
Chien Wan memejamkan mata dan menyandarkan tubuhnya di batang pohon. Ia merasa amat letih. Tenaganya terkuras setelah pertarungan tadi. Ia tidak memahami maksud serangan Enam Saudara dari Khitan tadi. Mereka bilang diperintahkan untuk menghabisinya, dan ia yakin sekali perintah itu datang dari Cheng Sam.
Namun ia tidak mengerti, mengapa mereka bisa tahu saat ini ia datang ke Wisma Bambu? Dan apa tujuan mereka menghabisinya? Jelasnya, apa tujuan Cheng Sam?
Ia tahu Cheng Sam membencinya karena dahulu ia telah meniup suling dan mengakibatkan telinga Cheng Sam kesakitan selama beberapa lama. Ia dan kawan-kawannya juga berhasil meloloskan diri dari tawanan Cheng Sam dengan dibantu oleh Fei Yu.
Wajar jika kemudian Cheng Sam menaruh dendam pada Fei Yu dan dirinya. Namun mengapa ia harus berada di Wisma Bambu?
Seketika ia waspada.
Cheng Sam benar-benar ada di Wisma Bambu. Enam Saudara dari Khitan itulah buktinya!
Apa yang diincarnya kali ini?
Chien Wan mulai berlari ke Wisma Bambu. Semakin dipikirkan, perasaannya semakin tidak enak. Ia pun berlari semakin kencang.
***
Meng Huan baru saja kembali dari pasar melaksanakan tugas bulanannya. Sudah setahun ini tugas berbelanja untuk keperluan rumah tangga Wisma Bambu dilimpahkan kepadanya. Tugas itu memang tugas yang remeh, namun Meng Huan menyukainya.
Biasanya ia berbelanja ditemani oleh beberapa pelayan. Namun kali ini ia hanya ditemani oleh seorang pelayan bernama A Hui dan A Ming.
A Ming berpamitan pada ayahnya untuk ikut Meng Huan ke pasar. Ia ingin membeli beberapa macam hal keperluan khusus gadis. Ayahnya tidak paham, sebetulnya keperluan khusus gadis itu apa saja, tidak mencegahnya. Sung Cen memang tidak pernah mendesak putrinya untuk mengatakan semua yang dilakukannya.
Sejak datang ke Wisma Bambu, A Ming memang lebih banyak bicara dengan Meng Huan ketimbang yang lainnya. Sebetulnya ayahnya kurang suka melihatnya, namun tidak bisa berbuat apa-apa.
Mereka tidak lama berada di pasar, hanya selama beberapa jam saja.
Meng Huan melangkah menuju taman belakang. Ia sudah membelikan beberapa hadiah kecil untuk Ting Ting. Ia membeli manisan kering yang sangat disukai gadis itu. Ia juga membeli buah plum ungu kecil-kecil yang rasanya sangat manis bila sudah tua. Saat itu bukan musim buah plum, namun ternyata di pasar ada juga yang menjualnya. Ia senang sekali dan membeli beberapa buah untuk Ting Ting.
Ting Ting selalu menyukai makanan yang manis-manis, pikir Meng Huan geli. Mungkin itu sebabnya mengapa gadis itu sendiri sangat manis!
Gadis itu tengah berada di Paviliun Taman Belakang, membaca sebuah buku berisi kumpulan puisi zaman Dinasti Tang yang diambilnya dari perpustakaan ayahnya. Ia sangat menyukai puisi-puisi itu, maka ia membacanya dengan serius.
Meng Huan tersenyum geli melihatnya. Ia bermaksud mengagetkannya.
Dengan berjalan mengendap-endap, ia melangkah di belakang Ting Ting. Gadis itu terlalu terhanyut dengan bacaannya hingga tak mendengar kedatangan Meng Huan. Maka dari itu saat Meng Huan menepuk bahunya, ia tersentak kaget dan berdiri.
“Astaga, Kakak Huan!” Ting Ting mengusap-usap dadanya.
Meng Huan tertawa nakal. “Kaget, ya?”
Dengan gemas, Ting Ting memukul lengan Meng Huan. “Dasar pengganggu! Awas, ya! Nanti kulaporkan pada Kakak Wan!”
Sejenak, wajah Meng Huan mengeras. Namun ia cepat-cepat mengubah ekspresi wajahnya. Tak ada gunanya merasa cemburu lagi. Sampai kapan pun, perasaan Ting Ting tak mungkin berubah.
“Maaf, deh. Habis kau membaca buku serius sekali. Aku jadi ingin mengagetkanmu.”
