Suling Maut

Suling Maut
Luo Sui She Sembuh!


__ADS_3

Sesuai permintaannya, Paman Khung menempati kamar di bagian belakang Wisma Bambu. Kamar itu terletak tak jauh dari taman belakang. Letaknya di lorong yang langsung menuju Paviliun Taman Belakang, namun tidak termasuk daerah Taman Belakang. Lorong itu biasanya digunakan untuk kamar pelayan yang memang bertugas untuk menyediakan segala sesuatu bagi Luo Sui She. Kali ini, satu kamar yang tersisa diberikan untuk Paman Khung.


Setiap hari Chien Wan datang untuk menungguinya. Paman Khung tampak jauh lebih baik dibanding sebelum Chien Wan datang. Ia sangat senang dengan kedatangan Chien Wan sehingga semangat hidupnya bertambah.


Semakin baik keadaannya, semakin hari pula ia tampak gelisah. Seringkali ia tampak bermaksud mengungkapkan sesuatu pada Chien Wan, namun tidak jadi dilakukannya.


Sudah tiga hari Chien Wan berada di Wisma Bambu. Ia tak punya kesempatan untuk berbincang-bincang dengan teman-temannya karena sebagian besar waktunya habis untuk merawat Paman Khung seorang. Namun ia tak keberatan melakukannya. Ia senang berbakti untuk Paman Khung.


Malam ini ia hendak menemui Tuan dan Nyonya Luo untuk membahas masalah Paman Khung. Ia bermaksud meminta supaya Tuan dan Nyonya Luo mau mengizinkan Paman Khung tinggal di rumah induk. Kesehatan Paman Khung semakin membaik dan ini sangat menggembirakan hatinya. Ia pun berencana meminta izin untuk kembali ke Lembah Nada. Sudah sepuluh hari ia meninggalkan Lembah Nada. Ia sudah sangat rindu pada Ouwyang Ping. Inilah pertama kalinya mereka terpisah begitu lama sejak pertama bertemu.


Karena sibuk melamun, tanpa sengaja ia melewati pekarangan taman belakang. Ketika sadar ia sudah berada di sana. Ia pikir tidak apa-apa karena ia hanya lewat saja. Dalam benaknya masih terbayang peristiwa ketika ia masih berusia sepuluh tahun, ketika ia dikejar oleh Luo Sui She. Karena itu ia berusaha sebisa mungkin supaya tidak menimbulkan suara. Namun rupanya ia masih kurang berhati-hati dan menginjak ranting patah.


Sesosok bayangan putih melayang mendekatinya. Chien Wan terkejut karena tiba-tiba saja Luo Sui She sudah berdiri di hadapannya. Ia masih tetap secantik dan seanggun sepuluh tahun lalu saat pertama kali Chien Wan melihatnya. Kelihatannya Luo Sui She tak bertambah tua sedikit pun. Wajahnya masih sehalus dulu, tak ada keriput sedikit pun. Rambutnya masih tetap hitam lebat dan dibiarkan panjang terurai. Tubuhnya masih seramping dan seindah dulu, tetap serasi dengan gaun sutra putih tipisnya yang berkibar-kibar.


“Nona....” Chien Wan terpaku kaget menatapnya. Kini ia hanya sekadar kaget saja. Ia bukan lagi bocah berumur sepuluh tahun yang mudah merasa takut terhadap hal-hal kecil. Dulu ia memang takut pada perempuan itu, namun sekarang tidak lagi.


Luo Sui She tersenyum lembut.


“Akhirnya kau datang juga, Kakak Kuan.”


Chien Wan tertegun dan menggeleng cepat. “Nona, saya bukan Kakak Kuan. Saya Chien Wan, pelayan di sini.”


Percuma saja Chien Wan menjelaskan karena Luo Sui She sama sekali tidak mendengarnya. “Kakak Kuan, sudah lama kita tidak bertemu. Apakah kau lupa padaku? Ataukah memang sudah tak mempedulikan aku lagi? Apa dia lebih berharga daripada aku?” tanya Luo Sui She beruntun.


“Nona....” Chien Wan salah tingkah karena tak tahu harus bicara apa.


“Gara-gara kau.... aku menderita begini....” Luo Sui She mulai terisak-isak. “Gara-gara kau, aku kehilangan sesuatu yang paling berharga. Karena kau, aku kehilangan segalanya! Kau kejam!” jeritnya.


