Suling Maut

Suling Maut
Menuju Wisma Bambu


__ADS_3

Chien Wan dan teman-temannya tidak mengejar.


“Ting Ting, kau baik-baik saja?” tanya Sen Khang cemas pada adiknya, lalu tanpa menunggu jawaban ia berpaling melihat Meng Huan. “Bagaimana denganmu?”


“Aku tak apa-apa, Kak.” Ting Ting tersenyum menenangkan.


“Aku juga. Untunglah kedua pendekar ini membantu kami. Kalau tidak kami sudah celaka sebelum kalian datang,” kata Meng Huan sambil menunjuk kedua anggota Lembah Nada.


Ouwyang Ping berseru gembira, “Paman Kam Sien! Paman Hauw Lam!”


Kam Sien dan Hauw Lam memberi hormat pada Ouwyang Ping. “Nona Ping-er,” sapa mereka. “Chien Wan.”


Chien Wan mengangguk sopan sambil menyunggingkan senyum kecil.


“Bagaimana Paman berdua bisa ada di sini?” tanya Ouwyang Ping heran. “Apakah Kakek atau Ayah yang menyuruh?”


“Memang benar,” jawab Kam Sien. “Tuan Besar menyuruh kami memberitahu kalian bahwa kalian tidak harus langsung pulang setelah pertemuan itu. Kalian diberi izin untuk pergi ke mana pun selama tiga bulan.”


Wajah Ouwyang Ping berseri-seri. “Sungguh?”


Sen Khang, Ting Ting, dan Meng Huan senang sekali. Mereka segera menghampiri Chien Wan.


“Kalau begitu kau bisa datang ke Wisma Bambu, Chien Wan!” kata Meng Huan bersemangat. “Guru dan Bibi pasti senang melihatmu.”


“Tentu saja dia akan kembali ke Wisma Bambu!” Sen Khang meninju pelan bahu sahabatnya. “Dia kan harus memperkenalkan Nona Ouwyang pada semua orang di sana. Terutama pada Paman Khung.”


Ting Ting menunduk mendengar kata-kata kakaknya.


Kam Sien dan Hauw Lam memandang ketiga anak muda itu dengan penuh minat. Mereka telah mendengar bahwa gadis cantik itu adalah putri Tuan Luo. Tentu saja mereka bersahabat akrab dengan Chien Wan karena Chien Wan dulu tinggal di Wisma Bambu.


“O ya, Paman berdua. Mereka datang dari Wisma Bambu. Luo Sen Khang dan Ting Ting adalah anak Tuan Luo, sedangkan Chi Meng Huan adalah murid Tuan Luo.” Ouwyang Ping memperkenalkan mereka.


“Sen Khang, kedua orang ini adalah dua dari empat pelindung Lembah Nada yang bergelar Empat Tambur Perak. Namanya adalah Kam Sien dan Hauw Lam,” kata Sen Khang.


“Apa kabar?” sapa Hauw Lam.


“Kami sudah pernah mendengar tentang kalian semua dari Chien Wan,” tambah Kam Sien.


Sen Khang dan lainnya membalas penghormatan itu dengan bersahabat.


Setelah acara perkenalan selesai, Kam Sien dan Hauw Lam mohon diri. Mereka hanya bertugas menyampaikan pesan, setelah itu mereka harus segera kembali ke pos masing-masing di Lembah Nada. Mereka tidak mau meninggalkan penjagaan mereka terlalu lama karena mereka adalah orang-orang yang sangat bertanggung jawab.


Sepeninggal kedua orang itu, Sen Khang mengajak mereka pergi meninggalkan tempat itu.


***


Suasana di Wisma Bambu sangat sunyi sepeninggal Sen Khang, Ting Ting, dan Meng Huan ke Kota Lok Yang. Sesungguhnya yang diberi tugas ke Kota Lok Yang untuk menghadiri pertemuan para pendekar hanyalah Sen Khang dan Meng Huan. Namun Ting Ting merengek pada ayah dan ibunya agar diizinkan ikut serta. Gadis itu beralasan dia sudah cukup umur untuk mendapatkan pengalaman di dunia luar. Lagi pula ia bisa mati bosan tanpa kakaknya dan Meng Huan. Maka dengan berat hati orangtuanya mengizinkannya pergi.


“Sudah hampir sebulan mereka meninggalkan rumah, Suamiku.” Nyonya Luo meletakkan sulaman yang tengah dikerjakannya ke meja.


Tuan Luo mengangkat wajah dari buku yang sedang dibacanya, tersenyum. “Kau merindukan mereka?”