Ting Ting mencibir, lalu tersenyum kembali. “Kapan kau kembali dari pasar?”
“Beberapa jam yang lalu. Aku ke dapur dulu untuk mengawasi para pelayan membereskan barang-barang. Lalu aku ke tempat Guru untuk menyerahkan catatan keuangan. Setelah itu aku langsung ke sini.”
__ADS_1
Ting Ting duduk kembali. Ia melihat bungkusan yang dibawa Meng Huan. Wajahnya berseri-seri. “Itu untukku, ya? Apa itu?”
Meng Huan duduk di samping Ting Ting. “Ini manisan kesukaanmu. Dan coba tebak, tadi ada orang yang menjual buah plum ungu. Aku membeli beberapa.”
“Buah plum ungu!” seru Ting Ting gembira. “Kan belum musim!”
“Aku tahu. Makanya kubeli saja beberapa untukmu. Aku tidak beli banyak karena tidak semua buah yang ada sudah matang. Ada juga yang masih masam karena belum terlalu tua. Entahlah apakah yang kubeli itu sudah masak semua atau belum. Aku tidak sempat memilih terlalu lama.”
Ting Ting membuka bungkusan plum itu. Ditatapnya buah-buahan itu dengan senang. Diambilnya satu yang warnanya sudah sangat ungu dan digigitnya. Buah itu segar dan manis sekali. Airnya banyak. Saat digigit, air buah menetes di bibirnya membuatnya mengulurkan lidah mengambil butiran itu dan menelannya.
Meng Huan menelan ludah dan terpaksa harus mengalihkan pandangan ke arah lain. Ting Ting begitu cantik. Ia tidak tahu sampai kapan ia harus menahan perasaannya seperti ini.
***
“Ayah, aku mau pulang ke Bukit Merak.”
Permintaan A Ming mengejutkan hati Sung Cen. Ia pikir putrinya sudah kerasan di Wisma Bambu. Ternyata sekarang dia ingin kembali ke Bukit Merak. Padahal ia lebih suka jika A Ming tidak tinggal di Bukit Merak lagi. Ia ingin A Ming kembali ke Lembah Nada dan tinggal di sana bersamanya. Syukur-syukur ia bisa menjodohkan A Ming dengan Chien Wan!
“Mengapa, A Ming?” tanya Sung Cen.
“Aku ingin bertemu dengan Paman Te. Sudah lama aku meninggalkannya.”
Sung Cen menatap putrinya dengan pandangan menyelidik.
A Ming memalingkan mukanya. Ia merasa tidak enak hati dengan pandangan ayahnya.
“Ayah pikir kau akhirnya suka berada di dekat Ayah,” kata Sung Cen sedih.
“Tentu saja, Ayah!” A Ming kembali menatap ayahnya. “Hanya....”
“Tidak!”
Sung Cen terperanjat. “Mengapa?”
“Karena tempat itu, karena anggota Lembah Nadalah Ayah dulu meninggalkan Ibu!” A Ming memalingkan muka.
Sung Cen terpaku. Ia pikir putrinya sudah bisa melupakan kemarahannya di masa lalu. Namun ternyata tidak sama sekali.
“A Ming....”
“Aku sudah tidak marah lagi pada Ayah. Aku memaafkan Ayah. Namun hanya Ayahlah yang kumaafkan. Sementara mereka? Aku masih tidak bisa melupakan perbuatan mereka yang telah memaksa Ayah untuk setia pada mereka!” A Ming berdiri dan membelakangi ayahnya. Bahunya naik-turun menahan sengalan napasnya yang memburu.
“Mereka tidak pernah memaksaku, A Ming.” Sung Cen ikut berdiri.
“Pokoknya aku tidak suka di sana!”
“Baiklah, A Ming.” Sung Cen menghampiri A Ming dan merangkul bahunya. “Ayah tidak akan memaksamu lagi. Kau boleh terus tinggal di Bukit Merak.”
“Dan aku mau mau pulang sekarang!”
“Ya, baiklah. Ayah akan membicarakannya dengan Tuan Luo. Lalu kita pulang sama-sama, ya?”
__ADS_1
“Bagaimana kalau aku pulang duluan?”
Sung Cen mengerutkan kening. “Tadi kau habis berbelanja dengan Meng Huan. Apa yang terjadi di pasar sehingga kau jadi terpikir untuk pulang?” tanyanya curiga.
A Ming menatap kesal. “Mengapa Ayah selalu mencurigaiku?” sergahnya. “Pokoknya aku mau pulang duluan! Aku pergi sekarang!”
