Suling Maut

Suling Maut
Kedatangan Chien Wan


__ADS_3

Keesokkan harinya semua orang tengah melakukan aktifitasnya masing-masing. Sen Khang tengah berada di perpustakaan, menyusun anggaran rumah tangga. Ia tidak tahu bahwa urusan rumah tangga Wisma Bambu bisa demikian membingungkan. Selama ini ia tidak pernah ambil pusing dengan urusan rumah tangga.


Keluarga Luo adalah keluarga kaya dengan harta yang diwariskan secara turun-temurun. Semua harta itu disimpan di dalam ruang bawah tanah di perpustakaan. Namun semasa hidupnya Tuan Luo telah memikirkan jauh ke depan. Ia tahu bahwa semua harta itu akan habis juga pada saatnya kelak bila ia hanya memakainya saja tanpa pernah berpikir akan menambahinya. Maka ia membuka lahan perkebunan di sebagian tanah miliknya. Ia telah mempekerjakan beberapa orang. Dengan demikian, hasilnya akan bisa dipakai untuk membiayai kehidupan mereka beserta orang-orangnya.


Sen Khang bermaksud melanjutkan apa yang sudah dirintis oleh ayahnya. Ia melihat daftar pemasukan dari hasil perkebunannya dan tersenyum. Ternyata cukup banyak.


Pekerjaannya diusik oleh laporan pelayannya yang mengatakan bahwa di depan ada dua orang yang hendak bertemu. Ia agak kesal karena pekerjaannya masih sangat banyak. Namun sebagai tuan rumah yang tahu kesopanan, ia meninggalkan pekerjaannya untuk menyambut tamunya.


Ia pergi ke ruang depan dan dikejutkan oleh kehadiran orang yang selalu dipikirkannya selama ini dengan perasaan kacau. Ia tertegun, berusaha menelan ludahnya yang terasa pekat.


“Chien Wan...?”


Chien Wan menatapnya dengan pandangan muram. Ia masih belum dapat memastikan bagaimana pandangan Sen Khang terhadap dirinya sekarang ini. Namun ia memusatkan pandangannya pada sahabatnya itu. Wajahnya muram dan kalut.


Sesaat lamanya Sen Khang hanya berdiam diri. Berbagai perasaan melintas di wajahnya. Ia menyesali kegegabahannya di masa lalu. Gara-gara dirinya Chien Wan tertimpa bayak musibah. Gara-gara dia tidak mau berpikir jernih, segalanya menjadi kacau. Bila saja dia mau membuka hati dan pikirannya pada waktu itu, tentu sekarang ini mereka tengah bahu membahu mencari siapa pelaku sebenarnya. Mereka sibuk menghabiskan waktu mempersalahkan Chien Wan, yang sebenarnya hanya menjadi korban fitnah.


“Sen Khang.” Chien Wan ragu-ragu. Benarkan perkataan Kui Fang? Benarkah Sen Khang sudah tidak membencinya lagi? Bagaimana kalau...?


“Chien Wan!” Sen Khang bergegas menghampiri dan merangkul sahabatnya itu. “Maafkan aku, Chien Wan! Maafkan aku atas kecurigaanku... aku....”


Chien Wan membalas rangkulan itu dengan sepenuh hati. Ia merasa amat lega dan bersyukur. “Sudahlah. Aku mengerti. Aku tak menyalahkanmu.”


“Aku ingin sekali berlutut di kakimu dan memohon maaf atas segala tuduhanku yang tidak adil. Aku membuatmu susah. Semua orang menuntut pertanggungjawaban atas apa yang tidak kaulakukan,” ujar Sen Khang dengan suara bergetar.


“Aku juga ingin meminta maaf atas segalanya. Kalau saja waktu itu aku lebih cepat tiba, tentu aku akan bisa mencegahnya....”


“Tidak, tidak!” geleng Sen Khang kuat-kuat. “Kau sama sekali tidak bersalah. Aku sangat senang karena kau akhirnya mau datang ke sini, jadi aku bisa bertemu denganmu dan mengatakan betapa menyesalnya aku...!”


Chien Wan memejamkan mata dan menepuk-nepuk bahu sahabatnya. Ia tidak bisa bicara lagi. Rasa haru bercampur sedih menyesakkan dadanya.


Kui Fang tidak mengatakan apa-apa. Matanya berkaca-kaca menyaksikan pertemuan kembali dua sahabat itu. Hatinya sangat bahagia. Akhirnya semua rintangan dapat dilalui dan persahabatan mereka bersatu lagi. Dan ia yakin, persahabatan itu malah lebih erat dari sebelumnya setelah melewati serangkaian cobaan.


Sen Khang melepaskan rangkulannya. Ia tersenyum walau sepasang matanya berkabut, penuh sesal dan juga bahagia. “Terima kasih, Chien Wan. Terima kasih karena tidak membenciku seperti aku pernah membencimu.”


Chien Wan tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya dapat menatap Sen Khang dengan haru.


Sen Khang mengusap matanya.


“Aku harus memberitahu orangtuamu, Chien Wan!”


Chien Wan tersenyum kecil. “Mereka ada di sini?”

__ADS_1


“Ya. Ping-er juga!” Sen Khang tersenyum sambil berlari masuk.


Chien Wan terpana. Ping-er juga?


