Suling Maut

Suling Maut
Kegelisahan Wu Kui Fang


__ADS_3

Ting Ting tengah berbaring di pembaringannya. Ia tidak tidur. Matanya nyalang memandangi bagian atas tempat tidurnya yang tertutup kelambu halus. Pikirannya berkecamuk berbaur dengan rasa mual dan pusing yang sudah beberapa minggu ini menyiksanya.


Tok tok tok!


Ting Ting tidak berniat bangun. Mungkin yang datang cuma Ping-er atau Bibi Sui She, pikirnya. “Masuk,” jawabnya lemah.


Pintu terbuka dan masuklah Chien Wan yang diikuti oleh Kui Fang.


Ting Ting agak kaget, namun ia berusaha tidak menampakkan guncangan perasaannya. “Kakak Wan, Kui Fang...,” katanya lirih. Ia menghela tubuhnya, berusaha bangun dari tidurnya.


Kui Fang segera menghampiri dan membantunya.


“Sudah, jangan bangun dulu. Kau masih sangat lemah, Ting Ting,” cegah Chien Wan.


Ting Ting tidak membantah. Chien Wan benar, ia masih sangat pusing dan mual.


“Bagaimana perasaanmu, Ting Ting?” tanya Kui Fang lembut. Ia sangat iba akan nasib Ting Ting. Gadis itu hampir sebaya dengannya—hanya lebih tua setahun, namun mengapa kemalangan demi kemalangan terus saja menderanya?


“Aku tidak apa-apa. Cuma agak pusing saja,” jawab Ting Ting.


Chien Wan menarik napas panjang. Tangannya terulur untuk menyentuh kening Ting Ting, memeriksa suhu tubuhnya.


Ting Ting sedikit gemetar. Dulu, sentuhan semacam ini sanggup membuat hatinya bernyanyi riang. Ia sangat mencintai pemuda itu hingga rela melakukan apa saja demi bisa berada di dekatnya. Namun semua itu adalah masa lalu. Yang dirasakannya terhadap Chien Wan saat ini hanyalah perasaan malu dan bersalah.


“Kau sedikit demam,” kata Chien Wan. “Sebaiknya aku panggil tabib.”


“Jangan!” Ting Ting mencekal tangan Chien Wan. Matanya basah. “Aku tidak apa-apa. Aku... aku hanya... Pokoknya jangan panggil tabib!”


Chien Wan mengalah. “Baiklah, Ting Ting. Aku takkan memanggil tabib.”


Ting Ting terisak pelan. Wajahnya pucat. “Terima kasih karena kau mau menjengukku, Kakak Wan....”


“Kau ini bicara apa?” Chien Wan menepuk-nepuk bahu Ting Ting dengan tangan kirinya karena yang kanan masih dipegangi oleh gadis itu.

__ADS_1


“Aku telah mengakibatkan kesulitan padamu. Bukan hanya sekarang. Sejak dulu juga begitu. Aku selalu saja merepotkanmu. Membuatmu selalu merasa tidak enak hati terhadap keluargaku. Aku... aku benar-benar sangat membuatmu sulit waktu itu....”


“Tidak, Ting Ting.”


“Itu kenyataannya!” Ting Ting menggeleng kuat-kuat. “Sekarang aku sangat malu. Aku tidak layak lagi berada di dekatmu. Maafkanlah aku, Kakak Wan....”


“Ting Ting.” Chien Wan merasa serba salah. Ia bingung atas sikap Ting Ting.


“Terima kasih untuk tidak membenciku, Kakak Wan...,” isak Ting Ting mengibakan hati.


Chien Wan menggeleng. “Mana mungkin aku bisa membencimu, Ting Ting? Kau tidak bersalah.”


Percakapan itu didengarkan Kui Fang dengan perasaan tidak enak. Apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu? Apakah mungkin Chien Wan dan Ting Ting pernah berhubungan lebih dari sekadar saudara sepupu? Apakah sesungguhnya mereka saling mencintai?


Semua yang dilihatnya akhir-akhir ini membuatnya semakin penasaran. Ada sesuatu yang agaknya diketahui semua orang, kecuali dirinya. Ini semakin mengucilkan dirinya. Semakin membuatnya merasa sebagai orang luar.


Dan Kui Fang gelisah. Ia tidak suka menjadi orang luar.


