Suling Maut

Suling Maut
Kehamilan A Ming


__ADS_3

Chien Wan dan teman-temannya telah tiba di dekat Hutan Bambu. Mereka berjalan memasuki hutan dengan langkah cepat. Semalam mereka menginap di penginapan desa dan pagi-pagi sekali mereka bangun untuk melanjutkan perjalanan.


Semakin dekat jarak mereka dengan Wisma Bambu, perasaan Chien Wan mendadak tidak nyaman. Ia tidak mengerti, mengapa dirinya menjadi segelisah ini. Apakah ada sesuatu yang terjadi di Wisma Bambu? Ia tidak ingin menambah kegundahan Fei Yu, maka ia tidak mengatakan apa-apa.


Semakin mereka mendekati Wisma Bambu, wajah Fei Yu yang sudah suram semenjak dari Kotaraja, menjadi semakin kelam. Berbagai hal berkecamuk dalam pikirannya, dan semuanya mengenai Ting Ting.


Hari ini Ting Ting dan Meng Huan akan melangsungkan pernikahan. Mereka tidak mau terlambat sampai di sana, maka ketika hari masih gelap mereka sudah mulai berjalan. Bila mereka terus berjalan, mereka akan tiba dalam waktu lima jam. Pada siang hari, mereka sudah akan tiba di Wisma Bambu.


Mereka sudah tiba di pertengahan hutan, tepat di dekat makam Sung Cen. Setelah berjalan selama beberapa jam, mereka agak letih dan memutuskan untuk beristirahat di dekat makam. Namun pandangan mereka bertumbuk pada kehadiran seseorang yang tengah berlutut di depan makam Sung Cen.


Orang itu membelakangi mereka, namun tampak jelas bahwa dia perempuan. Ia mengenakan jubah lebar berwarna hijau tua. Bahunya berguncang-guncang, menampakkan bahwa ia sedang menangis.


Fei Yu mengenalinya dan seketika merasa sangat terkejut. “A Ming?”


Perempuan itu menoleh. “Fei... Fei Yu?” serunya.


Fei Yu bergegas menghampirinya. “Dari mana saja kau? Apakah kau tidak tahu kami semua bingung sekali karena kau lenyap begitu saja? Aku bahkan mengira kau kembali ke biara!”


A Ming menyeka wajahnya yang basah dengan ujung jubah lebar yang menutupi tubuhnya. “Aku ada di sekitar sini,” jawabnya dingin.


“Ke mana kau selama peristiwa itu terjadi?” desak Fei Yu. “Apakah kau tidak ada di Wisma Bambu saat terjadi pembunuhan terhadap orang-orang di sana?”


A Ming menggeleng lalu memalingkan wajah.


“Berarti kau pergi dari Wisma Bambu. Apakah kau tidak berpamitan juga pada Paman Sung?”


“Aku berpamitan.”


“Lalu...?”


“Sudahlah!” A Ming membalikkan badannya dengan jengkel. “Aku pergi dulu!”


“Tunggu!” Fei Yu mengejar dan mencekal lengannya. “Sebaiknya kau ikut kami ke Wisma Bambu. Dari sana aku mau langsung pulang. Aku ingin mengajakmu pulang untuk menemui ayahku. Apakah kau tahu betapa cemasnya ayahku memikirkanmu?”


“Aku akan langsung ke Bukit Merak saja! Aku tak mau ke Wisma Bambu!” tolak A Ming.


“Nona Ming sebaiknya datang. Nona Ting Ting akan menikah. Bukankah dulu kalian cukup akrab? Dia pasti senang dengan kehadiran Nona Ming,” usul A Nan.


“Menikah?” A Ming mengerutkan kening. “Dengan siapa?”


“Dengan Chi Meng Huan.”


A Ming terperangah. Seketika wajahnya berubah pucat. “Bohong...,” bisiknya. Ia melepaskan diri dari cekalan Fei Yu. Langkahnya goyah dan ia terhuyung. Nyaris saja jatuh apabila Fei Yu tidak maju dan menangkapnya.


“A Ming, kau ini kenapa?” Fei Yu heran sekali melihatnya.


“A Ming?”


A Ming tampak begitu pucat dan terpukul. “Dia... dia hendak menikahi Ting Ting? Mengapa?”


“Dia hendak melakukan kebaikan bagi Ting Ting!” dengus Fei Yu sebal.

__ADS_1


“Kebaikan? Tetapi... bagaimana denganku?” desah A Ming bergetar.


Fei Yu menatapnya dengan heran. “A Ming?”


