Suling Maut

Suling Maut
Derita Luo Ting Ting


__ADS_3

A Ming berdiri dan mundur. Mulutnya membuka hendak memanggil penjaga. Namun ia batal berteriak karena Meng Huan mengangkat tangannya dan memohon, “Jangan. Tolonglah.”


Permohonan itu menghentikan A Ming. “Ma... mau apa kau?”


“Aku....” Meng Huan berhenti melangkah karena dilihatnya gadis itu ketakutan. “Jangan takut padaku, A Ming. Kumohon.”


“Kau mau apa? Pergilah dari sini!”


Meng Huan menggeleng. “Aku takkan pergi sebelum kau mendengarkan aku.”


“Kau mau bicara apa lagi?” tukas A Ming parau. “Kau sendiri yang bilang aku ini perempuan bodoh! Mau-maunya percaya padamu....”


“A Ming..., aku minta maaf. Aku khilaf....”


“Khilaf?” seru A Ming tak percaya.


“Kaulah yang kuinginkan untuk menjadi istriku, A Ming. Hanya kau!”


“Pembohong!” sembur A Ming. “Kaupikir aku percaya padamu? Kau memukulku di hadapan semua orang! Kaubilang aku tidak menggunakan otak. Kaubilang kecantikanku tidak seberapa!” Ia tersengal-sengal meluapkan kemarahannya.


Meng Huan menatapnya dengan wajah sedih.


“Aku sungguh-sungguh minta maaf....”


“Aku akan melaporkan pada pamanku bahwa kau ada di sini!” A Ming bersiap-siap hendak berlari.


“A Ming!”


A Ming terpaku. Dilihatnya Meng Huan memegang sebatang pedang yang siap ditusukkannya pada dadanya sendiri. Air mata pemuda itu bercucuran, tampak begitu penuh penyesalan. Ujung pedang sudah menembus kulit dada Meng Huan sehingga darah mulai membasahi bajunya.


Tergesa, A Ming berlari ke arah pemuda itu dan menarik pedang dari tangannya. Dilemparnya pedang itu. Dada A Ming menjadi sesak. “Apa yang akan kaulakukan?” serunya. “Kaupikir aku akan memaafkanmu semudah itu hanya karena kau ingin bunuh diri?”


“A Ming....” Meng Huan terisak. “Aku memang laki-laki tak berguna. Tapi aku sangat mencintaimu. Aku baru menyadarinya sekarang. Tanpa kau, untuk apa lagi aku hidup? Sekarang semua orang sudah memusuhiku. Semua orang ingin membunuhku. Kalau kau pun ingin melaporkanku, apalah artinya hidupku?”


“Kau... Kau...!”


“Jangan tinggalkan aku dalam kepedihan, A Ming. Aku berjanji, aku akan selalu mencintaimu. Kita pergi dari Tionggoan. Kita pergi ke negara baru dan memulai hidup baru. Bagaimana menurutmu?” Meng Huan menatap penuh permohonan.


A Ming gemetar. Ia tak tahu harus bagaimana. Apakah ia akan semudah itu memaafkan Meng Huan?


Meng Huan menghampirinya dan menggenggam tangannya. “Pikirkanlah, A Ming. Kita bisa memulai hidup baru tanpa masa lalu. Kita bertiga: kau, aku, dan anak kita.”


Hati A Ming pun luluh. Ia pasrah saja ketika Meng Huan menariknya ke dalam pelukannya. Apa pun yang telah dilakukan Meng Huan, ia adalah ayah anaknya. Dan A Ming mencintainya.


Maka sejak hari itu, A Ming sering pergi meninggalkan Bukit Merak secara diam-diam untuk menjumpai kekasihnya. Cinta telah membutakan matanya. Ia lupa bahwa Meng Huan telah membunuh banyak orang, menodai temannya sendiri, bahkan menyakitinya di depan banyak orang. Yang tampak di matanya sekarang adalah bayangan Meng Huan yang hendak bunuh diri saat ia hendak meninggalkannya.


Janji Meng Huan untuk menikahinyalah yang paling membuatnya melupakan segalanya. Ia lupa akan perbuatan Meng Huan dahulu. Ia menurut saja atas semua kehendak Meng Huan.