__ADS_1


“Tentu saja,” desah Nyonya Luo. “Selama ini, anak-anak itu tidak pernah pergi dari kita. Aku merindukan mereka, juga sangat cemas. Apakah mereka baik-baik saja?”


“Tentu saja mereka akan baik-baik saja,” tukas suaminya. “Bukankah kita sudah memberi bekal pendidikan ilmu silat yang cukup kepada mereka? Lagi pula mereka hanya pergi untuk menghadiri undangan Ketua Persilatan saja. Tidak akan terjadi apa-apa.”


“Sebenarnya bukan hanya itu.”


Nada suara sang istri membuat Tuan Luo mengerutkan kening. Ia menutup bukunya dan meletakkannya di meja. “Ada apa?”


“Bagaimana kalau justru mereka tertarik pada kehidupan di Dunia Persilatan dan merasa jemu dengan kehidupan di Wisma Bambu? Anak-anak itu, terutama Sen Khang, pasti ingin mengembara suatu saat nanti.”


“Bukankah itu bagus? Mereka bisa mendapat pengalaman yang berharga.”


“Tetapi mereka bisa mendapat bahaya!” protes Nyonya Luo.


Tuan Luo menghela napas. “Istriku, anak-anak kita sudah dewasa. Mereka berhak merasakan pengalaman di Dunia Persilatan. Kita tidak boleh bersikap egois dengan menghalangi keinginan mereka. Bagaimana pun, suatu hari nanti mereka harus lepas dari pengawasan kita. Kita juga takkan hidup selamanya untuk mereka.”


Nyonya Luo menunduk malu. “Aku tahu. Hanya saja, sulit untuk bersikap lapang dada bila itu menyangkut anak-anak kita.”


“Bukan hanya anak-anak kita saja,” goda suaminya. “Sewaktu Chien Wan pergi pun kau menangis pada malam sebelum dia pergi.”


Istrinya tersipu-sipu. “Aku menganggapnya seperti anak kita sendiri. Tentu saja aku sedih karena dia akan meninggalkan kita,” ujarnya membela diri. “Ngomong-ngomong bagaimana keadaannya sekarang, ya? Sejak pergi, tak sekali pun dia datang mengunjungi kita.”


“Tentu saja dia tak bisa berkunjung. Jarak Lembah Nada ke Wisma Bambu cukup jauh dan sulit. Lagi pula, gurunya pasti tidak memperbolehkannya keluar tanpa izin. Peraturan di Lembah Nada cukup ketat. Dulu saja sewaktu Sui She belajar di sana, tak sekali pun dia pulang. Sampai saat terakhir dia pulang sudah menderita sakit seperti itu,” kata Tuan Luo murung.


“Menurutmu, apakah mereka memperlakukannya dengan baik?”


“Seharusnya begitu. Kalau tidak, aku takkan memaafkan mereka!”


Nada suara suaminya membuat Nyonya Luo bergidik. Suaminya selalu ramah dan bijaksana, namun bila menyangkut adiknya dan Lembah Nada, ia selalu tampak menakutkan.


Saat itu, pintu kamar menjeblak terbuka dan masuklah Ting Ting. Gadis itu tampak agak lusuh dan pakaiannya kotor karena debu. Wajahnya kemerahan akibat perjalanan jauh. Tubuhnya sedikit kurus, namun ia tampak cerah dan berseri.


“Ibu! Ayah!”


“Ting Ting!”


Tuan dan Nyonya Luo bangkit berdiri dengan terkejut sekaligus bahagia. Ting Ting bergegas memeluk ibunya dengan rindu.


Air mata menitik di pipi Nyonya Luo, air mata haru dan lega. Ia memeluk putrinya erat-erat sebelum melepaskannya untuk memandangi wajahnya dengan kritis. “Kau kurus!” tegurnya setengah tertawa walau matanya basah.


“Ah, Ibu! Jangan menangis begini. Memangnya Ibu tidak suka melihatku, ya?” Ting Ting menyeka air mata ibunya.


Tuan Luo menghampiri dan mengelus rambut putrinya. “Mana kakakmu?”


“Di ruang tamu, bersama Kakak Huan,” jawab Ting Ting. “Dan coba tebak siapa lagi yang datang bersama kami!”


“Siapa?”


“Kakak Wan!” seru Ting Ting bahagia. “Dia datang untuk menjenguk Ayah dan Ibu!”


“Chien Wan?” belalak Nyonya Luo.

__ADS_1


“Bagaimana dia bisa bersama kalian?” tanya Tuan Luo.


“Wah, ceritanya panjang! Nanti saja kami ceritakan. Ayo kita ke sana!” Ting Ting menarik lengan ayah dan ibunya.


