Suling Maut

Suling Maut
Kelelawar Hitam Membawa Berita


__ADS_3

Urusan di Partai Kupu-Kupu telah berhasil dibereskan. Mereka telah menghancurkan pondok tempat persembunyian Chi Meng Huan dan rombongannya di Hutan Bunga. Sekarang tempat itu sudah hancur dan tak mungkin lagi dijadikan tempat persembunyian oleh siapa pun.


Beberapa hari kemudian, para pendekar berpamitan untuk kembali ke tempat mereka masing-masing. Pendekar Sung pergi ke Kota Lok Yang bersama rekan-rekannya. Mereka mempunyai banyak urusan yang harus dilakukan berkenaan dengan rencana pergantian jabatan Ketua Persilatan.


Tuan Ouwyang pulang ke Lembah Nada bersama Siu Hung. Mereka diiringi oleh sebuah kereta kuda yang memuat beberapa guci sari madu Kupu-kupu Perak yang diminta Tuan Ouwyang dari Ketua Wu.


Selang sehari kemudian, Sen Khang dan Ouwyang Ping berpamitan. Mereka ingin kembali ke Wisma Bambu. Bagaimana pun keadaan di sana belum sepenuhnya aman, terutama bagi Ting Ting. Kedatangan mereka ke Partai Kupu-Kupu lebih karena firasat mendadak yang dirasakan Ouwyang Ping semata. Gadis itu mempunyai firasat yang kuat bila menyangkut masalah kakaknya.


Untuk sementara waktu, Chien Wan memutuskan tinggal di Partai Kupu-Kupu. Ia khawatir bila sewaktu-waktu Chi Meng Huan dan rombongannya kembali lagi ke sana. Untuk sementara ini, kemungkinan Chi Meng Huan bergerak memang tipis karena ia menderita luka yang tidak ringan.


Di samping itu, tinggalnya Chien Wan di sana juga atas permintaan Ketua Wu sendiri. Kondisi Ketua Wu belum pulih sepenuhnya akibat serangan Wie Yun Cun. Sam Hui juga masih lemah karena serangan Chi Meng Huan. Praktis tetua yang tertinggal hanya Lo Koai. Dan ia tidak cukup mampu untuk mengatasi semua persoalan partai seorang diri. Maka bantuan Chien Wan dalam hal ini jelas sangat berguna.


Chien Wan tak berkeberatan dengan permintaan itu. Ia senang bisa melakukan sesuatu untuk partai ini. Terutama karena dengan begini ia bisa berdekatan dengan Kui Fang.


Pada waktu luangnya, Chien Wan melatih ilmunya bersama Kui Fang. Setiap petang mereka selalu bersama-sama. Hubungan mereka semakin akrab dan erat. Mereka tak terpisahkan lagi. Dan kenyataan ini pun disadari oleh orangtua Kui Fang.


Pada beberapa latihan bersama, Chien Wan menyadari bakat yang dimiliki Kui Fang. Gadis itu ternyata bisa melakukan semua gerakan silat yang diajarkan Chien Wan dengan baik. Ia selalu mendengarkan kata-kata Chien Wan. Ia juga selalu memperhatikan Chien Wan.


Chien Wan mensyukuri kehadiran gadis itu dalam hidupnya. Kui Fang telah membuat hidupnya marak oleh cahaya kebahagiaan. Kepolosan dan kehangatannya merengkuh hati Chien Wan yang selama ini tak tersentuh.


Dan akhirnya, lenyaplah segenap kenangan masa lalu yang sebagian masih menghantui benak Chien Wan kala ia sendirian. Kui Fang ada di sisinya sekarang. Dan untuk itu, ia sangat bahagia.


***


Tiga bulan telah berlalu sejak kejadian di Partai Kupu-Kupu. Sen Khang telah kembali ke Wisma Bambu dan memulai aktivitasnya seperti biasa. Ouwyang Kuan dan istrinya serta A Lee sudah kembali ke Lembah Nada. Ouwyang Ping tetap tinggal di sana untuk menemani Ting Ting.


Sebenarnya Tuan Chang ingin segera mengajak putra dan menantunya kembali ke Bukit Merak. Namun ketika usia kandungan Ting Ting sudah hampir enam bulan, ia mengalami pendarahan yang membuat khawatir kakak dan suaminya. Terpaksalah ia tetap tinggal di Wisma Bambu. Fei Yu tak mau meninggalkannya sekejap pun. Dan Tuan Chang kembali seorang diri ke Bukit Merak.


