Suling Maut

Suling Maut
Harpa Kencana


__ADS_3

Tuan Ouwyang Cu merasa sedih dengan kepergian cucu perempuan yang sangat disayanginya. Meskipun demikian, diam-diam ia merasa senang dengan kenyataan Chien Wan adalah cucunya. Kemampuan meniup suling Chien Wan sangat luar biasa. Bakatnya melebihi dirinya di waktu muda. Dengan terkuaknya jati diri Chien Wan, berarti sah sudah kedudukannya sebagai calon Majikan Lembah Nada.


Maka mulailah Tuan Ouwyang menggembleng Chien Wan dengan ilmu-ilmu silat tingkat tinggi yang hanya akan diturunkan kepada calon penguasa Lembah Nada. Dan Chien Wan berlatih dengan ketekunan luar biasa, karena hanya dengan begitulah ia dapat melupakan masa lalunya yang pahit.


Juga melupakan cinta yang dirasakannya terhadap Ouwyang Ping.


***


Ouwyang Ping melangkah menyusuri jalan setapak di dalam hutan yang lebat. Langkahnya tersaruk-saruk. Ia tak dapat melihat jalan di hadapannya karena pandangannya kabur oleh air mata. Beberapa kali ia menerjang semak berduri. Pakaiannya terkoyak, jalinan rambutnya berantakan. Kulitnya yang halus tergores oleh duri-duri tajam sehingga berdarah. Walau demikian, ia sama sekali tidak merasakan sakit. Sakit sudah menguasai hatinya begitu dalam sampai-sampai tak tersisa untuk yang lain.


Karena matanya tak dapat melihat dengan jelas, maka ia tak dapat melihat bahwa di depannya ada akar pohon melintang. Ia tersandung akar pohon yang besar itu hingga jatuh berguling-guling. Harpanya terlepas dari tangannya. Kepalanya membentur pohon dengan cukup keras. Seketika pandangannya gelap. Ia pun tak ingat apa-apa lagi.


Ketika ia sadar, ia sudah berada di atas pembaringan batu beralaskan kulit harimau. Ia hendak bangkit namun kepalanya terasa sakit sekali. Ia mengaduh sambil meraba kepalanya. Dirasakannya ada benjolan yang cukup besar di keningnya yang sebelah kiri.


Seseorang yang sejak tadi menjaganya langsung bergerak dan menghampirinya.


“Ping-er, kau tak apa-apa?”


Ouwyang Ping mengerjap-ngerjapkan matanya.


“Kelelawar Hitam?”


Kelelawar Hitam mengangguk.


Ouwyang Ping memandang sekeliling. Ini kedua kalinya ia ditolong oleh Kelelawar Hitam. Kali ini pun ia dibawa ke gua. Lalu ia terkejut menyadari harpanya tidak ada. “Harpaku!”


“Ini.” Kelelawar Hitam meraih harpa emas yang diletakkannya di meja kayu kecil dekat pembaringan.


Ouwyang Ping lega, dipeluknya harpa itu erat-erat. “Dua kali kau menolongku, dua kali pula kau menyelamatkan harpaku. Aku tak tahu bagaimana caranya membalas budimu.”


“Kau tidak perlu membalas apa-apa. Kau orang baik, pasti Tuhan akan selalu melindungimu. Kebetulan saja tadi aku yang lewat dan bisa menolongmu. Sebenarnya aku tidak sengaja menyelamatkanmu. Waktu aku lewat hutan, aku melihat harpa emas tergeletak di semak-semak. Aku kenal harpa itu dan aku tahu kau tidak mungkin pergi tanpa harpamu, jadi aku menduga kau pasti mendapat musibah. Lalu aku mencarimu dan menemukan kau tergeletak pingsan. Kepalamu berdarah dan tubuhmu luka. Aku segera membawamu,” ujar Kelelawar Hitam menjelaskan.


“Apa pun alasanmu, kau adalah dewa penolongku.”


