
Begitu mendengar bahwa Ting Ting sudah melahirkan, Ouwyang Kuan dan istrinya segera datang kembali ke Wisma Bambu. Mereka sangat gembira melihat betapa ibu dan anak berada dalam keadaan sehat dan bahagia. Terutama, mereka senang melihat kebahagiaan Ting Ting bersama Fei Yu. Ternyata kali ini keberuntungan ada di pihak Ting Ting.
Tuan Chang pun menyempatkan dirinya untuk datang menengok cucu pertamanya. Ia merasa bahagia untuk putranya walau dalam hati ia masih merasa kurang puas. Diam-diam ia berharap Ting Ting segera mengandung lagi dan melahirkan anak yang betul-betul anak kandung Fei Yu. Ia tidak ingin kelak Bukit Merak diwarisi oleh pemuda yang bukan keturunan asli keluarga Chang.
Tentu saja pikirannya itu hanya disimpannya sendiri dalam hati.
Kehadiran bayi mungil itu menjadi pusat perhatian semua orang. Dan itu membuat A Lee yang berusia dua tahun lebih menjadi agak cemburu.
“A Lee kenapa, Bu?” tanya Ouwyang Ping geli melihat adik bungsunya itu tampak ketus dan sebal.
Sui She tertawa. “Dia cemburu pada Yi Hang.”
“Maklum saja,” tukas Ouwyang Kuan geli. “Biasanya kan semua orang selalu memanjakannya. Sekarang dia mendapat saingan. Apalagi kau dan ibumu juga lebih suka menengok Yi Hang sekarang.”
Ouwyang Ping mendekati adiknya dan memeluknya. “A Lee sayang,” bujuknya.
Namun A Lee memberengut dan menepiskan pelukan kakaknya.
“A Lee,” rayu Ouwyang Ping penuh sayang. “Kau tetap kesayangan Kakak Ping kok.” Ia mengecup pipi A Lee yang montok.
A Lee memonyongkan mulut dan menggeleng-geleng lucu.
“Biasanya kalau dia sedang mengambek seperti itu, Siu Hung selalu membawanya berkelebatan di padang rumput dan melempar-lemparnya ke udara,” bilang Sui She mendesah. “Selain Siu Hung, siapa yang mau mengajaknya bermain seperti itu?”
Ouwyang Ping terbahak dan mencium adiknya dengan gemas. Diangkatnya tubuh gemuk adiknya dan dibawanya keluar kamar sambil diayun-ayunkan. Orangtua mereka memandanginya dengan geli.
Tak lama kemudian, terdengar pekik dan jeritan penuh tawa A Lee yang sedang dilempar-lempar ke angkasa oleh kakaknya.
Saat itu, Ting Ting juga sedang berada di taman bersama bayinya. Tuan Chang ada bersamanya. Mereka menonton A Lee bertingkah dan tertawa-tawa.
Kelelahan, Ouwyang Ping berhenti mengayun adiknya dan menghampiri mereka.
“Paman Chang, Ting Ting.” Ouwyang Ping duduk di dekat mereka. A Lee didudukkan di pangkuannya. Bocah itu sudah ceria kembali berkat permainan yang mereka lakukan tadi.
“Sedang apa kau tadi?” Ting Ting tertawa geli.
__ADS_1
“A Lee sedang mengambek. Dia cemburu pada Yi Hang makanya jadi bertingkah. Aku menghiburnya sedikit,” beritahu Ouwyang Ping.
“Cemburu?” Tuan Chang tertawa dan mencubit pipi A Lee yang kemerahan dengan gemas. “Biasanya kau yang jadi pusat perhatian, ya? Sekarang setelah ada saingan kau jadi kesal.”
A Lee berceloteh riang.
Tuan Chang tertawa. “Memang seorang anak yang terlalu lama jadi anak tunggal akan cenderung egois. Fei Yu itu contoh nyatanya!”
“Tidak, Ayah,” bela Ting Ting. “Fei Yu tidak egois. Dia hanya agak manja saja.”
“Tetap saja kelakuannya agak menyebalkan semasa remaja dulu.” Tuan Chang mengangkat bahu. Digelitiknya kaki mungil Yi Hang. “Makanya, kalian harus segera memberi adik untuk Yi Hang. Kalau perlu yang banyak! Jadi aku bisa punya banyak cucu!”
Wajah Ting Ting memerah mendengarnya.
Ouwyang Ping meringis.
