Suling Maut

Suling Maut
Rencana Keberangkatan


__ADS_3

Chien Wan mendengarkan kata-kata ibunya dengan serius. Ibunya memberitahukan keputusan kakeknya yang diutarakan beberapa saat yang lalu. Kui Fang ada di dekat mereka, tak mengucapkan sepatah kata pun.


“Baik Adik Sung maupun kakekmu yakin bahwa Dewa Obat akan menyembuhkan lukamu,” kata Sui She.


Chien Wan mengangguk. “Aku akan menuruti semua yang dikatakan Kakek, Ibu. Doakan saja aku.”


Sui She menggigit bibir. “Ibu akan selalu berdoa untukmu, Anakku...,” ucapnya sambil menahan jatuhnya air mata. “Kau anakku yang pertama, anakku yang sangat istimewa. Aku begitu merindukanmu selama dua puluh tahun pertama hidupmu. Aku tak ingin kehilanganmu lagi....”


Chien Wan menggenggam erat-erat tangan ibunya. “Ibu tak usah cemas. Aku tak akan meninggalkan Ibu. Kau tak akan kehilangan aku.”


Sui She membelai rambut Chien Wan dengan lembut. Suara putranya terdengar lambat dan parau. Napasnya berat dan lambat. Akan tetapi kata-katanya begitu penuh kesungguhan. Dan hal itu sangat mengharukan hati Sui She. Bagi Sui She, kata-kata putranya itu terdengar indah sekali.


“Bibi...,” sapa Kui Fang. “Saat Kakak Wan pergi, aku....”


Sui She menoleh. “Kau ikut juga, Nak.”


Wajah Kui Fang yang sejak tadi muram kini terlihat berseri.


“Maksud Ibu?” Chien Wan heran, dan juga lega. Tadinya ia pikir ia hanya akan pergi bersama kakeknya saja. Ia sebenarnya tidak senang membayangkan harus berpisah dari Kui Fang.


“Kakekmu mengajak Siu Hung dan Kui Fang untuk merawatmu selama di perjalanan. Tak tahunya ayahmu meminta kakekmu mengajak juga Sen Khang dan Ping-er. Sebenarnya kami sudah lama punya rencana untuk Ping-er....”


Kata-kata Sui She terputus karena beberapa orang masuk ke dalam kamar. Ia menoleh dan melihat suaminya masuk diiringi Ouwyang Ping yang menggendong A Lee.


“Ibu,” sapa Ouwyang Ping halus. Ia mendekati pembaringan. “Kakak Wan, bagaimana keadaanmu?”


Chien Wan menyahut dengan susah payah, “Baik.”


“Kau sudah berkemas, Ping-er?” tanya Sui She.


“Sudah, Bu.”


“Aku dan Kui Fang juga sudah menyiapkan keperluan Chien Wan. Tapi Kui Fang sendiri belum berkemas.” Sui She tersenyum pada Kui Fang. Hatinya tersentuh melihat betapa gadis itu begitu memperhatikan Chien Wan sampai-sampai melupakan kepentingan dirinya sendiri.


Kui Fang tersipu. “Habis aku kan tidak tahu kalau aku diajak juga,” katanya malu. “Kalau begitu aku berkemas dulu, Bi.” Ia berdiri dan menghampiri Chien Wan. disentuhnya lengan Chien Wan sekilas untuk memberitahukan kepergiannya. Chien Wan tersenyum padanya.


Setelah Kui Fang pergi, Sui She menatap putranya. “Benar-benar gadis yang baik, Chien Wan. Ibu suka sekali padanya.”


Chien Wan tersenyum saja. “Aku tahu.”


A Lee merasa semua orang mengacuhkannya, maka ia mulai bertingkah. Ia melonjak-lonjak dalam pelukan kakaknya. “Ibu! Ibu!” serunya riang.


“Aduh, A Lee!” Ouwyang Ping kerepotan.


Sui She langsung meraihnya dan memeluknya. Selama beberapa hari ini ia sibuk mengurus Chien Wan sehingga agak mengabaikan A Lee. Untung saja ada Ouwyang Ping dan Siu Hung yang menggantikannya menjaga dan mengasuh A Lee. Namun bagaimana pun mereka tidak sama dengan ibunya sendiri. A Lee merindukan ibunya. Ia agak kebingungan karena ibunya jauh darinya.


