
Partai Kupu-Kupu tengah dilanda gejolak. Mendadak saja, hubungan baik yang terbina di antara Ketua Wu dengan orang kepercayaannya Sam Hui memburuk. Ada gosip-gosip yang berkembang tentang diri Sam Hui yang kurang mengenakkan bagi Ketua Wu. Semua ini berawal semenjak Kui Fang pergi dari Partai Kupu-Kupu bersama Chien Wan.
Ketua Wu mendengar laporan bahwa Sam Hui suka pergi keluar area partai secara diam-diam untuk bertemu dengan seseorang. Ketua Wu sudah menanyakannya secara langsung pada Sam Hui, namun ia mengelak. Kecurigaan Ketua Wu pada Sam Hui mulai berkembang ketika ia memergoki Sam Hui tengah berada di luar kamarnya pada malam hari.
Gosip paling santer tentang Sam Hui adalah kabar bahwa diam-diam dia jatuh hati pada istri ketuanya. Entah siapa yang meniupkan kabar burung itu. Yang jelas, simpati Ketua Wu pada Sam Hui menjadi semakin berkurang. Sikap Ketua Wu semakin jelas terlihat dalam caranya menunjuk seseorang untuk menjemput Kui Fang. Biasanya ia selalu menunjuk Sam Hui untuk melaksanakan tugas yang berhubungan dengan keluarganya. Namun kali ini ia hanya menunjuk Wen Chiang.
Sebenarnya Wen Chiang sendiri tidak ingin melangkahi atasannya—dalam hal ini Sam Hui, namun ia tidak berdaya menolak perintah Ketua Wu.
Sesungguhnya semua anggota partai memang kebingungan dengan perilaku Sam Hui akhir-akhir ini. Sam Hui sering kedapatan menguping pembicaraan antara sesama anggota. Dan dalam setiap diskusi, Sam Hui selalu mengeluarkan perkataan yang agak menyinggung perasaan sebagian besar orang yang ada di ruangan itu.
Ketegangan semakin menjadi saat Nyonya Wu sakit keras.
Ketika Kui Fang pulang, suasana kaku memang menjadi sedikit mencair. Nyonya Wu pun berangsur-angsur pulih dari sakit yang dideritanya. Namun keadaan kembali lagi seperti semula hanya setelah beberapa hari Kui Fang kembali.
“Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan Sam Hui, Yun Cun.” Ketua Wu mengadakan pembicaraan rahasia dengan Wie Yun Cun di ruang rahasia dalam perpustakaannya.
“Ketua harus bertindak tegas!” kata Wie Yun Cun tajam.
“Tetapi Sam Hui itu sudah lama ikut denganku. Dia sudah seperti saudara kandungku sendiri. Mengapa dia melakukan semua ini? Apa yang terjadi dengan dirinya? Tiba-tiba saja dia berubah menjadi orang yang tidak kukenal,” keluh Ketua Wu kecewa.
“Manusia bisa berubah, Ketua,” ujar Wie Yun Cun datar. “Apalagi bila ada pengaruh dari uang atau perempuan.”
Ketua Wu mengerutkan keningnya.
“Mengenai isu bahwa Sam Hui diam-diam menyukai Nyonya... semua itu sudah tersebar luas, Ketua,” bilang Wie Yun Cun penuh arti.
“Tapi itu mustahil!” sergah Ketua Wu kesal. “Mana mungkin istriku seperti itu?”
“Bukan Nyonya yang bersalah, Ketua. Bagaimana bila semua ini Sam Hui sendiri yang merasakannya? Perselingkuhannya dengan Nyonya hanyalah dalam bayangannya sendiri saja.”
Ketua Wu menggeram.
“Sebaiknya Ketua mengadalan pertemuan secepatnya. Biar Sam Hui mengakui perbuatannya di hadapan semua anggota kita yang ada!” bilang Wie Yun Cun.
__ADS_1
Ketua Wu terdiam cukup lama.
“Itu bisa saja,” katanya akhirnya.
***
Pertemuan para anggota Partai Kupu-Kupu diadakan di aula besar partai. Semua anggota partai hadir dalam pertemuan itu, kecuali para penjaga pintunya. Mereka agak heran karena pertemuan ini diadakan secara mendadak oleh ketua mereka. Tidak seperti biasanya ketua mereka seperti itu.
Dalam pertemuan itu, hadir para tetua partai yang disegani. Hadir pula anak dan istri Ketua Wu yang duduk di kiri-kanannya.
