
Rombongan Tuan Ouwyang telah melakukan perjalanan selama dua hari dan akhirnya mereka tiba di tepi pantai yang lengang. Mereka menyewa perahu dari seorang nelayan yang bertempat tinggal tak jauh dari pantai itu.
“Apakah udara laut tak akan membahayakan kesehatan Kakak Wan?” tanya Kui Fang cemas.
“Tidak, Kui Fang. Tidak akan ada apa-apa,” kata Tuan Ouwyang menenangkan.
“Kakek yakin? Bukankah paru-paru Kakak Wan yang bermasalah?” tanya Ouwyang Ping.
“Perahu yang kita sewa ini memiliki ruang tertutup. Chien Wan tidak akan terlalu banyak terkena angin laut,” bilang Tuan Ouwyang.
Siu Hung bersorak. “Hore! Kita akan naik perahu!” serunya gembira. Wajahnya bersinar-sinar. “Aku belum pernah pergi ke pantai, aku belum pernah naik perahu, aku belum pernah pergi ke Pulau Ginseng,” celotehnya riang. Lalu ia berlari dan menggamit lengan Tuan Ouwyang. “Aku senang sekali kau mengajakku, Kek. Ternyata kau ini baik sekali!” rayunya manja.
Tuan Ouwyang senang sekali mendengarnya. Tapi ia pura-pura mencibir. “Kau mengatakan aku baik hanya pada waktu kau senang saja!” gerutunya sambil menepuk kening Siu Hung.
Siu Hung menyeringai sambil mengusap-usap keningnya.
Mereka segera naik perahu layar itu dan menuju laut lepas. Mereka tidak menginginkan adanya orang lain dalam rombongan mereka, jadi mereka menolak bantuan nelayan pemilik perahu untuk mengemudikan perahu mereka. Tuan Ouwyang yang orang darat tulen ternyata sangat mahir dalam hal berlayar. Sen Khang membantunya. Ia memang tidak tahu apa-apa soal berlayar. Namun dengan petunjuk Tuan Ouwyang, ia menjadi mahir.
Kabin bawah cukup luas dan terdiri dari tiga ruangan. Ruangan yang paling kecil dipergunakan sebagai kamar Tuan Ouwyang. Ruangan di sebelahnya untuk tempat tidur Chien Wan dan Sen Khang. Sementara ruangan yang satu lagi dipergunakan oleh ketiga gadis sebagai kamar mereka.
Perjalanan ke Pulau Ginseng memakan waktu cukup lama. Hal ini membuat Ouwyang Ping dan Kui Fang gelisah. Mereka khawatir Chien Wan akan merasa tersiksa dan menderita.
Kui Fang terus menemani Chien Wan di dalam kabin. Tuan Ouwyang tak mengizinkan Chien Wan keluar, terutama pada malam hari. Maka Kui Fang menemaninya di dalam. Untunglah tak ada seorang pun di antara mereka yang mengalami mabuk laut walau tak ada seorang pun yang pernah berlayar, selain Tuan Ouwyang tentunya.
Ouwyang Ping yang gelisah berjalan-jalan di dek perahu. Ia termenung memandangi laut lepas. Rambutnya yang panjang dan indah berkibar ke belakang karena ia berdiri melawan arah angin. Pakaiannya melambai-lambai mengesankan seolah ia sedang melayang.
Sen Khang melihatnya. “Ping-er.”
Ouwyang Ping menoleh. “Kakak Luo, sedang apa kau?”
“Justru aku yang semestinya bertanya. Aku sendiri memang ditugasi oleh Kakek Ouwyang untuk menjaga kemudi perahu supaya tetap lurus. Mengapa kau keluar? Angin malam bisa merusak kesehatanmu,” tegur Sen Khang serius. Ia berjalan mendekati gadis itu.
Ouwyang Ping menggeleng. “Aku tak bisa tidur,” ucapnya sambil menghela napas. Disibaknya sejumput rambut yang menutupi wajahnya. Saat ia berhadapan dengan Sen Khang, tubuhnya searah dengan arah angin sehingga rambutnya melambai menutupi wajahnya. Ia tak sadar bahwa dirinya tampak begitu menawan.
Sen Khang memandanginya dengan terpesona. Sudah hampir tiga tahun ia mengenal Ouwyang Ping. Selama itu ia tidak pernah tidak merasa terpesona bila melihatnya. Ia tak pernah merasa bosan memandangi senyumannya.
“Kau... memikirkan Chien Wan?”
Ouwyang Ping mengangguk. “Perjalanan ke Pulau Ginseng memakan waktu lama. Aku khawatir Kakak Wan akan semakin sakit oleh tekanan angin laut. Lagi pula... aku tidak yakin apakah Dewa Obat mau mengobati Kakak Wan.”
