Suling Maut

Suling Maut
Masa Lalu Sung Cen III


__ADS_3

Chang Cin Te masuk diiringi oleh putranya dan seorang gadis muda berpakaian biksuni. Mereka memberi hormat kepada Pendekar Sung dengan sopan. Fei Yu tampak salah tingkah karena teringat bahwa beberapa bulan yang lalu ia pernah menantang Pendekar Sung bertarung, dengan cara yang jika diingat sekarang, begitu memalukan!


Chien Wan dan Sen Khang terkejut melihat kehadiran pemuda itu. Fei Yu sendiri tersenyum dan memberi hormat yang segera dibalas oleh mereka berdua. Namun mereka tidak punya kesempatan berbicara.


“Salam, Tuan Chang. Sungguh merupakan kehormatan bisa dikunjungi oleh Anda sekalian.” Pendekar Sung menyambut mereka dengan ramah.


“Kami ada keperluan dengan Anda,” ujar Chang Cin Te. Pandangan matanya beralih menatap Sung Cen yang kala itu berdiri di belakang Pendekar Sung. Ia menatap dengan kemarahan membara.


Namun Sung Cen tidak melihatnya. Tatapannya terpaku pada gadis muda itu. Wajahnya berangsur-angsur pucat dan tubuhnya gemetar. Wajah gadis itu tidak asing, sangat mengingatkannya akan seseorang. Seseorang yang amat dikasihinya di masa lalu. Istrinya!


Jadi gadis itu adalah....


“A Ming, beri salam pada ayahmu!” perintah Tuan Chang kaku.


A Ming tidak melakukan perintah pamannya. Ia hanya diam dengan ekspresi keras menatap Sung Cen. Sekujur tubuhnya kaku dan menantang. Sorot matanya penuh kebencian sehingga membuat Sung Cen bergidik melihatnya.


“A Ming!”


Hardikan Tuan Chang menyadarkan A Ming. Gadis itu segera mengatupkan kedua tangannya di depan dada, memberi hormat dengan cara seperti yang biasa dilakukannya di biara. Tak sepatah kata pun terucapkan di mulutnya.


“A Ming... Namamu A Ming?” Sung Cen menghampiri gadis itu dengan tubuh gemetar. Walau lututnya lemas, dipaksakannya untuk mendekati gadis itu. Suaranya parau. “Kau... putriku?”


“Benar!” Tuan Chang yang menyahut dengan tajam. “Dia putrimu yang kausia-siakan dua puluh tahun yang lalu!”


Sung Cen menoleh. Kepedihan tampak jelas di wajahnya. “Kaubilang mereka sudah....”


“Saat kau datang, adikku baru beberapa bulan meninggal. Aku sangat marah dan tidak ingin kau tahu bahwa anakmu masih hidup. Aku ingin membuatmu menderita seperti yang telah kaulakukan pada adikku! Kenyataannya anakmu masih hidup dan aku membawanya ke Biara Welas Asih. Cin Mei yang memintaku!”


Sung Cen terpukul sekali. Ia terhuyung dan nyaris saja jatuh kalau saja Sen Khang—yang kebetulan berada di dekatnya—tidak memapahnya. “Cin... Cin Mei begitu membenciku...?”


“Jangan kotori kenangan ibuku dengan menyebut namanya!”

__ADS_1


Kata-kata A Ming terdengar tajam dan penuh kebencian.


Sung Cen menelan ludahnya, menatap putrinya. Wajah gadis itu secantik ibunya, namun sinarnya berbeda dengan ibunya. Cin Mei dulu adalah seorang gadis yang ceria dan manja. Penampilannya mewah dan anggun. Sedangkan putri mereka sungguh bertolak belakang. Gadis ini penuh kebencian. Kekakuan dan kekerasan wajahnya mengaburkan kecantikan yang dimilikinya.


“Kau tidak berhak menyebut namanya! Saat ini aku datang kemari karena bagaimana pun kau berhutang penjelasan padaku dan Paman Te. Aku menuntut penjelasan mengapa kau lebih memilih untuk meninggalkan keluargamu dan membiarkan ibuku mati sengsara!”


“A Ming, bersabarlah dulu!” kecam Tuan Chang.


A Ming segera sadar. Kemarahannya membeku dan sikapnya kembali dingin. Ia pun menutup mulutnya dan tidak berbicara lagi.


Sung Cen menatapnya dengan pedih. “Kalian semua memang butuh penjelasan.”


Pendekar Sung menengahi dengan mempersilakan mereka semua untuk duduk. Mereka semua duduk di tempat masing-masing. Semua pandang mata terfokus pada Sung Cen, kecuali A Ming. Gadis itu diam membisu dengan tatapan lurus ke depan.


Sung Cen memulai ceritanya. Cerita yang sama dengan yang diungkapkannya di ruang tamu Wisma Bambu beberapa waktu yang lalu. Tentu saja ia tidak mengungkapkan secara detil perjalanan cinta Ouwyang Kuan dan Sui She. Yang lebih banyak diungkapkannya hanyalah kisah tentang dirinya sendiri yang berusaha mati-matian melindung sang bayi, serta kisah tentang bagaimana dirinya terluka parah.


Dengan luka-luka yang dideritanya, mustahil ia bisa pergi ke mana-mana. Ia bahkan tidak mampu mengurus dirinya. Kalau tidak ada Paman Khung asli, tidak mungkin ia mampu bertahan. Ia pasti sudah mati jika saja pria tua itu tidak menolongnya.


