
“Benar dugaanku,” gumam Chien Wan setelah Fei Yu menyudahi ceritanya. “Enam orang yang menyerangmu itu adalah Enam Saudara Khitan. Dan bila mereka menyerangmu, itu pasti ada hubungannya dengan Cheng Sam.”
“Terutama sekali mengenai niat untuk mencelakakanmu, Tuan Muda. Siapakah orang yang paling ingin membuatmu celaka selama ini? Cheng Sam!” kata A Nan berapi-api.
“Di mana Kelelawar Hitam sekarang?” tanya Chien Wan.
“Aku meminta bantuannya menyelidiki mereka. Kalau ada orang yang sanggup mengikuti orang lain tanpa ketahuan, itu adalah Kelelawar Hitam,” bilang Fei Yu.
“Tadi kau bilang, Kelelawar Hitam pernah menjadi gurumu dan Ping-er? Jadi kau dan Ping-er sebenarnya masih bisa dibilang saudara seperguruan?” tanya Kui Fang kagum. “Pantas saja ilmu meringankan tubuh Ping-er begitu hebat.”
Fei Yu mengangguk. “Aku dan Ouwyang Ping pernah mengadu kepandaian meringankan tubuh. Bisa dibilang kami seimbang.”
Chien Wan terdiam. Berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya. Ia agak terkejut dengan pemberitahuan Kelelawar Hitam lewat cerita Fei Yu tadi, bahwa di tengah-tengah rombongan ada seorang perempuan dengan perut agak gendut—yang pasti karena kehamilan. Siapa gerangan perempuan hamil itu? Mungkinkah perempuan itu ada hubungannya dengan mereka?
Di saat semua orang tengah memikirkan masalah itu, Fei Yu memikirkan hal yang sama sekali lain. Ia menelan ludahnya beberapa kali sebelum akhirnya memutuskan untuk bertanya. “Eng... Chien Wan,” panggilnya.
“Ya?”
Wajah Fei Yu merona sementara ia salah tingkah. “Mm... tadi katanya kalian dari Wisma Bambu. Bagaimana keadaan Ting Ting? Apa dia baik-baik saja?”
Pertanyaan itu membuat Chien Wan heran. Ia agak bingung bagaimana harus menjawabnya. Dibilang baik-baik saja rasanya aneh karena jelas-jelas Ting Ting berada dalam kondisi hamil di luar nikah. Namun....
“Ya, dia baik-baik saja. Dia akan menikah dengan Meng Huan.”
Brang!
Kepala Fei Yu berdenyut-denyut. Kata-kata Chien Wan yang pelan terdengar seperti dentuman halilintar. Wajahnya seperti baru ditampar, panas sekali! Jantungnya seolah berhenti. Dan sekonyong-konyong, aliran darah seperti tersedot dari pembuluh darah di mukanya. Kini wajahnya pucat pasi.
Reaksi Fei Yu itu mengejutkan Chien Wan, namun tidak demikian halnya dengan A Nan dan Kui Fang yang memang sudah menduganya. Chien Wan menoleh ketika tangan Kui Fang menyentuhnya. Ia tertegun melihat kesedihan di wajah Kui Fang. Seketika ia paham.
__ADS_1
“Tuan Muda...,” panggil A Nan pelan.
Chien Wan menyentuh bahu Fei Yu. “Maafkan aku.”
Fei Yu tetap diam tak bergerak. Pikirannya masih berputar. Menikah? Ting Ting akan menikah? Dengan Chi Meng Huan? Mengapa Ting Ting harus menjadi istri orang lain? Ia telah bersusah payah mencari pelaku kejahatan itu. Bukan hanya demi menemukan kembali pusaka keluarganya. Itu bukan hal yang penting. Ini semua dilakukannya demi Ting Ting. Mengapa sekarang jadi begini?
Perasaannya berkecamuk. Perlahan-lahan detak jantungnya kembali dan kian bertalu seiring dengan berlalunya waktu. Bersamaan dengan berlalunya waktu, ia merasa kesakitan. Hatinya seperti diiris-iris. Nyeri sekali! Ting Ting sangat berarti baginya. Ting Ting adalah cinta pertamanya. Baru dengan Ting Ting-lah ia merasakan getaran cinta. Ia selalu memimpikan Ting Ting, selalu berharap bahwa suatu saat kelak Ting Ting akan membalas perasaannya. Bahwa suatu hari nanti Ting Ting akan menjadi miliknya.
“Kakak Chang!” Kui Fang memanggil dengan suara agak keras.
Fei Yu tersentak. Pandangannya menangkap wajah-wajah sahabatnya. Ia memandangi Chien Wan dengan sendu. Ia tahu Ting Ting menyukai Chien Wan. Bila Ting Ting menikah dengan Chien Wan, mungkin ia takkan sesedih ini. Bagaimana pun ia menyukai Chien Wan, dan ia tahu Ting Ting akan bahagia bersama Chien Wan. Tetapi Chi Meng Huan? Sejak dulu, Fei Yu tak pernah menyukainya! Jadi mengapa harus dengan Chi Meng Huan?
