Suling Maut

Suling Maut
Keluarga Kam


__ADS_3

Pendekar Yang terperangah. “Menyamar?” gumamnya.


“Cheng Sam menjadi anggota Bukit Merak selama dua puluh tahun lebih, mungkin nyaris seketika setelah dia diusir dari perguruan Anda. Tuan Chang menerimanya menajdi anggota karena dia tidak tahu apa-apa tentang pengusiran itu. Bukankah tadi Anda sendiri bilang, masalah itu merupakan aib sehingga perguruan Anda tidak mau menyebarluaskannya?” Chien Wan menatap tajam.


“Ya, tapi....”


“Justru karena berita pengusiran itu tidak disebarluaskan, maka perguruan lain mau menerimanya sebagai anggota. Tuan Chang menerimanya. Bahkan Cheng Sam menjadi orang kepercayaan beliau selama ini. Akhirnya tanpa sepengetahuan Tuan Chang, dia mempelajari ilmu menyamar. Anda tahu bahwa Tuan Chang Cin Te itu seorang ahli menyamar yang dijuluki Dewa Seribu Wajah, bukan?” Kui Fang melanjutkan kata-kata Chien Wan.


Pendekar Yang sama sekali tidak memperkirakan hal ini. Ia terpana memandangi kedua orang tamunya itu. “Jadi, ada kemungkinan bahwa penjahat yang menguasai ilmu kami itu adalah Cheng Sam yang datang untuk membalas dendam?”


“Besar sekali kemungkinannya!” angguk Kui Fang tegas. “Dan bukan hanya itu. Anda mendengar malapetaka yang terjadi selama ini, kan? Tentang penyerangan oleh orang Khitan, tentang penjarahan di Bukit Merak, dan tentang musibah yang menimpa Wisma Bambu. Semua itu didalangi oleh orang yang sama!”


“Cheng Sam?” bisik Pendekar Yang pelan.


“Betul.”


“Ya Tuhan!” seru Pendekar Yang sambil mengusap wajahnya. “Tetapi... bagaimana bisa dia melakukan hal ini terhadap kami? Bukankah dia pernah menjadi saudara seperguruan kami? Aku pasti tidak akan pernah mau menyakiti saudara-saudaraku sendiri walau guruku mengusirku sekalipun!”


“Tetapi Cheng Sam bukan Anda, Pendekar Yang,” tukas Chien Wan pelan.


Pendekar Yang terpekur.


Saat itulah rombongan Pendekar Sung tiba di tempat itu. Jumlah mereka cukup banyak sehingga meningkatkan semangat para anggota Perguruan Elang Merah.


Pendekar Yang mengerling pada Chien Wan. “Pembicaraan ini akan kita lanjutkan nanti. Sekarang yang terpenting adalah menyelamatkan Ketua Kam dan keluarganya.”


Chien Wan mengangguk.


Mereka menyambut Pendekar Sung.


Segeralah mereka mempersiapkan penyerangan ke Perguruan Elang Merah. Mereka betul-betul mempersiapkan dengan hati-hati. Jangan sampai keluarga Ketua Kam terluka oleh penyerbuan ini.


Maka disepakati bahwa beberapa orang akan membebaskan Ketua Kam dan keluarganya terlebih dahulu sebelum serangan itu dilaksanakan. Chien Wan dan Pendekar Yang-lah yang akan menyelinap masuk ke dalam perguruan untuk menuju penjara bawah tanah, tempat Ketua Kam dipenjarakan.


Keuntungan yang mereka miliki adalah sebagai anggota senior, Pendekar Yang tahu bahwa ada semacam jalan rahasia di dalam penjara bawah tanah. Jalan rahasia itu dibangun beberapa tahun lalu tanpa sepengetahuan anggota lainnya. Yang tahu hanya Pendekar Yang sendiri dan anak buahnya. Sengaja mereka melakukan itu untuk berjaga-jaga apabila mereka harus menghadapi keadaan darurat. Mereka dapat menggunakan jalan rahasia untuk bersembunyi.


