
Wisma Bambu diliputi suasana mencekam. Begitu suram dan sunyi. Aroma kematian masih dapat tercium dengan kental. Semua orang di sana diliputi kepedihan yang mendalam. Tak seorang pun berniat bicara sehingga keadaannya menjadi hening dan kelam.
Semua jenasah sudah dimakamkan. Jenasah Tuan dan Nyonya Luo dimakamkan di pemakaman keluarga Luo, bergabung dengan leluhur mereka yang lebih dahulu dimakamkan di sana. Sedangkan semua pelayan yang tewas dimakamkan di tempat yang tak jauh dari situ.
Sen Khang dan Meng Huan bekerja menguburkan semua jenasah tanpa dibantu oleh siapa pun. Mereka tidak menghubungi siapa pun, termasuk keluarga Ouwyang di Lembah Nada. Kepedihan terlalu dalam menusuk hati mereka sehingga mereka tidak mau membicarakannya lagi.
Sementara itu Ting Ting sendiri tidak bisa melakukan apa-apa. Ia terlalu sibuk menangis dan meratap. Menangisi keperawanannya yang terenggut, meratapi harga dirinya yang hilang. Ia tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Tak didengarnya semua hiburan yang diberikan Ouwyang Ping. Tahu apa dia? Dia tidak mengalami hal yang sama. Dia tidak tahu bagaimana sakitnya!
Mereka berkabung. Sen Khang berkeras tidak mau menghubungi keluarga bibinya. Ia sangat marah. Ia membenci Chien Wan, karena itu ia juga membenci seluruh keluarganya. Kebenciannya pula yang membuatnya tidak mau mempedulikan Ouwyang Ping yang masih berada di sana.
Selama itu, Meng Huan begitu penuh perhatian. Dia sangat dewasa. Dia sibuk mengurus segala hal. Dia mengalihkan segala tanggung jawab ke pundaknya. Dia menghibur Sen Khang, menghibur Ting Ting, bahkan juga membesarkan hati Ouwyang Ping. Ia meminta Ouwyang Ping untuk bersabar dan tidak mengambil hati semua kemarahan Sen Khang dan Ting Ting.
Meng Huan selalu menemani kedua bersaudara itu dan selalu berusaha membesarkan hati mereka. Dan setelah tenang, ia bahkan membujuk Sen Khang untuk menghubungi keluarga Ouwyang.
Sengaja Meng Huan mengajak Sen Khang ke perpustakaan agar pembicaraan mereka tidak didengar Ouwyang Ping dan Ting Ting.
“Ada apa, Meng Huan?” tanya Sen Khang dingin.
Meng Huan menghela napas. “Sekarang sudah beberapa hari orangtuamu meninggal, Sen Khang. Menurutku, sudah sepantasnya bila kita menghubungi keluarga bibimu dan memberitahunya tentang apa yang terjadi,” katanya lembut.
Kemarahan yang selama beberapa hari ini tertahan meledak mendengar usul itu.
“Apa?! Tidak!” teriak Sen Khang murka. “Mengapa aku harus menghubungi mereka? Apa aku juga harus bilang bahwa putra kesayangan mereka itu yang menghabisi nyawa 23 orang di Wisma Bambu, termasuk ayah dan ibuku? Apa aku juga harus bilang bahwa dia juga telah mencemarkan Ting Ting?”
“Tolong pelankan suaramu,” pinta Meng Huan cemas. “Jangan sampai Ting Ting dan Ping-er mendengarnya!”
Kemarahan Sen Khang semakin besar. “Ping-er!” bentaknya. “Dia juga sama saja! Dia adik si pembunuh keji itu! Aku ingin dia pergi dari sini!”
Sebelum Meng Huan menjawab, pintu terbuka dan masuklah Ouwyang Ping. Gadis itu tampak sedih, namun juga gusar. Ia menatap Sen Khang dengan penuh tekad. “Selama beberapa hari ini aku sudah memikirkannya. Kui Fang benar. Aku terlalu gegabah menuduh kakakku. Aku tidak bisa diam di sini lebih lama lagi menyaksikan kalian membencinya dan tidak melakukan apa-apa.”
“Ping-er, kau mau apa?” tanya Meng Huan cemas. Diliriknya wajah Sen Khang yang keras dan tanpa kompromi.
“Mencari bukti.”
Sen Khang terbahak-bahak seolah Ouwyang Ping mengatakan sesuatu yang lucu. “Bukti? Kau mau bukti yang bagaimana lagi? Jelas-jelas kakak kesayanganmu itu yang bersalah!”
