
Suasana ruangan itu menjadi hening. Semua orang diam membisu, berusaha mencerna pengetahuan baru ini di dalam benak mereka. Banyak kejutan yang terjadi hari ini, banyak kejadian masa lalu yang baru terbongkar hari ini. Kepedihan dan kebahagiaan berbaur menjadi satu. Beberapa dari mereka mengalami guncangan yang tak terperi.
Tuan Ouwyang Cu berdehem. “Semuanya sudah berakhir. Istriku sudah meninggal. Hui Lun sudah meninggal. Rintangan sudah berakhir. Mau apa lagi sekarang?”
Sui She menengadah. Wajahnya bersimbah air mata. “Hui Lun sudah meninggal?” bisiknya. Ia menatap Ouwyang Kuan, meminta penjelasan.
Ouwyang Kuan mengangguk. “Ia meninggal saat melahirkan Ping-er enam belas tahun lalu. Saat itu....” Ia menelan ludah dan menatap ragu. “... aku ingin datang kepadamu, Sui She. Sudah tak ada penghalang di antara kita. Namun... kehadiran Ping-er membuatku ragu. Bagaimana jika kau membenciku karena aku tidak setia pada cinta kita? Aku mengkhianatimu dan Ping-er lah bukti pengkhianatanku! Aku tak ingin kau ikut membenci putriku yang tidak berdosa.”
“Aku sama sekali bukan orang seperti itu!” sergah Sui She gemetar. “Aku marah dan sakit hati pada Hui Lun dan kau! Tetapi aku tidak sejahat itu hingga tega membenci anak yang tak berdosa!”
Ouwyang Ping terpaku. Ia sangat malu. Jadi sebenarnya, dirinya anak yang tak dikehendaki! Ibu kandungnya telah berdosa pada Chien Wan dan ibunya, juga ayahnya! Dosa yang teramat besar karena telah memisahkan ibu dan anak selama hampir dua puluh tahun!
Tuan Ouwyang Cu berdiri. “Aku Majikan Lembah Nada, tetapi peristiwa sebesar ini terjadi di wilayahku sendiri aku tak tahu!”
“Guru, kami membuat kekacauan yang sangat besar.” Sui She ikut berdiri dan menghampiri Tuan Ouwyang Cu. “Mohon Guru mau mengampuni kami.”
Tuan Ouwyang Cu menyipitkan mata. “Hubunganmu dengan A Kuan telah mencoreng nama baik Lembah Nada dan Wisma Bambu sekaligus. Jika ayahmu masih hidup, dia akan kecewa!”
Air mata Sui She jatuh berderai. “Aku tahu! Aku sangat malu!”
“Ayah, jangan menyalahkan Sui She. Akulah yang bersalah dalam hal ini,” sela Ouwyang Kuan cepat-cepat.
“Tentu saja!” bentak Tuan Ouwyang Cu gusar.
“Guru—“
“Kau jangan ikut bicara!” tuding Tuan Ouwyang pada Sung Cen membuat muridnya itu terdiam. “Dan tidak pada tempatnya kalian minta maaf padaku! Seharusnya kalian minta maaf pada anak kalian! Orang yang telah kalian buat menderita selama bertahun-tahun!”
Wajah Sui She berurai air mata yang semakin lama semakin deras. Ia mendekati Chien Wan yang seolah membeku di kursinya, menunduk diam tak bergerak. Ia membungkuk di depan putranya dan membelai rambutnya dengan penuh kasih sayang.
“Anakku...,” kata Sui She lirih. “Kau mau memaafkan ibumu ini? Kau mau kan mengakuiku sebagai ibu kandungmu?” pintanya penuh permohonan.
Perlahan-lahan Chien Wan mengangkat kepalanya hingga Sui She bisa melihat wajahnya. Mata Chien Wan penuh dengan air mata. Bertahun-tahun ia merindukan seorang ibu, merindukan sebuah keluarga yang utuh. Tetapi mengapa hal yang seharusnya membahagiakan malah membuatnya sangat menderita? Ia memang mendambakan seorang ayah, tapi bukan Ouwyang Kuan! Ouwyang Kuan adalah ayah dari gadis yang sangat dicintainya. Ayah dari Ouwyang Ping! Dan itu berarti, Ouwyang Ping adalah adiknya!
“Anakku....” Sui She sangat terkejut melihat raut wajah Chien Wan yang tampak penuh penderitaan.
“Jadi itu sebabnya mengapa Paman Sung Cen melarang kalian...,” gumam Sen Khang yang ditujukan kepada Chien Wan dan Ouwyang Ping.
Perkataan ini diucapkan sangat pelan, namun cukup untuk didengar semua orang di ruangan ini.
