Suling Maut

Suling Maut
Duka Hati Chien Wan


__ADS_3

Chien Wan berlari tersaruk-saruk. Ia begitu sedih dan terpukul. Kepedihannya yang berlipat ganda membuatnya serasa ingin menghancurkan dirinya, meleburkannya dengan tanah. Paman Sung tewas! Tuan dan Nyonya Luo tewas! Baginya mereka bertiga bukan sekadar paman dan bibi, melainkan juga penolong jiwanya. Mereka berdua orang yang paling dikasihinya di samping kedua orangtuanya. Jiwanya hancur luluh mendapati mereka sudah terbaring tewas dan ia tidak sanggup berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Kedatangannya terlambat. Padahal seandainya ia lebih cepat tiba, mungkin ia akan dapat mencegah terjadinya peristiwa itu.


Kesedihannya semakin parah ketika sahabatnya sendiri mengira dialah si pembunuh keji! Dia tidak diberikan kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Dia tidak diberi kesempatan untuk mengungkapkan bahwa ia pun sama pedihnya dengan mereka.


Seakan semua itu belum cukup, ia mengalami sakit yang lebih parah ketika mendapati sorot pedih bercampur jijik di mata Ouwyang Ping.


Ouwyang Ping.


Adiknya.


Gadis yang pernah dicintainya melebihi segala sesuatu.


Bahkan dia pun tidak percaya bahwa Chien Wan tidak bersalah. Jika dia saja tidak percaya, lantas bagaimana orang lain bisa? Bahkan Chien Wan sendiri pun kini tidak yakin lagi apakah betul dirinya tidak bersalah. Jangan-jangan semua kejadian itu memang betul dia yang melakukannya. Dalam keadaan tidak sadar.


Ia terus berlari dan tidak berhenti sampai tiba di dekat jenasah Sung Cen.


Lututnya bergetar dan ia pun jatuh di samping jenasah itu. Kepedihannya tidak dapat ditahan lagi. Ia mengusap wajah Sung Cen yang tersayat-sayat. Tangannya gemetar saat merasakan tubuh Sung Cen yang mulai dingin dan kaku.


“Paman....” keluhnya. “Kau-lah yang paling memahamiku. Kau juga yang tahu bahwa aku tidak melakukan semua itu. Aku tidak membunuh Paman dan Bibi Luo. Bagaimana caranya meyakinkan mereka semua?”


Chien Wan terus terpekur di samping jenasah Sung Cen.


Setelah termenung beberapa saat, ia baru menyadari bahwa sejak tadi ia telah membawa-bawa pedang pembunuh. Dengan jijik dilepaskannya pedang itu. Ia ingin menghancurkan pedang itu, namun sebuah suara di kepalanya mencegah.


“Jangan! Pedang itu bisa menjadi petunjuk!”


Chien Wan menggertakkan geraham. Belum pernah kemarahan menguasai hatinya seperti ini. Kemarahan yang menyakitkan, melihat orang-orang yang dikasihinya tewas di depan matanya.


Ia melihat jenasah Sung Cen. Lalu menghela napas. Pemakaman yang layak tidak bisa dilaksanakan. Terpaksalah ia menguburkan Sung Cen di Hutan Bambu.


Dengan kedua tangannya sendiri, ia menggali sebuah lubang yang cukup besar untuk memuat jenasah Sung Cen. Tanpa banyak bicara, ia meletakkan tubuh Sung Cen di dalam lubang dan mulai menimbunnya perlahan-lahan.


Ia menancapkan nisan sederhana yang dibuatnya dari kayu. Ia menulisi nisan itu dengan darahnya sendiri: Sung Cen, anggota Lembah Nada. Anak: Sung Lien Ming.


“Semoga arwah Paman tenang....”

__ADS_1


Perlahan ia mencabut sulingnya, meniupkan lagu yang memilukan hati.


Nada-nada yang indah menyayat-nyayat berkumandang lirih di seluruh penjuru Hutan Bambu. Terdengar bagaikan suara rintihan yang amat memilukan. Menyuarakan perasaan hati Chien Wan yang hancur luluh. Kesedihan Chien Wan tercurah sepenuhnya dalam tiupan sulingnya.


Kui Fang tiba di tempat itu dan mendengarkan permainan suling Chien Wan. Kepedihan Chien Wan benar-benar dapat dirasakannya. Tanpa dapat ditahan lagi, air matanya mengalir membasahi pipi.


