
Setelah beberapa hari, Chien Wan semakin membaik. Suaranya sudah tidak parau lagi. Napasnya pun sudah kembali normal, tidak tersengal-sengal lagi. Ia sudah mulai melatih kembali pernapasannya. Juga sudah mulai meniup suling, walau musiknya hanya musik yang sederhana.
Kemajuan ini sangat menggembirakan semua orang.
“Tak lama lagi kau akan kembali seperti dulu, Kakak Ouwyang!” sesumbar Siu Hung. “Suling Maut yang gagah perkasa!”
Chien Wan tertawa kecil.
“Kali ini dia benar.” Sen Khang menepuk-nepuk bahu Chien Wan.
“Kali ini?” ujar Siu Hung masam. “Memang biasanya tidak?”
“Biasanya kau hanya membual!” geram Tuan Ouwyang.
“Huh!” Siu Hung mendengus.
Kemajuan Chien Wan ini juga diperhatikan oleh Dewa Obat. Ia sudah mulai melatih Sen Khang dengan ilmu-ilmu yang ia miliki. Ia seorang ahli tangan kosong yang luar biasa, dan ia merasa gembira karena Sen Khang pun berbakat mempelajari ilmu tangan kosong. Ia juga mengajarkan ilmu pengobatan pada Sen Khang.
Melihat Chien Wan dan Ouwyang Ping, mau tidak mau ia merasa iri pada Tuan Ouwyang yang memiliki cucu yang begitu membanggakan. Ia sendiri tidak pernah menikah, karena itu ia tidak mempunyai anak, apalagi cucu. Maka ia menaruh harapan besar pada Sen Khang.
Selama beberapa hari tinggal di Pulau Ginseng, Ouwyang Ping dan Sen Khang semakin dekat. Mereka sering berbincang-bincang berdua saja tanpa mengikutsertakan yang lain. Ada saja hal yang menjadi topik pembicaraan mereka.
Kedekatan mereka diperhatikan dengan seksama oleh Tuan Ouwyang dan Dewa Obat.
“Memangnya cucumu dan muridku mempunyai hubungan khusus?” tanya Dewa Obat.
“Tentu saja!” seringai Tuan Ouwyang puas. “Cucuku begitu cantik dan berbakat. Lelaki mana yang tidak tertarik padanya?”
Dewa Obat mendengus. “Dia memang cantik dan berbakat. Untung saja dia tidak mirip dengan istrimu.”
Tuan Ouwyang berkacak pinggang. “Melanjutkan pembicaraan kita. Mengapa kau tidak mengejar Pei Pei? Aku kan sudah mengalah waktu itu!”
“Kau tidak mengalah dengan suka rela,” gumam Dewa Obat.
“Hah! Tentu saja aku tidak rela! Dari sisi mana pun jelas aku lebih baik darimu. Tetapi aku bisa kalah. Itu karena kau beruntung!”
Dewa Obat mendengus.
“Betul, kan?”
“Tetap saja Pei Pei memilihmu.”
Tuan Ouwyang berkacak pinggang. “Apa sih alasannya? Dia sendiri yang meminta pertandingan diadakan untuk memperebutkannya. Kau menang. Ya sudah! Mestinya dia menikah denganmu!”
__ADS_1
“Seharusnya begitu. Tapi begitu kau pergi dia menangis. Dia mengaku padaku bahwa sebenarnya dia lebih memilihmu. Maka aku membiarkan dia pergi. Aku tidak mungkin memohon. Di mana harga diriku sebagai laki-laki kalau aku mengemis cintanya?” Dewa Obat memalingkan muka.
“Sekarang dia terkenal dengan julukan Kamus Silat.”
“Aku tahu.”
“Jadi Kamus Silat Tung Pei itu pernah menjadi kekasih kalian?”
“Kami bertiga berteman dan....” Dewa Obat tersadar dan menoleh. Dilihatnya wajah jahil Siu Hung ada di dekatnya.
“Anak bandel!” maki Tuan Ouwyang. “Sejak kapan kau menguping di sini?”
“Sejak tadi,” sahut Siu Hung santai. “Cerita kalian menarik sekali. Tak disangka kalian juga pernah muda. Aku pikir kalian terlahir tua seperti ini dan tak pernah mengalami kisah orang muda!”
“Dasar kau!” bentak Tuan Ouwyang.
“Kau ini.” Dewa Obat tertawa. Kasihan Ouwyang Cu, pikirnya. Mendapat murid yang luar biasa bandel begini.
“Permusuhan kalian selama puluhan tahun ternyata cuma gara-gara perempuan,” cibir Siu Hung.
“Jangan salah,” tegur Dewa Obat. “Masalah asmara adalah masalah serius. Persahabatan, bahkan persaudaraan, bisa putus gara-gara memperebutkan cinta. Tetapi... siapa yang bilang aku dan dia bermusuhan?”
“Dia!” Siu Hung menunjuk Tuan Ouwyang.
“Apa bedanya?”
Tuan Ouwyang menjitak kepala Siu Hung. “Sudah! Jangan bicara lagi. Dasar bandel!”
Siu Hung cemberut sambil mengusap-usap kepalanya.
