Suling Maut

Suling Maut
Penyesalan Luo Sen Khang


__ADS_3

Semua orang tengah berkumpul di ruang tamu. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Pendekar Sung yang tiba tak lama kemudian juga tidak mengatakan apa-apa pada mereka. Ia merasa tidak berhak mengemukakan apa-apa pada mereka karena hal yang telah diketahuinya beberapa saat lalu berkaitan dengan kehormatan seorang gadis.


Dengan penuh pengertian, Sam Hui dan Wen Chiang keluar dari sana. Mereka sadar bahwa mereka hanya anak buah yang tak ada sangkut pautnya dengan peristiwa itu. Kui Fang sendiri tetap di sana. Entah bagaimana, ia merasa dirinya adalah bagian dari mereka.


Fei Yu mondar-mandir untuk menghilangkan kegugupannya. Ia sangat khawatir. Apa yang sesungguhnya terjadi pada Ting Ting? Apakah peristiwa itu sungguh melukai Ting Ting, bukan hanya secara jasmani melainkan juga rohani? Ia begitu mencemaskan keadaan gadis itu. Mau rasanya ia menerobos masuk dan membawa gadis itu pergi, menjauh dari dunia ini!


Kelakuan Fei Yu ini tentu saja menarik perhatian ayahnya. Tuan Chang tidak mengerti mengapa kejadian yang menimpa Ting Ting begitu mempengaruhi putranya yang biasanya acuh tak acuh itu. Seketika muncul kecurigaan dalam hatinya.


Sui She menatap Pendekar Sung. “Adik Sung, apa yang terjadi dengan Ting Ting?” tanyanya karena tak bisa lagi menahan perasaan cemasnya.


Pendekar Sung menghela napas. Ia menggeleng.


Sui She hendak mendesak, namun suaminya menyentuh lengannya. Ia menoleh heran dan melihat suaminya menggeleng. Ia pun diam.


Tak ada seorang pun yang bicara lagi. Mereka menanti dalam kebisuan.


Saat itulah, Sen Khang muncul.


Pemuda itu tampak begitu tegang dan pucat. Ia tidak menunggu sampai mereka semua berdiri menyambutnya, melainkan langsung menghampiri Ouwyang Kuan dan Sui She. Sebelum mereka menyadari apa yang hendak dilakukan Sen Khang, pemuda itu sudah terlebih dahulu berlutut di depan mereka.


“Sen Khang!” seru suami-istri itu kaget.


“Maafkan semua perlakuanku selama ini, Paman, Bibi,” bilang Sen Khang. Suaranya lirih dan gemetar. Ia sangat kalut dan letih. Seumur hidup belum pernah ia merasa sekalut ini, selain waktu mendapati orangtuanya meninggal dan adiknya diperkosa.


“Bangunlah, Sen Khang.” Ouwyang Kuan menghela keponakannya itu berdiri. “Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kami mengerti perasaanmu,” ujarnya.


Sen Khang menatap bibinya dengan pedih. Dan Sui She tidak dapat menahan tangisnya.


“Ayahmu adalah kakakku, Sen Khang. Kepedihan hatimu juga kepedihanku... Jangan lupakan itu...!” isak Sui She pilu.


Sen Khang tidak sanggup mengucapkan apa-apa lagi. Ia tidak dapat menahan air matanya.


Melihat bibi dan keponakan itu saling bertangisan, semua merasa amat sangat terharu. Mereka tidak bisa menyalahkan Sen Khang karena telah gegabah selama ini. siapa pun yang berada dalam posisinya tentu akan berbuat hal yang sama.


Sen Khang menyeka air matanya dan memandang berkeliling. Diperhatikannya wajah-wajah tulus penuh kecemasan itu. Mereka semua adalah sahabat-sahabatnya dan juga sahabat-sahabat Chien Wan. mereka melakukan berbagai cara untuk membersihkan nama Chien Wan. Mereka percaya kepada Chien Wan! Sedangkan dirinya sendiri—yang selama ini mengaku sebagai sahabat baik Chien Wan—malah mempersalahkannya!

__ADS_1


Ditatapnya Ouwyang Ping yang tampak begitu sedih. Teringat olehnya bagaimana perasaannya sendiri kala melihat gadis itu tergolek tak berdaya. Betapa hancur dan putus asanya dia kala mengira gadis itu tewas.


“Aku tidak tahu bagaimana caranya meminta maaf....”


“Sen Khang, sudahlah. Kau tidak perlu meminta maaf.” Pendekar Sung menukas. “Bagi kami semua, hal yang paling penting adalah melihat kau sudah bisa membuka mata hatimu dan berpikir dengan kepala dingin.”


