Suling Maut

Suling Maut
Dua Luo Sen Khang


__ADS_3

Meng Huan hendak menenangkan Sen Khang, namun seketika ia terpaku. Wajahnya pucat dan ia tampak sangat shock melihat sesuatu. Sen Khang melihat Meng Huan yang tampak shock itu dan menoleh ke arah pandangan Meng Huan. Ia pun tertegun.


Luo Sen Khang lain muncul di sana!


Pendekar Sung melihatnya dan menunjuk.


Semua pendekar menoleh dan seketika mereka terpaku.


Luo Sen Khang gadungan itu melangkah ke tengah-tengah pekarangan. Ia langsung berdiri di samping Sen Khang.


Para hadirin terpukau.


Mereka tidak bisa membedakan antara Sen Khang asli dengan Sen Khang gadungan. Keduanya sama persis, baik wajah maupun penampilan. Keduanya sama-sama mengenakan pakaian putih-kelabu tanda berkabung. Keduanya punya wajah yang sama. Hanya saja, Sen Khang asli tampak pucat dan terpojok sedang Sen Khang palsu tengah menyeringai.


“Dilihat seperti ini saja kalian tidak bisa membedakan kami, apalagi dalam keadaan kacau seperti tadi!” Sen Khang palsu berbicara. Ternyata suaranya berbeda dengan Sen Khang asli.


Sen Khang asli langsung paham. “Kau menyamar menjadi aku dan membunuh Ping-er!” makinya penuh amarah.


Sen Khang palsu tertawa. “Membunuh Ouwyang Ping?” tanyanya sambil melambaikan tangan ke arah pintu utama.


Serentak semua orang menoleh ke pintu utama. Dan mereka terperangah.


Ouwyang Ping berdiri di sana bersama Tuan Chang dan Kui Fang. Gadis itu tampak segar bugar tak kurang suatu apa pun. Darah masih menodai leher dan bagian atas pakaiannya. Namun selain itu, ia tidak terlihat terluka sedikit pun.


Sen Khang terpaku, bingung bercampur lega. Syukurlah gadis itu tidak apa-apa!


“Ping-er!” Ouwyang Kuan dan Sui She bergegas menghampiri putri mereka dan memeluknya.


“Ayah, Ibu, tenanglah. Aku tidak apa-apa. Aku tak terluka sedikit pun,” hibur Ouwyang Ping lembut.


“Apa yang terjadi sebenarnya?” seru Pendekar Lei.


“Ada apa ini, Saudara Sung?” Pendekar Fu menoleh ke arah Pendekar Sung yang tampak tenang-tenang saja.


Pendekar Sung tersenyum. “Kami menciptakan gambaran tentang situasi yang dialami Chien Wan.”


Sen Khang asli terperanjat. Kecurigaannya ternyata benar.

__ADS_1


Ouwyang Ping melangkah ke dekat Sen Khang. “Kakak Luo, kau ingat ketika kita menemukan Kakak Wan di dekat jenasah ibumu dulu? Dia memegang pedang berlumuran darah. Kita langsung saja menuduhnya membunuh ibumu. Tetapi, kemudian aku memikirkannya lagi. Kakak Wan tidak pernah belajar menggunakan pedang. Kalaupun membunuh, tentu dia tidak akan menggunakan senjata yang tak pernah dikuasainya.”


Sen Khang menelan ludah. Pemahaman mulai melanda benaknya. Ya Tuhan...! Bagaimana jika selama ini ia memang salah? Ia telah salah menuduh Chien Wan, membuat sahabatnya itu dikejar-kejar oleh semua pendekar Dunia Persilatan, membuat nama baik Chien Wan rusak!


“Kakak Luo.” Kui Fang tidak tahan untuk tidak ikut berbicara. “Kakak Wan menceritakan padaku bahwa sesaat sebelum ia memasuki gerbang Wisma Bambu, ia berpapasan dengan orang yang persis dirinya. Aku menceritakan itu kepada Paman Chang dan Paman Sung. Dan kesimpulan kami sama. Ada orang menyamar menjadi Kakak Wan dan memfitnahnya melakukan kejahatan ini.”


Sen Khang semakin terpukul.


Sen Khang palsu melangkah ke tengah. “Aku minta maaf telah menyulitkanmu beberapa jam terakhir ini, Sen Khang,” katanya. Lalu ia mengulik bagian bawah telinganya dan merobek topeng wajah tipis yang dikenakannya.


“Fei Yu!” seru Sen Khang kaget.