***


Chien Wan dan Ouwyang Ping duduk di ruang tamu bersama Sen Khang. Meng Huan pergi ke kamarnya untuk menaruh buntalan pakaiannya, namun tak berapa lama ia pun kembali lagi.


“Tenang saja, Chien Wan.” Sen Khang tertawa melihat Chien Wan tampak agak tegang. Ia tahu apa yang tengah dicemaskan oleh temannya itu. Pasti Chien Wan sedang sibuk memikirkan informasi yang harus disampaikannya pada Tuan Luo.


“Iya, Kak,” timpal Ouwyang Ping tanpa tahu maksud Sen Khang. Ia pikir, Chien Wan gelisah karena khawatir akan dimarahi Tuan Luo karena lama tak berkunjung.


Sesaat kemudian, Tuan dan Nyonya Luo datang bersama dengan Ting Ting.


Chien Wan langsung berdiri. Raut wajahnya tak terbaca.


“Ayah, Ibu.” Sen Khang menghampiri orangtuanya, diikuti Meng Huan yang memberi salam layaknya seorang murid terhadap gurunya.


Tuan dan Nyonya Luo menyambut putra dan muridnya dengan hangat sebelum perhatian mereka beralih pada Chien Wan.


“Tuan, Nyonya. Saya sudah kembali,” kata Chien Wan pelan sambil memberi hormat dengan sopan.


“Chien Wan.” Nyonya Luo langsung menghampirinya dan meremas lengannya dengan hangat. Diperhatikannya pemuda yang selama tiga tahun lebih tak dilihatnya itu dengan penuh rasa ingin tahu. Chien Wan tidak banyak berubah. Selain tinggi badan dan wajahnya yang tampak lebih kokoh, ia nyaris persis seperti dulu. “Kau tetap seperti dulu. Kami sangat senang kau pulang.”


“Terima kasih, Nyonya.”


Tuan Luo juga senang sekali melihat Chien Wan, namun ia tak seekspresif istrinya dalam mengungkapkan perasaan. Ia hanya tersenyum dan menepuk bahu Chien Wan.


Chien Wan menoleh ke arah Ouwyang Ping. “Tuan, Nyonya, ini Ouwyang Ping. Dia adalah... putri Paman Ouwyang Kuan.”


Ada sedikit keraguan kala Chien Wan mengucapkan nama Ouwyang Kuan. Namun hanya sedikit saja sehingga tak seorang pun yang memperhatikannya. Tak seorang pun kecuali Tuan Luo.


Ouwyang Ping segera memberi hormat dengan sopan santun yang mengagumkan.


“Terimalah hormat saya, Tuan dan Nyonya Luo,” ujar gadis itu. “Maaf jika kedatangan saya merepotkan keluarga di sini.”


Tuan dan Nyonya Luo membalas penghormatan itu dengan baik. Mereka terkesan dengan sopan santun gadis itu, juga dengan kecantikan dan penampilannya. “Jangan sungkan, Nona Ouwyang. Anggap saja rumah sendiri,” balas Tuan Luo.


“Panggil saja saya Ping-er,” kata Ouwyang Ping, yang selalu merasa risih bila dipanggil Nona Ouwyang.


“Baiklah, Ping-er. Kau juga boleh memanggil kami paman dan bibi,” kata Nyonya Luo.


Ouwyang Ping mengangguk sopan.


“Duduklah.”


Tuan Luo mengucapkannya sementara dia sendiri duduk di kursi yang biasa didudukinya. Istrinya duduk di sampingnya. Yang lain menempati tempat masing-masing sambil menikmati teh dan makanan kecil.


“Bagaimana ceritanya kalian bisa bersama-sama?” tanya Tuan Luo penasaran.


“Panjang ceritanya, Ayah.” Sen Khang menyeringai sebelum mulai menceritakan semuanya.

__ADS_1


Sen Khang bercerita dengan baik sambil sesekali ditimpali Ting Ting, Meng Huan, dan Ouwyang Ping. Tuan dan Nyonya Luo mendengarkannya dengan mata membelalak, kagum akan banyaknya peristiwa yang mereka alami. Mereka terutama sangat terkejut dengan kejadian yang menimpa anak-anak muda itu di Bukit Merak. Hati mereka lega melihat anak-anak itu tidak kurang suatu apa.


Chien Wan sendiri diam saja, seperti biasa hanya menjadi pendengar yang baik. Ia bahkan ingin cerita itu segera berakhir sehingga ia dapat mencari kesempatan untuk menemui Paman Khung. Ia ingin sekali menceritakan pendidikan yang diterimanya di Lembah Nada kepada Paman Khung.


__ADS_2