***


Sen Khang dan Ouwyang Ping mendengarkan keterangan Chien Wan dengan mata terbelalak.


“Jadi begitu,” gumam Ouwyang Ping.


“Cheng Sam yang mendalangi semua ini. Semua peristiwa yang terjadi di Dunia Persilatan, semua kekacauan ini, didalangi oleh Cheng Sam?” geram Sen Khang gusar.


“Dalangnya adalah Cheng Sam,” angguk Chien Wan. “Namun aku tidak berhasil menemukan petunjuk tentang pelaksana pembunuhan itu.”


Sen Khang mengerutkan kening. “Bisa jadi sebenarnya bukan hanya satu orang yang melakukan pembantaian terhadap 23 anggota Wisma Bambu. Mungkin saja ada sejumlah orang yang terlibat. Atau rombongan Cheng Sam melakukan penyerbuan terhadap Wisma Bambu secara serentak.”


“Benar!” angguk Ouwyang Ping. “Bukankah Kakak Wan bilang Cheng Sam selalu dikelilingi oleh rombongan anak buahnya yang berjumlah sekitar 20 orang. Pasti mereka itu yang mengepung Wisma Bambu.”


“Tetapi pembunuh Paman dan Bibi Luo adalah orang yang sama dengan pembunuh Paman Sung. Ingat, mereka punya jenis luka yang sama.”

__ADS_1


“Dan siapa yang telah menyamar menjadi Kakak Wan?” tukas Ouwyang Ping. “Ting Ting dan Kakak Chi melihat sendiri orang itu. Kakak Chi tidak menyebutkan ada berapa orang yang menyerangnya. Dia hanya menyebutkan Kakak Wan.”


“Setidaknya kita bisa tahu, pembunuh Paman dan Bibi Luo serta Paman Sung adalah orang yang sama dengan orang yang melukai Meng Huan dan yang menyerang Ting Ting,” kata Chien Wan pelan.


“Bila yang dibilang oleh Ketua Kam itu benar, mungkin saja Cheng Sam punya seorang anak!” seru Sen Khang.


“Kami pikir juga demikian,” angguk Chien Wan.


“Dan anaknya itu yang melakukan semua perbuatan keji di Wisma Bambu!” Ouwyang Ping mengangguk paham. “Menyamar menjadi Kakak Wan dan melakukan semua kekejian itu.”


“Sekarang masalahnya kita tidak tahu identitas anak Cheng Sam itu,” kata Sen Khang.


“Bisa saja salah satu anak buahnya,” kata Chien Wan. “Tapi tak ada satu pun dari anak buahnya yang kutemui yang ciri-cirinya sesuai dengan petunjuk yang kudapatkan. Usia mereka saja rata-rata lebih dari 30 tahun.”


“Sedangkan anak Cheng Sam pasti usianya tidak jauh beda dengan kita!” sambar Sen Khang.


“Benar.”


“Jadi bagaimana?” tanya Ouwyang Ping.


“Aku hendak menyelidikinya lebih jauh lagi. Saat ini Fei Yu sedang berusaha mencari petunjuk. Aku dan dia punya perjanjian untuk bertemu di Kotaraja sekitar dua minggu lagi,” jawab Chien Wan.


“Kalau saja aku bisa meninggalkan Wisma Bambu, aku akan ikut denganmu,” keluh Sen Khang. “Sayangnya saat ini aku tidak bisa meninggalkan Wisma Bambu begitu saja. Masih banyak urusan yang harus kuselesaikan di sini.”


“Aku mengerti,” angguk Chien Wan.


“Aku juga tidak bisa pergi denganmu, Kak. Aku harus menjaga Ting Ting.”


Chien Wan mengangguk lagi. “Aku tahu. Kau harus menjaga Ting Ting baik-baik. Dia sangat membutuhkan dukunganmu.”


Sen Khang menatap Chien Wan penuh rasa terima kasih.


Seketika Ouwyang Ping resah. Ia teringat niat ibunya yang hendak menjodohkan Ting Ting dengan Chien Wan. Haruskah ia mengungkapkannya sekarang? Tetapi niat ini bahkan belum sempat dibicarakan dengan Sen Khang dan Ting Ting sendiri. Lagi pula, ia tidak mau lancang dengan mengambil alih kewajiban orangtuanya. Biarlah orangtuanya saja yang mengatakannya pada Chien Wan.

__ADS_1


***


__ADS_2