
Ketua Wu senang melihat Wie Yun Cun berhasil membawa pulang putrinya dengan selamat tak kurang suatu apa. Namun ia sangat heran dan gusar karena putrinya kembali sambil menangis.
“Apa yang dilakukan Suling Maut terhadapmu, Kui Fang?” tanya Ketua Wu marah.
“Tidak ada!” Kui Fang menyeka air matanya dengan kesal. Ia tidak pernah bersikap cengeng di hadapan orangtua dan semua anak buah ayahnya, namun kali ini ia melakukan yang biasa dilakukan gadis lain: menangis. Ia sangat marah karena ketidakadilan yang dilakukan semua orang terhadap Chien Wan. Ia juga marah karena ternyata partainya juga memiliki pandangan picik yang sama.
“Jangan bohong, Kui Fang!” peringat ayahnya. “Aku tahu kau mengagumi Suling Maut. Tetapi orang itu telah berbuat begitu keji.”
“Ayah tahu dari mana?” tukas Kui Fang. “Berita yang tersebar masih simpang-siur, tetapi semua orang sudah sangat yakin bahwa Kakak Wan bersalah. Itu tidak adil!”
“Kui Fang, menurut mereka Saudara Luo Sen Khang dan Nona Ouwyang Ping melihat sendiri kejadian itu. Masa mereka berbohong?” sela Nyonya Wu halus.
“Aku juga melihat apa yang mereka lihat! Aku bersama mereka waktu itu!”
Pemberitahuan Kui Fang jelas mengejutkan.
“Apa?” seru Ketua Wu.
“Kami melihat Kakak Wan berlutut di sisi jenasah Nyonya Luo dan memegang pedang yang berlumuran darah. Kakak Luo langsung marah dan menyimpulkan Kakak Wan-lah yang membunuh semua orang di sana. Pengakuan Ting Ting dan Chi Meng Huan juga mengatakan bahwa Kakak Wan-lah yang melakukannya,” kata Kui Fang.
“Kalau begitu....”
“Tetapi kami tidak melihat sendiri Kakak Wan menusukkan pedang itu di tubuh mereka!” tukas Kui Fang menyela kata-kata ayahnya. “Kami tidak melihat sendiri Kakak Wan melakukan perkosaan terhadap Ting Ting! Karena itulah aku mempercayai Kakak Wan karena dia sendiri menyangkal tuduhan itu. Dan aku mengenalnya dengan baik sehingga yakin akan kejujurannya!”
Ketua Wu tercenung dan terguncang dengan perkataan putrinya. Jangan mempercayai sesuatu kecuali kau melihatnya sendiri! Itulah falsafah yang diajarkannya kepada Kui Fang. Dan ternyata Kui Fang menggunakan falsafah itu dengan baik, bahkan terhadap masalah yang sudah terlanjur dipercayai oleh semua pendekar di Dunia Persilatan.
“Dan selama ini kau bersama Chien Wan?” sela Nyonya Wu cemas.
__ADS_1
“Benar! Dan jika dia memang seperti yang dituduhkan, bagaimana mungkin aku tetap bersih setelah hampir sebulan bersamanya?” tantang Kui Fang tegas.
“Dia tidak mengapa-apakan kau?” hardik Ketua Wu tajam.
Kui Fang menyingkap lengan bajunya. “Nenek membuatkan tanda kesucian untukku, Ayah. Jika kesucianku hilang, tanda merah di pangkal lenganku pun akan hilang,” katanya. “Sekarang lihatlah apakah tandaku hilang?”
Semua orang di ruangan itu; Ketua Wu dan istrinya, Wie Yun Cun, Sam Hui, dan semua kepala pengawal, memperhatikan dengan waspada. Mereka melihat Kui Fang menggulung lengan bajunya dan dengan lega melihat tanda kesucian di pangkal lengan Kui Fang masih ada.
Ketua Wu menghela napas. Kecurigaannya terhadap Chien Wan belum sepenuhnya lenyap. Namun kini ia mau tidak mau mulai meragukan keyakinannya selama ini. bagaimana pun semua yang dikatakan Kui Fang masuk akal.
“Dan ada satu hal lagi, Ayah.”
