
“Nona Ming?”
A Nan mengetuk pintu kamar A Ming. Di tangannya terdapat nampan berisi makanan panas dan semangkuk bubur halus untuk Sien Lung.
Tak terdengar sahutan.
A Nan mengerutkan kening. “Aneh,” gumamnya lambat-lambat.
“Ada apa, A Nan?”
A Nan menoleh dan melihat Hauw Lam mendekat. Tiba-tiba saja detak jantungnya menjadi dua kali lebih cepat. “Kakak Hauw.”
Hauw Lam mendekat. “Apakah Nona Ming tidak mau keluar?”
“Bukan cuma itu. dia bahkan tidak menyahut,” bilang A Nan.
Hauw Lam mendekatkan telinganya di pintu. Sama sekali tidak terdengar suara. “Tidak ada suara. Bahkan suara bayinya pun tidak terdengar.”
Wajah A Nan menjadi agak pucat. Ia merasa sangat cemas.
“Jangan-jangan....”
Tanpa membuang waktu, Hauw Lam mendorong pintu kamar—yang ternyata mudah saja dilakukan karena tidak terpalang. Mereka berdua segera masuk ke dalam. Ternyata dugaan mereka tepat. Kamar itu sudah kosong dan bersih sekali seperti tak pernah ditempati.
A Nan meletakkan nampan di meja dan bergegas memeriksa lemari A Ming. Ternyata kosong melompong. Tak ada sehelai kain pun di sana.
“Dia pergi...,” gumam A Nan cemas.
Hauw Lam mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Ia melihat sesuatu di atas pembaringan. Cepat ia mendekat. Ternyata sepucuk surat.
“A Nan!”
A Nan mendekat dan melihat surat di tangan Hauw Lam.
“Kita harus melaporkan hal ini pada Tuan Chang!”
Keduanya bergegas pergi untuk menemui Tuan Chang.
***
Tuan Chang terduduk lesu di kursi ruang tamu. Surat A Ming diremasnya dengan geram. Ia tidak habis pikir. Mengapa keponakan perempuannya itu begitu sulit dipahami? Apa sebenarnya yang terjadi dengan A Ming? Mengapa dia tidak menerima saja keputusan Tuan Chang untuk membawanya kembali ke Bukit Merak?
Sekarang A Ming pergi. Di suratnya ia hanya mengungkapkan permohonan maafnya karena tidak menjadi anak yang berbakti. Ia juga mengatakan bahwa ia akan mencari jalan yang lebih baik untuk Sien Lung, putranya.
Fei Yu berjalan mondar-mandir sambil menggerutu kesal. Ia juga tidak habis pikir. Sepupunya itu benar-benar orang yang aneh! Orang yang tidak tahu disayang, makinya dalam hati.
__ADS_1
Pendekar Sung masuk ke ruang tamu diikuti Sen Khang dan Chien Wan.
“A Ming pergi?” tanya Pendekar Sung langsung.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Tuan Chang memberikan surat A Ming yang sudah kusut itu ke tangan Pendekar Sung.
Pendekar Sung membacanya dalam hati dengan cepat.
“Aku tidak mengerti!” geram Fei Yu tidak tahan lagi. “Mengapa A Ming begitu sulit diatur?”
“Anak itu benar-benar tidak tahu diri!” dengus Tuan Chang, berang bercampur sedih. “Apa dia tidak menyadari bahwa kepergiannya itu bukan jalan keluar yang baik? Dia hanya membuat kita semua sedih dan bingung memikirkannya!”
“Sudahlah, Kakak Chang.” Pendekar Sung menghela napas. Ia juga tidak tahu mesti bagaimana. A Ming adalah putri kakaknya. Namun gadis itu lebih dekat pada Tuan Chang. Kalau Tuan Chang saja tidak memahaminya, apalagi dia?
“Mungkin dia malu,” gumam Chien Wan pelan.
“Malu?” tanya Sen Khang heran.
Fei Yu memandang Chien Wan dan sekonyong-konyong ia mengerti. Ia mendesah keras. “A Ming selalu mempersalahkan dirinya atas peristiwa yang menimpa Keluarga Luo dan ayahnya. Dia juga merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Ting Ting. Ditambah lagi dia memiliki anak bajingan itu. Jelas dia malu pada kita semua!”
“Dan perasaan malunya semakin besar setelah Sen Khang menyelamatkannya. Dia merasa berhutang budi dan itu membuatnya tertekan!” sambung Pendekar Sung paham.
Sen Khang mengernyitkan kening. “Aku tidak pernah menyalahkan dirinya,” katanya.
“Tentu saja tidak!” angguk Fei Yu. “Dia menyalahkan dirinya sendiri!”
“Kita cari dia pelan-pelan. Mudah-mudahan saja setelah pikirannya jernih, dia mau kembali ke Bukit Merak dan melupakan segalanya,” kata Pendekar Sung.
Yang lain mengangguk-angguk.
Kepergian A Ming membuat semua sedih dan khawatir. Terutama sekali karena mereka takut rombongan Chi Meng Huan akan menemukan perempuan itu dan mencelakainya. A Ming sangat lemah akibat racun yang menyerangnya beberapa waktu lalu. Bila rombongan Chi Meng Huan menemukannya, ia tidak akan bisa membela dirinya.