“Nona....”


Sinar mata Luo Sui She yang tadi begitu lembut kini berubah. Sinar aneh dan buas memancar dari mata itu. Sinar kegilaan!


Chien Wan terperangah. Ia mundur dan berbalik hendak meninggalkan tempat itu. Ia tidak ingin melawan perempuan yang tidak waras macam Luo Su She.


Tapi niat Chien Wan tidak kesampaian karena sehelai selendang menyerangnya dari belakang. Selendang itu membelit lengan Chien Wan dan menariknya hingga ia tertarik dan terpelanting ke belakang.


Luo Sui She terus menyerangnya habis-habisan, namun Chien Wan Cuma mengelak-elak saja sebisanya. Kepandaian Luo Sui She ternyata tinggi sekali, hampir sebanding dengan kakaknya. Namun Chien Wan sendiri tak kalah lihaynya, berkat didikan gurunya di Lembah Nada. Luo Sui She terus saja menyerangnya dengan ilmu meringankan tubuh yang demikian tinggi. Chien Wan juga terus mengelak dengan ringan.


Saat itu, banyak orang datang karena mendengar ribut-ribut. Tuan Luo dan istrinya juga ada. Betapa terkejutnya mereka melihat Chien Wan tengah bertarung dengan adiknya.


“Chien Wan!”


Chien Wan menoleh kaget dan berbalik hendak menghampiri Tuan Luo.

__ADS_1


Namun sebuah tangan mencengkeram punggungnya. Untung ia segera mengelak hingga punggungnya terhindar dari cengkeraman Luo Sui She. Cuma saja pakaiannya terpaksa harus sobek di bagian punggung. Sobeknya cukup besar hingga bagian punggung Chien Wan kelihatan.


Luo Sui She terpaku. Ia membeku dengan secarik sobekan kain hitam di tangannya. Tiba-tiba kepalanya sakit luar biasa sehingga ia terhuyung dan jatuh. Tanpa dapat dicegah, kepalanya membentur batu besar di dekatnya.


Tuan Luo menerjang masuk ke taman belakang dan menangkap tubuh adiknya supaya tidak sampai terjatuh ke tanah. “Sui She!”


Luo Sui She pingsan.


Chien Wan terpaku.


“Chien Wan, bantu aku!” seru Tuan Luo panik.


Chien Wan tersadar dari keterpakuannya, lalu bergegas membantu Tuan Luo mengangkat tubuh Sui She ke dalam paviliun.


Luo Sui She dibaringkan dengan hati-hati di atas tempat tidur. Wajah cantiknya tampak pucat pasi. Keningnya berdarah. Tuan Luo sangat cemas, lalu ia mengambil tangan Sui She dan memeriksa denyut nadinya. Denyut nadi perempuan itu tidak beraturan tanda bahwa ia baru saja mengalami guncangan dalam batinnya.


Chien Wan berdiri terpaku di dekat pintu.


Seseorang menggamit lengannya, mengajaknya pergi meninggalkan tempat itu. Ia menoleh dan melihat Paman Khung. Ekspresi pria tua itu tak terbaca, namun matanya berkilat aneh.


“Aku sudah mencelakakan Nona Sui She, Paman.”


“Jangan salahkan dirimu. Ini adalah takdir.”


Dalam keresahannya, Chien Wan tidak menyadari bahwa Paman Khung yang belakangan ini sakit dan lemah, sekarang tampak sehat dan bugar.


***


Sementara itu, seluruh Keluarga Luo ditambah Meng Huan tengah berada dalam paviliun tempat Luo Sui She tinggal selama ini. Mereka semua berdiri di dekat pembaringan. Perempuan itu sendiri belum juga sadar dari pingsannya.


Tuan Luo duduk di sisi pembaringan sambil menggenggam erat tangan adiknya.


Perlahan-lahan, Luo Sui She mulai sadar dari pingsannya. Kepalanya bergerak-gerak dan matanya mulai membuka.


“Sui She!” panggil Tuan Luo lega bercampur khawatir.


“Sui She!” panggil pula Nyonya Luo.


