Suling Maut

Suling Maut
Kelahiran Anak Ting Ting


__ADS_3

“FEI YU!!”


Jeritan Ting Ting menggugah Fei Yu yang masih berada di dalam perpustakaan. Ia berdiri dan langsung berlari keluar diikuti oleh yang lainnya, yang juga mendengar jeritan itu.


Mereka melihat Ting Ting berdiri terpaku sambil memegangi perutnya. Ting Ting menoleh dan pandangan matanya begitu memelas, campuran antara kesakitan dan ketakutan.


“Ting Ting!” Fei Yu menghambur dan merangkulnya.


“Fei Yu, ketubanku pecah! Perutku sakit!” tangis Ting Ting.


Fei Yu segera membopong tubuh istrinya. Dengan susah payah ia berjalan menuju kamar tidur mereka. Ia menoleh dan berseru pada Sen Khang. “Tolong panggilkan bidan. Ting Ting mau melahirkan!”


Semua yang berada di dalam ruangan bergegas ke luar. Mereka berhamburan menuju Fei Yu yang tengah membopong Ting Ting.


Sen Khang menjemput bidan dari pondoknya. Ia meminta bidan untuk menginap di Wisma Bambu sejak dua hari yang lalu atas permintaan Fei Yu. Kandungan Ting Ting sudah menua, sudah hampir waktunya melahirkan. Daripada di kemudian hari harus menjemput bidan dari desa dan memakan waktu lama, lebih baik bidan itu tinggal di Wisma Bambu untuk sementara. Ia ditempatkan di sebuah pondok di belakang Wisma Bambu, sehingga ia bisa bebas bergerak dan tidak terkekang oleh aturan di Wisma Bambu.


Setelah bidan datang, semua orang disuruh meninggalkan kamar kecuali A Nan dan Ouwyang Ping. Ouwyang Ping agak ngeri karena ia belum pernah melihat orang melahirkan, namun ia menabahkan hati. Ini demi Ting Ting, pikirnya.


Fei Yu mondar-mandir di depan pintu kamar Ting Ting. Tingkahnya benar-benar mencerminkan seolah dialah ayah kandung bayi itu. Ia sangat cemas dan takut. Keringat dingin mengalir di kuduknya. Tangannya dingin dan terkepal erat.


“Aaaa!” Terdengar jeritan Ting Ting disusul bunyi mengejan keras.


“Ya! Ya! Terus!” Bidan memberi semangat. “Hampir, Nyonya! Hampir keluar!”


Ting Ting mengejan lagi.


Fei Yu makin ketat mengepalkan tinjunya. Setiap kali mendengar jeritan Ting Ting, ia merasakan sakit yang tak terkira di hatinya. Jika ia mendengar Ting Ting mengejan, ia merasa sangat ngilu. Mau rasanya ia masuk ke dalam. Bahkan jika bisa, ia ingin menggantikan Ting Ting. Biarlah dirinya yang kesakitan asal Ting Ting tidak!


Sen Khang juga merasakan kecemasan yang sama. Hanya saja ia lebih tenang karena ia tahu adiknya tidak akan kenapa-kenapa. Ia percaya adiknya akan baik-baik saja. Karena itulah ia lebih tenang dibanding Fei Yu. Bahkan ia sempat menghibur Fei Yu dan menenangkan calon ayah yang senewen itu.


Tiba-tiba....


“Oaaa! Oaaa! Oaaa!”


Tubuh Fei Yu melorot lemas ke lantai. Ketegangannya hampir lenyap seluruhnya sehingga tubuhnya tak kuasa menahan perasaan lemas yang tiba-tiba menderanya. Namun ia berdiri lagi dan berusaha menguasai diri. Bagaimana pun Ting Ting belum dilihatnya. Ia harus memastikan istrinya baik-baik saja.


Pintu kamar terbuka dan keluarlah bidan sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


“Tuan Chang, silakan masuk. Istri Anda melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan sekali!” kata bidan riang.


Fei Yu menyerbu masuk.


Di dalam, ia melihat Ting Ting berbaring di tempat tidur. Wajah perempuan itu sembap dan letih. Namun bagi Fei Yu, kecantikannya semakin memancar dalam kondisi seperti ini. Ting Ting memeluk sebuah buntalan berwarna biru di tangannya. Senyum menyinari wajahnya.


Fei Yu menghampiri dan duduk di sisi Ting Ting. Ia tidak mengatakan apa-apa. Hanya senyumnya dan matanya yang berkaca-kaca yang mengungkapkan segalanya. Perasaan lega, haru, bahagia, sedih, dan juga bangga berbaur menjadi satu di hatinya. Tangannya terulur untuk menyentuh pipi bayi mereka.


“Fei Yu...,” bisik Ting Ting, terpukau melihat ekspresi suaminya tatkala memandangi bayi mereka.


“Anakku....” Fei Yu tersenyum haru. Lalu ia menatap istrinya. Ia menunduk dan menyentuhkan bibirnya di kening istrinya.


Dan pintu kamar menutup.


Ouwyang Ping dan A Nan sengaja keluar dan menutup pintu kamar. Mereka sadar bahwa saat ini, keluarga kecil itu belum ingin berbagi kebahagiaan dengan siapa pun juga. Maka lebih baik mereka dibiarkan berdua untuk sementara waktu.


Sen Khang yang baru saja kembali dari mengantar bidan segera menghampiri Ouwyang Ping. Matanya menyorotkan pertanyaan.


