
Semenjak pergi meninggalkan Wisma Bambu, Chien Wan mengembara tak tentu arah. Ia belum berkeinginan pulang ke Lembah Nada karena masih ingin mencari pengalaman di dunia luar.
Dalam pengembaraannya, ia telah mengalami berbagai peristiwa yang menambah pengetahuannya mengenai segala sesuatu. Ia telah menjumpai berbagai macam karakter manusia, berbagai macam ilmu silat dari berbagai aliran, baik golongan hitam maupun putih. Dan ia pun telah lama menyadari bahwa manusia tidak hanya terdiri dari aliran hitam dan putih saja. Ada juga orang-orang berkarakter aneh sehingga sering dianggap sebagai orang golongan hitam, namun ternyata memiliki budi pekerti yang menyerupai orang golongan putih.
Namanya semakin dikenal di kalangan Dunia Persilatan sebagai Suling Maut dari Lembah Nada. Ia terkenal karena selalu bertindak untuk menolong orang-orang yang sedang dalam kesusahan.
Ia tiba di Kota Lok Yang tanpa direncanakan sebelumnya. Karena sudah sampai di sana, ia berpikir tak ada salahnya berkunjung ke kediaman Pendekar Sung. Siapa tahu ada sesuatu yang bisa dilakukannya di sana.
Kedatangannya di kediaman Pendekar Sung disambut gembira oleh pria itu.
“Jadi Siu Hung pergi bersama Paman Sung ke Lembah Nada?” Chien Wan menggumam.
“Sudah hampir tiga bulan,” angguk Pendekar Sung.
“Hanya mereka berdua?”
“Oh, tidak. Kakak Cen juga mengajak A Ming, Fei Yu, dan A Nan—pelayan Fei Yu. Sebenarnya Kakak Cen tidak mengajak Siu Hung, Fei Yu-lah yang mengajaknya. Dan Siu Hung girang sekali. Aku tak sampai hati mencegahnya.”
“Fei Yu mengajak Siu Hung.” Chien Wan agak bingung dengan pemberitahuan itu.
Pendekar Sung tertawa. “Hal yang tidak terduga kadang terjadi, Chien Wan. Chang Fei Yu yang dulu membuat keonaran di pertemuan para pendekar itu kini bukan lagi orang yang sama. Dia makin dewasa seiring dengan berlalunya waktu. Sejak kedatangannya bersama ayahnya dan A Ming ke sini, ia jadi dekat denganku. Kami sering membahas berbagai hal. Dia mengejutkanku dengan pandangan-pandangannya yang ternyata begitu luas.”
Chien Wan mendengarkannya dengan penuh perhatian. Ia tidak heran sama sekali.
“Dan putriku langsung lekat dengannya. Sifat mereka hampir sama. Fei Yu ternyata lebih bisa mengendalikan kebandelan putriku dibanding aku sendiri. Siu Hung seperti mendapat seorang kakak,” tambah Pendekar Sung. “Yang lebih menyenangkan hatiku, Fei Yu ternyata melatih Siu Hung dengan ilmu silat. Sejak mereka berteman, ilmu silat Siu Hung semakin maju.”
“Bagus kalau begitu. Fei Yu menguasai ilmu tinggi.”
Pendekar Sung mengangguk. “Coba Siu Hung ada di sini sekarang. Kau bisa mengajarinya satu-dua jurus, kan?”
Chien Wan tersenyum kecil.
Tiba-tiba, sesosok tubuh berbaju biru melesat ke tengah-tengah ruangan dengan gerakan sangat lincah. “Aku pulang!”
“Siu Hung!”
Pendekar Sung berdiri dan menangkap putrinya yang terus saja hendak menuju ruang dalam. “Kau mau apa?”
“Memanggil semua penjaga!”
“Untuk apa?”
“Cheng Sam mengkhianati Paman Chang! Aku mau mencarinya dan menghajarnya!” beritahu Siu Hung berapi-api, sama sekali tidak menyadari kehadiran Chien Wan di sana.
Pendekar Sung terperanjat. “Apa maksudmu? Apa yang terjadi dengan Kakak Chang?”
Siu Hung berkacak pinggang. “Cheng Sam brengsek itu ternyata menggunakan kesempatan dalam kesempitan sewaktu Fei Yu pergi. Dia ternyata sudah menyiapkan pasukan dan mempengaruhi hampir semua anak buah Paman Chang untuk membelot kepadanya. Saat kami pergi, dia meracuni Paman Chang dan mengobrak-abrik Bukit Merak! Dia mengambil semua barang berharga; uang, senjata pusaka, seluruh emas dan batu mulia, serta kitab ilmu silat tinggi!” serunya keras.
