
Kepergian A Ming memang tidak dicegah oleh siapa pun, namun Fei Yu mengejarnya diikuti Sen Khang dan Chien Wan.
“A Ming!”
A Ming menghentikan langkahnya.
Fei Yu memutari gadis itu untuk melihat wajahnya. “Kau mau ke mana? Kembali ke biara? Sudahlah! Kau tidak usah menjadi biksuni. Kalau kau masih marah pada ayahmu dan tidak mau tinggal dengannya, kau kan bisa tinggal di Bukit Merak!”
“Aku sudah memutuskan untuk hidup selibat,” kata A Ming datar.
“Apakah kau tidak mau memberikan kesempatan pada ayahmu, Nona?” tanya Sen Khang serius. “Ayahmu layak diberi kesempatan untuk membuktikan diri.”
“Aku sudah tidak memikirkan hal itu lagi. Kebencian sudah lenyap dari hatiku. Kini aku bisa menjadi biksuni dengan jiwa yang bersih.”
“Apa kau benar-benar mau jadi biksuni?”
Pertanyaan Sen Khang ini sungguh mengejutkan dan membuat A Ming tersentak. Ia menggenggam kebutannya erat-erat untuk menghentikan getaran tangannya. Keringat muncul di atas bibirnya.
“Aku tak mengerti apa maksudmu!”
“Selama ini kau tak pernah mengenal kehidupan lain selain di biara. Kau tidak pernah mempunyai pengalaman yang berharga dalam hidup ini. Yakinkah kau bahwa kau tidak akan menyesal suatu saat nanti? Hidup ini penuh liku-liku, namun juga indah.” Sen Khang tersenyum. “Kau tidak mau menikmatinya barang sejenak?”
A Ming membelalakkan mata dan berpandangan dengan pemuda tampan itu. Entah mengapa hatinya menjadi hangat. Kehangatan itu merambat sampai ke wajahnya, membuatnya memalingkan muka. “Aku... aku tidak punya niat untuk hidup di luar biara...!”
Tiba-tiba....
“Nona! Nona Siu Hung! Aduh, kau ini mau ke mana? Ayahmu menyuruhmu tetap di kamar!”
Bersamaan dengan teriakan memelas ini, sesosok tubuh mungil melesat ke arah keempat orang yang tengah berbincang-bincang itu. Sosok berbaju biru itu langsung menghampiri A Ming dan bersembunyi di belakang gadis itu, membuat gadis itu terkejut setengah mati.
“Kau?”
Siu Hung meleletkan lidahnya ke arah A Kuang—pengawal yang ditugasi menjaganya, dan berseru, “Aku mau bermain di luar! Sana laporkan pada ayahku kalau berani!”
Pengawal itu tersengal-sengal dan berhenti di hadapan A Ming, mati-matian berusaha menangkap Siu Hung. Namun Siu Hung selalu berhasil mengelak sehingga akhirnya mereka berkejaran mengelilingi A Ming yang kebingungan.
“Hei—“
Siu Hung tak mempedulikan kebingungan A Ming, terus saja menggunakan gadis itu sebagai tameng. Ia tertawa-tawa mengejek dan terus saja menggoda pengawalnya. Pengawal itu nyaris menangis saking kesalnya.
__ADS_1
“Ayo, tangkap aku kalau bisa! Dasar jelek!”
“Ya Tuhan, Nona!” keluh A Kuang tersiksa. Jelas saja ia tak bisa menangkap Siu Hung. Kepandaian kungfunya jelas bukan tandingan gadis bandel itu.
Sen Khang, Chien Wan, dan Fei Yu menyaksikannya dengan terheran-heran dan geli. Mereka juga iba melihat A Ming yang kewalahan karena tubuhnya dijadikan tameng dan diputar-putar seenaknya oleh Siu Hung.
Akhirnya Sen Khang tidak tega. Ia melompat dan menangkap Siu Hung.
“Anak bandel!” omel Sen Khang sambil menjewer telinga gadis itu. Wajahnya tampak galak, namun matanya berbinar jenaka.
Siu Hung kaget sekali. “Aduh! Aduh! Celaka! Kau ini siapa? Beraninya dengan anak kecil! Ayo hadapi ayahku kalau berani! Dasar orang besar tidak tahu aturan! Kau tidak tahu berhadapan dengan siapa! Aku ini ahli silat nomor satu di dunia! Jangan sembarangan padaku ya!” cerocosnya tak henti-henti.
