
Mulai esok harinya, Sen Khang dan Chien Wan digembleng dengan keras. Sesuai dengan janji, Dewa Obat melatih Chien Wan dengan Ilmu Pedang Pelangi. Sedangkan Sen Khang mewarisi seluruh ilmu yang dimilki oleh Dewa Obat kecuali Ilmu Pedang Pelangi.
Mulanya Chien Wan ragu-ragu dalam mempelajari jurus baru itu. Ia tak pernah berminat mempelajari ilmu pedang. Namun setelah mulai mempelajarinya, ia mendapati bahwa Ilmu Pedang Pelangi berbeda dari ilmu pedang umumnya. Sama sekali tak terkandung kekejian dalam ilmu tersebut. Ilmu Pedang Pelangi terdiri dari tujuh bagian, seperti warna pelangi. Setiap gerakannya seperti tarian. Khusus pada Chien Wan, setiap gerakan menimbulkan bunyi musik yang indah. Semuanya dikarenakan desiran angin yang menerpa lubang-lubang suling Chien Wan.
Dari semua ilmu yang diajarkan oleh Dewa Obat, Sen Khang paling menyukai Ilmu Pukulan Badai. Ilmu Pukulan Badai mengandalkan kekuatan murni yang dibarengi dengan kecepatan dan ketepatan gerakan. Selama ini kelemahan Sen Khang adalah gerakan yang kurang ringan. Dengan ilmu ini Sen Khang akan dapat mengatasi kekurangannya.
Kedua pemuda itu diperintahkan untuk berlatih di tempat terpisah. Sen Khang disuruh berlatih di Tebing Rumput Perak yang terletak pada bukit di bagian timur Pulau Ginseng. Tebing itu merupakan tempat yang sukar dilewati. Dewa Obat sengaja menyuruh Sen Khang berlatih di sana supaya ilmu-ilmunya bisa dikuasai dengan sesempurna mungkin.
Chien Wan sendiri diminta berlatih di pantai sebelah barat yang agak jauh dari kediaman Dewa Obat. Ia harus menguasai udara agar dapat bergerak sehalus mungkin agar dapat menghasilkan gerakan yang benar-benar ringan. Baginya, tempat latihannya tidak terlalu menyulitkan.
Dewa Obat menyibukkan Ouwyang Ping dan Kui Fang dengan latihan-latihan juga agar kedua gadis itu tidak terlalu sering mengujungi Sen Khang dan Chien Wan. Bahkan, mereka hanya diperbolehkan mengunjungi kedua pemuda itu sebatas untuk mengantar makanan.
Semenjak keempat temannya berlatih, Siu Hung mulai dihinggapi perasaan bosan dan jenuh. Ia kesal karena tak bisa mengajak teman-temannya mengobrol. Pernah secara sembunyi-sembunyi ia mendatangi Sen Khang di Tebing Rumput Perak dan mengganggu latihannya. Namun ketahuan oleh Tuan Ouwyang yang langsung menghukumnya membaca kitab. Ia rela menjalani hukuman apa saja, asal bukan membaca kitab. Baginya itu pekerjaan paling menyiksa.
Ia mulai mengganggu Tuan Ouwyang.
“Kakek, kau sedang apa sih?” tanya Siu Hung ketika Tuan Ouwyang sedang berada di perpustakaan. Padahal pertanyaannya jelas tidak perlu diajukan karena sudah jelas bahwa Tuan Ouwyang sedang bermain catur dengan Dewa Obat.
Tuan Ouwyang tak menjawab karena sedang sibuk berpikir keras sampai keningnya berkerut.
“Kakek...!” rengek Siu Hung.
“Aduh! Apa sih? Tak lihat orang sedang berpikir, ya?” omel Tuan Ouwyang kesal. Lalu ia diam lagi dan memusatkan seluruh perhatiannya pada papan catur di hadapannya.
Siu Hung merengut.
Tak lama kemudian, Tuan Ouwyang menyeringai karena ia sudah menemukan jalan untuk kemenangannya. Tangannya bergerak hendak meletakkan biji catur. Seringai kemenangan mulai memenuhi wajahnya.
“Kakek!” teriak Siu Hung keras di telinga Tuan Ouwyang.
__ADS_1
Tuan Ouwyang tersentak kaget dan salah meletakkan biji caturnya. “Kenapa? Ada apa?”
Dewa Obat menyeringai senang sambil menjalankan biji caturnya. “Aku menang.”
Tuan Ouwyang terkejut, lalu berdiri dengan kesal. “Apa? Tidak bisa! Yang itu tidak masuk hitungan! Aku belum kalah!” serunya gusar.
“Permainan selesai,” bilang Dewa Obat puas. “Dan aku menang.”
“Dasar curang!”
Dewa Obat tertawa kecil. “Curang? Curang apanya? Kau sendiri yang menaruh biji caturmu di situ!” ejeknya.
Tuan Ouwyang melotot pada Siu Hung. “Ini gara-gara kau! Kau berteriak di telingaku, membuat konsentrasiku hilang. Anak bodoh!” hardiknya.
Siu Hung tertawa terpingkal-pingkal. “Sudahlah, Kek. Yang sportif kenapa, sih?” godanya. “Kau kan, sudah kalah!”
