Suling Maut

Suling Maut
Pengkhianatan Wie Yun Cun


__ADS_3

“Berdasarkan kenyataan yang sudah kuungkapkan tadi, aku ingin mengusulkan pada Ketua supaya kita bisa mencari dukungan dari orang-orang hebat. Dengan bantuan mereka, kita bisa terkenal!”


Ketua Wu mengerutkan kening dan memandang anak buahnya itu dengan tajam.


Semua anggota saling berpandangan. Mereka mulai tampak resah. Kegembiraan berubah menjadi kecemasan.


Lan Sie maju ke sisi Wie Yun Cun. “Aku setuju dengan Tetua Wie!” katanya.


“Aku juga!” sambut seorang anggota berbaju kuning.


“Aku juga!” kata seorang anggota berbaju jingga.


“Kami juga! Kami juga!” Para anggota yang biasa bertugas bersama Lan Sie berseru-seru penuh semangat.


Lo Koai berdiri dan angkat bicara, “Menurutku, reputasi kita sudah cukup baik. Kita punya banyak sahabat dalam Dunia Persilatan. Kita tidak memerlukan dukungan dari siapa pun untuk menjadi terkenal. Lagi pula leluhur kita tidak mendirikan partai ini untuk menjadi terkenal. Partai kita berdiri dengan maksud untuk menolong siapa saja yang membutuhkan bantuan.”


Ketua Wu tampak puas mendengar pendapat anak buahnya yang satu ini. “Lo Koai benar,” angguknya. “Menjadi terkenal bukanlah tujuan dari partai kita.”


Wie Yun Cun mendesah dan menggeleng-geleng. “Ketua, tahukah Anda mengapa partai kita menjadi tenggelam dalam Dunia Persilatan?”


“Apa maksudmu?” Ketua Wu memandang gusar.


Wie Yun Cun tersenyum. Ia melangkah mendekati Ketua Wu dengan sikap menyesal. Langkahnya mantap dan pasti menghampiri Ketua Wu. Tak ada seorang pun yang mencurigainya karena memang sudah biasa bagi tetua untuk mendekati kursi kebesaran untuk membisikkan sesuatu pada ketua mereka. Namun....


“Ketua, maafkan aku,” bilang Wie Yun Cun tajam.


“Kau...?”


Buk!


“Ah! Ketua!” seru semua anggota yang hadir.


Wie Yun Cun telah menyarangkan pukulan disertai tenaga dalam yang dahsyat ke dada Ketua Wu yang terkejut dan tidak siap sama sekali. Darah segar menyembur dari mulut Ketua Wu tanda luka dalam yang dideritanya akibat pukulan tadi cukup parah. Wie Yun Cun sendiri langsung melompat mundur.


“Kau... Kau...!” Ketua Wu terbelalak dan menunjuk Wie Yun Cun.


“Suamikuuuu!!!” jerit Nyonya Wu.


“Ayaaah!!” Kui Fang ikut menjerit.


Wie Yun Cun tertawa terbahak-bahak. “Wu Tai Hung, partai kita menjadi lemah begini gara-gara kepemimpinanmu yang lembek! Kau tak punya ambisi sedikit pun! Kau terlalu pengecut!” serunya mengejek.


Lo Koai berdiri dan menuding. “Ternyata Kakak Sam benar! Ada pengkhianat di partai kita. Kau orangnya!” serunya jijik. “Saudara sekalian, tangkap dia!”


Semua anggota segera melompat berdiri untuk mengepung Wie Yun Cun. Namun alangkah kaget dan herannya mereka karena tubuh mereka mendadak lemas.


Lan Sie tertawa terkekeh-kekeh. “Kalian tidak akan bisa menangkap siapa pun. Tahukah kalian bahwa hidangan yang kalian nikmati dengan rakus sebelumnya tadi telah kububuhi dengan bubuk racun?”

__ADS_1


“Jadi kau juga...?” seru Kui Fang kesal.