***


Ouwyang Kuan dan Sui She tengah berada di ruang dalam bersama Ouwyang Ping dan Meng Huan. Mereka tengah membicarakan Ting Ting, melanjutkan pembicaraan semalam yang terpaksa dihentikan karena hari telah larut.


Sen Khang datang dengan wajah berseri.


“Paman, Bibi! Chien Wan sudah datang!”


Ouwyang Kuan dan Sui She berdiri dengan tergesa dan bergegas ke luar. Meng Huan mengikuti mereka. Namun Ouwyang Ping terpaku di tempat. Sudah dua tahun lebih ia tidak berjumpa Chien Wan. Bagaimana ia harus bersikap?


Gadis itu merasakan sentuhan lembut di bahunya. Ia menoleh dan mendapati Sen Khang tengah memandanginya dengan penuh arti. Entah mengapa pandangan itu memukaunya, menghunjam hatinya. Membuatnya bergetar.


“Ping-er, ayo kita ke luar.”


Ouwyang Ping tak punya pilihan. Ia mengangguk dan mengikuti Sen Khang ke ruang depan.


Sui She menyerbu ke ruang depan dan melihat Chien Wan tengah duduk bersisian dengan Kui Fang.


“Chien Wan!” seru Sui She gembira. Air matanya berlinang.


“Ibu.”


Sui She memeluk Chien Wan erat-erat.


Ouwyang Kuan menghampiri mereka dan menepuk bahu putranya dengan sayang.


Chien Wan tersenyum pada ayahnya.


Setelah keharuan ibunya reda, Chien Wan melepaskan diri dari pelukan. Ia melihat Meng Huan berdiri tak jauh dari mereka dengan raut wajah tak terbaca. Chien Wan agak ragu-ragu menyapanya. Ia tidak bisa memperkirakan bagaimana sikap Meng Huan kepadanya. Bagaimana pun, pemuda itulah orang yang paling terpukul dengan kejadian yang menimpa Ting Ting. Mungkin saja Meng Huan masih membencinya.


Namun dugaan Chien Wan keliru. Meng Huan mendekat dan tersenyum.


“Chien Wan, apa kabar?” sapa Meng Huan ramah, seolah-olah di antara mereka tidak pernah ada masalah apa pun.


“Meng Huan....”


“Aku minta maaf atas kekeliruanku waktu itu. Aku benar-benar marah sehingga bersikap tidak adil padamu,” sela Meng Huan. Senyumnya berubah sedih.

__ADS_1


Chien Wan merasa lega. Ia pun tersenyum kecil. “Tidak apa.”


“Chien Wan.”


Chien Wan menoleh dan tertegun menatap Sen Khang yang berjalan bersisian dengan Ouwyang Ping. Pandangan matanya terpaku pada gadis itu. Sudah lebih dari dua tahun ia tidak melihat gadis itu. Ternyata tidak ada perubahan berarti pada diri Ouwyang Ping. Ia masih seanggun dan semenawan dulu. Sekarang gadis itu bertambah dewasa sehingga keanggunannya bertambah nyata. Gerakannya jauh lebih gemulai dari pada dulu.


Ouwyang Ping menelan ludah. Ia telah menetapkan hatinya.


“Kakak,” sapa Ouwyang Ping pelan.


Tenggorokan Chien Wan tercekat. Gadis itu pernah sangat dicintainya dan diharapkannya untuk mendampingi kehidupannya di masa depan suatu saat nanti. Gadis yang sangat berarti baginya, yang kini adalah adiknya.


“Kakak,” sapa Ouwyang Ping lagi.


Chien Wan segera sadar dari keterpanaannya. “Ping-er,” sambutnya.


“Apa kabar, Kak?”


“Aku baik-baik saja. Kau sendiri bagaimana, Ping-er?”


Ouwyang Ping tersenyum. “Aku juga baik-baik saja.”


Semua orang memperhatikan mereka. Semuanya, kecuali Kui Fang, tahu apa yang pernah ada di antara Chien Wan dan Ouwyang Ping. Rupanya sudah tidak apa-apa, pikir mereka lega.


Chien Wan menoleh dan menatap Sen Khang. “Aku ingin menyembahyangi Paman dan Bibi Luo,” pintanya.


Sen Khang mengangguk. Saat itu dia baru menyadari kehadiran Kui Fang.


“Kui Fang?”


Kui Fang berdiri dan menghampiri mereka semua. Ia memberi hormat dan menyapa mereka semua. “Apa kabar, Semuanya?”


Semua membalas salam gadis itu.


Khusus Ouwyang Kuan dan Sui She, mereka menatap gadis itu dengan penuh perhatian. Mereka melihat gadis itu pertama kali saat peringatan 40 hari Tuan dan Nyonya Luo. Saat itu mereka tidak terlalu menaruh perhatian pada Kui Fang. Mereka memang mendengar pembelaan gadis itu pada Chien Wan, namun karena kesedihan melanda hati mereka, mereka tidak sempat memperhatikannya.


Ternyata gadis itu hadir kembali dan bersama Chien Wan!


Ouwyang Kuan dan Sui She berpandangan. Mungkinkah ada hubungan istimewa di antara mereka berdua?


“Ayo kita ke ruang altar,” ajak Sen Khang.

__ADS_1


Mereka semua melangkah menuju ruang altar.


***


__ADS_2