Kelelawar Hitam tersenyum malu-malu. Lalu wajahnya berubah serius. “Kenapa kau sampai jatuh dan luka-luka begini? Bajumu sobek kena duri di sana-sini, rambutmu acak-acakan. Kau juga habis menangis, kan?” tanyanya beruntun. Nada suaranya sangat penuh perhatian.

__ADS_1


Nada suara itu membuat hati Ouwyang Ping serasa diiris-iris. Ia teringat akan semua yang telah terjadi dan tak dapat menahan diri. Tangisnya pun langsung meledak.


“Eh, Ping-er?”


Ouwyang Ping menangis hingga bahunya berguncang-guncang.


“Kau sendirian? Mana Chien Wan? Mengapa dia tidak menjagamu? Dia kan kekasihmu!”


Tangis Ouwyang Ping semakin keras dan memilukan, membuat Kelelawar Hitam tidak tahan. Ia mendekat dan berusaha menenangkan Ouwyang Ping. “Baik, baik. Tidak usah dijawab. Kau diam, ya? Jangan menangis lagi. Aku jadi bingung!” bujuknya tak berdaya.


Perlahan-lahan, tangis Ouwyang Ping mereda. Kini yang terdengar hanyalah isak lirih.


Kelelawar Hitam tidak bertanya lagi. Ia meninggalkan Ouwyang Ping untuk mencari makanan. Dalam hati ia mengira-ngira apa yang sebetulnya terjadi. Apakah Ouwyang Ping berpisah dengan Chien Wan? Apakah Chien Wan mengkhianatinya? Dulu mereka begitu dekat dan tampak sangat saling mencintai. Bahkan dia pun dapat melihatnya. Lantas apa yang terjadi?


Dengan sabar Kelelawar Hitam merawat Ouwyang Ping sampai luka-lukanya sembuh. Ia menjaga dan mengurus Ouwyang Ping dengan baik, seolah terhadap putrinya sendiri.


Perlakuan Kelelawar Hitam ini membuat Ouwyang Ping sangat terharu. Sejak pertama kali bertemu, ia merasa Kelelawar Hitam sangat baik padanya dan ia merasa dekat dengan pria itu. Semenjak peristiwa menyakitkan itu, ia tak memiliki seorang pun untuk mencurahkan isi hatinya. Perasaannya semakin tertekan hingga ia tak tahan lagi.


Akhirnya ia menceritakan kejadian yang menimpa dirinya pada Kelelawar Hitam, tiga hari setelah ia berada bersama pria itu. Kini ia sudah lebih tenang dan terkendali sehingga bisa menceritakan segalanya dengan lancar dan hanya tersendat sekali-sekali. Ia menceritakan segalanya, bahwa Chien Wan—Kakak Wan-nya, kekasihnya yang tercinta—ternyata adalah kakak seayahnya.


“Jadi... Chien Wan itu kakakmu?”


Ouwyang Ping mengangguk pelan. Dadanya masih terasa sesak, tapi ia sudah tidak ingin menangis lagi. Sebenarnya deritanya masih terlampau berat, namun kini setelah ia mencurahkan perasaannya ia merasa lebih tenang. Jauh lebih tenang.


Kelelawar Hitam sangat iba. Ia ingin sekali menghibur gadis itu, namun tidak tahu apa yang harus dilakukannya.


“Jadi apa rencanamu?”


Ouwyang Ping mengangkat bahu.


“Apa kau sudah punya tujuan?”


Ouwyang Ping menggeleng.


Sejenak lamanya mereka berdiam diri.

__ADS_1


Ouwyang Ping menarik napas. “Saat ini aku tak tahu mesti pergi ke mana atau harus melakukan apa. Aku sudah meninggalkan Lembah Nada. Aku tidak mau berada di dekat Kakak Wan. Hanya melihatnya saja sudah begitu menyakitkan buatku.”


Kelelawar Hitam menepuk bahu gadis itu. “Kau tinggal bersamaku saja.”


Ouwyang Ping terkejut dan ragu. “Aku... tak mau merepotkan.”


“Kau tidak merepotkan. Cuma... memang tempatku ini tidak semewah rumahmu,” kata Kelelawar Hitam canggung.