“Benar!” Lan Sie memandang meremehkan pada Kui Fang. “Aku selalu ingin menyingkirkan kau, Nona Besar yang manja! Itu salah satu alasan aku menyetujui rencana Kakak Wie.” Ia mengerling genit pada Wie Yun Cun. “Kelak setelah Kakak Wie naik pangkat menjadi ketua yang baru, dia akan mengangkatku menjadi orang kepercayaannya.”


“Wie Yun... Cun...!” Ketua Wu berusaha berdiri. Istrinya membantunya sambil terisak. Kui Fang berdiri di sisi ayahnya, ikut memeganginya.


Wie Yun Cun menyeringai. “Kau tidak ingin tahu siapa saja yang membantuku melaksanakan ini semua? Kau mau mengenal orang-orang hebat yang mendukung gerakan pemberontakan ini?”


“Kau... kau pengkhianat!” geram Ketua Wu.


“Benar! Akulah orangnya,” angguk Wie Yun Cun puas. “Aku sendiri heran mengapa sampai saat ini kau tidak mencurigaiku. Sam Huilah yang selalu menjadi duri dalam daging dalam rencanaku. Untung saja keparat itu sudah tersingkir. Akhirnya kesempatan datang! Kau sendiri yang membuatnya tersingkir!” Ia tertawa senang. “Kau adalah orang yang paling bodoh di dunia ini! Ha ha ha ha!”


“Kenapa kaulakukan semua ini?” teriak Lo Koai.


Wie Yun Cun menghentikan tawanya. “Tentu saja untuk menjadi ketua Partai Kupu-Kupu. Kaupikir kenapa?” tanyanya heran.


“Kau bajingan! Manusia rendah!” maki Ketua Wu.


Kui Fang melompat mendekati Wie Yun Cun. Gerakannya yang ringan mengejutkan Lan Sie. Perempuan itu heran karena Kui Fang tidak terpengaruh bubuk racun itu. Padahal ia melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Kui Fang juga makan hidangan perjamuan.


“Kalian busuk!” bentak Kui Fang penuh kebencian. “Dan kau, Lan Sie! Perempuan ******! Tidak tahu malu! Pantas saja dulu Kakak Wan selalu bersikap dingin padamu!”


Wajah Lan Sie merah padam. “Diam kau!”


Kui Fang mengepalkan tinjunya.


“Lan Sie, sudahlah. Jangan hiraukan dia!” kata Wie Yun Cun.


Kui Fang tidak mempedulikan panggilan ibunya. Ia tetap berdiri di tempatnya dan menatap tajam Lan Sie. Ia tidak berani gegabah. Saat ini hanya ia sendiri yang tidak terpengaruh racun yang ditebarkan Lan Sie. Ia sendiri tidak mengerti mengapa ia bisa kebal terhadap racun. Ia mengira Dewa Obatlah yang diam-diam telah memberikan penangkal racun di tubuh mereka semua lewat bahan makanan yang dimasaknya.


Tiba-tiba....


“Kerja yang bagus, Saudara Wie!”


Wie Yun Cun dan Lan Sie kaget dan cepat-cepat memberi hormat. “Tuan Cheng!” sapa mereka.


BRAK


Pintu rangan itu terbuka, dan masuklah serombongan orang yang tidak asing lagi bagi Kui Fang dan beberapa orang di sana. Mereka bukan lain dari Cheng Sam dan rombongannya. Dan kemunculan Chi Meng Huan di antara mereka mengejutkan sekaligus menggelisahkan hati Kui Fang.


“Chi Meng Huan!” desis Kui Fang penuh kemarahan.


Chi Meng Huan menatap Kui Fang dengan sorot mata jemu dan kejam.


Diam-diam Kui Fang bergidik ngeri. Ia pertama kali mengenal Meng Huan sebagai seorang pemuda berhati lembut yang sangat baik hati. Bahkan sinar matanya pun begitu hangat dan tulus. Siapa sangka bisa berubah sedrastis ini? Bagaimana pemuda lembut itu bisa berubah menjadi penjahat keji dengan tatapan keji seperti ini?


Cheng Sam tertawa menggelegar. “Partai Kupu-Kupu. Hem... permulaan yang bagus sekali!” pujinya dengan puas. Lalu ia menoleh pada Meng Huan yang hanya diam saja dengan sikap dingin. “Bagaimana menurutmu, Nak?”