“Mereka baik-baik saja. Biarkan mereka sekeluarga bersama-sama,” kata Ouwyang Ping pelan.


Sesaat kemudian, Kelelawar Hitam berpamitan pada mereka. Ia mengatakan bahwa ia ingin kembali mencari informasi mengenai Cheng Sam dan Chi Meng Huan. Agaknya kegiatan itu membuatnya bersemangat dan gembira.


Sen Khang dan Ouwyang Ping tidak menghalanginya.


***


Kelahiran bayi lelaki yang diberinama Chang Yi Hang oleh ayahnya itu sanggup mengusir ketidakbahagiaan yang sekian lama menyelimuti Wisma Bambu. Seakan sudah disepakati walau tanpa pembicaraan sebelumnya, bahwa bayi itu adalah anak Ting Ting dan Fei Yu. Tak ada seorang pun yang ingin mengingat bahwa bayi itu darah daging Chi Meng Huan.


Semua orang merasa lega karena bayi itu berwajah sangat mirip dengan Ting Ting. Tak ada sedikit pun raut wajah Chi Meng Huan pada bayi itu. Hal ini tentu saja melegakan semua orang di sana.


Terutama Ting Ting.


Sesungguhnya, semakin mendekati masa persalinan, Ting Ting semakin merasa cemas berkepanjangan. Ia khawatir bila bayinya akan mengingatkannya pada kemalangannya di masa lalu. Ia takut tidak bisa mencintai anaknya sendiri. Ia juga takut Fei Yu akan menolak kehadiran anaknya. Ia semakin takut bila membayangkan reaksi kakaknya terhadap anak ini.


Syukurlah ketakutannya tidak menjadi kenyataan. Semua orang menyayangi bayinya dan tidak mengungkit-ungkit asal-usul bayi itu lagi. Dan Fei Yu membuatnya bahagia dengan bersikap seolah dirinyalah ayah kandung bayi itu.


Fei Yu sangat memanjakan dia dan bayinya. Setiap hari, ada saja yang dibawa Fei Yu untuk dihadiahkan pada mereka berdua. Bagi Fei Yu, mereka berdua adalah hartanya yang paling berharga.

__ADS_1


Sikap Fei Yu yang begitu mengharukan itu sangat menyentuh hati Ting Ting. Ia semakin mengagumi suaminya dan semakin merasa jatuh cinta kepadanya.


“Yi Hang semakin mirip kau,” puji Fei Yu kagum. Putranya sudah berusia seminggu dan tampak semakin montok dan tampan. Saat itu mereka bertiga sedang berada di kamar, berbincang-bincang dengan intim.


“Seandainya saja.... “ Ting Ting menggigit bibirnya. Ia menunduk dan menatap bayi dalam buaiannya.


“Hei,” tegur Fei Yu lembut. “Ada apa?”


Ting Ting mengangkat muka dan menatap suaminya. “Aku hanya berangan-angan Yi Hang betul-betul anakmu....”


“Dia memang anakku!” potong Fei Yu tegas. Ditatapnya istrinya lekat-lekat. “Jangan sekali-kali kau mengatakan itu lagi, Ting Ting. Aku dan Yi Hang adalah ayah dan anak yang dipersatukan oleh nasib. Sedangkan kita adalah sepasang suami-istri yang dipersatukan oleh cinta. Maka jangan pernah mengatakan seandainya begini, seandainya begitu. Aku tidak suka mendengarnya!”


Ting Ting menunduk lagi. “Maafkan aku....”


Fei Yu menghela napas. Dibelai lengan istrinya dengan lembut.


Ting Ting membiarkan tangan Fei Yu membelai lengannya, kemudian terjulur ke pipinya. Terasa olehnya kehangatan sentuhan laki-laki itu. Kehangatan dan kelembutan sikap Fei Yu kepadanya terasa sampai hati. Ia menyesal, mengapa tidak sejak dulu ia menyadari ketulusan Fei Yu padanya?


Kalau saja dahulu ia mau membuka hatinya untuk Fei Yu dan tidak melulu terpaku pada Chien Wan, tentu mereka sudah bersatu sejak dulu. Dan mungkin tak ada lagi kesempatan bagi Meng Huan untuk melakukan perbuatan terkutuk itu padanya, sebab Fei Yu akan melindunginya sekuat tenaga dan tak akan pernah membiarkan dirinya sendirian.


Ketulusan Fei Yu datang dari hati, berbeda dengan Meng Huan. Ting Ting mendesah. Dahulu ia merasa terharu dan berterima kasih atas perhatian Meng Huan padanya. Kini setelah kebenaran terungkap, Ting Ting baru menyadari bahwa sikap Meng Huan itu penuh kepalsuan. Kebaikan-kebaikannya menuntut pamrih.


Alangkah berbedanya dengan Fei Yu!


Ting Ting tersenyum. Demi Fei Yu, ia harus bisa melupakan masa lalunya. Sekarang ia aman bersama Fei Yu. Tak ada lagi orang yang akan menyakitinya!


Fei Yu membungkuk hendak mengecup istrinya, namun bayi mereka menangis keras-keras membuat gerakannya terhenti. Ia mendengus tertawa.


“Susah sekali ingin bersikap mesra pada istri sendiri!” gerutunya tak bersungguh-sungguh.


Ting Ting tertawa dan mulai menyusui bayi mereka.


Fei Yu memandang lembut. “Kalian adalah hartaku yang paling berharga.”


Ting Ting menatap suaminya dengan mata bercahaya.


***

__ADS_1


__ADS_2