“Jangan katakan kau menyukai Kakak Chi!” Kui Fang berseru tak sengaja.


A Ming memalingkan mukanya.


“Jadi itu benar!” Fei Yu mengguncang tubuh sepupunya. Tanpa sengaja jubah lebar yang dikenakan A Ming tersingkap memperlihatkan bagian depan tubuhnya. Fei Yu menatapnya dengan kaget. “Ya Tuhan! A Ming, kau...?”


A Ming merenggut tubuhnya dari pegangan Fei Yu.


“Kau... kau hamil...?” Fei Yu terpana tak percaya.


A Ming berusaha merapatkan jubahnya, namun Fei Yu merenggutnya. Kini tampak jelas bagian perutnya yang membesar. Kemarahan mulai melanda diri Fei Yu. Tak disangka sepupunya yang alim, yang sejak kecil dibesarkan oleh kaum biksuni, bisa melakukan perbuatan hina ini!


“Si... siapa yang menghamilimu?!” seru Fei Yu tanpa bisa mengendalikan diri.


A Ming mulai gemetar. Ia tak pernah harus berhadapan dengan situasi memalukan begini. Ia menundukkan kepalanya, tak mau menatap mata sepupunya yang membara.


“Katakan!” bentak Fei Yu.


“Fei Yu, tenanglah.” Chien Wan memisahkan Fei Yu dari A Ming. A Ming langsung dirangkul oleh A Nan dan Kui Fang.


“Tenang? Kau menyuruhku tenang? Sekian bulan tak bertemu, tahu-tahu dia sudah hamil!” teriak Fei Yu marah.


Tangis A Ming meledak, membuat bahunya berguncang hebat.


Kui Fang dan A Nan sibuk menenangkannya.


Kemarahan Fei Yu reda, berganti menjadi kepedihan. “Benarkah, A Ming? Kau dinodai?”


Namun A Ming menggeleng kuat-kuat. “Tidak! Aku melakukannya dengan sukarela!”


Sungguh Fei Yu terguncang mendengar kata-kata A Ming. Ia terpaku memandangi sepupunya yang ia pikir dikenalnya dengan baik. Kini melihat keadaan A Ming serta pernyataannya yang tegas bahwa ia melakukan perbuatan hina itu dengan sukarela, sungguh membuatnya terpukul.


“Siapa? Siapa yang menghamilimu?” tanya Fei Yu.


A Ming berhenti menangis dan menatap Fei Yu penuh kebencian. Sorot matanya begitu dingin dan kejam. “Pria yang sekarang akan menikahi Ting Ting!”


***


Beberapa sosok tubuh berlompatan mengelilingi mereka sebelum Chien Wan dan kawan-kawan sempat bereaksi terhadap pernyataan A Ming yang sangat mengagetkan itu. Orang-orang itu bukan lain adalah orang-orang yang selama berbulan-bulan ini menjadi momok yang mengerikan bagi kalangan Dunia Persilatan: Cheng Sam dan kawan-kawan.


Fei Yu mengepalkan tinju. Kemarahannya kala mendengarkan pernyataan A Ming berpindah sepenuhnya pada Cheng Sam. “Cheng Sam!” desisnya geram.


Cheng Sam menyunggingkan senyum sinis. “Apa kabar, Chang Fei Yu... atau haruskah aku memanggil ‘tuan muda’?” ejeknya.


“Kau bajingan, Cheng Sam! Kau pengkhianat busuk! Kau telah menyakiti ayahku, menjarah pusaka keluargaku! Dasar manusia rendah tak tahu balas budi!” Fei Yu memaki-maki dengan sengit.


Senyum Cheng Sam menghilang. “Jaga mulutmu!”

__ADS_1


“Pengkhianat! Tak heran gurumu dulu mengusirmu!”


Cheng Sam menggeram. “Guruku mengusirku karena dia tak tahan melihat putrinya jatuh cinta padaku!”


“Jatuh cinta padamu?” Fei Yu tertawa mengejek. “Kau pasti telah mengguna-gunainya! Mana mungkin ada perempuan yang menyukaimu? Kau buruk rupa! Wajahmu seperti kodok! Tubuhmu menjijikkan!”


“Keparat!” Cheng Sam mengepalkan tinjunya dengan gemetar menahan amarah. “Jangan bicara sembarangan kau!”


“Saudara seperguruanmu di Perguruan Elang Merah sudah mengungkapkan perbuatan memalukanmu, Cheng Sam!” Fei Yu terus mengata-ngatai Cheng Sam. “Manusia bejat tak tahu diri! Berani-beraninya memikat gadis cantik putri gurumu! Untung saja dia akhirnya sadar dan meninggalkanmu!”