__ADS_1


“Lumayan,” gumam Meng Huan dengan mata tak lepas memandangi Kui Fang.


“Tuan, aku telah melumpuhkan mereka semua. Sesuai dengan perintah yang Anda berikan,” kata Wie Yun Cun bangga.


“Bagus!” angguk Cheng Sam.


“Kau memainkan perananmu dengan baik, Kakak Wie!” puji seorang pria yang dikenal Kui Fang sebagai Hao Sing Yat—yang dulu pernah hendak menodainya.


“Ah, tidak seberapa,” senyum Wie Yun Cun merendah. “Yang bodoh di sini adalah Wu Tai Hung sendiri. Orang yang setia padanya malah diusir. Pengkhianat malah dipercaya olehnya. Siapa yang bodoh kalau begitu?” ejeknya sambil melirik Ketua Wu yang tampak sangat terpukul.


“Kau pengkhianat busuk, Wie Yun Cun!” raung Lo Koai yang tidak terima ketuanya diejek seperti itu.


Wie Yun Cun melesat dan memukul wajah Lo Koai keras-keras.


“Diam kau!” bentaknya. “Mau mati, ya?!”


“Puih!” Lo Koai meludahi muka Wie Yun Cun dengan berani. “Mau bunuh ya bunuh saja! Tak usah mengancam segala!” tantangnya gagah.


Wie Yun Cun sudah mengangkat tangannya hendak menghantam kepala Lo Koai. Namun Meng Huan berteriak memanggil, “Wie Yun Cun!”


Wie Yun Cun batal membunuh. Ia bergegas mendekati Meng Huan. “Ya, Tuan Muda?’


Meng Huan tetap memandangi Kui Fang dengan tatapan sayu dan keji. “Gadis itu... kekasih Ouwyang Chien Wan,” gumamnya. “Bawa dia padaku!”


Wie Yun Cun menyeringai. “Baik, Tuan Muda!”


Kui Fang mundur dan bersiap dengan selendangnya. Diremasnya selendang itu erat-erat. Lebih baik mati daripada disentuh oleh Chi Meng Huan!


Wie Yun Cun mendekati Kui Fang. “Ke sini, Nona manis,” bujuknya.


“Pergilah ke neraka!” bentak Kui Fang gusar.


“Wie Yun Cun!” Ketua Wu mencoba menghampiri putrinya, namun ia jatuh dan terbatuk-batuk.


Wie Yun Cun tertawa pongah. “Ke mari kau!”


Kui Fang menjawab dengan kibasan selendangnya yang melecut ke arah Wie Yun Cun. Kekuatan kibasannya agak mengejutkan Wie Yun Cun yang selalu memandang rendah putri majikannya itu. Ternyata tenaga dalam Kui Fang boleh juga, pikirnya.


Selama beberapa saat terjadi perkelahian di antara keduanya. Tak ada seorang pun yang membantu. Dari pihak Kui Fang jelas tidak bisa karena mereka tak bisa menggerakkan tubuh. Sedangkan rekan-rekan Wie Yun Cun sengaja membiarkan mereka bertarung. Mereka yakin Wie Yun Cun akan mengalahkan gadis itu dengan mudah, dan pada akhirnya akan berhasil menangkapnya.


Perkiraan mereka memang tidak salah. Walau Kui Fang sudah mengalami kemajuan pesat dalam ilmu silatnya, tetap saja ia kalah tingkat dengan Wie Yun Cun yang sudah senior. Tak berapa lama kemudian, gadis itu sudah terdesak dan hanya bisa menangkis serangan saja.


Wie Yun Cun sudah hampir menyentuh Kui Fang.


“Tidak!” seru ayahnya.


“Kui Faaang!” pekik ibunya.

__ADS_1


Wie Yun Cun sudah hampir berhasil menangkap Kui Fang. Namun pada saat kritis itu, terdengar suara suling yang mencekam dan sesosok bayangan hitam berkelebat menyambar Kui Fang.


***


__ADS_2