“Namun setibanya di sana, aku diberitahu bahwa istri dan anakku sudah tiada. Aku sangat terpukul dan semangat hidupku hilang. Karena aku telah kehilangan keluargaku, kuputuskan untuk menghilang sementara waktu sampai putra saudaraku bisa kutemukan.” Sung Cen memandangi putrinya yang diam membisu dengan wajah muram. “Sungguh aku tidak bermaksud menyia-nyiakan tanggung jawabku terhadap kau dan ibumu. Kalau saja aku tahu kau masih ada, aku akan mengajakmu bersamaku dan merawatmu....”


A Ming tidak memandang Sung Cen. Ia terus memandang lurus ke depan.


“Aiya!” Tuan Chang mendesah keras. Hatinya yang kaku melemah mendengar keterangan yang tidak diduganya itu. Ia memahami keputusasaan Sung Cen dan keputusannya untuk menghilang. Pastilah saat itu dunia Sung Cen hancur lebur. Gagal dalam tugas, kehilangan istri dan anak sekaligus. Gagal sebagai murid, gagal sebagai suami, gagal sebagai ayah.


“Mengapa kau kembali? Mengapa kau tidak terus menghilang?” A Ming akhirnya bicara. Ia akhirnya menatap Sung Cen. Sepasang matanya menampakkan kegetiran.


Sung Cen merasa tenggorokannya tercekat. “Karena akhirnya aku berhasil menunaikan tugasku sebagai anggota Lembah Nada. Aku berhasil mempersatukan saudaraku dengan anaknya. Itulah alasanku kembali.”


“Bukan karena ingin mencariku?”


“Nona.” Sen Khang merasa tidak tahan untuk tidak ikut berkomentar. Suaranya yang mantap dan berwibawa membuat semua mata menoleh ke arahnya. A Ming tertegun memandangnya. “Paman Sung tidak mencarimu karena ia mengira kau sudah tidak ada. Apakah kau lupa, Tuan Chang mengatakan bahwa kau dan ibumu sudah tiada? Paman Sung mempercayainya karena dia merasa bahwa tidak mungkin Tuan Chang membohonginya. Harap kau mau memaklumi keadaannya.”

__ADS_1


Tuan Chang tidak tahan lagi. “Sung Cen,” katanya lemah, “aku memang telah membohongimu. Itu kulakukan karena aku marah padamu. Kau membuat adikku tersayang merana sampai mati. Saat itu aku tidak tahu apa yang menimpamu.”


“Aku yang salah, Cin Te.” Sung Cen menggeleng. “Seharusnya aku mendesakmu dan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.”


“Sebentar,” tukas Fei Yu tanpa dapat menahan diri. “Anak itu sudah ditemukan? Di mana dia sekarang?”


“Akulah anak itu,” sahut Chien Wan tenang.


Fei Yu ternganga. “Kalau begitu kau dan Nona Ouwyang itu bersaudara rupanya. Kupikir sepasang kekasih! Habis kalian mesra sekali!”


Wajah Chien Wan memucat.


Sen Khang segera menyela, “Jadi, bagaimana dengan masalah ini?” Ia menoleh dan menghampiri A Ming yang tampak tertegun. “Nona Sung. Aku harap kau mau berjiwa besar dan memaafkan ayahmu. Bagaimana pun semua ini bukan sepenuhnya kesalahan ayahmu.”


A Ming menengadah memandang wajah Sen Khang yang gagah dan penuh kharisma. Ia terpukau. “Aku....”


“A Ming.” Tuan Chang menarik napas. “Semua kebencianmu terhadap ayahmu sedikit banyak akibat pengaruhku juga. Ketahuilah, ayahmu ini tidaklah seburuk yang kauduga. Aku yang salah karena tidak sempat memberitahumu bagaimana sesungguhnya kepribadian ayahmu. Ayahmu orang yang baik, kalau tidak mana mungkin aku menyetujui pernikahannya dengan adikku?”


A Ming menunduk, seperti sedang berperang dengan dirinya sendiri. Akhirnya ia mengangkat mukanya. “Sejak kecil aku dididik untuk tidak menyimpan kebencian dan dendam di hatiku. Didikan ini selalu terpatri di dalam ingatanku. Namun tidak demikian halnya dengan hatiku. Walau dari luar aku tampak seperti calon biksuni yang baik, hatiku penuh dengan dendam. Kepala biara memahamiku. Beliau memintaku menuntaskan segala kebencian ini sebelum aku ditahbiskan sebagai biksuni.”


Sung Cen terpana. Putrinya akan menjadi biksuni?


“Aku meninggalkan biara dengan maksud membalas dendam. Aku berniat menyengsarakan ayah kandungku dan membuatnya menderita. Tetapi mendengar semua ini membuatku membatalkan niatku. Ternyata dia juga menderita selama ini, sama seperti aku.” A Ming memandang Sung Cen. “Aku belum bisa melupakan semua ini. Biarlah waktu yang menentukan segalanya.”


“A Ming....”


“Namaku Sung Lien Ming. Kuharap kau tidak melupakannya.” Sesudah mengucapkan semua itu, A Ming berbalik dan pergi meninggalkan mereka semua. Tak berpamitan kepada siapa-siapa, bahkan kepada pamannya sekalipun.


Sung Cen terpana. Ia hendak mengejar, namun kakinya terasa kaku.


Tuan Chang tampak sedih. “Adikku tak pernah berhenti mencintaimu, Sung Cen. Dia menggunakan margamu untuk putrinya. Dan A Ming pun tetap memakai nama itu hingga kini. Sebagai bukti bahwa walau dia marah padamu, dia tetap putrimu.”

__ADS_1


Sung Cen memejamkan mata dan menjatuhkan dirinya di kursi.


__ADS_2