusan di sini selama kau pergi. Kami juga akan menjaga Ting Ting dengan baik. Kau tenang saja,” kata Ouwyang Kuan.
Sui She mengangguk senang. Ia tahu betul apa tujuan suaminya. Ia sendiri juga mendukungnya. “Pamanmu benar, Sen Khang. Kau sudah terlalu lama terkurung tanpa sekalipun menghirup udara segar.”
Ouwyang Ping tersenyum pada Sen Khang. Ia tidak tahu rencana orangtuanya, namun ia senang karena bisa bepergian beramai-ramai.
“Baik! Kita berangkat besok pagi-pagi sekali!” kata Tuan Ouwyang.
“Asyik! Besok kita pergi beramai-ramai!” seru Siu Hung bersemangat.
Fei Yu mengeluh dalam hati. Sebenarnya ia juga ingin pergi. Namun bila disuruh memilih antara petualangan ini dan Ting Ting, tentu saja ia akan lebih memilih untuk bersama Ting Ting. Maka ia menepuk bahu Sen Khang.
“Jangan khawatirkan Wisma Bambu. Aku akan tinggal di sini selama kau pergi. Ayahku bisa kembali duluan ke Bukit Merak,” kata Fei Yu.
Diam-diam Tuan Chang melirik putranya. Hatinya agak risau kala menyadari tujuan putranya. Ia menghembuskan napasnya. Mudah-mudahan saja putranya itu memilih jalan yang terbaik baginya. Bukannya ia berkeberatan dengan Ting Ting. Hanya saja... hatinya cenderung lebih suka Fei Yu bersama Ouwyang Ping.
__ADS_1
***