Sen Khang melepaskan jewerannya. Ia berkacak pinggang. “Sudah cukup mengomelnya? Kau ini benar-benar keterlaluan! Jangan mempermainkan anak buah ayahmu seperti itu. Tega betul kau terhadap orang kecil!”
Siu Hung terbengong-bengong. “Aku tega, ya?” tanyanya dungu. Dan dengan sangat mengejutkan, ia menghampiri A Kuang yang terengah-engah kehabisan napas. Ia merangkapkan tangan dan menyoja. “Maaf, ya? Maafkan aku. Aku tidak tahu kau orang kecil. Aku pikir keluargamu makmur, habis kau gemuk sekali!”
A Kuang tidak tahu harus tertawa atau menangis. Ia takkan pernah terbiasa dengan sifat nonanya ini. Ia hanya meringis saja sambil garuk-garuk kepala.
Saat itu, Siu Hung sudah ceria lagi. Ia membalikkan tubuhnya dan meraih lengan A Ming erat-erat hingga gadis itu terkejut. “Kau sepupuku! Kau anak Paman Cen! Pasti kau mau tinggal dengan kami, kan? Bagus! Aku jadi punya teman bermain!” serunya penuh semangat. “Nanti aku akan membawamu jalan-jalan! Kita bisa melihat pengadilan, rumah judi, dan rumah bordil yang baru dibuka di ujung jalan itu! Aku jamin, kau pasti senang!”
“Rumah judi? Rumah bordil? Ya Tuhan!” A Kuang kembali memukul-mukul kepalanya sendiri.
A Ming merasa canggung dengan sambutan meriah sepupunya itu terhadapnya. Ia berusaha mengelak rangkulan Siu Hung, namun sia-sia saja.
“Ayo kita pulang! Lagi pula kau ini kenapa sih? Baru saja tiba sudah mau pergi lagi! Apa enaknya jadi biksuni? Makan selalu sayuran, ke mana-mana tidak bisa, terikat peraturan ini-peraturan itu! Lebih baik tinggal dengan kami! Atau bersama Paman Cen di Lembah Nada! Atau bersama Dewa Seribu Wajah di Bukit Merak! Mengapa kembali lagi ke biara?”
Tubuh A Ming menegang. “Mengapa kau bisa tahu semua ini? Kau ini sebenarnya siapa? Mengapa kaubilang aku sepupumu?”
“Namaku Sung Siu Hung. Aku anak Pendekar Sung. Dan mengenai mengapa aku tahu semua ini...,” Siu Hung mengedipkan mata dengan jenaka, “anggap saja aku ini hebat. Tahu segalanya!”
“Hebat apanya?” gerutu A Kuang. “Tadi kan Nona bukannya masuk kamar, malah menguping dari celah pintu!”
Tawa Sen Khang dan Fei Yu meledak bersamaan, sedang Chien Wan tersenyum kecil.
Siu Hung mengangkat dagunya dengan angkuh. “Sumber berita bisa dari mana saja! Siapa yang mau ketinggalan berita terbaru? Yang pasti bukan aku!”
A Ming melepaskan cekalan tangan Siu Hung. “Maafkan aku. Aku tidak bisa menerima tawaranmu. Aku ingin kembali ke biara. Di sanalah tempatku berada.”
Namun Siu Hung tidak menyerah. Dicekalnya kembali lengan A Ming yang satu lagi. “Ah, kau bohong!”
__ADS_1
A Ming tertegun, lalu berucap agak marah, “Biksuni tidak pernah berbohong. Harap Nona tidak menyinggung perasaanku.”
“Aku berkata sebenarnya. Hidup di biara berarti tidak lagi memikirkan urusan duniawi. Lantas, mengapa kau memakai tusuk rambut mutiara di balik topi biksunimu? Dan mengapa kau membeli sekotak bedak di pasar tadi?” Siu Hung berkata riang.
Wajah A Ming memucat. Dengan segera dirabanya kepalanya. Topinya memang menutupi seluruh rambutnya, namun bagian yang disanggul dan mengenakan tusuk rambut bisa dirasakan olehnya. Dan benar. Sebelum tiba di kediaman Pendekar Sung, Tuan Chang mengajak mereka mampir ke rumah makan dan berjalan-jalan sebentar. Saat itu ia membeli sekotak bedak untuk wajahnya.