“Tapi ini gara-gara kau!” bantah Tuan Ouwyang kesal. “Kenapa kau menggangguku? Sana pergi latihan! Teman-temanmu semua sibuk berlatih, kau malah main-main. Apa tidak malu?”
“Bohong!” seru Tuan Ouwyang. “Aku baru mengajarimu jurus itu seminggu yang lalu. Mana mungkin kau sudah bisa?”
Siu Hung menghentakkan kaki. “Aku benar-benar sudah bisa!”
Mata Tuan Ouwyang menyipit. Lalu ia mengangguk. “Baik! Coba kau peragakan. Kalau kau memang benar-benar sudah bisa, aku akan mengajarimu Ilmu Genderang Surgawi!” janjinya.
Wajah Siu Hung langsung berseri-seri. Ilmu Genderang Surgawi adalah ilmu milik Tuan Ouwyang yang paling sulit dan paling unggul. Ia sudah melihat sendiri kedahsyatan ilmu itu saat Tuan Ouwyang menyerang Chi Meng Huan. Tak ada seorang pun yang pernah mempelajarinya selama ini, bahkan Chien Wan dan Ouwyang Ping pun tidak. Padahal mereka berdua adalah ahli waris Lembah Nada. Ia tahu Chien Wan sudah menolak mempelajarinya. Sedangkan Ouwyang Ping dianggap tidak memenuhi syarat oleh Tuan Ouwyang karena terlalu lembut hati.
“Hebat!” seru Siu Hung.
“Sekarang kau buktikan padaku kalau kau memang benar-benar sudah bisa!” perintah Tuan Ouwyang. “Setelah itu, kuberi kau jurus pertamanya.”
__ADS_1
“Janji, ya?” desak Siu Hung.
Tuan Ouwyang mendengus. “Aku Ouwyang Cu, Majikan Lembah Nada, tidak pernah mengingkari ucapanku!” katanya pongah.
“Kau yang bilang, lho!” Siu Hung tertawa sambil melompat keluar rumah.
“Ouwyang Cu, apa kau serius mau mengajarinya Ilmu Genderang Surgawi?” tanya Dewa Obat. Ia tahu betul kedahsyatan Ilmu Genderang Surgawi. Ilmu itu merupakan ilmu terhebat dan tersulit Lembah Nada. Tidak semua orang mampu mempelajarinya. Jika ilmu itu berhasil dikuasai dengan baik, Siu Hung akan menjadi pendekar tangguh yang sulit ditandingi.
“Tentu!” jawab Tuan Ouwyang.
“Cucu-cucumu takkan iri? Bukankah kau hanya boleh mewariskannya pada satu orang?” Dewa Obat tahu betul akan ketatnya peraturan itu. Ilmu itu hanya boleh dikuasai oleh satu orang dari tiap generasi. Saat ini terjadi kekosongan dalam generasi di bawah Tuan Ouwyang. Satu-satunya putranya dianggap tidak memenuhi syarat. Dewa Obat mengira Tuan Ouwyang akan mengajari salah satu cucunya.
Dengusan Tuan Ouwyang membuat Dewa Obat menyeringai paham. “Minat Chien Wan hanya pada sulingnya! Sedang Ping-er terlalu lembut hati. A Lee—cucuku yang bungsu—masih terlalu kecil. Aku memang menyimpan harapan pada si bungsu. Tapi mungkin aku sudah mati pada waktu dia dewasa. Maka aku memutuskan akan mengajari Siu Hung, dan kelak dia harus mengajarkannya pada A Lee!”
“Apa anak itu bisa mempelajarinya?” gumam Dewa Obat. Ia tahu Siu Hung berbakat besar, namun ia ragu apakah gadis itu bisa mempelajari Ilmu Genderang Surgawi. Tuan Ouwyang saja butuh waktu selama hampir sepuluh tahun baru dapat menguasai keseluruhannya.
“Kalau dia memang mampu menguasai Ilmu Nyanyian Dewa dalam waktu seminggu, dia pasti mampu mempelajari Ilmu Genderang Surgawi. Sejak dulu, kemampuan anak itu memang sangat mengejutkan!” Tuan Ouwyang tertawa. Ia sangat bangga bisa memiliki murid secerdas itu.
Dewa Obat menarik napas. Puluhan tahun lalu ia menang tipis dari Tuan Ouwyang. Ketika itu Tuan Ouwyang baru mulai mempelajari Ilmu Genderang Surgawi. Ia diam-diam yakin bahwa sekarang ini ia tak mungkin dapat mengalahkan Tuan Ouwyang, sekali pun ia memakai Ilmu Pedang Pelangi dan Ilmu Pukulan Badai sekaligus.
“Hei, Kakek jelek! Kakek Pai! Mengapa lama sekali?” teriak Siu Hung dari pekarangan. Kedengarannya ia sudah bosan menunggu.
Tuan Ouwyang merengut mendengar panggilan itu. “Kalau ada satu hal yang kukeluhkan mengenai anak itu, hanya kekurangajarannya saja!” gerutunya kesal.
“Yah, tapi kan sepadan,” seringai Dewa Obat. “Atau kau mau menyerahkan dia padaku saja?”
“Enak saja!”
Mereka berjalan keluar dan melihat Siu Hung sudah berdiri di tengah pekarangan yang luas.
__ADS_1
“Mulai!” perintah Tuan Ouwyang.
***