“Kurang ajar!” Pendekar Sung marah sekali. “Aku akan menyiapkan anak buahku!”
__ADS_1
Chien Wan berdiri dan menghampiri. “Aku pergi ke Bukit Merak sekarang, Paman.”
“Baiklah. Aku menyusul nanti.”
Siu Hung terkejut karena baru menyadari kehadiran Chien Wan. “Kakak Ouwyang! Kau di sini rupanya! Ayo kita pergi ke sana!” serunya sambil menarik keras jubah Chien Wan.
Tanpa membuang waktu, Chien Wan dan Siu Hung segera pergi ke Bukit Merak. Pendekar Sung segera bergegas menyiapkan pasukan pendekar untuk membantu Dewa Seribu Wajah.
***
Chang Fei Yu benar-benar murka. Kepulangannya disambut dengan pemberitahuan bahwa ayahnya terluka parah oleh serangan Cheng Sam. Nyaris meninggal oleh racun yang ditelannya. Ternyata selama ini, Cheng Sam membubuhkan racun sedikit demi sedikit ke dalam makanan yang disantap Tuan Chang. Maka makin lama kondisi Tuan Chang semakin lemah. Tidak ada yang menduga bahwa melemahnya kondisi Tuan Chang adalah akibat racun. Bahkan Tuan Chang sendiri pun mengira dirinya hanya terlalu lelah sehingga jatuh sakit.
Saat Tuan Chang makin lemah, Cheng Sam pun bertindak. Ia menguras habis seluruh harta benda, pusaka, serta kitab ilmu silat warisan leluhur. Ia tidak membunuh Tuan Chang bukan karena kemurahan hati. Ia ingin Tuan Chang mati perlahan-lahan karena racun dan juga kesedihan karena harus kehilangan segalanya.
Dan memang seperti itulah yang dialami Tuan Chang. Saat Fei Yu datang, kondisinya sudah demikian lemah hingga ia hanya bisa menyambut putranya di tempat tidur.
Fei Yu yang gatal ingin mengejar Cheng Sam terpaksa membatalkan niatnya melihat betapa lemahnya kondisi ayahnya. Ia pun merawat ayahnya. Siu Hung-lah yang murka dan langsung pulang ke Kota Lok Yang seorang diri untuk menyiapkan pasukan ayahnya dan melakukan pengejaran terhadap Cheng Sam.
Keadaan di Bukit Merak sungguh menyedihkan. Anak buah mereka tinggal segelintir, itu pun hanya orang-orang lama yang sudah tua dan tinggal demi pengabdian terhadap Tuan Chang. Kondisi rumah berantakan dan tidak terawat.
Keadaan Tuan Chang sendiri tak kalah menyedihkan. Ia tampak pucat dan tua, racun melemahkan tubuhnya. Tubuhnya kurus dan ringkih, sangat berbeda dengan Dewa Seribu Wajah yang garang itu.
Fei Yu memanggil anak buahnya yang masih tersisa dan memerintahkan mereka untuk mencari informasi keberadaan Cheng Sam. Dia sendiri terus berjaga di samping tempat tidur ayahnya dan merawat ayahnya dibantu A Nan dan seorang tabib.
“Tuan Muda,” panggil A Nan dengan suara berbisik.
Fei Yu menoleh dengan letih. Ia, A Nan, Siu Hung sudah melakukan perjalanan jauh dari Wisma Bambu. Mereka kurang tidur dan kelelahan, ditambah lagi dengan mendapati kondiri Bukit Merak ternyata seperti ini. Sejak kedatangannya dua hari yang lalu, mereka sama sekali belum sempat beristirahat.
“Tuan Muda sendiri belum beristirahat sejak dua hari yang lalu. Sebaiknya Tuan Muda tidur, biar saya yang menjaga Tuan Besar.”
“Tidak. Ayah harus diberi obat setiap tiga jam. Aku belum bisa tidur.”
“Saya bisa melakukannya.”
“Tidak.”
A Nan menghembuskan napas. Ia tidak bisa mendesak Fei Yu untuk melakukan sesuatu jika Fei Yu sendiri tidak mau.
Akhirnya mereka berjaga berdua sambil membisu.