“Benar,” angguk Ouwyang Ping halus. “Kami semua merasa lega melihatmu sudah tidak lagi membenci kakakku.”


“Juga mencari siapa pelaku sebenarnya!” sambar Fei Yu geram.


Yang lain mengangguk setuju.


Kui Fang tidak mengatakan apa-apa. Dalam hatinya ia merasa lega sekaligus cemas. Sekarang semuanya sudah terbuka dan semua orang sudah menerima kenyataan bahwa Chien Wan tidak bersalah. Namun di manakah Chien Wan sekarang? Itulah yang merisaukannya.


Ouwyang Kuan dan Sui She membimbing Sen Khang agar duduk di kursi dekat mereka. Kening Ouwyang Kuan berkerut manakala menyadari betapa gemetar dan dinginnya tangan Sen Khang.


Mungkinkah terjadi sesuatu dengan Ting Ting?


“Ting Ting bagaimana?” tanya Sui She khawatir.


Sen Khang tertegun. Ia menghela napas panjang. “Tidak baik, Bibi....”


Sen Khang menelan ludahnya. Perlukah dia menceritakan kehamilan Ting Ting? Ia memandang mereka semua, orang-orang yang begitu mempedulikan keluarganya. Mereka semua telah menjadi keluarganya sekarang. Maka mereka mesti tahu apa yang telah terjadi.


“Sen Khang?”


“Ting Ting... mengandung,” gumamnya lirih namun bagaikan bunyi geledek yang menghantam pendengaran semua orang yang berada di dalam ruangan itu.


“Apa?” bisik Sui She.


Sen Khang mengangguk pelan.


“Kau yakin?” seru Ouwyang Ping tertahan,


Sen Khang menoleh sedih ke arah Pendekar Sung.

__ADS_1


Pendekar Sung mengangguk. “Aku sudah memeriksanya tadi. Melihat gejalanya, tidak diragukan lagi.”


“Ya Tuhan!” seru Ouwyang Kuan.


Semua orang di ruangan itu merasa terpukul mengetahui kejadian itu. Namun tidak ada yang begitu mengguncang jiwa raga seperti yang dialami oleh Fei Yu.


Fei Yu merasa hampa. Suara orang-orang itu berdenging di telinganya. Lidahnya sendiri terasa kelu hingga ia tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Titik-titik keringat dingin mulai membasahi keningnya.


Mengandung? Ting Ting mengandung?


Mengapa ini terjadi? Belum cukupkah bajingan itu hanya menodainya? Mengapa ia harus meninggalkan benihnya di dalam rahim Ting Ting?


Pasti sekarang gadis itu merasa hancur. Pasti dia merasa seolah dunia sudah berakhir! Penderitaannya benar-benar tidak tertahankan.


Dan tidak ada yang bisa dilakukan untuk meringankannya!


“Bagaimana Ting Ting menerimanya?” Suara Ouwyang Kuan menembus gendang telinga Fei Yu.


“Histeris,” sahut Sen Khang letih. “Ting Ting tidak bisa menerimanya dengan baik, terutama ketika dia tahu bahwa... bukan Chien Wan yang....” Ia menggeleng, tak sanggup melanjutkan kata-katanya.


“Dia sudah tahu? Bagaima... kau memberitahunya?” tanya Ouwyang Ping kaget.


Sen Khang menghela napas, lalu ia menceritakan semua yang Ting Ting ceritakan tadi kepada mereka. Tentang kronologis kejadian itu.


“Dia bilang masam?” bisik Ouwyang Ping sedih. “Tetapi Kakak Wan itu memiliki indera perasa yang cacat!”


Kui Fang belum pernah mendengarnya. Ia tertarik. “Cacat bagaimana?”


“Ada selaput pada lidah Chien Wan,” sambut Ouwyang Kuan. “Dia tidak pernah bisa merasakan apa-apa pada lidahnya. Semua yang disentuh oleh lidahnya akan terasa hambar.”


Kui Fang tertegun. Ia baru mengetahui hal ini. Padahal ia beberapa kali makan bersama Chien Wan. Ia tidak pernah menduga hal ini dan Chien Wan sendiri tidak pernah bilang.


Tiba-tiba, Meng Huan datang tergopoh-gopoh. Untuk kedua kalinya pada hari itu.


“Sen Khang! Tolonglah!” seru Meng Huan.

__ADS_1


Sebelum Sen Khang bertindak, Fei Yu yang berada paling dekat ke pintu langsung melesat pergi. Melewati Meng Huan yang hanya bisa melihat bayangan bajunya.


***


__ADS_2