“Fei Yu.” Chien Wan menggeleng sedih.
“Kapan pernikahannya berlangsung?” tanya Fei Yu pelan. Nada suaranya mengandung kesedihan dan penderitaan, namun juga tersirat kepasrahan yang mengharukan.
“Minggu depan.”
“Tuan Muda!” protes A Nan hampir menangis. “Kau jangan bodoh!”
Fei Yu menggeleng. “Aku bukannya bodoh, A Nan. Aku hanya ingin menyaksikan pernikahannya. Aku ingin tahu apakah dia bahagia atau tidak.” Lalu ia tertawa mengibakan. “Ah... dia pasti bahagia. Chi Meng Huan orang baik, bukan? Tidak seperti aku....”
A Nan menggigit bibir. Selama hidupnya, baru kali ini ia melihat Fei Yu seperti ini. Pemuda itu tampak pasrah dan tak berdaya. Orang yang kalah. A Nan selalu melihat tuan mudanya sebagai pemenang, orang yang percaya diri, dan yakin akan mendapatkan apa pun yang diinginkannya. Kini di saat Fei Yu begitu mencintai dan menginginkan seseorang, ia tak berdaya.
“Kau yakin mau pergi ke sana, Kakak Chang?” tanya Kui Fang pelan. Dalam hati ia setuju dengan A Nan. Untuk apa menyaksikan pernikahan yang akan membuat hatimu merana?
Fei Yu mengangguk.
“Baiklah,” angguk Chien Wan. “Besok kita berangkat. Dengan begitu kita bisa tiba tepat waktu.”
__ADS_1
“Tuan Ouwyang!” A Nan tak setuju.
“A Nan, jangan membantah lagi!” sela Fei Yu. “Aku tidak apa-apa.” Ia tersenyum. Namun walau dia tersenyum, pandangan matanya menampakkan kehancuran hati. Dan ini membuat mereka yang melihatnya semakin sedih.
***
Keesokkan harinya, mereka berempat segera berangkat ke Wisma Bambu.
Kali ini, Chien Wan bisa kembali ke sana tanpa beban dalam hatinya. Masalah pribadinya telah terpecahkan berkat bantuan teman-temannya, termasuk Fei Yu. Kini yang ada di hatinya hanyalah perasaan iba terhadap Fei Yu. Betapa ia ingin membantunya, tetapi bagaimana caranya?
Fei Yu tampak pucat dan lesu. Semalam ia sama sekali tak bisa tidur. Ia tak dapat memejamkan mata sekejap pun. Karena setiap kali ia memejamkan mata, wajah Ting Ting selalu terbayang.
Sampai saat ini pun ia tetap menyesali diri. Mengapa dahulu ia menimbulkan kesan keliru terhadap Ting Ting, membuat Ting Ting tidak mampu bersimpati kepadanya? Tak sekali pun ia bersikap manis terhadap Ting Ting, betapa pun ia menginginkannya. Tak heran Ting Ting tak pernah mempertimbangkan dirinya sebagai pendamping hidup.
Padahal cintanya tak kalah dengan Meng Huan! Walaupun Ting Ting telah ternoda dan mengandung anak haram, Fei Yu sama sekali tak mempermasalahkannya. Fei Yu akan menerima gadis itu apa adanya sebab itu bukanlah kesalahannya. Ia juga takkan keberatan menerima anak Ting Ting. Bahkan ia pasti akan menyayangi anak itu, sebab anak itu adalah bagian dari Ting Ting yang dicintainya.
Sebenarnya untuk apa ia datang ke Wisma Bambu? Ia memang sungguh bodoh! Datang ke sana sama saja sengaja menyakiti dirinya sendiri.
Namun lebih dari apa pun, ia ingin melihat Ting Ting. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri apakah Ting Ting baik-baik saja. Ting Ting bahagia atau tidak. Meng Huan memperlakukannya dengan baik atau tidak. Fei Yu harus tahu akan hal itu!
Chien Wan meletakkan tangannya di bahu Fei Yu.
“Kau benar-benar yakin mau pergi?”
Fei Yu mengangguk.
“Ayo kita jalan.”
Mereka berempat segera berjalan menuju Wisma Bambu. Perjalanan ke tempat itu bisa ditempuh dalam waktu beberapa hari lewat jalan biasa. Akan lebih cepat lagi bila mereka melakukan perjalanan tanpa harus mencari penginapan, dan tidur di jalan. Dan itulah yang mereka lakukan, mengingat pernikahan itu tinggal beberapa hari lagi.
__ADS_1
Fei Yu ingin secepatnya tiba di sana. Ia ingin menyaksikan sendiri pernikahan itu.
***