Chien Wan menyudahi permainan sulingnya. Ia menoleh karena mendengar suara langkah kaki. Ia terperanjat melihat Kui Fang. Ia memang tidak menyadari kehadiran Kui Fang di Wisma Bambu tadi karena terlalu terpukul. Ternyata gadis itu juga ada di sana, menyaksikan segalanya!


“Kakak Ouwyang....”


Chien Wan tak sanggup menatap mata gadis itu. Tak sanggup jika harus menerima sorot jijik dan menuduh yang sama dengan yang dilihatnya di mata Ouwyang Ping.


“Kakak Ouwyang, aku tahu kau tak bersalah.”


Perkataan itu diucapkan dengan lembut dan tenang. Chien Wan pun terpaksa harus menatapnya.


Sinar mata gadis itu tampak tulus dan jujur. Tak ada sedikit pun kecurigaan ataupun tuduhan di dalamnya. Senyumnya mengembang menenangkan. Kepercayaan dan keyakinannya terpancar dari dalam dirinya.


“Mengapa?” tanya Chien Wan tanpa sadar.


“Mengapa apa?”


“Karena kau orang yang paling baik yang pernah kukenal. Kau berjiwa besar dan rela menolong orang lain. Kau selalu berusaha agar orang lain tertolong. Lantas mana mungkin kau bisa menghabisi nyawa orang lain. Apalagi mereka kerabatmu sendiri.”


Pernyataan yang diucapkan Kui Fang itu begitu tegas dan penuh keyakinan. Padahal Chien Wan sendiri saat ini sedang meragukan dirinya sendiri.


Chien Wan sangat terharu. Di saat semua orang memojokkan dirinya, ada seseorang yang begitu mempercayainya. Ada seseorang yang tidak pernah meragukan ketulusan dan kejujurannya.


“Kau....”


“Aku akan membantumu membersihkan nama baikmu, Kakak Ouwyang. Percayalah, aku selalu berada di pihakmu.”


Chien Wan menghembuskan napas. Perasaan haru dan lega berbaur dalam hatinya, membuat kepedihan dan kemarahannya sedikit mereda.


“Terima kasih, Kui Fang.”

__ADS_1


Kui Fang tersenyum hangat. Pandangan matanya tertumbuk pada makam sederhana yang baru saja dibuat Chien Wan itu. Senyumnya sirna berganti dengan kesedihan. “Ini...?”


“Makam Paman Sung,” kata Chien Wan.


“Paman Sung? Apakah dia jenasah yang tadi kami temui untuk pertama kali sebelum tiba di Wisma Bambu?”


Chien Wan mengangguk.


“Apakah dia sudah meninggal sewaktu Kakak menemukannya?”


“Benar.”


“Kalau begitu, artinya dia dibunuh oleh orang yang sama,” gumam Kui Fang.


Chien Wan mengangguk. “Tentu saja.”


Kui Fang terdiam sejenak. Pandangan matanya terpaku pada pedang pembunuh yang dibawa-bawa oleh Chien Wan. Ia tertegun. “Itu pedang yang tadi!”


Chien Wan mengangkat pedang itu. “Benar. Aku membawanya karena mungkin saja ini bisa menjadi petunjuk untuk mencaritahu siapa pelaku yang sebenarnya.”


“Kakak sudah tahu sesuatu?”


Dengan muram Chien Wan menggeleng. “Aku tidak tahu apa-apa mengenai pedang.


Kui Fang menghela napas. “Aku juga tidak tahu apa-apa.”


Chien Wan mengamati pedang itu. Pedang biasa saja, seperti pedang yang biasa dibawa oleh para pendekar Dunia Persilatan. Bahkan pedang itu teramat sederhana, tanpa ronce indah seperti kepunyaan Ting Ting. Gagangnya dari kayu berwarna hitam, bukan dari batu giok seperti pusaka yang dilihatnya di Bukit Merak.


“Mungkin kita bisa menanyakannya pada seseorang, Kak,” usul Kui Fang.


Chien Wan mengangguk.


“Mari kita pergi. Mungkin di suatu tempat kita bisa menemukan petunjuk penting. Mungkin ada orang yang bisa menyimpulkan sesuatu dari kejadian ini!” kata Kui Fang bersemangat.


Chien Wan kembali mengangguk.

__ADS_1


Lalu mereka berdua meninggalkan tempat itu.


Tanpa disadari, sepasang mata mengawasi mereka dengan tatapan tajam. Sorot mata itu berkilau oleh air mata kepedihan bercampur kemarahan terpendam. Sorot mata yang sejak tadi menyaksikan seluruh kejadian tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


__ADS_2