Sekarang Ting Ting sudah mengandung hampir sembilan bulan. Perutnya besar sekali sehingga gerakannya sangat lamban. Ia berusaha supaya bisa bergerak lebih sering karena dengan begitu proses melahirkannya kelak akan lebih mudah. Namun karena perutnya yang besar, gerakannya menjadi sangat lamban.

__ADS_1


Setiap senja Fei Yu menemaninya berjalan-jalan di taman. Pria itu sangat sabar bila sudah menyangkut istrinya. Siapa yang menyangka bahwa dia pernah menjadi seorang pemuda yang angkuh dan tidak peduli pada orang lain? Melihat perhatian yang diberikannya pada istrinya, siapa pun akan mengira dirinya adalah laki-laki yang luar biasa sabar.


Fei Yu membimbing Ting Ting duduk di kursi taman sesaat setelah mereka berjalan-jalan.


“Capek?” tanya Fei Yu lembut.


Ting Ting tersenyum. “Sedikit.”


Fei Yu berlutut di hadapan Ting Ting dan mengelus perut yang membesar itu dengan lembut. “Tidak lama lagi, ya?” gumamnya. “Kira-kira anak laki-laki atau perempuan?”


“Kau maunya apa?” Ting Ting balik bertanya.


“Mm....” Fei Yu merenung sambil terus mengelus-elus perut istrinya. “Aku ingin punya anak perempuan yang cantik seperti ibunya,” katanya. Ia menatap wajah Ting Ting yang cantik. Baginya, kehamilan sama sekali tidak merusak kecantikan alami perempuan itu. Sebaliknya, Ting Ting jadi kelihatan anggun.


Wajah Ting Ting merona. “Memang menurutmu aku masih cantik?”


Ting Ting tersenyum sipu.


A Nan berjalan ke dekat mereka dengan wajah berseri. “Tuan Muda, Tuan Luo mencarimu. Katanya ada yang harus dibicarakannya denganmu.”


Fei Yu berdiri. Raut wajahnya tampak menyesal. Ditatapnya istrinya. “Ting Ting, aku pergi dulu, ya?” pamitnya. Ia menoleh pada A Nan. “Kau temani Ting Ting di sini.”


“Ya, Tuan Muda.”


“Pergilah,” senyum Ting Ting.


“Aku segera kembali.” Fei Yu mengelus rambut istrinya sekilas sebelum pergi meninggalkan mereka.


Ting Ting tersenyum memandangi kepergiannya.

__ADS_1


A Nan merasa lega melihat kebahagiaan mereka. Dialah orang yang paling memahami perasaan tuan mudanya. Ia orang pertama yang mengetahui cinta tuan mudanya pada Ting Ting tiga tahun lalu. Sejak saat itu Fei Yu berubah drastis dari seorang anak manja menjadi pemuda yang dewasa berkat cintanya.


“Cinta Tuan Muda pada Nyonya sangat dalam,” komentar A Nan penuh haru. “Ia sudah mencintai Nyonya sejak lama sekali. Padahal waktu itu Nyonya tidak mempedulikannya, namun ia tidak menyerah. Syukurlah akhirnya kalian menikah juga.”


Ting Ting menghela napas. “Kalau kuingat dulu aku selalu saja menyusahkan Fei Yu....”


“Yang penting kalian berbahagia sekarang.” A Nan kembali tersenyum.


Sementara Fei Yu pergi ke perpustakaan dengan langkah lebar. Ia ingin tahu untuk apa Sen Khang memanggilnya. Pasti ini pembicaraan yang tak boleh didengar Ting Ting. Sebab kalau tidak, pasti Sen Khang akan datang sendiri ke taman dan mengatakannya langsung.


Fei Yu yakin ini ada kaitannya dengan Chi Meng Huan.


“Ada apa, Sen Khang?” tanya Fei Yu begitu tiba di sana. Ia seketika menyadari kehadiran seseorang di sana selain Sen Khang dan Ouwyang Ping. Orang yang sudah dikenalnya dengan baik. Ia terbelalak. “Paman Kelelawar Hitam?”


Kelelawar Hitam menyeringai.


“Fei Yu, masuklah dan tutup pintunya. Ting Ting tidak ikut bersamamu, kan?” tanya Sen Khang.


Fei Yu menggeleng. Ia langsung waspada.


Mereka berempat duduk mengelilingi meja persegi.


“Kelelawar Hitam membawa kabar yang penting. Ini tentang Chi Meng Huan,” kata Sen Khang.


Fei Yu langsung bergairah. “Di mana bajingan itu?” tanyanya penasaran.


“Aku melihat rombongan mereka di suatu perkampungan di dekat perbatasan. Mereka tampak gelisah dan tergesa-gesa....”


***

__ADS_1


__ADS_2