Ouwyang Kuan menggeleng pedih. Ia tahu bahwa selama ini Chien Wan dan Ouwyang Ping saling mengasihi. Mereka hampir tak terpisahkan. Dan kini mendapati kenyataan bahwa sesungguhnya mereka kakak beradik. Hubungan cinta mereka adalah hubungan yang terlarang! Ia memandang Ouwyang Ping yang duduk membisu. Kepala gadis itu menunduk dan tangannya begitu erat menggenggam harpanya sehingga urat-uratnya menyembul semua.
“Begitu tahu hubungan Chien Wan dengan Ping-er, aku langsung bertindak.” Sung Cen kembali memberi penjelasan. “Aku pergi ke Kuil Abadi tempat A Kuan biasa bersembahyang tiap akhir tahun. Kupancing dia agar dia menerima pesanku. Tentu saja pesan itu sangat singkat. Kuharap begitu menerima pesan itu, dia akan langsung bertindak. Aku senang karena beberapa hari kemudian Chien Wan dan Ping-er dipanggil pulang. Aku pikir rahasia sudah terbuka dan mereka akan segera datang ke Wisma Bambu untuk bertemu dengan Sui She. Namun tunggu punya tunggu, enam bulan berlalu dan aku tak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku pun membuat diriku sakit dan berusaha agar Chien Wan bisa menemuiku. Berhasil. Chien Wan datang. Namun aku tak pernah punya kesempatan mengatakan rahasia ini. Akhirnya aku menerima tawaran Tuan Luo untuk pindah ke rumah induk. Aku memilih kamar di taman belakang supaya bisa mempertemukan Chien Wan dengan Sui She. Dan itu berhasil!”
“Pantas kau membujukku membiarkan Sui She menganggap Chien Wan anaknya! Kau sudah tahu bahwa Chien Wan memang benar anak kandung Sui She!” tukas Tuan Luo, baru memahami semuanya.
“Pesanmu tidak jelas, Sung Cen. Di sana tertulis: perhatikan pusat kehidupan Chien Wan! Aku langsung tahu kau mengacu pada debar jantungnya. Aku sudah memperhatikannya, tapi tak menemukan keanehan,” kata Ouwyang Kuan.
“Seharusnya kau melihat leontin itu!”
Ouwyang Kuan tersenyum getir. “Kalau begitu percuma. Chien Wan meminta Ping-er menyimpannya. Ia tidak memakai leontin itu lagi. Dan bodohnya aku karena selama ini tak pernah memperhatikan!”
__ADS_1
“Jelas saja, dia mengenakannya di balik pakaian.” Sung Cen menggeleng.
Suasana kembali sunyi. Tak ada seorang pun yang mengucapkan sesuatu. Mereka terlalu terpukau oleh kenyataan itu. Bagaimana semua ini terjadi begitu saja! Dan ternyata semuanya bukan serba kebetulan. Sung Cen-lah otak di balik semua ini. Semua berjalan sesuai dengan rencananya. Mungkin kedatangan Chien Wan ke Wisma Bambu memang tidak diperkirakan. Namun Sung Cen sudah memperkirakan kedatangan seorang anak yang mengenakan leontin dan mempunyai tanda lahir di punggungnya. Sejak itulah ia menyusun rencana.
Kesunyian dipecahkan oleh dentingan harpa yang merdu.
Semua terkejut dan menatap Ouwyang Ping.
***
“Ping-er....” Ouwyang Kuan menatap putrinya yang menunduk dengan kepedihan luar biasa.
Ouwyang Ping mengangkat wajah yang sejak tadi disembunyikannya dengan menunduk. Wajah itu pucat pasi bagaikan kertas. Matanya tampak kosong. Tangannya bergerak pelan di atas dawai harpanya. Perlahan-lahan, bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman.
Semua terkejut melihatnya, terutama ayahnya. Ia sudah siap seandainya putrinya menangis, bahkan menjerit histeris. Namun ia tak menyangka akan menerima senyum putrinya. Senyum yang membuat hati semua orang yang melihatnya teriris. Senyum yang mengandung derita hati dan rasa malu yang luar biasa!
“Ping-er....” Ouwyang Kuan amat takut. Ia takut kalau-kalau Ouwyang Ping tidak kuat menerima kenyataan ini.
Chien Wan juga memperhatikan senyum gadis itu. Hatinya hancur. Ia tak tahu mesti berbuat apa atau berkata apa untuk meringankan penderitaan hati gadis itu. Juga penderitaan hatinya. Ia sendiri remuk-redam. Perasaannya berkecamuk dalam dirinya. Penderitaannya tak bertepi dan semakin tak berdasar menyaksikan kehancuran gadis yang dicintainya itu.
