Suling Maut

Suling Maut
Paman Khung Sakit Keras


__ADS_3

Malam harinya saat semua orang sedang tidur, Ouwyang Kuan berjalan-jalan di taman. Hatinya resah. Ia meraba saku bajunya dan mengeluarkan kertas lusuh berisi pesan: perhatikan pusat kehidupan Chien Wan! dengan galau. Sebenarnya apa sih maksud kalimat ini?


Pusat kehidupan....


Ouwyang Kuan berpikir. Pusat kehidupan manusia adalah jantung. Jika jantung berhenti berdetak maka manusia itu pasti sudah mati. Napas bisa dihentikan sesuka hati, terutama bagi para pendekar berilmu tinggi yang sanggup menahan napas sangat lama. Pada waktu itu jika seseorang ingin memeriksa apakah seseorang masih hidup atau tidak, maka akan diperiksa di bawah lubang hidung untuk merasakan udara yang ditimbulkan napasnya. Atau denyut nadinya. Namun jarang ada yang berpikir untuk memeriksa jantung, terutama pada perempuan, karena dianggap tidak sopan. Akan tetapi Ouwyang Kuan bukan sembarang orang. Ia juga menguasai ilmu pengobatan dan tahu fungsi organ tubuh. Ia tahu bahwa jantunglah yang sebenarnya berperan penting dalam kehidupan manusia.


Jadi makna pesan itu... perhatikan jantung Chien Wan?


Ouwyang Kuan menggeleng-geleng. Mana mungkin memeriksa jantung Chien Wan. Apa dia harus membelah dada Chien Wan dan mengeluarkan jantungnya? Ia tertegun. Dada....


Apa dia harus melihat bagian dada Chien Wan?


“Paman.”


Jantung Ouwyang Kuan hampir copot mendengar sapaan orang yang dipikirkannya sejak tadi. Ia menoleh dan secepat kilat memasukkan kertas itu ke sakunya. Cepat-cepat ia mengembangkan senyum.


“Chien Wan, belum tidur? Ini sudah malam.”


Chien Wan menggeleng. “Tidak mengantuk.”


Mereka berdiam diri selama beberpa saat. Saat itulah yang dipergunakan oleh Ouwyang Kuan untuk memperhatikan dada Chien Wan. Ia mengerutkan kening. Kelihatannya biasa-biasa saja. Apanya yang harus diperhatikan?


Ouwyang Kuan kesal sendiri. Mengapa pula ia harus memperhatikan pesan dari orang yang tidak jelas itu! Ia tidak akan menaruh kecurigaan pada Chien Wan. Ia sangat mengenal pemuda itu dan selama ini ia tidak merasa ada yang salah pada Chien Wan.


Pesan itu jelas mengada-ada!


Ouwyang Kuan pun menjadi lega dan memutuskan untuk tidak mempedulikan pesan itu lagi. Ia menepuk bahu Chien Wan. “Aku mau tidur dulu, Chien Wan. Sebaiknya kau juga beristirahat.”


Chien Wan mengangguk. “Baik, Paman.”


Mereka pun kembali ke kamar masing-masing.


***


Beberapa hari kemudian, mereka memulai kegiatan mereka seperti dahulu. Setelah beristirahat selama beberapa hari, tubuh mereka terasa sangat segar dan tidak penat lagi. Maka kembali hari-hari mereka disibukkan oleh latihan-latihan.


Selain tetap berlatih musik seperti dulu, kali ini Tuan Ouwyang Cu memerintahkan Chien Wan untuk memperdalam ilmu silatnya. Bukan berarti sekarang ini kemampuan silat Chien Wan kurang baik. Tuan Ouwyang Cu tahu bahwa meskipun berbakat besar, Chien Wan kurang menyukai ilmu silat. Namun Tuan Ouwyang Cu memiliki harapan besar pada Chien Wan.


Sudah menjadi rahasia umum bahwa Tuan Ouwyang Cu kecewa pada putranya yang dianggapnya lemah itu. Kekecewaan itu bertambah besar setelah putranya tidak memiliki anak laki-laki untuk meneruskan marga Ouwyang. Kini melihat Chien Wan yang sangat luar biasa dalam musik, terutama melihat kedekatannya dengan Ouwyang Ping, ia bermaksud menjodohkan keduanya dan kemudian menyerahkan Lembah Nada di bawah kepemimpinan Chien Wan.


Gagasan itu semakin kuat tertanam di otaknya, terlebih setelah ia menyadari Chien Wan anak yatim piatu yang bahkan tidak mempunyai marga. Pasti dia tidak keberatan jika kelak anak-anaknya diberi marga Ouwyang.