Ketua Wu langsung tegang. “Apa?”
“Menurut cerita Kakak Wan, dia tiba di Wisma Bambu tidak lama sebelum kami tiba. Saat itu dia bertabrakan dengan seorang laki-laki yang baru keluar dari Wisma Bambu. Anehnya, laki-laki itu amat persis dengan dirinya. Bukan mustahil bahwa ada seseorang yang menyamar menjadi Kakak Wan dan melakukan kesalahan itu serta menimpakan semuanya kepadanya, bukan?” kisah Kui Fang.
“Aku yakin, Ayah! Kakak Wan tidak mungkin membohongiku!”
“Rasanya mustahil. Mana ada dua orang yang sama persis di dunia ini!” sela Wie Yun Cun sengit. “Kecuali Suling Maut punya saudara kembar.”
“Bisa saja!” tukas Sam Hui yang sejak tadi berdiam diri.
Wajah Kui Fang berseri. Ia selalu menyukai Sam Hui lebih daripada Wie Yun Cun. Dengan senang ia mendekati pria setengah baya itu. “Bagaimana pendapatmu, Paman Sam?”
“Bukankah kita mengenal seseorang yang luar biasa hebat dalam hal menyamar di Dunia Persilatan ini?” bilang Sam Hui penuh arti.
“Dewa Seribu Wajah!” seru Ketua Wu kaget.
__ADS_1
“Tidak mungkin!” seru Wie Yun Cun. “Bukankah dia baru saja mendapat musibah? Dia baru saja lolos dari maut, mana mungkin dia bisa melakukan serangan itu?”
“Maksudku bukan dia sendiri. Bisa saja seseorang yang juga menguasai kemampuan yang sama dengan Dewa Seribu Wajah. Ingatlah. Ilmu menyamar bukan hanya dimiliki oleh seorang Dewa Seribu Wajah.”
Ketua Wu mengangguk-angguk.
“Ayah, sebelum kami menerima serangan dari semua pendekar sebenarnya kami hendak pergi ke Bukit Merak untuk meminta pendapat Ketua Persilatan. Semenjak kekacauan itu kan Pendekar Sung tinggal di Bukit Merak. Sayangnya, sebelum kami tiba di sana, ada rombongan pendekar yang menyerang kami dan hendak membunuh Kakak Wan,” kata Kui Fang.
“Jadi menurut kalian, Pendekar Sung punya jawaban?”
“Kami tidak tahu. Tetapi Pendekar Sung terkenal dengan kebijaksanaannya. Mungkin dia punya pendapat sendiri. Aku ingin tahu apa yang ada dalam pikiran beliau.”
“Maksudmu, kau ingin pergi ke Bukit Merak?”
Wajah Kui Fang bersinar mendengar pengertian ayahnya. “Jika Ayah mengizinkan.”
Ketua Wu menghela napas. Ia melihat tekad yang tak tergoyahkan di wajah putrinya saat mati-matian hendak membela Chien Wan. Ia tidak bisa mencegah kehendak ini sebab jika tidak, mungkin saja Kui Fang akan minggat. Lebih baik ia setuju secara terang-terangan dan menugaskan seseorang untuk mendampingi Kui Fang.
“Baiklah.”
“Oh, terima kasih, Ayah!” seru Kui Fang gembira.
“Tetapi kau harus dikawal oleh beberapa orang. Bagaimana kalau...?”
“Aku ingin Paman Sam Hui dan Kakak Wen Chiang yang mengawalku,” potong Kui Fang. Ia tidak mau ayahnya mengusulkan Wie Yun Cun sebab ia tidak suka pada orang itu.
Ketua Wu mengangguk. Memang merekalah yang tadi hendak diusulkannya. Sam Hui sangat menyayangi Kui Fang; ia pasti akan melindungi gadis itu dengan baik. Sedangkan Wen Chiang adalah salah seorang kepala pengawal dari Kelompok Jubah Biru—salah satu dari lima kelompok pengawal di Partai Kupu-Kupu. Mereka berdua memiliki kepandaian tangguh dan bisa dipastikan akan melindungi Kui Fang sebaik-baiknya.
__ADS_1
***