Suling Maut

Suling Maut
Kewajiban


__ADS_3

Sui She sangat khawatir dengan keadaan anak-anaknya. Ia memandang keluar dengan gelisah. Hari sudah mulai gelap dan mereka tidak juga kembali. Bagaimana kalau keduanya sama-sama pergi? Ia berjalan mondar-mandir. Suaminya tak kuasa menenangkannya.


“Sui She, duduklah! Kau membuatku pusing!” gerutu Tuan Ouwyang Cu.


“Aku sangat cemas, Guru! Bagaimana kalau....”


“Apa katamu?!” bentak Tuan Ouwyang Cu sambil melompat dari kursinya dan memandang Sui She dengan marah.


Sui She tercengang. Apakah dia telah melakukan sesuatu yang salah?


“Keterlaluan! Sudah menikah dengan anakku, masih berani memanggilku guru! Memangnya kau ini tidak tahu tata krama, ha? Seharusnya kau memanggilku ayah!”


Wajah Sui She merona. Ia sama sekali melupakan hal ini. “Oh, maafkan aku, Ayah. Aku lupa....”


“Sudah! Sudah!” Tuan Ouwyang Cu mengibaskan tangan.


Tuan dan Nyonya Luo berpandangan. Rupanya mertua adik mereka ini luar biasa pemarah dan penggerutu. Aneh sekali Chien Wan betah berada di sisi pria tua emosional itu selama bertahun-tahun.


Sen Khang berdiri di sudut ruangan bersama Ting Ting dan Meng Huan. Mereka bertiga tidak banyak berkomentar selama ini. Mereka tahu kapan harus diam dan kapan harus bicara. Mereka juga jarang mengajak Chien Wan dan Ouwyang Ping bicara. Mereka tahu kedua teman mereka itu sedang patah hati dan enggan bicara.


Kini mereka sama khawatirnya dengan yang lainnya.


Pandangan mata Tuan Ouwyang Cu yang tajam dan sinis menghujam ke arah Sen Khang. Sejak dulu ia menyukai pemuda gagah ini. Ia senang pemuda ini menjadi sahabat Chien Wan. Ia mempercayai pemuda ini.


“He, Luo Sen Khang!”


Panggilan angkuh itu mengagetkan baik pemuda itu maupun orangtuanya. Mereka mengira Sen Khang melakukan kesalahan.


“Ada apa, Tuan Ouwyang?” tanya Sen Khang.


“Kakek!” tukas Tuan Ouwyang Cu. “Kalian semua harus memanggilku kakek!”


Sen Khang tersenyum. “Baiklah, Kakek. Anda memerlukanku?”


“Ya! Sana kau susul Chien Wan! Anak itu keterlaluan. Pergi tanpa pamit begini lama. Akan kuberi dia pelajaran!” geram Tuan Ouwyang Cu.


“Ayah?” Sui She kaget.


“Jangan mentang-mentang calon pewaris Lembah Nada dia bisa berbuat seenak perutnya membuat orangtuanya susah. Awas anak itu!” gerutu Tuan Ouwyang. Ia melihat Sen Khang belum pergi. “Tunggu apa lagi?”


“Baiklah, Kek. Akan kubawa dia ke sini!” Sen Khang segera pergi.


Sen Khang berlari cepat dan melewati gerbang Lembah Nada. Ia melihat Empat Tambur Perak berkumpul di sana dengan cemas.


“Empat Tambur Perak, Chien Wan dan Ping-er pergi lewat gerbang sebelah mana?” tanya Sen Khang.

__ADS_1


“Sebelah barat,” sahut Hauw Lam.


Sen Khang mengangguk dan dengan cepat berkelebat ke arah gerbang barat. Agak jauh ia berjalan sebelum akhirnya menemukan sosok berbaju hitam berlutut membelakanginya. Sen Khang menggelengkan kepalanya dengan sedih dan iba. Ia sedih melihat penderitaan. Walau kini Chien Wan punya keluarga, namun ia harus kehilangan kekasihnya.


Cukup lama Chien Wan berlutut di sana. Ia melupakan waktu. Ia sengaja diam di situ untuk menenangkan pikirannya. Tiupan angin yang sejuk diharapkan mampu mendinginkan kepalanya. Dan berangsur-angsur kesedihannya mereda. Tetapi ia belum ingin pergi dari sana. Ia belum siap bertemu dengan ayah dan ibunya. Ia tak tahu mesti berkata apa pada mereka.