“Ping-er, kau kenapa? Bicaralah!” kata Tuan Ouwyang Cu tegas.
Ouwyang Ping menatap kakeknya dengan sedih. Lalu memandang ayahnya dengan lembut. “Ayah, kau tak bersalah,” ucapnya. Lalu ia menoleh dan menatap Sui She yang tampak terkejut. “Bibi, ini juga bukan salahmu. Kalian adalah korban. Korban kekejaman hati ibuku.”
“Jangan bilang begitu, Nak,” tukas Ouwyang Kuan sedih. “Bagaimana pun dia itu ibumu!”
Ouwyang Ping menggeleng. “Ayah memang sangat baik hati. Meskipun ibuku bersalah padamu dan Bibi Sui She, Ayah tetap membelanya...,” katanya lirih. Ia memandang ayahnya, kemudian Sui She, dan yang terakhir adalah Chien Wan. Pemuda itu ditatapnya lama sekali. Cinta dan penderitaan tergambar jelas di matanya.
Sui She yang semula tidak tahu apa-apa, mendadak mengerti. Melihat Chien Wan yang tak lepas-lepasnya memandangi Ouwyang Ping, serta tatapan gadis itu yang penuh derita, ia pun paham. Ternyata mereka saling mencintai! Betapa sedih hati Sui She melihat keadaan ini.
“Sebenarnya kalian adalah keluarga sejati. Karena kesalahan ibuku-lah kalian sampai berpencar. Dosa ibuku terlampau besar, menyebabkan Kakak Wan harus berpisah dengan orangtuanya, membuat Bibi menderita sakit selama dua puluh tahun, serta membuat Ayah merana selama ini. Kalian harus menderita sekian lamanya karena ibuku. Begitu besarnya dosa ibuku pada kalian...,” ujar Ouwyang Ping dengan suara pelan dan tersendat.
“Ping-er!” seru Ouwyang Kuan tidak tahan. Setiap kata yang diucapkan putrinya diucapkan dengan menahan sakit. Ayah mana yang tega melihatnya?
“Karena itu,” lanjut Ouwyang Ping tanpa mempedulikan seruan ayahnya, “sekarang Ayah dan Bibi harus bersatu. Kalian harus menjadi satu keluarga karena memang begitulah seharusnya!”
Perkataan itu membuat semua orang di ruangan itu terperanjat. Semua orang menatap gadis itu seolah takut salah dengar. Hanya Chien Wan yang tidak menatapnya. Hanya Chien Wan yang memahami betapa sakitnya gadis itu harus mengucapkan semua ini.
“Ha ha ha!” Tuan Ouwyang Cu tertawa keras. “Cucu perempuanku memang seorang pendekar sejati! Benar-benar patut menjadi anggota Lembah Nada! Kebesaran jiwa seperti ini tak semua orang memilikinya!”
Ouwyang Kuan memejamkan mata. Lalu membukanya kembali dan menoleh memandang Sui She yang tampak canggung. Wajah perempuan itu tampak sedih dan terpaku.
Ouwyang Ping melihatnya dan menghampiri. Ia pun berlutut di hadapan Sui She.
“Ping-er!” seru Ouwyang Kuan semakin pedih.
“Jangan begini, Nak!” Sui She berusaha membangunkan gadis itu.
“Dosa ibu jatuh pada anaknya. Jika Bibi tidak mau menikah dengan ayahku, selamanya aku akan hidup menanggung dosa ibuku. Bibi bilang tidak membenciku. Maka dari itu, tentunya Bibi tidak keberatan mempunyai aku sebagai anak tiri. Kabulkanlah, atau aku tidak akan bangkit!” Suara Ouwyang Ping serak dan tersendat.
Sui She tampak sangat serba-salah. Ia melirik putranya yang tercenung.
__ADS_1
“Ping-er benar, Sui She.” Tuan Luo mendekati adiknya. Diam-diam ia memang lebih suka begini. Ia malu dengan kenyataan adiknya telah mempunyai anak di luar nikah. Menikah dengan Ouwyang Kuan setidaknya akan membantu memperbaiki citra diri Sui She. Saat ini keadaan masih dapat disembunyikan, namun tak lama lagi semua orang akan tahu. Sebelum masalah ini tersebar ke mana-mana, memang sebaiknya mereka menikah.
“Kakak?”
“Jika kau mau menikah dengan Ouwyang Kuan, tentu saja aku merestuimu.” Tuan Luo tersenyum.