Yang lainnya akan menanti di luar, menunggu aba-aba.


Setelah semua rencana dimatangkan, semua segera mengatur pasukan dan bersiap-siap menuju Perguruan Elang Merah. Chien Wan dan Pendekar Yang pergi terlebih dahulu.

__ADS_1


***


Penjara bawah tanah Perguruan Elang Merah dipenuhi oleh anggota perguruan itu sendiri. Ketua Kam beserta istri dan kedua anaknya ditempatkan di dalam sel yang berada paling dekat dengan pintu masuk. Mereka tampak sangat cemas.


“Suamiku, apa yang harus kita lakukan?” tanya Nyonya Kam, seorang perempuan cantik berusia sekitar 40 tahun. Ia memegangi lengan suaminya erat-erat. Tubuhnya menggeletar kedinginan karena penjara bawah tanah ini sangat lembab dan dingin.


Ketua Kam menggeleng. Ia melirik putus asa ke jeruji baja penghalang antara dirinya dan kebebasan. Ia sangat marah. Selama belasan tahun menjadi ketua, belum pernah ia mengalami nasib sesial ini. Dipenjara di perguruannya sendiri!


“Apa Ayah tahu siapa penjahat itu?” tanya putranya gemas. Kam Cin Hu adalah pemuda berusia dua puluh tahun yang tampan dan berbakat. Ilmu silatnya cukup pandai. Namun kepandaiannya tidak cukup untuk menandingi kehebatan penjahat-penjahat itu.


“Ayah, aku takut...,” gumam putrinya gelisah. Kam Cin Mei berusia tujuh belas tahun. Sangat cantik dan menawan. Ia sangat gelisah karena menyadari bahwa para penjahat itu beberapa kali memandanginya dan ibunya dengan penuh minat.


Ketua Kam meraih tangan putrinya dan menggenggamnya erat-erat. “Jangan takut. Ayah akan melindungimu.”


Tepat saat itu, pintu sel bagian luar terbuka. Masuklah tiga orang laki-laki. Mereka tertawa-tawa sambil membuka pintu sel tahanan Ketua Kam.


“Sungguh menyedihkan. Seorang ketua perguruan silat harus dipenjara di perguruannya sendiri!” ejek salah seorang pria yang tubuhnya agak gempal.


Temannya menyahut sambil memandang penuh minat pada Cin Mei dan Nyonya Kam, “Ya. Sayangnya dia membawa keluarganya juga. Padahal kedua perempuan ini bisa hidup enak dengan kita!”


Pria bertubuh gempal itu menoleh dan menyeringai melihat kecantikan Cin Mei dan ibunya. Ia menghampiri mereka dan mengulurkan tangan untuk menyentuh mereka. Namun Ketua Kam segera menarik istrinya dan mendorongnya ke belakang tubuhnya sendiri. Putranya melakukan hal yang sama terhadap adik perempuannya.


Pria bertubuh gempal itu meludah. “Sudah menajdi tawanan masih tidak tahu diri!” hardiknya. Ia mendekat dan menghajar wajah Ketua Kam dengan keras membuat pria itu terpelanting. Istirnya menjerit sambil menghambur memeluk suaminya.


“Bedebah!” Kam Cin Hu menerjang dan menyerang pria gempal itu dengan tinjunya. Dalam kemarahannya, ia lupa adiknya tidak terlindung. Ia mengerahkan kepandaiannya untuk setidaknya memukul pria gempal itu.


Namun pria gempal itu mengelak dan melayangkan tendangan keras yang membuat pemuda itu terjungkal kesakitan. Darah menyembur dari mulutnya. Dan ia kontan tidak sadarkan diri.


“Cin Hu!” seru ibunya panik.


“Ayah, Ibu! Tolong!”