Tuan Ouwyang Cu tersenyum puas, merasa rencananya tidak lama lagi akan terwujud. Ia telah membicarakan hal ini dengan putranya dan tentu saja putranya sangat mendukung. Ouwyang Kuan telah lama menyadari kualitas dirinya dan sama sekali tidak berminat menjadi Majikan Lembah Nada. Chien Wan adalah pilihan yang tepat. Ouwyang Kuan tidak keberatan putrinya menikah dengan Chien Wan, terlebih lagi ia melihat mereka saling mencintai.


Namun rencana itu harus ditunda mengingat usia Ouwyang Ping bahkan belum menginjak tujuh belas tahun. Ouwyang Kuan tidak berencana menikahkan putrinya sampai kira-kira setahun lagi.


Latihan berlangsung dengan memuaskan. Ilmu silat Tuan Ouwyang Cu sangat tinggi dan jarang bandingannya. Latihan yang diberikannya sangat keras dan ia tidak setengah-setengah dalam melatih Chien Wan. Pemuda itu sendiri sekarang tidak lagi terlalu berat berlatih silat seperti dulu. Pengalamannya selama ini mengajarkan bahwa kepandaian ilmu bela diri sangat penting. Kalau ia lemah, tak mungkin ia dapat melindungi. Padahal ada seseorang yang harus ia lindungi dengan sekuat tenaga.


Suatu hari, Chien Wan tengah berlatih dengan gurunya di bagian selatan Lembah Nada.


“Chien Wan, hari ini aku ingin melihat latihanmu! Coba kau ulangi jurus yang kuajarkan minggu lalu!”

__ADS_1


Chien Wan mengangguk dan melopat ke tengah lembah. Ia mulai menggerakkan tangan dan kakinya memainkan jurus-jurus yang sangat indah dan ringan namun mengandung tenaga dalam yang luar biasa. Sulingnya digenggam di tangan kanan sementara tangan kirinya bergerak cepat melesat-lesat dengan bebas. Perpaduan gerakan, kibasan suling, serta tepakan telapak tangan di udara menimbulkan bunyi siulan yang berirama. Jurus itu disebut Ilmu Siulan Gembala, salah satu jurus khas Lembah Nada yang hanya dikuasai oleh orang Lembah Nada yang memiliki tingkatan tinggi.


Tuan Ouwyang Cu memperhatikannya sambil mengangguk puas. Chien Wan benar-benar berbakat!


Setelah memainkan jurus terakhir, Chien Wan melompat tinggi dan mendarat sambil berputar. Kibasan tangannya menimbulkan hawa tenaga dalam yang sangat besar hingga membuat daun-daun beterbangan. Sulingnya membentuk cahaya hitam, dan setiap kali daun-daun itu membentur cahaya hitam tersebut timbullah percikan bunga api di udara.


Chien Wan berhenti dan memberi hormat pada gurunya.


Tuan Ouwyang berkacak pinggang dan baru akan mulai mengomentari ketika salah seorang anggota Empat Tambur Perak, yakni Kam Sien, datang menghampiri.


“Maaf mengganggu, Tuan.”


“Ada apa?” tanya Tuan Ouwyang tak sabar.


“Ada tamu dari Wisma Bambu. Dia ingin bertemu Chien Wan,” lapor Kam Sien.


Chien Wan kaget mendengarnya. Baru sekitar enam bulan ia meninggalkan Wisma Bambu, sekarang sudah ada yang menengoknya. Apa ada yang tidak beres?


“Mengganggu saja!” gerutu Tuan Ouwyang.


“Siapa dia, Kakak Kam?” tanya Chien Wan.


“Dia Tuan Muda Luo.”


“Sen Khang?”


***


Mata Sen Khang langsung bersinar. Ia segera merangkapkan kedua tangannya di depan dada. “Salam hormatku, Tuan Ouwyang. Aku Luo Sen Khang dari Wisma Bambu.”


“Kakak Luo!” seru Ouwyang Ping senang.


“Apa kabar, Ping-er?” sapa Sen Khang dengan nada akrab.


“Baik. Tentu saja baik. Kau sendiri bagaimana?” Ouwyang Ping bergegas menghampiri dengan senang.


“Baik juga,” senyum Sen Khang dengan hangat.


Ouwyang Kuan tidak berkata sepatah kata pun. Ia memperhatikan pemuda itu dengan penuh perhatian. Sungguh pemuda yang tampan dan gagah! Dalam pakaian berwarna putih bersih dengan garis kerah berwarna biru muda, ia terlihat layaknya pendekar yang sejati. Pemuda itu tidak membawa senjata apa pun, mengesankan bahwa ia seorang ahli ilmu tangan kosong. Sorot matanya tajam dan cerdas menampakkan wibawa dan kharisma yang tinggi. Tipe seorang pemimpin.


“Dari Wisma Bambu. Apakah kau putra Saudara Luo?” tanya Ouwyang Kuan.