Fei Yu menghela napas. “Jangan marah pada kami. Satu-satunya alasan kami melakukan ini adalah karena kami ingin membukakan pikiranmu yang sempat tertutup. Perkataan saja tidak mungkin didengar, maka kami semua sepakat menyusun sandiwara ini untuk meyakinkanmu.”


“Dengan menggunakan aku sendiri sebagai korban?” tanya Sen Khang setengah kesal.


“Kami terpaksa. Kalau tidak begitu, kau tidak akan mengerti.”


Sen Khang menoleh ke arah Ouwyang Ping. “Tadi kau jelas-jelas mati. Bagaimana...?”


“Paman Chang yang mengatur. Tadi saat semua orang sedang berdebat, ia keluar dan memanggilku, mengatakan sudah saatnya. Aku bersiap-siap menunggu kedatangan Fei Yu dan pura-pura menjerit saat Fei Yu datang,” jelas Ouwyang Ping. Ia menoleh ke arah Fei Yu.


“Dari mana kau tahu ada jalan rahasia?”


Fei Yu mendesah. “Kau lupa aku pernah datang ke sini? Waktu itu aku bersama Siu Hung dan mengikuti dia ke mana-mana untuk mengawasinya. Dia yang menemukan jalan itu dan memberitahuku.”


“Lalu?”


“Ilmu meringankan tubuhku dan Ouwyang Ping hampir setara. Ia pergi sendiri ke Hutan Bambu tempat ayahku sudah menunggu sementara aku memancingmu. Ayahku meriasnya hingga wajahnya menjadi sepucat mayat, membuat luka buatan di lehernya sehingga terkesan bahwa seseorang sudah menyabetkan pisau ke lehernya. Kemudian ayahku menotok jalan darahnya dan menutup lubang hidungnya dengan selaput tipis. Itulah sebabnya kau melihatnya tidak bernapas. Ouwyang Ping akan otomatis bernapas melalui mulut yang tentu saja tidak akan kauperhatikan. Kemudian pisau itu diletakkan di sisi tubuhnya.


“Setelah semuanya terjadi, ayahku bergegas membawa Ouwyang Ping ke dalam. Ia menyadarkan Ouwyang Ping saat kalian semua tidak memperhatikannya karena terlalu sibuk saling tuduh,” kata Fei Yu panjang-lebar sambil menyeringai.


“Aku sempat memegang darahnya dan rasanya seperti darah sungguhan!” bantah Sen Khang. Wajahnya merah padam.


Lagi-lagi Fei Yu menyeringai. “Itu darah babi. Kucuri dari dapurmu sendiri. Kami sudah memperkirakan kalian akan menyembelih hewan untuk dimasak setelah kami semua datang. Kalian tidak tahu akan kedatangan banyak tamu sehingga tidak sempat mempersiapkan jamuan sejak jauh-jauh hari. Pelayan-pelayan itu tidak menyadari bahwa darah babi yang ditampung dalam salah satu mangkuk lenyap.”


“Tetapi, bagaimana...?” Meng Huan menyambar. Hendak bertanya namun tidak sanggup mengatakan apa pun selain itu.

__ADS_1


Pendekar Sung memberikan penjelasan, “Kui Fang datang ke Bukit Merak dengan keterangan seperti yang diucapkannya tadi. Mendengar semua itu, Kakak Chang yakin bahwa seseorang telah menyamar menjadi Chien Wan dengan tujuan untuk menjatuhkan nama baik Chien Wan. Kami punya satu dugaan tentang siapa yang mungkin melakukannya. Orang itu adalah Cheng Sam!”


Para pendekar bergumam riuh. Cheng Sam!


“Bila kalian ingat, beberapa bulan lalu Cheng Sam menjarah habis-habisan seisi rumah kami di Bukit Merak,” kata Tuan Chang. “Kemudian aku juga teringat bahwa Cheng Sam sudah puluhan tahun mengabdi padaku sehingga ia pernah mempelajari ilmu menyamar dariku. Mungkin saja kepandaiannya membuat samaran sekarang ini sudah sangat tinggi, mengingat ada kemungkinan dia mencuri beberapa teknikku yang terbaik selama bertahun-tahun. Dia punya banyak kesempatan untuk itu. Begitu mendengar adanya seseorang yang persis Chien Wan, aku berkesimpulan bahwa ini ada hubungannya dengan Cheng Sam.”


“Maksud Anda, Cheng Sam-lah yang melakukan kejahatan ini? dia yang menyamar menjadi Chien Wan?” tukas Sen Khang.


“Tentu saja tidak semudah itu,” geleng Tuan Chang.