“O ya, apa ada kabar dari Siu Hung?” tanya Fei Yu pelan. Ia agak mencemaskan Siu Hung. Perjalanan ke Kota Lok Yang memakan waktu setengah hari. Seharusnya ia mengantarkan Siu Hung pulang kembali dengan selamat. Namun ia tidak mempunyai waktu untuk melakukannya. Siu Hung sendiri tidak bisa dicegah. Anak itu marah sekali ketika pergi.
“Belum, Tuan Muda.”
“Mudah-mudahan saja di perjalanan dia tidak bertemu dengan Cheng Sam. Cheng Sam membencinya sama seperti dia membenciku. Bagaimana pun, Siu Hung selalu mengerjainya dengan cara yang lebih jahat dari aku.”
Mau tak mau A Nan tersenyum. “Kalian berdua kompak sekali.”
Saat itu, seorang pengawal masuk.
__ADS_1
“Lapor, Tuan Muda. Nona Siu Hung datang bersama seseorang.”
Fei Yu berdiri. Ia menoleh pada A Nan. “Kau jaga ayahku,” perintahnya.
“Baik, Tuan.”
Fei Yu bergegas keluar dari kamar ayahnya dan langsung menuju ruang depan. Ia mengira Siu Hung datang bersama ayahnya. Alangkah terkejutnya dia melihat siapa yang datang bersama Siu Hung.
“Chien Wan!”
Chien Wan mendekat. “Bagaimana keadaan ayahmu?”
Wajah Fei Yu langsung muram. “Kau sudah tahu rupanya. Keadaan ayahku sangat buruk,” katanya kesal. “Cheng Sam mencekoki ayahku dengan racun setiap hari dengan dosis kecil. Ayahku tidak curiga sedikit pun. Bahkan sewaktu badannya bertambah lemah pun, dia tidak punya pikiran macam-macam. Dikiranya hanya kelelahan biasa. Ternyata dia bertambah lemah. Dan setelah dia sadar, semuanya sudah terlambat.”
“Sudah memanggil tabib?”
“Sudah. Tabib sudah meracikkan obat penawar. Susahnya, ayahku sudah menelan racun itu sejak lama. Maka khasiat obat pun tidak terlalu manjur. Tabib menyuruhku menyuapinya dengan obat tiga jam sekali,” cerita Fei Yu.
“Kau tenang saja, Fei Yu! Ayahku sekarang sedang mengerahkan para pendekar untuk mencaritahu di mana si brengsek itu sekarang. Mereka akan membekuknya beramai-ramai!” beritahu Siu Hung berapi-api.
Fei Yu meringis. “Terima kasih.”
Chien Wan tercenung. “Aku ingat sewaktu Cheng Sam menghadang kami dua tahun lalu, setelah kami melarikan diri—“
“Cheng Sam menghadangmu?” potong Fei Yu.
“Ya. Setelah kau membantu kami meloloskan diri, ternyata kami dihadang di perbatasan Kota Lok Yang. Tetapi yang ingin aku bicarakan adalah, waktu itu Cheng Sam bersama-sama dengan dua orang berpakaian asing. Menurutku, seperti pakaian orang dari suku di luar perbatasan—“
“Pasti orang Khitan!” sambar Siu Hung. “Aku selalu menguping pembicaraan ayahku jadi aku tahu masalah Dunia Persilatan. Aku pernah mendengar ayahku dan teman-temannya membahas masalah yang ditimbulkan oleh enam orang berilmu tinggi yang berasal dari Khitan!”
“Bisa jadi,” gumam Chien Wan sambil merenung. “Dalam pertemuan para pendekar dua tahun lalu pernah juga dibahas mengenai kemunculan enam orang Khitan yang selalu menantang perguruan silat dan membuat keonaran.”
“Maksudmu, Cheng Sam bersekutu dengan orang Khitan untuk menghancurkan Bukit Merak?” seru Fei Yu.
“Betul!” sambar Siu Hung bersemangat.
“Aku khawatir bukan hanya itu,” sela Chien Wan. Raut wajahnya tampak khawatir. “Menurutku, mereka punya rencana yang jauh lebih buruk dari itu.”
“Apa?”
“Entahlah,” gumam Chien Wan ragu. “Itu hanya dugaanku saja.”
Fei Yu dan Siu Hung berpandangan.
A Nan keluar dan memanggil, “Tuan Muda!”
Fei Yu tersentak. “Ada apa, A Nan?”
“Tuan Besar sudah tersadar. Beliau ingin bicara denganmu!”
__ADS_1
Fei Yu bergegas masuk.