“Diam! Diam!” raung Cheng Sam. “Adik Lan tidak meninggalkanku! Dia dipaksa kawin dengan si keparat Chi Kian! Chi Kian anak bangsawan itu yang telah merebutnya dan memaksanya!”


Chien Wan tertegun melihat reaksi Cheng Sam. Ia semakin terpaku mendengar pengakuan yang dilontarkan Cheng Sam dalam kemarahannya. Chi Kian? Seorang bangsawan bernama Chi Kian?


Terdengar tawa Cheng Sam yang dingin mengejek. “Si keparat Chi Kian itu tidak tahu bahwa dia sebenarnya tidak punya anak! Anak yang dimanjakannya selama sebelas tahun itu sebenarnya anakku! Adik Lan sudah mengandung sebelum mereka menikah! Dan si bodoh itu tidak menduganya sama sekali! Ha ha ha!”


Wajah Chien Wan semakin pucat. Kini ia baru ingat bahwa ia mengenali bau harum pada cabikan kain hitam yang ditemukannya di Hutan Bambu. Pantas saja ia mengenali bau itu. Ia mengenal orang dengan aroma seperti itu!


Kui Fang melihat Chien Wan yang begitu pucat. “Kakak Wan,” bisiknya.


Cheng Sam sadar bahwa ia sudah bicara terlalu banyak. Cepat ia bersuit. “Kalian semua, halangi dia!” serunya.


Rombongan Cheng Sam mengepung Chien Wan dan kawan-kawan. Terjadilah pertempuran di antara mereka. Tiga dari Enam Saudara Khitan mengeroyok Chien Wan dibantu oleh beberapa orang lainnya. Tiga sisanya ditangani oleh Fei Yu yang dibantu Kui Fang dan A Nan.


A Ming terpaku di pinggir jalan dan dihampiri oleh Cheng Sam. “Ayo pergi!”


Namun ajakannya tak digubris A Ming. Ia malah menatap Cheng Sam dengan marah. “Kenapa kau tak mengatakan bahwa hari ini akan ada pernikahan di Wisma Bambu?” tanyanya.


“Itu bukan masalah besar!”


“Bukan masalah besar?” A Ming pucat pasi.


Fei Yu melihat mereka berbicara dan menjadi khawatir. Bagaimana pun A Ming adalah sepupunya. Maka ia melompat meninggalkan arena pertarungan dan menyambar tubuh A Ming. Diserangnya Cheng Sam dengan sabetan kipasnya. Cheng Sam terpukul mundur.


Chien Wan sadar bahwa ia tak bisa membiarkan pertarungan ini berlangsung lama. Sebab jika tidak, ia akan mengulangi kesalahan yang sama dengan dahulu, yakni terlambat datang ke Wisma Bambu. Maka ia melompat dan mencabut sulingnya.


“Awas, dia mengeluarkan suling!”


Chien Wan mulai meniup sulingnya dan melantunkan nada-nada melengking yang langsung saja membuat lawan-lawannya kalang-kabut. Ia tidak khawatir Kui Fang dan yang lainnya akan terluka. Sejak mereka bersama, ia telah memberikan Kui Fang beberapa pasang sumbat telinga khusus untuk dipakai kala tiupan suling terdengar. Dan ia juga tahu bahwa Kui Fang pasti telah membagikannya dengan sigap pada A Nan.


Fei Yu mengerahkan tenaga dalamnya menahan suara suling. Ia melihat A Ming kesakitan, maka ia menotok jalan darah A Ming untuk membuatnya pingsan. Ia selalu ingat instruksi Chien Wan dahulu, bahwa untuk dapat bertahan melawan pengaruh suling, seseorang yang ilmu silatnya tidak tinggi harus dibuat pingsan.


Chien Wan melompat turun sambil terus meniup, lalu dengan kecepatan tak terduga ia menotok semua penyerangnya. Ketika ia berhenti meniup, semua pengeroyok sudah diam tak bergerak dalam posisi bersila.


Fei Yu menyadarkan A Ming.


“Kau tak apa-apa?” tanyanya pada sepupunya itu.


A Ming memandanginya dan tangisnya meledak.


“Kau bebas bercerita sekarang, A Ming. Tak apa-apa.” Chien Wan mendekat diiringi Kui Fang dan A Nan. “Sekarang sudah tak apa-apa.”

__ADS_1


Mulut A Ming gemetar dan ia mulai bercerita.


***


__ADS_2