Suling Maut

Suling Maut
Masa Lalu Sung Cen II


__ADS_3

Chien Wan, Sen Khang, dan Sung Cen telah tiba di Kota Lok Yang. Tanpa membuang waktu, mereka segera pergi menuju kediaman Pendekar Sung.


Ketika mereka tiba, mereka dihadang oleh penjaga pintu.


“Salam, Tuan-tuan. Ada keperluan apa?”


“Kami ingin bertemu dengan Pendekar Sung. Katakan padanya, kami dari Lembah Nada,” jawab Sen Khang.


“Tunggu sebentar.”


Pengawal itu menghilang dan kembali tak lama kemudian.


“Silakan masuk.”


Ketiganya diantar oleh pengawal menuju ruang tamu. Mereka dipersilakan duduk oleh si pengawal. “Harap menunggu sebentar. Pendekar Sung sedang menyelesaikan... urusan keluarga.”


Pengawal itu ragu-ragu ketika mengatakan urusan keluarga. Namun tidak ada yang memperhatikannya sampai terdengar suara riang,


“Salah sendiri dia cengeng begitu! Aku cuma menendang bokongnya dua kali, tidak mungkin bisa membuatnya pingsan!”


Seorang gadis remaja masuk ke dalam ruang tamu dengan ekspresi tak berdosa.


“Tunggu, Siu Hung! Ayah belum selesai bicara!”


Pendekar Sung menyusul gadis itu. Wajahnya tampak kesal sekali.


“Pokoknya aku tidak mau dihukum! Aku tidak salah apa-apa, kok!”


“Apanya yang tidak salah?” bentak Pendekar Sung. “Kau sudah menghajar putra pejabat pemerintah sampai pingsan, mengacau di rumah bordil—rumah bordil, demi Tuhan! Dan menolak dihukum?”


Siu Hung berbalik dan menghadap ayahnya sambil berkacak pinggang. “Sebenarnya kalau mau dicari siapa yang salah, Ayah-lah yang salah!”


“Ayah yang salah?” seru Pendekar Sung marah.


“Ayah kan yang mengajariku bertindak sebagai pembela orang yang lemah? Nah, tadi itu aku membela perempuan yang hendak dipaksa bocah tengik itu! Perempuan itu bilang tidak mau eh bocah tengik itu memaksanya juga. Aku kan jadi tergerak. Coba kalau Ayah tidak mendidikku seperti itu, aku kan akan langsung pergi saja dan tidak menolongnya!”


Pendekar Sung melotot. “Lantas apa yang kaulakukan di rumah bordil tengah hari begini? Dan—ya ampun!—kau ini anak perempuan! Mana pantas mengunjungi tempat seperti itu?!”


Siu Hung nyengir. “Apanya yang tidak pantas? Ayah ini aneh. Rumah bordil itu kan isinya perempuan semua. Kalau dikunjungi oleh perempuan kan wajar. Malah kalau laki-laki yang datang kan aneh. Laki-laki datang pasti punya maksud yang kurang ajar. Kalau perempuan kan tidak kurang ajar, hanya sekadar melihat saja.”

__ADS_1


Pendekar Sung menepuk dahinya. Ia sudah putus asa mengurusi putrinya. Punya anak satu saja sudah membuatnya begini pusing.


“Sebentar lagi Ayah akan dipanggil pejabat itu. Apa yang harus kukatakan?” teriak Pendekar Sung gusar.


“Bilang saja kalau anaknya itu main ke rumah bordil dan tidak mau bayar. Beres, kan?”


“Siu Hung!” bentak Pendekar Sung. “Sekarang masuk kamar dan jangan keluar!” perintahnya. Ia menoleh dan melihat pengawalnya tengah mematung. “A Kuang, kau awasi Nona. Jangan sampai dia kabur!”


“Saya?!” seru si pengawal ketakutan. Dipandangnya Siu Hung yang tampak tersenyum lebar dan cerah luar biasa, dan pengawal itu semakin ngeri.


“Ayo!” Siu Hung menarik pengawal yang ketakutan itu masuk.


Pendekar Sung mengatur napasnya sebelum berbalik menghadap tamu-tamunya. Ia tersenyum penuh penyesalan. “Maafkan peristiwa tadi. Putriku memang luar biasa badung!”


“Kami masih ingat kenakalannya.” Sen Khang tertawa, terkenang peristiwa beberapa waktu lalu saat mereka diundang ke pertemuan para pendekar di kediaman Pendekar Sung, Ketua Persilatan.


Pendekar Sung baru menyadari siapa tamunya dan seketika wajahnya berubah cerah. “Sungguh suatu kehormatan bisa berjumpa lagi dengan kalian! Apa kabar, Adik Luo, Adik Chien?”