Luo Sui She membuka matanya lebar-lebar. Ia tampak terpukau, seolah baru terjaga dari tidur yang panjang. Sorot matanya bingung melihat begitu banyak orang yang ada di dekatnya.


“Kakak, Kakak Ipar... ada apa ini?” tanyanya lemah.


Tuan Luo tercengang, lalu ia memandang istrinya yang juga sama terkejutnya dengan suaminya. Serentak mereka kembali memandang Sui She dengan penuh harap. Tuan Luo mengambil kedua tangan adiknya dan membantunya bangun.

__ADS_1


Sui She duduk bersandar pada bantal dengan heran. “Ada apa. Kak?”


“Sui She... kau... kau mengenal kami...?” tanya Tuan Luo dengan susah payah.


Sui She mengerutkan kening dengan heran dan agak takut. “Apa yang sebenarnya terjadi? Aku seperti baru terbangun dari tidur panjang yang penuh mimpi buruk! Dan sekarang kakakku sendiri bertanya apakah aku mengenalnya! Tentu saja aku mengenalmu, Kak. Kau kakakku Luo Siu Man, dia kakak iparku, Cheng Yi Lan!”


Tuan dan Nyonya Luo berpandangan penuh rasa haru bercampur bahagia. Akhirnya! Setelah sekian lama.... Mata mereka berkaca-kaca. Segera saja mereka melampiaskan kebahagiaan mereka. Nyonya Luo memeluk adik iparnya itu erat-erat dan hangat, sedangkan Tuan Luo membelai-belai rambut adiknya dengan sayang. Mereka benar-benar bahagia saat itu.


Sen Khang, Ting Ting, dan Meng Huan berpandangan dan tersenyum senang.


Setelah keharuan mereda, Sen Khang maju dan memberi salam. “Bibi.”


Luo Sui She tertegun. Ia melihat seorang pemuda tampan dan gagah yang berwajah sangat mirip dengan kakaknya semasa muda. “Kau... kau adalah...?”


“Dia putra sulungku, Sui She. Namanya Luo Sen Khang. Yang di sampingnya adalah putriku Ting Ting. Dan pemuda itu adalah Chi Meng Huan, muridku.” Tuan Luo memperkenalkan mereka.


Luo Sui She tercengang. “Jadi... semua itu bukan mimpi,” gumamnya. “Aku sudah kehilangan begitu banyak waktu. Sudah berapa tahun aku lupa ingatan?”


“Sekitar dua puluh tahun, Sui She.”


Sui She tersenyum. “Dan keponakan-keponakanku sudah sebesar ini. aku juga sudah tua,” katanya lembut.


“Bibi tetap cantik, kok,” puji Sen Khang.


Luo Sui She tertawa pelan. Lalu ia mencari-cari di sekeliling. “Eh, mana anakku?”


Pertanyaan ini membuat semua tertegun.


“Sui She, kau belum menikah. Kau tidak punya seorang anak,” terang Tuan Luo, merasa iba. Mungkin, pikirnya, karena waktu sudah berlalu sekian lama dan anak-anaknya sudah dewasa, Sui She pun mengira dirinya telah menikah dan mempunyai anak.


Namun penjelasan itu tidak menyentuh hati Sui She. Ia menggeleng-geleng. “Tidak! Aku punya seorang anak. Dia sudah dewasa dan gagah. Baru saja aku melihatnya!” bantahnya dengan bersungguh-sungguh.


“Sui She....” Tuan Luo serba salah.


“Aku sama sekali tidak bohong!” seru Sui She tidak sabar. “Aku punya anak laki-laki yang juga sudah dewasa. Dia punya tanda lahir berupa bulatan merah di punggungnya!”


Sen Khang terkejut. “Ayah, tanda itu dimiliki oleh Chien Wan!” beritahunya.


Sui She mendengarnya. “Chien Wan? Itukah namanya? Chien Wan!” serunya gembira. Ia bangkit. “Aku mau bertemu anakku! Di mana dia?” tanyanya tak sabar.


“Sui She, jangan bangun dulu. Kau masih sakit,” cegah Nyonya Luo cemas.


Sui She tidak mempedulikan kata-kata Nyonya Luo. Ia berdiri dan berjalan terhuyung-huyung keluar mencari Chien Wan.

__ADS_1


“Putraku! Kau di mana?!” teriak Sui She nyaring.


__ADS_2