Sen Khang menyapa, “Chien Wan.”


Chien Wan menghela napas. Sejak tadi ia sudah mendengar dan mengenali langkah Sen Khang. Namun ia tak mempedulikannya. Kini ia tak mungkin mengabaikan panggilan sahabatnya.


“Chien Wan, pulanglah. Kakekmu memanggil.”


Perlahan-lahan Chien Wan bangkit dan membalikkan tubuhnya. Parasnya pucat dan menampakkan duka, namun air mata sudah lenyap dari sana. Angin sepoi-sepoi telah mengeringkan wajahnya.


“Ping-er...?” tanya Sen Khang pelan.


“Sudah pergi.”


Sen Khang terdiam.


Mereka berjalan bersisian, kembali ke Lembah Nada. Mereka tenggelam dalam kebisuan. Biasanya Sen Khang tak menyukai keadaan hening begini. Sebisa mungkin ia akan memaksa Chien Wan bicara. Namun kali ini ia membiarkan sahabatnya diam. Ia sangat memahami kesedihan Chien Wan. Ia ingin menghiburnya, namun tak tahu mesti bagaimana. Sejak dulu pun Chien Wan sudah pendiam dan pemurung. Kini setelah semua kejadian ini, pasti sifat pemurung dan pendiamnya akan semakin parah. Bahkan mungkin saja Chien Wan sama sekali tidak mau bicara jika tidak ada perlu.


Mereka tiba di muka Lembah Nada, disambut oleh Empat Tambur Perak dengan berbagai pertanyaan. Semua pertanyaan itu dijawab oleh Sen Khang sementara Chien Wan hanya diam membisu.


“Kakak, Kakak Wan!”


“Cepat! Kakek Ouwyang sudah menunggu,” sambung Meng Huan.


Chien Wan masuk ke dalam ruangan. Ia disambut lega oleh ibu dan ayahnya.


“Chien Wan! Syukurlah!” Sui She menggenggam kedua tangan putranya. “Ibu kira kau pergi juga!”


Chien Wan melihat kekhawatiran di wajah orangtuanya dan ia menghela napas. Ia tak bisa mengecewakan mereka. Sesungguhnya ia pun ingin pergi, namun teringat akan pesan Ouwyang Ping bahwa ia harus menjaga orangtuanya. Maka ia pun tinggal. Kini melihat betapa cemas dan sedihnya kedua orangtuanya, ia senang telah memutuskan untuk tinggal.


“Kau tak apa-apa, Nak?” tanya Ouwyang Kuan pelan. Ia masih agak canggung terhadap anaknya itu.


Chien Wan mengangguk. “Aku tak apa-apa, Ayah.”


Sui She menatap mata Chien Wan. Sepasang mata itu demikian terluka, namun menampakkan ketegaran hati yang mengharukan. “Benarkah?” tanyanya penuh kecemasan.


Chien Wan mengangguk, tanpa senyum. Mungkin akan butuh waktu lama supaya ia bisa tersenyum lagi. Tetapi setidaknya ia sudah lebih tabah sekarang. Semua ini adalah takdir, pikirnya. Mungkin takdir mengharuskan kehidupannya harus seperti ini. Garisan nasibnya mengatur penderitaannya. Mungkin ia memang ditakdirkan untuk menderita seumur hidupnya....


“Chien Wan, ikut aku!”


Suara garang itu mengagetkan semua orang, namun tidak demikian halnya dengan Chien Wan. Pemuda itu sudah terbiasa dengan kelakuan Tuan Ouwyang Cu.

__ADS_1


“Baik, Guru....”


Tuan Ouwyang meradang. “Siapa gurumu?!” tukasnya keras. “Kau memang sama saja dengan ibumu, tidak tahu aturan! Kau ini cucuku! Namamu Ouwyang Chien Wan! Ingat itu! Sekali lagi kau panggil aku ‘guru’, akan kutampar mulutmu!” bentaknya. “Panggil aku sesuai aturan. Dasar anak tidak tahu sopan santun!”


Chien Wan tersentak. Ditatapnya Tuan Ouwyang dengan perasaan kacau.


“Ayya!” seru Tuan Ouwyang putus asa. “Ayo ikut aku!”