Perhatian Sen Khang langsung kembali pada Ouwyang Kuan. “Benar, Tuan.”


“Panggil saja paman. Kau putra dari orang yang kuhormati. Aku sangat mengagumi ayahmu. Menurutku dia adalah pendekar yang hebat,” kata Ouwyang Kuan tulus.


Sen Khang tersenyum. “Terima kasih, Paman.”


Mereka duduk dan mulai bercakap-cakap ringan sementara Ouwyang Kuan mengutus salah satu dari Empat Tambur Perak melapor pada Tuan Ouwyang Cu.


Diam-diam Sen Khang merasa heran. Lembah Nada sungguh berbeda dari bayangannya. Selama ini ia mengira bahwa tempat yang sudah mencelakakan bibinya pastilah tempat yang suram dan tidak menyenangkan. Saat bertemu dengan Ouwyang Ping, anggapannya mulai berubah. Namun tak disangkanya bahwa ternyata Lembah Nada begini indah dan nyaman. Penghuninya pun ramah dan sangat beradab. Pantas saja Chien Wan begitu kerasan di sini!

__ADS_1


Tak lama kemudian, Chien Wan datang bersama Tuan Ouwyang Cu.


Sen Khang berdiri. “Chien Wan!” Ia baru akan menghampiri sahabatnya ketika melihat Tuan Ouwyang memandanginya dengan tatapan menusuk. Ia agak terkejut melihat Tuan Ouwyang. Ia menduga orang ini pastilah sesepuh Lembah Nada yang terkenal itu, Tuan Ouwyang Cu! Ia segera memberi hormat dengan mantap. “Salam, Tuan Ouwyang.”


Tuan Ouwyang Cu menatap Sen Khang dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Anak Luo Siu Man rupanya!” katanya tajam.


“Benar!” sahut Sen Khang tanpa gentar.


“Apa kau diutus ayahmu ke sini?” tanya Tuan Ouwyang tanpa tedeng aling-aling.


“Benar!”


“Untuk apa?”


“Untuk menyampaikan bahwa Paman Khung sakit.”


Chien Wan langsung terkejut. Dihampirinya Sen Khang dan dicekalnya lengan sahabatnya itu. “Benarkah?”


Sen Khang mengangguk. “Paman Khung sakit. Dia menolak didatangkan tabib, menolak minum obat apa pun juga, bahkan menolak jika aku atau Meng Huan hendak menjagainya di pondok.”


“Di pondok?”


“Iya,” tegas Sen Khang. “Dia juga menolak pindah ke rumah induk.”


Chien Wan menghela napas.


Ouwyang Ping menyela, “Sakit apa dia, Kakak Luo?”


“Entahlah. Dia menyelubungi dirinya dengan selimut tebal dan menggigil. Dia juga sering meracau dan memanggil-manggil nama Chien Wan. Kami menjadi tidak tega dan memutuskan untuk mengabarimu, Chien Wan.” Sen Khang menoleh ke arah Chien Wan yang sedang terpekur.


“Kalau begitu Kakak Wan harus segera ke sana!” kata Ouwyang Ping cemas.


“Tidak bisa!”


Bentakan Tuan Ouwyang Cu mengejutkan ketiga anak muda yang tengah berbicara itu.


“Kakek?”


“Pokoknya tidak bisa!” Tuan Ouwyang Cu mendelik.


Sen Khang yang belum tahu tabiat Tuan Ouwyang merasa agak kurang senang mendengarnya. Ia menatap pria tua itu dengan tegas. “Tuan Ouwyang, Paman Khung sudah seperti ayah Chien Wan sendiri. Tak ada yang lebih memperhatikan Paman Khung selain Chien Wan. Paman Khung pulalah yang memperkenalkan musik pada Chien Wan. Salahkah jika Chien Wan menemuinya saat ia sedang sakit dan melakukan kewajibannya sebagai anak?”


Tuan Ouwyang Cu memandang Sen Khang dengan tajam dan ketus. “Kau ini anak Luo Siu Man. Ayahmu saja menghormatiku. Mengapa kau kurang ajar padaku?” bentaknya dengan wajah merah padam.


“Maaf jika kesannya seperti itu.” Sen Khang memberi hormat. “Tetapi aku sebagai sahabat Chien Wan, juga saksi kasih sayang yang terjalin di antara mereka merasa berhak memberikan pendapat!”


“Lancang!” hardik Tuan Ouwyang murka. Ia melompat merambet kerah pakaian Sen Khang dan menyeretnya ke luar ruangan dengan gerakan yang sangat cepat dan tak terduga. Tenaganya begitu kuat untuk orang setua dia.


“Ayah!”


“Kakek!”

__ADS_1


Chien Wan bergegas menyusul keluar.


__ADS_2