__ADS_1


Dan saat Meng Huan mengajaknya pergi meninggalkan Bukit Merak, ia menyetujuinya dengan senang hati. Maka ia meninggalkan Bukit Merak, seminggu setelah Meng Huan pertama kali menampakkan dirinya di sana.


Kepergian A Ming yang diam-diam itu menggemparkan Bukit Merak. Tuan Chang merasa begitu sedih dan marah. Namun tak sedikit pun ia menduga keponakannya pergi bersama Meng Huan. Ia mengira A Ming pulang ke biara tempatnya dibesarkan. Maka ia mengutus anak buahnya untuk mengunjungi biara itu dan menjemput A Ming. Yang tentu saja sia-sia, karena A Ming tidak berada di sana.


Tuan Chang begitu gusar. Tak ada jalan lain selain menemui putranya. Untuk memanggilnya pulang ia tidak enak hati pada Ouwyang Kuan. Maka ia sendirilah yang pergi ke Wisma Bambu.


***


Keadaan di Wisma Bambu tampak tenang. Kegiatan berjalan seperti biasanya. Semua pelayan menerima perintah dari Ouwyang Kuan dan Sui She tanpa banyak pertanyaan. Mereka memang sempat bingung karena keadaan keluarga majikan mereka berubah. Bahkan Tuan Muda Chi Meng Huan yang ramah itu kini tidak ada lagi. Dan kabar yang tersiar adalah, Chi Meng Huan-lah dalang pembunuhan di Wisma Bambu tiga bulan lalu.


Ouwyang Kuan menjalankan perannya sebagai majikan pengganti dengan baik. Ia bersikap tegas dan ramah terhadap seluruh penghuni Wisma Bambu. Sen Khang telah mempercayakan Wisma Bambu padanya, dan ia tak mau mengingkari janjinya. Kehadiran Fei Yu di sana cukup membantunya.


Tanpa terasa, sudah hampir dua minggu Tuan Ouwyang membawa Chien Wan dan kawan-kawan ke Pulau Ginseng. Semua orang di Wisma Bambu menanti dengan gelisah. Mereka sangat mencemaskan kondisi Chien Wan. Apakah Dewa Obat itu memang sehebat yang dikatakan Pendekar Sung? Bisakah dia menyembuhkan Chien Wan? Dan mengapa sampai saat ini mereka belum juga kembali?


Keadaan Ting Ting sendiri cukup mengkhawatirkan Ouwyang Kuan dan istrinya. Kehamilannya sudah berusia tiga bulan lebih. Sebentar lagi, kehamilan itu akan mulai terlihat. Untunglah tubuh Ting Ting ramping dan pinggangnya panjang sehingga kehamilan itu bisa ditutupi. Namun satu-dua bulan lagi keadaan itu takkan bisa disembunyikan.


“Apa yang akan kita lakukan terhadap masalah ini?” tanya Sui She pada suatu malam.


“Masalah apa?”


“Ting Ting.”


Ouwyang Kuan menghela napas. “Entahlah. Satu-satunya cara yang selalu terpikir olehku hanyalah menikahkannya. Tetapi sekarang... entahlah.”


Sui She mendesah. “Dia sudah menolak menikah dengan Chien Wan. Lalu Meng Huan ternyata bukan orang baik. Kita tidak punya pilihan lain selain melaksanakan rencana Ping-er dulu.”


“Ya,” angguk Sui She. “Menyerahkan bayi yang dilahirkan Ting Ting kepada orang lain. Setelah itu Ting Ting akan kembali seperti sedia kala. Dia tidak akan terbebani oleh bayi yang menjadi aib keluarga dan aib dirinya sendiri. Dia bisa menikah dengan pria lain yang mencintainya dan mau mengerti kondisinya yang bukan lagi perawan.”


“Rencana itu sangat berisiko, Istriku. Bagaimana kalau ternyata Ting Ting tidak mau menyerahkan anaknya? Cinta seorang ibu sangat besar, Istriku. Kau sendiri dulu pernah merasakan betapa sakitnya dipaksa berpisah dari putra kita, kan?” ucap Ouwyang Kuan.


“Tapi itu beda!” bantah Sui She. “Anak kita adalah buah cinta. Sedangkan anak Ting Ting....”


“Anak itu juga tidak berdosa, Istriku.”


Sui She terdiam.


Sementara itu, Ting Ting sendiri tengah berbaring di tempat tidurnya. Ia terlelap dengan gelisah dan bermimpi buruk.