Diam-diam, Chien Wan terkejut sekali. Ternyata gadis nakal ini memiliki kejelian dan ingatan yang tajam sekali. Ia dan yang lainnya sama sekali tidak memperhatikan bagian yang menonjol pada topi kain A Ming. Ia baru melihatnya setelah Siu Hung mengatakannya.
Siu Hung tertawa-tawa ceria. Pandangan matanya bertemu dengan mata Chien Wan. Dengan nakal ia mengedipkan matanya. “Kakak sependapat denganku, kan?” tanyanya riang. “Kakak juga melihat apa yang aku lihat kan?” Ia menghampiri Chien Wan dan memegang lengannya dengan kedua tangan serta mengguncang-guncangnya. Sikapnya begitu akrab dan tanpa sedikit pun rasa canggung. Chien Wan tersenyum menatapnya. Gadis mungil ini membuatnya merasa nyaman sehingga menggerakkan bibirnya untuk tersenyum lagi.
“Dia benar, A Ming.” Fei Yu menyela dan mendekat. “Jangan sia-siakan masa mudamu di biara kecuali kalau kau memang benar-benar berniat untuk berselibat selamanya. Kau punya tempat untuk pulang selain di biara. Kau punya Bukit Merak, Lembah Nada, dan juga Kota Lok Yang. Terserah kau mau tinggal di mana.”
“Benar! Benar sekali!”
Entah bagaimana Tuan Chang, Sung Cen, dan Pendekar Sung sudah ada di sana. Mereka mendengarkan percakapan anak-anak muda itu dan setuju sepenuhnya dengan Fei Yu dan Siu Hung. Pendekar Sung bahkan melupakan niat semula untuk memarahi putrinya.
Mereka semua menoleh.
Pandangan A Ming bertemu dengan Sung Cen yang tampak pucat dan sedih. Tampak ada banyak sekali yang ingin dikatakan oleh Sung Cen, namun tidak diucapkannya. Pria itu merasa ia tidak berhak mengatakan apa-apa karena ia telah menyia-nyiakan putrinya selama bertahun-tahun. Sekarang semuanya terserah A Ming.
“A Ming, jangan kembali ke biara. Kau tidak perlu kembali ke sana kalau tidak mau. Kau masih punya keluarga yang peduli padamu.” Tuan Chang menghampiri keponakannya dan memegang bahunya yang ringkih.
“Paman Te, aku....”
“Sesungguhnya aku tidak rela kau menjadi biksuni. Aku sudah kehilangan adikku, masa sekarang aku harus kehilangan putrinya juga?” Tuan Chang menarik napas. “Semestinya aku tidak pernah mengirimmu ke biara. Itu kesalahanku. Hanya saja ketika itu aku tak punya pilihan lain selain melaksanakan permintaan terakhir ibumu.”
A Ming menunduk. Perasaannya kacau. Ia dibesarkan sebagai calon biksuni, namun banyak hal yang ingin diraihnya. Siu Hung benar. Jika ia masih menginginkan hal duniawi, tidak mungkin ia bisa menjadi biksuni. Ia mengangkat wajahnya dan kembali melihat ayahnya.
Akhirnya ia mengangguk. “Baiklah. Aku akan tinggal di Bukit Merak.”
Keputusan ini menggembirakan semua orang. Bahkan Sung Cen pun kini tampak tenang. Jika putrinya memutuskan demikian, berarti ia masih punya kesempatan untuk mendekati putrinya itu. Dan mungkin suatu saat nanti, A Ming akan dapat memaafkannya.
“Kalau begitu, ayo kita kembali ke rumah. Aku akan menjamu kalian semua dengan hidangan yang lezat!” kata Pendekar Sung bersemangat.
“Hore!!!” sorak Siu Hung. “Aku mau minum arak banyak-banyak!”
Pendekar Sung mengernyitkan alis. “Apa yang kaulakukan di sini? Bukankah kau sedang dihukum?” hardiknya.
“Waduh, gawat...!” Siu Hung membelalakkan mata, dan mundur-mundur. “Kabuuuurrrr!!!!” serunya sambil berlari secepat kilat.
__ADS_1
“Siu Hung!”