
Ouwyang Ping meninggalkan Wisma Bambu dengan pikiran berkecamuk. Seperti yang dikatakannya kepada Sen Khang, ia sudah berpikir lama. Semakin dipikir, semakin ia merasa Chien Wan tidak bersalah. Ia mengenal Chien Wan dan kakaknya itu bukan orang seperti itu.
Kehadiran Chien Wan di sana dalam posisi yang paling mencurigakan merupakan kejadian yang tak disengaja. Kebetulan saja Chien Wan berada di tempat yang salah pada saat yang salah. Itu pasti! Chien Wan pasti hanya menjadi korban kecurigaan yang tak dipikirkan.
Tetapi....
Dengan yakinnya, Ting Ting menunjuk Chien Wan sebagai pelaku pemerkosaan atas dirinya. Ia tidak akan mempercayai ucapan Ting Ting kalau saja ia tidak melihat bahwa Ting Ting sungguh-sungguh diperkosa. Itu bukan sandiwara untuk menjebak Chien Wan.
Ouwyang Ping memejamkan mata dan memutar otak, mengingat semua kejadian itu. Sesuatu muncul di benaknya. Ia telah melihat kondisi semua mayat korban kekejian itu. Semuanya terluka oleh senjata tajam; kalau bukan pedang tentu pisau atau golok. Chien Wan tidak pernah menggunakan senjata tajam!
Pikiran Ouwyang Ping jernih seketika. Chien Wan tak pernah bisa menggunakan pedang. Ia membenci senjata tajam! Ia mau berlatih silat hanya bila ilmu silat itu berhubungan dengan sulingnya atau tangan kosong. Jadi bagaimana mungkin ia sanggup membunuh dengan menggunakan pedang?
Jelas sudah! Chien Wan tidak bersalah!
Tetapi....
Ouwyang Ping kembali lesu.
Sen Khang begitu mempercayai penglihatannya sendiri. Dan posisi Chien Wan saat itu memang mencurigakan. Tidak akan semudah itu orang mau mendengarkan penjelasannya. Apalagi Sen Khang. Keluarganyalah yang menjadi korban. Kemarahan mengaburkan akal sehatnya. Mustahil ia bisa menyampaikan hasil perenungannya saat ini. Sen Khang takkan sudi mendengarkannya.
Yang harus dilakukannya adalah mencari Chien Wan. Ia ingin mendengarkan penjelasan itu langsung dari mulut Chien Wan. Kali ini ia tidak akan memotong kata-kata Chien Wan sedikit pun. Ia akan mendengarkan semua penjelasan kakaknya.
Dan bila mungkin, mereka berdua akan mencari bukti yang bisa menunjukkan bahwa Chien Wan tidak bersalah dan ia hanya menjadi korban fitnah. Dan bila Chien Wan memang benar difitnah, mereka akan mengupayakan untuk membuat siapa pun yang melakukannya mendapat pelajaran.
Ia tidak yakin tentang perkosaan yang dialami Ting Ting. Jauh di lubuk hatinya, ia masih curiga Chien Wan memang melakukannya. Namun ia jelas tidak membunuh semua anggota Wisma Bambu!
***
Dalam waktu sepuluh hari saja, suasana di Wisma Bambu sudah menyerupai rumah tua tak berpenghuni. Keadaan yang dulu begitu rapi dan ceria, kini kusam dan berantakan karena tak ada merawat. Daun-daun bambu yang gugur berserakan di sana-sini. Kalau dulu selalu ada yang dengan sigap menyapunya, kini dibiarkan saja. Pohon-pohon bambu tak terurus lagi, dibiarkan dengan liar.
Sen Khang tak peduli lagi dengan kepengurusan kediamannya. Ia tak berminat mencari pekerja di desa untuk membereskan tempat tinggalnya. Ia selalu mengurung dirinya di ruang perpustakaan—tempat ayahnya bisa bekerja.
Selain tak punya keinginan mengurus Wisma Bambu, ia juga tak pernah berusaha menghibur adiknya. Setiap kali ia mencoba, lidahnya langsung kelu. Ia tak kuasa mengucapkan sepatah kata pun untuk menghibur Ting Ting.