“Baik, Pendekar Sung.” Sen Khang memberi hormat diikuti Chien Wan yang diam saja.


Saat Sung Cen berdiri dan menatap Pendekar Sung, suasana menjadi hening. Pendekar Sung tertegun menatap pria setengah baya itu. Tenggorokannya tercekat hingga tak sanggup berkata-kata.


Sapaan ragu Sung Cen itu menyadarkan Pendekar Sung. Dengan penuh haru Pendekar Sung segera maju dan merangkul kakaknya itu dengan penuh kerinduan dan juga ketidakpercayaan. Sung Cen pun lega. Tadinya ia mengira adiknya akan mengusirnya dan tidak mengakuinya lagi. Kini terbukti bahwa adiknya itu masih menganggapnya kakak.


“Kakak Cen! Astaga Kakak Cen!” Pendekar Sung melepaskan rangkulannya untuk memandang lekat-lekat wajah kakaknya. “Aku pikir kau sudah....” Ia menggeleng takjub. “Setelah lebih dari dua puluh tahun. Aku mencarimu ke mana-mana selama bertahun-tahun. Setelah sekian lama, aku menyerah. Kupikir selama kita takkan pernah bertemu lagi!”


Sung Cen menghela napas lega. Ditepuk-tepuknya punggung adiknya. “Maafkan aku telah membuatmu khawatir.”


“Ke mana saja kau selama ini? Dan bagaimana kau bisa bersama kedua pemuda ini?” tanya Pendekar Sung beruntun. Dibimbingnya kakaknya itu ke kursi dan mereka duduk berdampingan.


“Ceritanya panjang. Nanti akan kuceritakan. Aku hanya dapat mengatakan bahwa selama ini aku menjalankan kewajibanku sebagai anggota Lembah Nada,” bilang Sung Cen.


Pendekar Sung tidak memaksa. Ia mengerti perangai tertutup kakaknya.


“Ternyata kau sudah menikah dan punya anak.”


Diingatkan pada Siu Hung membuat Pendekar Sung murung. “Aku payah sekali dalam hal mendidik anak. Anakku cuma satu, tapi kebadungannya melebihi sepuluh anak laki-laki!”


“Coba pertemukan dia dengan Kakek Ouwyang, pasti seru!” tukas Sen Khang menahan tawa. Chien Wan tersenyum kecil mendengarnya.

__ADS_1


Sung Cen menyeringai. “Betul juga.”


Pendekar Sung tidak tahu apa-apa, jadi dia tidak berkomentar. Hanya menatap bingung. Ia kembali menatap kakaknya. “Kak, aku sudah mencoba mencarimu ke segala tempat. Terutama sekali sewaktu Kakak Ipar melahirkan putrimu. Aku sangat malu ketika datang ke Bukit Merak tanpa berhasil membawamu pulang.”


Seketika wajah Sung Cen berubah sedih. “Mereka sudah meninggal.”


“Siapa?”


“Cin Mei dan anakku. Mereka sudah meninggal....”


“Siapa bilang?”


Sung Cen langsung waspada. “Aku sempat pergi ke sana sekitar setahun setelah aku pergi. Mereka mengatakan bahwa istri dan anakku sudah tidak ada lagi!”


Pendekar Sung mengerutkan dahi. “Aneh....”


Sung Cen mencengkeram lengan adiknya dengan erat. “Kau tahu sesuatu?”


“Kakak Ipar memang sangat lemah kondisinya ketika melahirkan anakmu. Dan dia meninggal kira-kira dua bulan setelah melahirkan. Tetapi putrimu masih hidup waktu aku datang untuk menghadiri pemakamannya! Aku bahkan sempat melihatnya!”


Pemberitahuan ini membuat Sung Cen tercengang hingga nyaris tak bisa bicara. Ternyata Chang Cin Te membohonginya! Sembilan belas tahun yang lalu ia kembali ke Bukit Merak dengan tujuan ingin menjemput istri dan putrinya. Namun Chang Cin Te menerimanya dengan kaku dan penuh kebencian, mengatakan bahwa mereka sudah tidak ada. Mengapa?


“Kakak Cen?”


“Kalau begitu... putriku masih hidup...?” gumam Sung Cen lirih.


“Kakak jangan bersedih. Lebih baik kita pergi ke Bukit Merak untuk meminta penjelasan,” usul Pendekar Sung.


Sung Cen tertawa kering. “Merekalah yang seharusnya menerima penjelasan.”


Ketika itulah seorang pengawal masuk dan melapor.


“Pendekar Sung, ada beberapa orang mencari Anda.”


“Siapa?” tanya Pendekar Sung heran.


“Mereka dari Bukit Merak.”


Sung Cen langsung terlonjak berdiri.

__ADS_1


__ADS_2