“Apakah kita akan mencari A Ming?” tanya Ting Ting pada Fei Yu malam itu, saat mereka tengah berdua saja.
Fei Yu mengangguk. “Ayah akan menyebarkan anak buah kita ke seluruh Tionggoan dan mencari A Ming. Tapi yang paling kuharapkan adalah dia sadar sendiri akan kekeliruannya dan kembali ke Bukit Merak atas dasar kemauannya sendiri.”
“Kasihan dia,” gumam Ting Ting sendu.
“Apa kau tidak keberatan bila dia tinggal bersama kita di Bukit Merak?” tanya Fei Yu.
“Tentu saja tidak!”
“Bahkan bila anaknya menjadi teman main anak kita?”
“Ya.” Ting Ting menghela napas. “Betapa pun jahatnya Chi Meng Huan, anak itu tidak berdosa. Tidak adil bila dia menjadi sasaran kemarahan kita terhadap ayahnya.”
__ADS_1
“Kau memang baik sekali,” puji Fei Yu.
Wajah Ting Ting merona. “Kaulah yang baik,” balasnya.
Fei Yu meraih istrinya dan memeluknya.
***
A Ming berjalan terseok-seok menelusuri jalan setapak. Kedua tangannya memeluk bayinya dengan erat seolah tidak ingin melepaskannya barang sejenak pun. Penampilannya kusut masai, sehingga orang yang berpapasan dengannya mengiranya sebagai perempuan yang kurang waras. Hal itu membuatnya dijauhi orang-orang.
Dan itu menguntungkannya. Ia memang tidak mau bertemu siapa pun. Ia tidak mau ditanya oleh siapa pun. Ia ingin menyendiri dan memikirkan keputusannya dengan cermat. Dan ia sudah mendapatkan ketetapan.
Ia dan bayinya harus mati!
Jalannya semakin terseok-seok karena ia sekarang mendaki daerah perbukitan. Ia mengenal daerah ini karena pernah melewatinya bersama paman dan sepupunya pada masa-masa bahagia dulu. Ia ingat bahwa di sekitar sini ada sebuah jurang yang cukup terjal.
Dahulu pamannya pernah mengatakan padanya agar tidak dekat-dekat dengan jurang itu. Tidak pernah ada orang yang selamat bila terjatuh ke dalam jurang curam itu. Dasar jurang itu bukanlah air laut atau sungai, melainkan lahan tandus yang dipenuhi karang-karang tajam. Bisa dipastikan, siapa pun yang jatuh akan langsung menimpa karang-karang itu dan mati seketika tanpa merasakan sakit lagi.
Itu adalah jenis kematian yang diinginkan A Ming bagi anaknya. Bayinya harus mati tanpa menderita terlebih dahulu. Dan karang tajam itu akan membantunya melaksanakan niatnya.
A Ming terengah-engah ketika tiba di tepi jurang curam itu. Ia beristirahat untuk menghilangkan keletihannya. Ia duduk dan menyusui bayinya yang sementara itu mulai menangis.
“Ini makananmu yang terakhir, Anakku,” bilangnya sambil bercucuran air mata. “Setelah ini, kita berdua akan meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya.”
Sien Lung mengisap susu ibunya dengan rakus. Terdengar suara berdecap-decap dan berdeguk yang menggemaskan. Sepasang matanya yang bulat jernih menatap ibunya dengan penuh kepercayaan. Wajahnya begitu manis dan tampan, tanpa ada sedikit pun sinar kelicikan di sana.
“Jangan salahkan Ibu, Nak. Ibu harus melakukannya....”
Sien Lung sudah selesai menyusu dan A Ming menutup kembali dadanya dengan pakaian. Dengan sehelai kain selendang, ia mengikat tubuh bayinya erat-erat ke dadanya. Dengan demikian, mereka tidak akan terpisah. Lalu ia bangkit berdiri dan melangkah ke tepi jurang.
Sien Lung mulai gelisah dan akhirnya menangis keras. Seolah ia mengerti apa yang hendak dilakukan oleh ibunya. Seolah ia memprotes keputusan ibunya untuk menghabisi nyawanya.
“Jangan mempersulitku, Nak. Kita akan berjumpa lagi di sana,” bujuk A Ming sambil menimang-nimang anaknya, berusaha mendiamkan tangisnya.
Namun tangis bayi itu bertambah keras.
A Ming semakin mendekat ke tepi jurang.
Sebelah kakinya sudah sampai ke tepi dan ia mulai bersiap hendak melompat. Tubuhnya mulai limbung.
“Maafkan Ibu, Sien Lung!”
A Ming melompat dan tubuhnya mulai jatuh. Ia sama sekali tidak menyangka yang terjadi kemudian. Sesosok bayangan berkelebat dengan kecepatan luar biasa dan menangkap tubuh mereka berdua.
“Sia...?”
__ADS_1
Pertanyaan A Ming tidak terselesaikan karena sebuah totokan melayang ke titik jalan darahnya, membuatnya pingsan. Lalu sosok itu melayang sambil membopong mereka berdua menghindari jurang itu.
***