“A Lee, Sayang.” Sui She mengecup kening si bungsu dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Ouwyang Ping tersenyum sambil menoleh pada ayahnya yang juga tersenyum saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Lalu gadis itu mendekati Chien Wan dan duduk di tepi pembaringannya.


Chien Wan menatapnya. Wajah adiknya itu menampakkan sinar yang selama ini tak pernah terlihat lagi. Hati Chien Wan senang dan lega melihatnya. Ia bahagia bisa melihatnya lagi. Hanya saja kali ini binar dalam mata gadis itu tidak tertuju kepadanya. Waktu telah mengubah perasaan mereka.


***


“Yakin tak mau mengajak A Te?” tanya Pendekar Sung pada putrinya yang bandel.


Siu Hung menggeleng dengan hidung berkerut. “A Te itu seperti lintah yang terus menempel padaku! Sedikit-sedikit ‘jangan, Nona! Bahaya!’ atau ‘Ya Tuhan!’ Lama-lama aku bosan mendengarnya! Belum lagi, dia selalu menangkapku kalau aku mau ke suatu tempat!”


Pendekar Sung menahan senyumnya. Semua pengawalnya selalu mengeluarkan perkataan yang sama bila berada di dekat Siu Hung. Bagaimana tidak? Kebadungan Siu Hung sudah melebihi kewajaran, bahkan kadang mencapai batas membahayakan. Yang bagi orang lain mengerikan, baginya biasa saja.


Hanya saja A Te memang yang paling tabah mengahadapi Siu Hung. Ia memang sering ketakutan jika diperintahkan mengawal Siu Hung—sama seperti pengawal lainnya. Namun ia tidak pernah membiarkan Siu Hung berada dalam bahaya. Ia sudah bekerja pada Pendekar Sung sejak Siu Hung berusia dua tahun. Ia salah satu orang yang mengasuh Siu Hung, karena itu sayangnya bukan main. Usia A Te baru 28 tahun, lebih tua dua belas tahun dari Siu Hung.


“Kau tidak boleh membantah kata-kata gurumu. Tidak boleh kurang ajar padanya!” tekan Pendekar Sung. Namun entah mengapa ia merasa nasihatnya percuma saja. Siu Hung itu sangat suka adu mulut dengan siapa saja.


“Jangan khawatir, Ayah!”


“Ayah serius, Siu Hung! Beliau itu gurumu. Lagi pula, kenapa kau tidak memanggilnya guru, sih?” tanya Pendekar Sung keheranan.


“Dia tidak menyuruhku!” jawab Siu Hung seenaknya.


Pendekar Sung geleng-geleng kepala. Ia sangat cemas dengan masa depan putrinya. Siu Hung takkan pernah bisa bersikap seperti gadis lain. Dia terlalu liar dan nakal. Entah siapa yang mau menerimanya sebagai istri. Pendekar Sung tahu ia tak bisa berharap akan mempunyai menantu, apalagi cucu. Sebab bisa saja Siu Hung takkan pernah menikah.


“Siu Hung—“


Pendekar Sung mendesah. “Ya Tuhan!”


Siu Hung memandang jengkel. “Ayah sama saja dengan A Te!” gerutunya.


Mau tak mau Pendekar Sung tertawa.


***


Keesokkan harinya rombongan Tuan Ouwyang berangkat meninggalkan Wisma Bambu. Mereka berangkat pagi-pagi sekali saat matahari belum lagi terbit. Tak berapa lama kemudian, Pendekar Sung dan Tuan Chang pun meninggalkan tempat itu. Mereka diiringi A Ming dan A Te.


Tuan Chang tidak sempat bicara banyak pada A Ming, begitu juga Pendekar Sung. Mereka sebenarnya sangat gusar akan kelakuan keponakan mereka itu. Namun mereka juga tahu bahwa A Ming tak bisa disalahkan sepenuhnya. Ia hanya termakan hasutan dan rayuan dari orang yang sangat pandai melakukannya.


Mengenai hasutan, Tuan Chang sendiri sudah berpengalaman. Selama dua puluh tahun ia termakan hasutan Cheng Sam, melimpahkan kepercayaannya pada orang yang salah. Maka ia memahami perasaan A Ming.


Namun yang menjadi kekhawatiran mereka adalah bayi dalam kandungan A Ming. Bayi yang diakui A Ming sebagai anak Chi Meng Huan. Apa yang harus mereka lakukan dengan bayi itu?