Ketua Kam dan istrinya menoleh dan melihat Cin Mei ditarik-tarik oleh salah seorang penjahat menuju pintu sel. Gadis itu meronta-ronta sambil menjerit-jerit.


“Cin Mei!” raung Ketua Kam. Ia bergegas menuju pintu, namun sebuah tendangan membuatnya terjengkang kembali.


Sementara Cin Mei sudah berhenti menjerit karena ternyata penjahat itu memukulnya hingga pingsan.


Brak!

__ADS_1


Pintu sel terbanting menutup. Pria gempal memandangi keluarga Kam dengan bengis dari balik jeruji. “Masih bagus aku hanya mengambil anak perempuanmu! Kali berikutnya aku akan mengambil istrimu! Ha ha ha!”


Ketua Kam lemas dan terkulai di lantai. Nyonya Kam menangis tersedu-sedu. Putra mereka pingsan.


Anggota Perguruan Elang Merah lainnya yang dipenjara di sel lain hanya bisa terpekur menyesali nasib. Mereka merasa amat sedih mendengar kejadian yang berlangsung. Ingin sekali mereka membantu ketua mereka, namun apa daya mereka? Mereka sendiri tidak bisa keluar dari kurungan!


Ketua Kam mengusap wajah dengan pasrah. Ia tidak tahu harus bagaimana. Ketika itulah matanya menangkap sesuatu yang bergerak-gerak di luar selnya. Ia membelalakkan mata. Lantai batu di bagian luar sel kurungan berderak dan salah satu ubinnya tersingkap terbuka.


Dari bawah ubin batu, muncul sebuah kepala yang sudah dikenal oleh Ketua Kam, membuatnya terperanjat dan berdiri.


“Adik Yang!”


Mendengar seruan Ketua Kam, semua anggota yang terkurung serentak berdiri.


Pendekar Yang melompat keluar dan meletakkan jari di mulutnya. “Ssst!” bisiknya. Lalu ia melongok ke lubang di lantai dan mengulurkan tangannya untuk menarik seseorang naik. Chien Wan melompat ke samping Pendekar Yang.


Ketua Kam tidak mengenal pemuda berbaju hitam yang datang bersama Pendekar Yang, namun ia menduga tentu itu teman Pendekar Yang yang membantunya.


Pendekar Yang menghampiri. “Ketua, jangan khawatir. Kami datang untuk membebaskan Anda.”


“Kau masih menyimpan kunci cadangan di sakumu?” tanya Ketua Kam gembira.


Pendekar Yang mengangguk.


Segeralah semua pintu sel dibuka dengan kunci cadangan.


Setelah semua anggota terbebas, mereka dikumpulkan di dekat lubang di lantai. Pendekar Yang menyuruh mereka keluar satu per satu. Ia mengatakan bahwa tepat di jalan keluar lubang ini, rombongan Pendekar Sung sudah menunggu. Segera setelah mereka semua bebas, mereka akan menyerbu untuk mengambil alih perguruan.


Namun Nyonya Kam berseru tertahan, “Cin Mei! Dia dibawa mereka!”


Pendekar Yang terkejut.


Ketua Kam berjalan menuju pintu luar sel. “Aku harus menyelamatkan anakku. Kalian bawa istriku dan Cin Hu keluar!”


“Tidak, Ketua saja yang keluar. Biar aku dan Pendekar Ouwyang yang menyelamatkan Cin Mei,” suruh Pendekar Yang.


Ketua Kam memandang sekilas seolah hendak membantah. Namun ia tidak jadi mengatakan apa pun dan mengangguk. Ia pun melompat turun menyusul istri dan putranya yang telah pergi terlebih dahulu.


Pendekar Yang dan Chien Wan berpandangan. Mereka lalu menuju pintu luar sel. Pendekar Yang mengeluarkan sebatang kunci dan memasukkannya ke lubang gembok yang tergantung di pintu sel. Lalu mereka keluar.

__ADS_1


***


__ADS_2