“Maksudnya?” cecar Sen Khang lagi.


“Cheng Sam jelas terlibat dalam masalah ini. Tetapi bukan dia yang menyamar menjadi Chien Wan. Sebab untuk menyamar untuk menjadi seseorang diperlukan kemiripan figur dengan orang tersebut. Cheng Sam terlalu pendek dan gemuk untuk menjadi Chien Wan,” jelas Tuan Chang.


“Maksud ayahku adalah Cheng Sam bekerja sama dengan seseorang!” sela Fei Yu. “Orang yang secara fisik mirip dengan Chien Wan dan mempunyai dendam kesumat terhadap Chien Wan sehingga tega menjebaknya seperti ini!”


“Siapa?”


“Itulah yang harus kita cari tahu. Dan itu tidak akan bisa terpecahkan bila kita terus mengira Chien Wan pelakunya! Energi kita terkuras untuk mencari dan membunuh Chien Wan sementara pembunuh sebenarnya berkeliaran sambil tertawa puas!” Fei Yu berkata berapi-api.


Sen Khang terpekur. Perlahan-lahan ia mulai mempercayai hal ini. Ia sudah merasakan betapa sakitnya menjadi korban fitnah. Kejadian yang menimpanya tadi membuatnya memahami apa yang dirasakan Chien Wan. Betapa menyesakkan rasanya bila penjelasan kita tidak didengar. Betapa menyakitkan rasanya dituduh melakukan sesuatu yang sama sekali tidak kita lakukan!


Pendekar Sung menghadapi para pendekar yang tengah diam membisu. “Dan satu hal lagi. Akulah yang menyebarkan berita peringatan 40 hari meninggalnya Tuan dan Nyonya Luo agar kalian semua berkumpul di sini. Sebab selain mencoba meyakinkan Sen Khang, sandiwara tadi juga dimaksudkan untuk membuka mata Anda sekalian! Kalian begitu mudah mempercayai sesuatu yang belum ketahuan jelas benar-salahnya. Kalian memburu Chien Wan hanya karena mendengar kabar burung, tanpa menyelidikinya terlebih dahulu dengan seksama. Dan tadi, kalian beramai-ramai menyerang Sen Khang tanpa memberinya kesempatan untuk menjelaskan. Apakah ini yang dinamakan sikap pendekar sejati?”


Betapa malunya mereka semua mendengarkan perkataan Pendekar Sung. Memang benar. Mereka terlalu mudah terbawa perasaan. Mereka bertindak hanya karena kemarahan sesaat dan tidak berpikir panjang.


Pendekar Fu yang pertama bertindak. Ia menghampiri Ouwyang Kuan dan Sui She. Memberi hormat dengan sepenuh hati. “Maafkanlah segala tuduhan yang kulontarkan tentang putra Anda, Tuan dan Nyonya Ouwyang. Aku bersumpah akan membersihkan nama baik putra Anda.”


Ouwyang Kuan dan istrinya berpandangan dengan penuh kelegaan.


Para pendekar itu bergantian mengucapkan permohonan maaf kepada Ouwyang Kuan dan istrinya diiringi tatapan puas Pendekar Sung dan Ouwyang Ping.


Sen Khang masih diam membisu. Tubuhnya seolah terpancang di tempatnya berdiri. Rasa sesal berbaur dengan perasaan marah dan malu. Ia merasa betapa hina dirinya. Ia tidak pantas disebut sebagai seorang pendekar. Benar seperti perkataan Pendekar Sung. Ia telah dibutakan oleh amarah sehingga tidak mau mendengarkan penjelasan orang lain. Segala penjelasan Chien Wan tak didengarnya. Nasihat Meng Huan untuk tidak gegabah tidak digubrisnya. Pembelaan Kui Fang dan Ouwyang Ping dianggapnya sebagai pengkhianatan.


Dan yang paling memalukan, ia telah bersikap luar biasa kasar terhadap paman dan bibinya—yang merupakan keluarga yang masih dimilikinya—hanya karena mereka orangtua Chien Wan. Ia tidak dapat meminta maaf karena ia bahkan tidak yakin apakah ia bisa memaafkan dirinya.


Ia bukan pendekar sejati. Ia seorang pengecut!

__ADS_1


Ouwyang Ping melihatnya. Perasaannya bergejolak. Ia merasa iba melihat keadaan Sen Khang. Betapa pedihnya wajah Sen Khang. Tak sepatah kata pun terucap dari mulutnya yang terkatup rapat.


***


__ADS_2