__ADS_1
Sen Khang tersenyum menghibur. “Kau jangan cemas. Luka dalam itu memang cukup parah, namun nyawa Chien Wan tidak dalam bahaya. Kau juga jangan berpikir yang bukan-bukan tentang Dewa Obat. Aku yakin beliau mau mengobati Chien Wan.”
Ouwyang Ping berbalik dan kembali memandangi lautan. “Apakah Kakak Wan masih bisa meniup suling, ya?”
Sen Khang mengerutkan kening. Pertama Kakek Ouwyang, sekarang Ping-er, pikirnya. Mengapa semua orang Lembah Nada lebih mengkhawatirkan kemampuan musik Chien Wan, bukannya kesembuhannya?
Ouwyang Ping dapat merasakan keheranan Sen Khang.
“Meniup suling adalah kebahagiaan Kakak Wan. Aku kenal dia. Jika kemampuannya meniup suling hilang, hidupnya takkan berarti lagi. Kakak Wan takkan pernah lagi merasa bahagia. Padahal aku ingin dia merasa bahagia.”
Seketika Sen Khang mengerti, lalu ia menghembuskan napas.
“Ada apa, Kakak Luo?” tanya Ouwyang Ping heran melihat kemuraman wajah pemuda itu.
“Chien Wan sungguh beruntung. Dia dicintai oleh banyak orang. Banyak yang menginginkan kebahagiaannya. Banyak orang yang berupaya mati-matian untuk membelanya. Banyak orang yang rela mengorbankan diri demi kebahagiaannya, termasuk kau,” kata Sen Khang dengan raut wajah sedih. Dalam hatinya ia merasa iri pada Chien Wan.
Ouwyang Ping menggeleng. “Jangan berkata seperti itu, Kakak Luo. Memang banyak orang yang mencintai dan mempedulikan Kakak Wan, namun ada juga orang yang membencinya. Dan kebencian itu mengakibatkan penderitaan yang bukan saja harus ditanggung oleh Kakak Wan sendiri, melainkan oleh orang-orang yang mencintainya juga. Termasuk kita berdua.”
“Yah....”
“Dan yang paling parah menyakiti Kakak Wan, juga kita semua, adalah Chi Meng Huan!”
Sen Khang mengepal tinjunya dengan geram. “Chi Meng Huan!” makinya penuh dendam. “Manusia tak kenal budi! Betapa bodohnya aku yang pernah mempercayainya, pernah menganggapnya sebagai orang yang berbudi luhur. Ternyata dia adalah binatang. Aku harus membunuhnya! Demi arwah kedua orangtuaku, demi Ting Ting, dan demi Chien Wan!”
Sentuhan jemari Ouwyang Ping yang halus mengejutkan Sen Khang. Betapa hangat dan lembutnya telapak tangan gadis itu! Seketika ketegangannya mereda. Diraihnya jemari gadis lembut yang telah memikat hatinya itu, digenggamnya dengan erat.
Ouwyang Ping membiarkan saja jemarinya digenggam. Ia merasakan kehangatan mulai merambati hatinya. Dilihatnya tatapan Sen Khang yang penuh binar cinta, membuat pipinya merona. Cinta Sen Khang begitu menyentuh hatinya. Ia mulai bisa menerimanya sebagai suatu kenyataan, walau belum mampu untuk membalasnya.
Senyum bahagia Sen Khang merekah. Seluruh rasa benci dan dendam yang sempat merasuki hatinya sirna bersamaan dengan rona di pipi Ouwyang Ping. Ia tahu bahwa tak mudah bagi gadis itu untuk membalas cintanya secepat ini. Tetapi ia akan sabar menunggu. Penantiannya tidak akan sia-sia.
Sementara itu di dalam kamar kabin, Chien Wan tengah duduk ditemani Kui Fang. Mereka berdua tidak bicara banyak. Kui Fang tahu betapa sulitnya bagi Chien Wan untuk berkata-kata akibat penggumpalan darah di paru-parunya.
Chien Wan melakukan kegiatan rutinnya, yakni membersihkan sulingnya dengan kain sutra sambil berpikir. Biasanya dengan melakukan kegiatan itu, otaknya akan bergumul dengan berbagai masalah dan mengeluarkan ide-ide cemerlang sebagai jalan keluar dari masalah tersebut. Namun sekali ini ia tidak berpikir mengenai masalah yang membebaninya. Ia lebih memikirkan keberadaan gadis di hadapannya ini.
Ia merasa begitu diberkati. Hanya dengan memandang wajah Kui Fang yang polos dan hangat, perasaannya menjadi tenang. Padahal dulu ketika berpisah dengan Ouwyang Ping, ia merasa tak mungkin baginya untuk jatuh cinta lagi. Namun ternyata hatinya berhasil direbut oleh Kui Fang yang sama sekali berbeda dari Ouwyang Ping.