“Dan kau juga!” Tuan Chang menoleh pada Ouwyang Ping. “Cepatlah menikah dengan Sen Khang. Sen Khang itu kan kakaknya Ting Ting, jadi dia juga bisa dibilang anakku. Nah, anak kalian kelak akan menjadi cucuku juga. Juga anak Chien Wan, anak Siu Hung, dan....”
“Astaga, jangan dengarkan!”
Fei Yu telah tiba di sana dan mendengarkan kata-kata ayahnya. Ia berkacak pinggang dan menunjuk ayahnya. “Orang tua ini tergila-gila pada cucu! Kalau menuruti keinginannya, aku dan Ting Ting diharuskan mempunyai dua belas anak. Enak saja! Memangnya kami ini kelinci, apa?”
Fei Yu mencibir dan segera duduk di samping istrinya. Diangkatnya putranya dari gendongan Ting Ting dan ditimangnya dengan penuh kasih sayang. Ting Ting memandangi suami dan putranya dengan tatapan lembut dan memuja.
Semua tersenyum menyaksikan kebahagiaan keluarga kecil itu.
“Ngomong-ngomong, mengapa Siu Hung tidak ikut, ya?” tanya Ting Ting pada Ouwyang Ping. “Bukankah dia yang paling bersemangat kalau ingin melihat bayi?”
“Pasti Kakek tidak mengizinkan dia. Kalau berada di dekat kita, anak itu cenderung lebih banyak bermain ketimbang berlatih.”
“Kakekmu itu pria pemberani,” komentar Tuan Chang.
“Mengapa begitu?”
“Bisa bertahan mempunyai murid seperti Siu Hung, apa bukan pemberani namanya?”
__ADS_1
Ouwyang Ping tertawa.
Ting Ting tersenyum, lalu mendesah. “Kakak Wan bagaimana sekarang, ya?”
Secepat kilat Fei Yu menoleh. Sekelebat sinar cemburu muncul di matanya.
Ouwyang Ping meringis. “Dia pasti sedang bersama Kui Fang.”
Ting Ting menoleh dan menyentuh lengan suaminya. “Kakak Wan itu sudah seperti kakakku sendiri. Tidak apa kalau aku mengkhawatirkannya, kan?” katanya lembut.
Kecemburuan lenyap dari mata Fei Yu. Wajah tampannya sedikit memerah karena salah tingkah.
Peristiwa ini tak luput dari tatapan mata Tuan Chang. Rupanya begitu, gumamnya dalam hati. Ternyata banyak hal yang terjadi dalam diri anak-anak muda ini. Kisah cinta di antara mereka tidak sesederhana yang dibayangkan.
“Oya,” kata Tuan Chang serius. “Bulan depan pertemuan para pendekar untuk memilih Ketua Persilatan yang baru akan berlangsung. Apa kalian akan datang menghadirinya?”
Ouwyang Ping mengangguk. Ia dan Sen Khang sudah menerima undangan. Mereka berencana untuk datang karena bagaimana pun Pendekar Sung adalah sahabat mereka dan ia membutuhkan dukungan mereka dalam pengunduran dirinya nanti. Sedangkan mengenai Wisma Bambu, mereka telah meminta pada Ouwyang Kuan dan Sui She untuk menggantikan Sen Khang di sana.
“Kakak Luo dan aku akan pergi. Paman bagaimana?”
“Sebenarnya aku enggan pergi. Kalian tahu, aku ini paling tidak suka berkumpul dengan orang banyak. Bagaimana kalau kau yang pergi, Fei Yu? Mewakili aku dan Bukit Merak,” tawar Tuan Chang pada putranya.
“Ayah, Ting Ting baru saja melahirkan. Aku tidak mau meninggalkannya,” tolak Fei Yu.
“Tidak apa-apa, kok. Kan di sini ada Paman dan Bibi juga Ayah,” bilang Ting Ting.
“Tetap saja aku tidak akan tenang,” tukas Fei Yu. “Apa kau masih ingat beberapa bulan lalu, ada penyusup yang hendak masuk kamarmu?”
Ting Ting terdiam. Ia nyaris melupakan kejadian itu. Diingatkan seperti ini membuatnya merasa cemas.
Sen Khang telah berada di sana saat itu. “Kalau begitu biar aku dan Ping-er yang mewakili Paman,” usulnya.
Mereka semua menoleh.
“Baguslah kalau kau mau mewakiliku juga!” Tuan Chang tersenyum lega. “Sebagai gantinya, biar Fei Yu membantu Adik Ouwyang mengurus Wisma Bambu.”
__ADS_1
“Ya, kita sepakati saja begitu!” angguk Fei Yu.
***