“Hormat pada Ketua!” Semua orang berdiri dan memberi hormat.
Ketua Wu mengangkat tangan. “Kembalilah ke tempat duduk kalian masing-masing!” perintahnya berwibawa.
Semuanya segera duduk dan menunggu.
Lo Koai, salah seorang anggota tertua partai, berdiri. “Ketua, pertemuan kali ini begitu mendadak. Apa ada masalah?” tanyanya penuh hormat.
“Hm....” Ketua Wu mengangguk. “Tentu kalian tahu dengan jelas bahwa partai kita ini sedang berada dalam kondisi yang tegang selama dua bulan terakhir ini. Itulah masalah yang hendak aku bicarakan.”
“Aku ingin meminta penjelasanmu,” kata Ketua Wu tajam.
“Ketua, Anda mengenalku sejak lama sekali. Aku sudah berulang-kali membuktikan kesetiaanku pada Anda. Penjelasan apa lagi yang Anda inginkan?”
Ketua Wu menatap Sam Hui dan menghela napas. “Aku sendiri tidak ingin mempercayainya, Sam Hui. Tetapi perilakumu sendiri akhir-akhir ini sangat meresahkan. Kau muncul di mana saja dan menguping setiap pembicaraan yang dilakukan anggota kita. Kelakuan semacam ini sangat menyulitkan bagi mereka semua.”
“Aku minta maaf bila memang tingkah lakuku akhir-akhir ini meresahkan semua rekan lainnya. Tetapi apa yang kulakukan semata-mata demi keselamatan partai kita, Ketua.” Sam Hui mengatakan semuanya dengan tegas.
“Keselamatan partai? Memangnya kaupikir ada yang mengancam keselamatan partai kita?”
“Aku hanya menduganya,” kata Sam Hui pelan.
“Begitu?” sindir Wie Yun Cun sinis. “Jadi belum ada bukti yang pasti?”
__ADS_1
Sam Hui menoleh dan menatap gusar. “Aku akan segera mendapatkan bukti itu, Yun Cun. Tunggu saja!”
“Bisakah kau mengatakan padaku apa saja yang menjadi dasar kecurigaanmu?” sela Ketua Wu mencoba bijaksana.
Sam Hui menggeleng hormat. “Aku belum dapat mengatakannya.”
“Berarti jelas sudah!” sambar Wie Yun Cun. “Kau hanya mengada-ada, Sam Hui! Jangan-jangan yang mengancam keselamatan partai kita malah kau sendiri!”
Wajah Sam Hui merah padam. “Jaga mulutmu!” bentaknya, bersiap untuk menyerang.
Wie Yun Cun tidak mau kalah. Ia juga bersiaga.
“Hentikan!” perintah Ketua Wu tajam. “Apa kalian berdua sudah tidak memandangku sama sekali?”
Sam Hui dan Wie Yun Cun tidak berani menentang ketua mereka, maka mereka segera menenangkan diri.
“Aku berharap, partai kita ini selalu aman dan damai. Leluhur kita menetapkan bahwa keberadaan partai kita bukanlah untuk saling mengadu domba dan bersitegang, melainkan untuk melindungi semua anggotanya dari ancaman,” ucap Ketua Wu.
Semua anggota saling berpandangan. Namun taka da seorang pun yang berbicara.
“Sudahlah. Pembicaraan ini kita sudahi sampai di sini saja.” Ketua Wu berdiri dan meninggalkan ruangan itu diikuti istri dan anaknya.
Sebelum meninggalkan ruangan, Kui Fang melirik pada Sam Hui dan mencoba meminta maaf lewat sorot matanya. Sam Hui tersenyum, mencoba menenangkan nonanya agar tidak khawatir.
Wie Yun Cun mendengus ketika melewati Sam Hui.
Para anggota lainnya memandang Sam Hui dengan penuh kecurigaan. Ada pula yang menggeleng-geleng dan penuh kebimbangan. Anggota di bawah Wie Yun Chun menatap dengan sinis dan seolah jijik melihatnya.
Hanya Wen Chiang yang menghampirinya dan menepuk bahunya.
“Sudahlah, Tetua Sam. Jangan dipikirkan,” hibur Wen Chiang.
Sam Hui tersenyum berterima kasih. “Terima kasih, Wen Chiang.”
__ADS_1
Rapat hari itu dibubarkan tanpa mendapatkan penyelesaian apa-apa.
***