Sung Cen tak berdaya menyaksikan kepergian putrinya saat itu juga. Dan yang paling tak disangkanya, ternyata A Ming sudah menyiapkan pakaiannya dalam buntalan.
Tanpa daya, ia pun menghadap Tuan dan Nyonya Luo. Ia berpamitan dan tak bisa dicegah lagi.
Kepergian Sung Cen dan putrinya tentu saja mengherankan hati Tuan dan Nyonya Luo. Namun mereka tak mencegahnya. Sung Cen pun pergi seorang diri karena A Ming sudah pergi lebih dulu.
***
Kepergian Sung Cen dan putrinya tidak merisaukan hati Ting Ting. Ia hanya merasa jengkel sejenak karena kehilangan satu lagi teman bicara. Namun kemudian ia sudah biasa lagi dan menghibur dirinya dengan buku puisi.
Esoknya setelah kepergian Sung Cen, Ting Ting kembali hendak melanjutkan bacaannya yang kemarin tertunda oleh gangguan Meng Huan. Ia kembali ke Paviliun Taman Belakang.
Buah plum ungu yang dibelikan Meng Huan untuknya kemarin masih ada empat buah. Ia membawanya ke sana, bermaksud menghabiskannya selama membaca buku. Ia juga membawa manisan kering sisa kemarin.
Ia duduk di kursi empuk yang memiliki sandaran dan mulai membaca.
Sampai beberapa lama ia membaca dengan penuh penghayatan. Tiba-tiba sesosok bayangan menghadang di depannya. Bayangan itu menghalangi cahaya yang masuk. Ting Ting merasa agak terganggu dan menengadah hendak menyuruh siapa pun yang datang itu pergi.
Seketika matanya terbelalak. Sesaat lamanya ia merasa masih terpengaruh khayalannya karena sambil membaca puisi tadi ia mengkhayalkan Chien Wan. Namun sejenak kemudian ia sadar bahwa itu bukan khayalan. Bukunya terjatuh dari tangannya yang bergetar. Perlahan-lahan bibirnya membentuk senyuman.
“Kakak Wan!” serunya bahagia.
Ia segera berlari menghampiri pemuda itu dan memegang tangannya. “Aduh, Kakak Wan! Akhirnya kau datang juga!” katanya penuh rindu. “Ayo masuk!”
Chien Wan mengangguk. Ia tidak mengatakan sepatah kata pun saat masuk mengikuti Ting Ting.
“Kakak sudah menemui Ayah dan Ibu? Apa kata mereka melihat kedatanganmu yang mendadak ini?” berondong Ting Ting riang sambil menarik tangan Chien Wan ke kursi yang tadi didudukinya.
Chien Wan mengangguk. “Sudah,” katanya pelan.
Ting Ting sudah terbiasa melihat sikap Chien Wan yang tidak banyak bicara ini. Ia pun tidak menanyakan apa-apa lagi. Ia melihat buah plum yang belum sempat dimakannya. Diraihnya salah sebuah plum tanpa melihat, dan disodorkannya kepada Chien Wan.
“Kemarin Kakak Huan membelikanku buah plum ini. Enak sekali lho! Buah ini belum musim, tetapi sudah ada yang begini ranum. Makanlah!”
Chien Wan mengambilnya dan menggigitnya. Sementara itu, matanya memandang Ting Ting dengan sorot mata aneh. Sorot mata Chien Wan mengandung kemesraan. Kemesraan yang aneh. Tiba-tiba, Chien Wan meletakkan buah yang baru dimakannya segigitan dan meringis.
Ting Ting heran sekali. “Ada apa, Kakak Wan?”
“Masam sekali.”
Ting Ting melihatnya dan mendapati bahwa buah yang diberikannya pada Chien Wan tadi masih berwarna ungu muda kehijauan—tanda masih mentah. Ia pun berseru, “Astaga, aku ceroboh sekali! Yang kuambilkan itu belum terlalu tua. Tentu saja rasanya masam. Coba aku ambilkan yang lain. Nah ini sudah ranum....”
Gadis itu menghentikan gerakannya memilihkan buah karena Chien Wan sudah berdiri begitu dekat dengannya. Ting Ting tersipu malu. Namun ia juga agak takut karena melihat sinar buas yang sebelumnya tak pernah ada di mata Chien Wan.
Chien Wan semakin mendekat.
__ADS_1
Mata Ting Ting membelalak.
“Kakak Wan...?”