“Aku tidak peduli. Tempatmu ini nyaman. Hanya... kau yakin aku tidak merepotkan?”


“Tentu saja kau tidak merepotkan!” tukas Kelelawar Hitam bersemangat. “Kau boleh tinggal di tempatku, nanti aku akan mengajarimu ilmu meringankan tubuh yang paling hebat! Ilmu silatku memang kalah jauh dengan ilmu silat keluargamu, tapi bukannya menyombong, ilmu meringankan tubuhku jarang bandingannya. Kau sudah melihat kemampuan meringankan tubuh Chang Fei Yu, kan? Itu hasil didikanku!”


Ouwyang Ping menatap heran. Sepertinya Kelelawar Hitam menjadi sangat bersemangat. Alangkah senangnya jika ia bisa mempelajari ilmu ringan tubuh seperti yang dimiliki Chang Fei Yu. Sejak dulu ia dan teman-temannya mengagumi kelincahan dan gerakan ringan pemuda itu yang jauh lebih unggul dari mereka semua.


“Bagaimana, kau mau, bukan?” tanya Kelelawar Hitam cemas.


“Tentu saja. Terima kasih, Kelelawar Hitam.”


Kelelawar Hitam tersenyum bangga.


Beberapa hari kemudian, setelah kesehatan Ouwyang Ping pulih sepenuhnya, Kelelawar Hitam mulai melatihnya. Ia berusaha agar konsentrasi gadis itu sepenuhnya tercurah pada latihannya sehingga tidak punya waktu lagi untuk memikirkan masalah lain.


Ouwyang Ping berlatih dengan giat. Ia bekerja keras untuk menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan oleh Kelelawar Hitam padanya. Ia memang berhasil mengalihkan perhatiannya pada latihan. Bila sedang latihan, ia tidak sempat memikirkan hal lainnya. Seluruh konsentrasinya tertumpah pada latihan.


Namun tidak demikian halnya bila malam hari tiba. Pada saat suasana gelap dan sunyi, angannya selalu melayang pada Chien Wan. ia selalu berusaha memejamkan mata untuk mengusir wajah Chien Wan. Namun semakin erat ia memejamkan matanya, semakin jelas wajah dan tatapan mata Chien Wan di benaknya.


Karena itulah, makin lama Ouwyang Ping makin kurus dan pucat. Wajah berserinya yang dulu begitu menawan kini bagai tertutup awan mendung. Sorot matanya yang dulu hangat mempesona, kini bagai tertutup dan terhalang gunung es.


Akan tetapi anehnya, walaupun Ouwyang Ping tampak begitu kurus, pucat, dan dingin, ia kelihatan anggun bagaikan seorang dewi. Apalagi waktu ia tengah memetik dawai harpa dengan jari-jarinya yang lentik sambil melayang dari satu dahan ke dahan yang lain, ia benar-benar kelihatan seperti seorang peri dari kahyangan.


Kelelawar Hitam memperhatikan gadis itu berubah sedikit demi sedikit menjadi seperti sekarang ini. ia sangat mengagumi keanggunannya sekaligus iba akan penderitaannya. Bagaimana pun ketabahan dan ketegarannya patut dipuji. Gadis lain belum tentu setabah dia dalam menghadapi kenyataan ini.


Hari demi hari mereka lalui dengan pengembaraan. Mereka tidak tinggal di satu tempat saja. Kelelawar Hitam mengajak Ouwyang Ping melakukan perjalanan dengannya dari satu hutan ke hutan lain. Tidur di satu gua ke gua lain. Kelelawar Hitam lebih suka jika ia tidak terlihat orang, jadi Ouwyang Ping lah yang mencari makanan di kota bila persediaan mereka sudah habis.


Ouwyang Ping menjadi sering terlihat di mana-mana. Ia juga sering kali membantu orang-orang yang sedang dalam kesusahan dan membutuhkan bantuan. Namun karena ia tak pernah memperkenalkan namanya, lambat laun orang mulai mengenalnya hanya sebagai ‘Harpa Kencana’.

__ADS_1


__ADS_2