Setiap kali ia melihat Ting Ting, ia teringat wajah Chien Wan.
Sen Khang menajtuhkan dirinya di lantai perpustakaan dengan hati pedih. Kemarahan membara di dada berganti dengan kepedihan yang tak terbendung. Ia nyaris tak kuat menerima semua ini.
Buk! Tinjunya menumbuk lantai hingga lantai batu itu melengkung dan retak.
__ADS_1
“Padahal kau sahabatku!” desisnya geram bercampur pilu. “Betapa teganya kau melakukan semua ini padaku! Kau kejam!”
Sepanjang hari ia mengutuk Chien Wan. Kebencian dan kepedihan membutakan hatinya. Ia tak peduli Wisma Bambu perlu diurus. Ia tak peduli adiknya perlu ditenangkan dan didukung.
Untunglah Meng Huan bertindak. Ia tak dapat membiarkan semua ini berlangsung terus, maka ia mengambil alih tanggung jawab Sen Khang. Ia mencari beberapa orang di desa yang mau bekerja untuk menggantikan para pelayan yang tewas di hari naas itu. Ia membagi tugas kepada para pelayan baru itu, memberi petunjuk yang tepat, mengawasi pekerjaan mereka dengan cermat.
Di samping semua kesibukan itu, Meng Huan juga selalu menjaga Ting Ting dengan cermat. Ia selalu mengawasi Ting Ting karena gadis itu selalu berniat membunuh dirinya sendiri.
Pertama kali percobaan bunuh diri itu dilakukan, Ting Ting berada di dalam kamar. Ia menggantungkan sehelai selendang putih di langit-langit dan bersiap-siap hendak menggantung dirinya. Untung seorang pelayan lewat dan berteriak panik membuat Meng Huan datang.
Usaha bunuh diri itu gagal dan Meng Huan menegur Ting Ting dengan serius.
Meng Huan mengira setelah kegagalan yang pertama, Ting Ting tidak akan mencoba lagi. Namun ia keliru.
Ketika pelayan dapur lengah, Ting Ting mencuri sebuah pisau dapur dan membawanya ke kamar. Ia bermaksud mengiris pergelangan tangannya.
Tepat ketika Ting Ting hendak mengiris pergelangan tangannya, masuklah Meng Huan mengantarkan sup untuk makan malamnya.
“Ting Ting!” seru Meng Huan kaget. Dilemparnya baki yang dibawanya dan cepat-cepat berlari menghampiri.
Ting Ting tak mempedulikan kehadiran Meng Huan. Ditekannya mata pisau yang tajam ke pergelangan tangannya. Meng Huan menyerbu dan merebut pisau itu tepat ketika mata pisau sudah melukai kulit Ting Ting. Untung saja hanya kulit luarnya yang luka.
“Biarkan aku mati! Biarkan aku mati!” jerit Ting Ting sambil mencoba merebut kembali pisau itu.
“Ya Tuhan!” keluh Meng Huan pedih. “Sadarlah, Ting Ting! Jangan bertindak sebodoh ini. Jangan!”
“Biar... biar aku mati saja...,” isak Ting Ting melemah. Ia menangis sesenggukkan dalam pelukan Meng Huan.
Kejadian ini dilihat oleh Sen Khang yang bermaksud menengok adiknya. Ia terpukul sekali menyaksikan adiknya yang putus asa itu. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia tak sanggup menghibur adiknya.
Hari-hari berikutnya, Meng Huan selalu mengawasi Ting Ting. Ia takut kalau-kalau gadis itu akan berbuat nekad lagi.
Pengawasan ini memang diperlukan karena Ting Ting melakukan percobaan bunuh diri beberapa kali lagi. Bukan hanya menggunakan pisau atau kain gantungan. Ia mencoba dengan minum racun, membenturkan kepala ke dinding, dan masih banyak lagi. Jiwanya betul-betul terguncang sehingga perkataan dan nasihat apa pun tak didengarnya.
Akhirnya Meng Huan letih menghadapi semua itu. Ia pun berbicara serius dan menegur Ting Ting.