Dalam mimpinya, ia telah melahirkan bayinya. Yang membuatnya sangat ketakutan, bayi itu berwajah mirip sekali dengan Chi Meng Huan. Lalu ketika bayinya lahir, Chi Meng Huan ada di dekatnya dengan mengenakan pakaian pengantin. Anehnya, Ting Ting sendiri pun mengenakan pakaian pengantin saat melahirkan itu.


Meng Huan memandangnya dengan pandangan membara.


“Akhirnya kau menjadi istriku,” katanya dengan suara menyeramkan.


“Tidak...!”


Ting Ting berusaha berlari dari sana. Namun kakinya terasa sangat berat dan bayi dalam gendongannya tiba-tiba membesar dan menjadi Meng Huan, langsung berdiri di samping Meng Huan pertama. Dua Chi Meng Huan mengapitnya dan menarik kedua lengannya.

__ADS_1


“Istriku!” kata Chi Meng Huan pertama.


“Ibu!” kata Chi Meng Huan kedua.


“Tidak! Jangan!”


Tubuhnya dilempar ke pembaringan oleh dua Chi Meng Huan. Keduanya mencengkeram bahunya dan mengguncang-guncangnya.


“Tidak! Tidak! Tidak...!!!”


“Ting Ting!”


Suara panggilan serta guncangan pada bahunya membuat Ting Ting terjaga. Tubuhnya basah bersimbah keringat dingin dan gemetar hebat akibat ketakutannya. Ia membuka mata dan melihat Fei Yu sedang membungkuk di atasnya dan mengguncang-guncang bahunya. Ouwyang Kuan dan Sui She juga ada di sana dengan wajah cemas.


Fei Yu membangunkan tubuh Ting Ting. “Ada apa, Ting Ting?” tanyanya khawatir.


Ting Ting tersengal-sengal ketakutan. “Chi Meng Huan...! Dia mengatakan aku ini istrinya! Lalu... lalu aku melahirkan anak... dan anak itu berubah menjadi dia!” Kata-kata tak beraturan berhamburan dari mulut Ting Ting.


“Tak apa-apa,” hibur Fei Yu lembut. Diusapnya bahu Ting Ting. “Itu hanya mimpi. Dia sudah pergi. Dia takkan mengganggumu lagi.”


Ting Ting sudah berhenti gemetar. Kini ia terisak pelan.


Sui She mendekat dan merangkulnya. Dengan kata-kata lembut, ia menghibur gadis itu. Diusap-usapnya kepala gadis itu dengan penuh kasih sayang.


Ouwyang Kuan menggamit lengan Fei Yu, mengajaknya keluar.


Fei Yu amat gusar dan cemas. “Chi Meng Huan jahanam! Bahkan dalam mimpi pun dia masih mengganggu Ting Ting!”


“Apa yang harus kita lakukan, Fei Yu?” tanya Ouwyang Kuan.


“Entahlah, Paman.”


Ouwyang Kuan menghembuskan napas panjang. “Kita punya masalah lain, Fei Yu.”


“Apa?”


“Usia kandungan Ting Ting sudah menginjak bulan keempat. Untung saja dia langsing, jadi perutnya tidak terlalu kentara. Tapi sebentar lagi perutnya akan membesar. Bagaimana bila ada orang yang bertanya-tanya mengapa Ting Ting hamil tanpa suami? Mereka akan langsung menghubungkannya dengan peristiwa lalu. Bukankah itu akan menjadi aib yang lain lagi yang harus ditanggungnya? Hamil oleh pembunuh orangtuanya sendiri.” Ouwyang Kuan berkata panjang-lebar.


Fei Yu tercenung. “Benar. Itu benar, Paman. Tapi... kita harus bagaimana?”


Ouwyang Kuan menggeleng muram.


Sui She keluar kamar tak lama kemudian. Wajahnya tampak sedih.


“Ting Ting sudah tidur lagi. Kasihan sekali dia,” bilang Sui She lirih. “Mengapa dia selalu harus mengalami cobaan? Apa penderitaannya belum cukup?” Ia membenamkan wajahnya di bahu suaminya, menyembunyikan air matanya yang mulai mengalir.


Suaminya segera mengusap-usap bahunya, menenangkannya.

__ADS_1


Diam-diam Fei Yu meninggalkan mereka.


__ADS_2