***
Ternyata Dewa Obat mempunyai rencana saat ia menahan mereka semua di pulaunya selama dua bulan. Selain ingin melatih Sen Khang, ia juga berkeinginan menurunkan ilmunya kepada Chien Wan, Ouwyang Ping, dan Kui Fang. Sebagai seorang ahli silat yang memiliki bermacam-macam jenis ilmu, ia ingin membagi-bagikan warisannya kepada orang-orang yang memang pantas mendapatkannya.
Chien Wan dilatihnya dengan ilmu pedang yang dimilikinya. Ia tahu bahwa pemuda itu tidak mau menggunakan pedang. Namun ia punya cara bagus. Suling Chien Wan yang panjang dan lurus bisa dipergunakan sebagai pengganti pedang. Ia menurunkan Ilmu Pedang Pelangi pada Chien Wan.
“Tetua, bukankah Ilmu Pedang Pelangi sudah lama punah?” tanya Chien Wan, teringat perkataan Kamus Silat kepadanya beberapa waktu yang lalu saat ia meminta petunjuk mengenai pembunuhan di Wisma Bambu.
“Memang tidak banyak yang tahu bahwa aku adalah pewaris terakhir dari ilmu itu. Aku sendiri jarang menggunakannya sebab aku tidak suka menggunakan senjata. Kau juga tidak suka senjata tajam, tapi kau bisa menggunakan sulingmu sebagai pengganti pedang,” jelas Dewa Obat.
Chien Wan merenung.
Dewa Obat menoleh pada Sen Khang. “Aku akan mewariskan padamu seluruh ilmuku kecuali Ilmu Pedang Pelangi. Bagaimana, cukup adil, kan?”
__ADS_1
“Lebih dari adil, Guru. Aku memang lebih suka ilmu tangan kosong.”
“Dan kau juga tak usah memanggil guru padaku. Kakekmu bisa mengamuk kalau aku mengambil cucunya sebagai muridku,” kata Dewa Obat pada Chien Wan.
Chien Wan tahu betul sifat kakeknya, maka ia hanya tersenyum saja.
Dewa Obat juga mengumpulkan Ouwyang Ping dan Kui Fang. Ia bermaksud melatih mereka berdua sesuai dengan bakat masing-masing. Saat ini ia menangkap bahwa kepandaian Ouwyang Ping lebih baik dari Kui Fang, bahkan jauh lebih baik. Maka ia lebih memusatkan perhatiannya pada Kui Fang.
Dilatihnya Kui Fang dengan jurus-jurus yang mengutamakan kecepatan dan kelincahan. Ia melihat Kui Fang menggunakan selendangnya sebagai senjata, maka ia pun menekankan penggunaan selendang sebagai senjata.
Untuk Ouwyang Ping, ia hanya mengajarkan cara melatih tenaga dalam.
Usai berbicara pada keempat anak muda itu, Dewa Obat pergi menemui Tuan Ouwyang dan Siu Hung di perpustakaan. Ia sudah berjanji pada mereka untuk bermain catur.
“Ayo kita jalan-jalan!” ajak Sen Khang.
“Bagaimana kalau kita ke taman?” usul Ouwyang Ping.
“Boleh!”
Chien Wan menggamit lengan Kui Fang. “Kita ke pantai.”
Kui Fang mengangguk tanpa banyak bicara.
Ouwyang Ping memandangi kepergian mereka dengan agak kecewa. Sebenarnya ia ingin mereka berempat bersama-sama. Namun agaknya kakaknya lebih suka berdua dengan Kui Fang. Ia tidak menduga sama sekali bahwa Chien Wan sengaja menjauhkan dirinya dan Kui Fang dari mereka berdua agar mereka bisa bercakap-cakap tanpa canggung.
“Kau ingin ke pantai?” tanya Sen Khang halus.
Seketika Ouwyang Ping tersadar. Ia segera menggeleng. “Tidak.”
Mereka berdua berjalan ke taman obat di samping kediaman Dewa Obat. Di sana tumbuh berbagai jenis tanaman yang beraneka rupa. Tanaman-tanaman itu kebanyakan merupakan tanaman aneh yang belum pernah mereka jumpai di bagian mana pun dari negeri ini. Ragam dan warnanya bermacam-macam.
Berjenis-jenis tanaman buah dan bunga mewarnai taman itu. Aroma manis dan tajam memenuhi seluruh taman.
“Wah, tanaman di sini aneh semua!” seru Ouwyang Ping terkagum-kagum.
“Tanaman di sini semuanya mengandung obat dan racun. Kita tidak boleh sembarangan memetik dan memakannya,” komentar Sen Khang, teringat perkataan Dewa Obat kepadanya.
Ouwyang Ping masuk ke dalam taman dan berdiri di tengah-tengah tanaman berbunga ungu yang rimbun, yang terletak agak menjauh dari tanaman lainnya. Ia terpesona melihat kecantikan bunga berwarna ungu itu. Rupanya seperti mawar hutan, namun warnanya ungu pekat dan baunya tercium semerbak—menyerupai aroma plum. Diulurkannya tangannya untuk menyentuh bunga itu.
“Jangan sentuh!”
***
__ADS_1