Kui Fang bertopang dagu dan memandangi pemuda di hadapannya dengan lembut dan penuh kasih. Dalam pandangannya, tak ada yang lebih hebat dari Chien Wan. Walau wajah Chien Wan tidak setampan Sen Khang atau Fei Yu atau Meng Huan, namun baginya pemuda itu adalah segalanya.
Chien Wan mengangkat wajah dan melihat gadis itu tengah menatapnya. Selama beberapa saat pandangan mereka bertemu dan terkunci satu sama lain.
__ADS_1
Tok tok tok!
Cepat Chien Wan memutuskan kontak mata mereka dan menoleh ke pintu.
“Masuk,” sahut Kui Fang.
Pintu kabin terbuka dan masuklah Tuan Ouwyang diiringi Siu Hung.
“Kakak Ouwyang, Kui Fang!” Siu Hung menyapa dengan riang. “Maaf, malam-malam mengganggu. Habis Kakek jahil ini ribut pingin ke sini!” katanya sambil melirik Tuan Ouwyang.
Tuan Ouwyang menepuk kepala Siu Hung.
“Dasar bocah kurang ajar!” makinya kesal. “Lagi pula, siapa yang menyuruhmu ikut? Pergi sana ke kamarmu!”
Siu Hung mencibir.
Kui Fang berdiri. “Ayo kita tidur, Siu Hung,” ajaknya. Ia menoleh pada Chien Wan dan Tuan Ouwyang. “Kakak Wan, Kakek, kami permisi dulu. Kakak Wan, kalau kau perlu sesuatu, ketuk saja dinding penghubung kamar kita, ya?”
Chien Wan mengangguk.
“Ya! Bawa bocah bandel itu. Aku pusing melihatnya tak bisa diam!” suruh Tuan Ouwyang.
Siu Hung sudah membuka mulut hendak membalas ucapan Tuan Ouwyang, namun Kui Fang menutup mulutnya dan menyeretnya keluar sambil tertawa. Ia tahu bila dibiarkan, pertengkaran keduanya bisa berlangsung semalaman.
“Mengapa Kakek belum tidur?” tanya Chien Wan pelan.
Tuan Ouwyang duduk di kursi. “Bagaimana rasanya sekarang, Chien Wan? Apa udara laut mengganggumu?” tanyanya tanpa mengacuhkan pertanyaan Chien Wan tadi. Dalam hatinya ia merasa jauh lebih cemas daripada yang diperlihatkannya. Bagaimana pun Chien Wan adalah cucunya yang pertama, kebanggaannya, harapannya. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Chien Wan, ia tak tahu apakah Lembah Nada bisa bertahan.
Chien Wan tersenyum menenangkan. “Aku tak apa-apa, Kek,” jawabnya dengan suara sama lirihnya seperti tadi karena menahan sesak dan pedih dalam dadanya.
“Perjalanan kita dua hari lagi. Tidurlah!” suruh Tuan Ouwyang serius.
“Baik, Kek.”
Kemudian Tuan Ouwyang pergi meninggalkan kamar Chien Wan. Ia belum mengantuk sama sekali, maka ia bermaksud pergi ke dek untuk mengobrol dengan Sen Khang yang sedang bertugas jaga. Namun ia membatalkan niatnya manakala menyaksikan Sen Khang sedang berduaan dengan cucu perempuannya. Mereka berbicara sambil memandangi laut lepas. Sesekali Sen Khang memeriksa kemudi di dekatnya untuk memastikan mereka tidak berbelok arah.
Tuan Ouwyang tersenyum senang. Ia suka pada Sen Khang. Sosok pemuda yang cerdas, mandiri, tenang, berwibawa, penuh kharisma, dan tidak mudah menyerah. Beberapa bulan ini keadaan sangat berat baginya, namun ia tidak menyerah. Memang ia sempat kehilangan kendali diri dan tidak bisa berpikir panjang. Namun itu wajar bagi seseorang yang baru saja mengalami kehilangan dan cobaan yang menyakitkan. Tidak ada manusia yang sempurna.
Bagaimana pun juga Tuan Ouwyang sangat setuju apabila cucu perempuannya berjodoh dengan pemuda itu. Ia yakin Sen Khang pasti bisa melindungi dan membahagiakan cucunya. Lagi pula, Sen Khang tampan dan gagah, sangat serasi bila berdampingan dengan Ouwyang Ping yang cantik dan anggun.
__ADS_1
Tuan Ouwyang kembali ke dalam kabin dan masuk ke kamarnya dengan hati senang.
***