***


Di ruang kerja Tuan Ouwyang Cu, mereka duduk berhadapan tanpa bicara sepatah kata pun. Tuan Ouwyang Cu hanya diam saja sambil mengawasi wajah Chien Wan yang murung dan membisu.


“Hm...,” gumam Tuan Ouwyang. “Gara-gara orangtuamu kau jadi begini. Mereka memang keterlaluan!” gerutunya.


“Kakek tak boleh menyalahkan mereka. Semua memang sudah menjadi garisan nasib kami,” kata Chien Wan pelan.


“Kau memang berpendapat demikian. Tapi bagaimana dengan Ping-er?”


Chien Wan menelan ludah. Hatinya teriris. Luka yang disangkanya sudah menutup kini kembali menganga dan mengucurkan darah! Diingatkan akan gadis itu membuatnya ingin menangis.


“Dari luar dia tampak tegar. Tapi aku tahu sebenarnya dia sangat sedih dan putus asa! Mencuci dosa ibunya itu hanya omong kosong! Yang sebenarnya, dia tak ingin bersamamu karena dia tak bisa menganggapmu kakak!”


Chien Wan mengangkat wajahnya yang pucat.


“Ping-er itu cucuku. Hatinya aku tahu betul! Dia sudah memujamu sejak masih ingusan. Perasaan sakitnya tentu kau yang paling tahu!” ujar Tuan Ouwyang tajam. “Mungkin sebaiknya memang begini. Kalian berpisah untuk sementara waktu. Itu lebih baik!”


Chien Wan menunduk. Angannya melayang pada waktu pertama kali ia bertemu dengan Ouwyang Ping di kaki bukit Lembah Nada. Segala hal, suka dan duka telah mereka lalui bersama. Sampai akhirnya mereka harus berpisah dengan cara seperti itu. Ia tak akan melupakan luka dan segala derita yang terlukis di wajah Ouwyang Ping. Ia takkan pernah melupakan kata-kata perpisahan yang sungguh memilukan dan diucapkan dengan gemetar dari mulut Ouwyang Ping.


Ia tak akan pernah melupakan cintanya pada Ouwyang Ping.


“Mulai sekarang kau harus bekerja keras. Jauh lebih keras dari sebelumnya. Sekarang kau memiliki tanggung jawab sebagai calon Majikan Lembah Nada!” kata Tuan Ouwyang tajam.


Chien Wan terkejut. “Kakek?”


“Jangan membantah!” bentak Tuan Ouwyang marah. “Dan jangan sekali-kali menolak tanggung jawab ini!”


Chien Wan terdiam sambil *******-***** tangannya dengan gelisah. Calon Majikan Lembah Nada? Bagaimana mungkin? Ia sama sekali tidak ingin menjadi pemimpin! Tanggung jawab ini terlalu berat untuknya karena ia tahu kemampuannya sendiri. Ia tidak berbakat menjadi pemimpin. Apalagi harus menguasai Lembah Nada yang termasyur. Tidak mungkin!


“Kau tak punya pilihan, Chien Wan!” tekan Tuan Ouwyang. “Kau adalah satu-satunya anak laki-laki A Kuan dan A Kuan adalah satu-satunya anakku. Kau mewarisi marga Ouwyang, maka otomatis Lembah Nada akan jatuh ke tanganmu. Kecuali jika ibumu melahirkan anak laki-laki lagi. Namun tetap saja kau harus menjadi panutannya karena kau anak sulung. Kau bertanggung jawab atas kelangsungan Lembah Nada!”


“Kakek, rasanya aku tidak mampu....”


“Jangan mengada-ada!” potong Tuan Ouwyang keras. “Kau keturunan keluarga Ouwyang, kan? Sejak dulu, keluarga Ouwyang selalu unggul dalam musik dan ilmu silat. Lembah Nada adalah nama yang disegani, tapi di balik nama itu terdapat keluarga Ouwyang. Kau mewarisi darah keluarga Ouwyang. Jadi siapa bilang kau tidak mampu?”


Chien Wan terdiam. Kalau sudah begini, bicara apa pun rasanya percuma saja. Tak ada gunanya menentang Tuan Ouwyang. Apa pun yang menjadi keputusan Tuan Ouwyang, tak akan mungkin bisa dibantah. Chien Wan tahu benar akan hal itu.

__ADS_1


__ADS_2