Sung Cen pun menimpali, “Betul. Kalian sebenarnya masih saling mencintai. Berpisahnya kalian bukan karena hilangnya cinta, melainkan karena keadaan. Jangan membuang kesempatan untuk berbahagia, Sui She, A Kuan.”
Namun Sui She dan Ouwyang Kuan ragu-ragu. Mereka melihat kepedihan semakin nyata di wajah Chien Wan. Mereka tidak ingin melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Apakah jika mereka menikah, Chien Wan akan bahagia? Bagaimana dengan hubungannya dengan Ping-er?
“Kalian ini terlalu banyak pertimbangan!” sergah Tuan Ouwyang Cu jengkel.
Ouwyang Kuan menghela napas. “Sui She, jika kau memang membenciku dan tidak mau melihatku lagi... silakan usir aku. Tetapi jika kau... sudah memaafkan aku, tolong dengarkan permohonan Ping-er. Sejak lahir ia tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Jadi....” Ia terdiam, tak mampu melanjutkan kata-katanya.
Sui She tampak sangat bersedih hati. Ia ingin sekali mengatakan ‘ya’, namun sebagian hatinya masih gundah karena kenangan masa lalu yang menyakitkan masih membekas. Ia melihat Chien Wan yang terdiam dengan wajah pucat dan membisu.
“Chien Wan, katakanlah sesuatu....”
Sambil menarik napas panjang, Chien Wan melihat ibunya. “Terserah Ibu saja,” katanya pelan.
“Chien Wan...,” ucap Ouwyang Kuan pelan, “aku mengerti perasaanmu, Nak. Saat ini kau pasti amat terpukul. Semua adalah kesalahanku. Ayahmu ini memang laki-laki pengecut yang lemah hati. Kalian semua menderita karena ulahku. Pasti sulit sekali bagimu untuk bisa memaafkan aku dan menganggap semua masalah telah berakhir. Aku bahkan tidak berani berharap kau akan mengakuiku sebagai ayahmu....”
Namun Chien Wan menggeleng. “Semua ini adalah takdir,” katanya.
“Anakku....” Sui She meraih tangan putranya dan menggenggamnya.
Tangan Chien Wan balas meremas tangan ibunya. “Lakukanlah yang terbaik menurut Ibu.”
“Kau tidak keberatan?”
“Tentu saja tidak.”
“Dan kau mau mengakui ayahmu? Karena jika kami menikah, kau bukan hanya memiliki ibumu ini tapi juga ayahmu. Kau memanggilku ibu, dan kau akan memanggilnya apa?” Sui She menatap putranya penuh harap.
Chien Wan menghela napas. Dipandangnya pria yang selama ini dihormatinya sebagai ayah dari gadis yang dikasihinya. Pandangannya harus diubah. Orang ini adalah ayahnya!
“Tentu aku akan memanggil Ayah.”
Wajah Ouwyang Kuan berseri. Kebahagiaannya karena putranya mengakuinya tak bisa disembunyikan.
Ouwyang Ping masih berlutut. Hatinya merana. Tentu saja ia bahagia untuk Chien Wan yang telah menemukan keluarganya. Namun kebahagiaan itu harus ditebus dengan kenyataan bahwa kini Chien Wan adalah kakaknya. Ini tidak sepadan! Hatinya hancur!
“Ping-er, bangkitlah. Aku menyerah! Aku akan menikah dengan ayahmu dan menjadi ibumu.” Sui She membangkitkan gadis itu dan memandangnya hangat.
Sebutir air mata meluncur di pipi gadis itu. “Bolehkah aku memanggilmu Ibu?” tanyanya mengharukan hati.
Mata Sui She basah. Digenggamnya tangan Ouwyang Ping erat-erat. Ia sangat iba pada gadis itu, sekaligus kagum akan ketabahannya. Di saat hatinya sedang hancur karena harus berpisah dari kekasihnya, gadis itu sempat-sempatnya memikirkan kebahagiaan orang lain.
“Tentu saja, Anakku.”
Tak ada yang tidak terharu melihat semua ini. Semua mata di ruangan itu basah menyaksikan peristiwa yang mengharukan hati ini. Betapa tegarnya Ouwyang Ping! Dia yang begitu mencintai dan memuja Chien Wan kini harus menerima kenyataan sepahit ini. Dan ia menerimanya dengan tegar, membuat semua orang kagum padanya.
__ADS_1
“Nah, sekarang sebaiknya kalian semua segera mempersiapkan pesta perkawinan! Kita adakan di Lembah Nada saja!” kata Tuan Ouwyang Cu dengan congkak.
Pernyataan ini tidak bisa dibantah oleh semuanya. Mereka hanya bisa tersenyum pasrah dengan keputusan pria tua itu.