Perjalanan menuju Bukit Merak mereka lakukan dengan membisu.


A Ming tak mengucapkan sepatah kata pun. Wajahnya tampak dingin membeku. Kebencian melanda hatinya. Ia benci kepada Chi Meng Huan yang telah memperalatnya. Ia benci kepada Luo Sen Khang yang telah menolaknya sehingga menyebabkan dirinya termakan hasutan sehingga harus menanggung aib sebesar ini. Dan yang terutama, ia juga membenci dirinya sendiri yang begitu mudahnya terjebak keadaan dan kebencian.


Semua ajaran yang ditanamkan para biksuni itu ternyata tak berguna baginya. Mata hatinya dibutakan kebencian sehingga ia tak mampu lagi membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

__ADS_1


Ia benci dirinya sendiri!


Mereka tiba di Bukit Merak.


Pendekar Sung tidak langsung pulang ke Kota Lok Yang. Sesuai dengan perjanjiannya dengan Tuan Chang, mereka harus bicara dulu dengan A Ming.


A Ming duduk membisu di ruang tengah.


Tuan Chang menghela napas. “A Ming....”


“Silahkan Paman berdua memarahi aku,” kata A Ming dingin. “Aku tahu aku sudah membuat kalian malu dan kecewa. Kalian pasti menyesali permintaan kalian dua tahun lalu supaya aku mau tinggal di sini. Kalau saja kalian menuruti kehendakku untuk pulang ke biara, pasti peristiwa ini takkan terjadi!”


“A Ming!” Pendekar Sung memandang marah. “Kau tidak bisa melimpahkan semuanya dengan mengatakan ‘seandainya’, ‘kalau saja’, dan lainnya! Itu bukan perbuatan yang bertanggung jawab!”


“Aku tahu!” A Ming memalingkan muka.


“Kau sudah berbuat, maka kau harus bertanggung jawab! Jangan menyalahkan orang lain! Permintaan kami dua tahun lalu semata-mata karena kami peduli padamu dan ayahmu! Bukan untuk membuatmu sengsara,” tambah Pendekar Sung.


“Yang terpenting sekarang adalah rencanamu terhadap kondisimu,” sela Tuan Chang serius. “Apa kau mau membiarkan anak itu lahir tanpa ayah?”


A Ming menelan ludah. “Aku... Aku tidak tahu!”


Tuan Chang dan Pendekar Sung berpandangan.


“Kau tidak punya rencana?” tanya Pendekar Sung. Suaranya tidak segarang tadi.


A Ming diam saja.


“Aih!” Tuan Chang menghela napas letih. Tenaganya sudah terkuras untuk melakukan perjalanan. Sekarang ditambah dengan pembicaraan ini.


“Kau mau melahirkannya?” tanya Pendekar Sung lagi.


A Ming mengangkat muka dan menatap wajah kedua pamannya. Kini raut wajahnya tidak sedingin tadi. Ia tahu ia telah bersikap tidak pantas. Kedua pamannya pantas memarahinya karena ia telah berbuat aib, namun ia tidak pantas marah pada mereka. Mereka telah begitu pengertian dengan tidak melimpahkan kesalahan padanya mengenai kematian ayahnya.


“Aku tidak tahu, Paman. Aku tidak peduli. Terserah kepada Paman berdua. Bila kalian ingin aku menggugurkannya, aku akan melakukannya. Bila kalian ingin aku melahirkannya, maka aku akan melakukannya.”


“Mengapa kau menyerahkan keputusan pada kami? Itu anakmu,” tukas Tuan Chang.


Pendekar Sung tak mengatakan apa-apa. Ia juga sama tidak pahamnya dengan Tuan Chang.


A Ming kembali memalingkan mukanya.


“Sudahlah!” Tuan Chang berdiri. “Hari ini kita masih letih. Besok saja kita lanjutkan.”


Pendekar Sung mengangguk.


Kedua pria setengah baya itu berdiri dan meninggalkan keponakan perempuan mereka tertunduk di ruangan itu. Mereka letih menghadapi kebekuan hati perempuan itu. Mereka merasa sangat sedih karena ternyata didikan mereka tak kuasa memadamkan kebencian yang terlanjur bercokol di hati gadis itu.

__ADS_1


***


__ADS_2