“Ting Ting, mengapa kau sepicik ini? kaupikir dengan bunuh diri, orangtuamu akan merasa senang? Orangtuamu ingin kita membalaskan dendam mereka. Kita harus membunuh Chien Wan! kita harus balas dendam agar arwah mereka bisa tenang di alam sana!” kata Meng Huan tajam.
Ting Ting terisak. “Tapi... aku sudah kotor. Hidup pun tak ada gunanya lagi bagiku....”
__ADS_1
“Kau jangan punya pikiran sesempit itu! Siapa bilang kau ini kotor?” tukas Meng Huan.
“Padahal aku sangat mencintai Kakak Wan.... Mengapa dia tega membunuh Ayah dan Ibu? Mengapa dia tega menyakitiku? Mengapa?” tangis Ting Ting penuh rasa kecewa.
“Ah, Ting Ting...,” keluh Meng Huan sedih. “Sampai sekarang pun kau masih terpaku pada Chien Wan?”
Ting Ting terhenyak.
“Tidak! Tidak!” serunya kalap. “Aku benci dia! Aku benci dia!”
“Ting Ting....”
“Aku benci dia!” pekik Ting Ting.
“Ting Ting, sudahlah!” Meng Huan mendekap Ting Ting dengan penuh kasih sayang.
“Aku benci dia....” Suara Ting Ting tersendat-sendat.
“Sudahlah...,” hibur Meng Huan. “Masih ada aku, Ting Ting. Di sini masih ada aku. Jangan bersedih lagi...,” bisiknya lembut.
Ting Ting terkejut. Ia melepaskan dirinya dari pelukan Meng Huan. “A... apa?”
Meng Huan memejamkan mata. “Aku tahu... tidak pada tempatnya aku mengatakan ini, tapi....” Ia menghela napas. “Aku sudah lama memendam perasaan padamu dan aku yakin kau pun telah lama tahu. Aku memang tak berani berterus-terang karena selama ini kau mencintai Chien Wan. Aku berharap kau bisa bersama Chien Wan dan melihat kau bahagia bersamanya. Itu saja sudah cukup bagiku. Tapi kini....”
“Kakak Huan! Jangan sebut-sebut nama dia lagi. Aku benci dia!” potong Ting Ting sengit.
Meng Huan mengangguk-angguk.
“Ya, baiklah. Kau membencinya. Dan karena kau membencinya, itu artinya kau sudah tak mengharapkannya lagi,” kata Meng Huan lembut. “Karena itu....” Ia terdiam sejenak. “Karenanya, bolehkah aku berada di sisimu? Aku akan selalu melindungimu. Aku akan selalu menjagamu.”
Ting Ting terpaku mendengar suara Meng Huan yang bernada tulus itu. Kelihatannya Meng Huan begitu bersungguh-sungguh mencintainya. Sejak dulu pun, Meng Huan memang mencintainya. Dia saja yang buta. Tapi kini dia sudah bukan Ting Ting yang dulu. Dia sudah tidak suci lagi.
“Aku sudah bukan gadis lagi, Kakak Huan...,” gumam Ting Ting pilu.
Meng Huan menggenggam tangan Ting Ting erat-erat. “Aku sama sekali tidak mempermasalahkan itu,” gelengnya.
“Aku yang mempermasalahkannya!” tukas Ting Ting.
Meng Huan menghela napas panjang. “Baiklah, lupakan saja kata-kataku tadi. Tapi ingatlah, Ting Ting. Bila kau merasa putus asa dan butuh seseorang untuk menghiburmu, di sini masih ada aku. Masih ada yang menyayangi dan mau mengulurkan tangannya demi kau,” katanya penuh perasaan.
__ADS_1
Ting Ting bisa merasakan kasih sayang pemuda itu. Betapa luhurnya jiwa Meng Huan! Betapa tulus dan sucinya hati Meng Huan! Ting Ting menangis karena begitu terharu.
Saat ini ia memang terluka. Tetapi suatu hari nanti, saat ia pulih kembali, ia akan selalu mengingat kelembutan yang telah dicurahkan Meng Huan untuknya. Dan mungkin bila saat itu tiba, ia dapat membuka hatinya untuk Meng Huan. Semoga saja saat itu Meng Huan masih menantinya.