__ADS_1
Ouwyang Ping mengangguk. “Dilihat bagaimana pun, Kakak Wan memang tampak bersalah. Namun aku menyadari sesuatu yang tidak beres.”
“Apa itu?” Mata Meng Huan menyipit.
“Motif. Apa yang mendasari perbuatan itu serta apa tujuannya. Kakak Wan tidak punya alasan untuk melakukan semua itu,” kata Ouwyang Ping tenang.
“Omong kosong!” sergah Sen Khang keras kepala.
“Dan mengenai Ting Ting...,” suara Ouwyang Ping melemah. “Kakak Wan tidak perlu menodainya untuk bisa memilikinya. Bukankah Ting Ting mencintainya?”
Sen Khang tersentak. Kakinya lemas sehingga ia harus memegangi mejanya supaya tidak terjatuh.
“Aku pergi dulu, Kakak Luo, Kakak Chi. Jika aku sudah menemukan penjelasannya, aku akan kembali. Jika benar kakakku bersalah, kalian boleh membalas dendam padanya. Dan padaku sekalian.” Ouwyang Ping keluar dari perpustakaan dan berkelebat meninggalkan Wisma Bambu.
Sen Khang terpaku dengan wajah pucat. Ia amat terpukul.
Diam-diam Meng Huan meninggalkannya.
***
Ia masih mengingat dengan jelas perasaannya kala melihat kedatangan Chien Wan hari itu. Ia sangat bahagia dan berbunga-bunga karena akhirnya pemuda pujaannya itu mau mendekatinya kala ia sedang sendirian. Ia berharap mereka bisa berbincang-bincang. Ia berharap Chien Wan akan menyatakan perasaannya seperti yang selalu dikhayalkannya selama ini.
Tidak disangka, Chien Wan menyerangnya!
Chien Wan menyerangnya dengan brutal dan kejam. Perbuatannya sungguh keji dan tak mengenal ampun. Ting Ting menangis dan memohon berulang-ulang supaya Chien Wan berhenti, namun permohonannya hanya dianggap angin lalu. Pemuda itu bahkan tertawa melihatnya menangis. Dan setelah selesai, meninggalkannya begitu saja dalam keadaan kesakitan.
Ting Ting sangat terpukul. Mengapa pemuda yang selama ini sangat dicintainya tega melakukan semua itu? Mengapa pemuda itu menodainya, padahal selama ini ia selalu menolak cintanya? Mengapa pula membunuh orangtuanya yang telah begitu baik pada Chien Wan dan menganggapnya seperti anak sendiri?
Cinta Ting Ting pun lenyap dan berubah menjadi benci!
Pintu kamarnya terbuka. Ting Ting menegang dan menoleh dengan takut. Hatinya lega karena Meng Huan-lah yang datang.
“Kakak Huan.”
Meng Huan mendekat dengan prihatin.
__ADS_1
“Aku membawakan bubur untukmu, Ting Ting. Mungkin kurang enak karena aku sendiri yang memasaknya. Tapi lebih baik daripada tidak sama sekali. Kulihat sejak tadi malam kau hampir tidak makan apa-apa,” kata Meng Huan sambil meletakkan baki yang dibawanya.
Ting Ting mengusap air matanya. “Kau yang masak? Mana Ping-er?”
“Dia pergi.”
Ting Ting memalingkan muka. “Bagus dia pergi! Aku tidak mau dia di sini!”
“Jangan begitu, Ting Ting. Dia tidak bersalah,” tegur Meng Huan tegas.
Ting Ting tidak menyahut. Ia terisak kembali. Selama tujuh hari ini wajahnya telah banyak berubah. Parasnya yang dahulu begitu cantik dan mempesona, kini pucat dan sangat lesu. Tubuhnya kurus. Ia tampak penuh duka hati. Batinnya menderita. Sebagai seorang gadis, ia telah cacat karena kehilangan kesuciannya. Dan dalam waktu yang bersamaan, ia juga kehilangan orangtuanya.
Meng Huan memandangnya dengan perasaan iba.
“Aku mengerti perasaan kalian menyangkut Guru dan Bibi. Perasaanku juga sama pedihnya. Aku menyesal karena tidak bisa melakukan apa-apa untuk meringankan deritamu terhadap masalah yang satu itu karena aku bukan perempuan. Tetapi kau boleh percaya padaku. Aku juga begitu terpukul melihat deritamu, Ting Ting. Kau tahu bagaimana perasaanku padamu. Melihatmu begini menderita padahal yang kuinginkan hanyalah kebahagiaanmu,” bilang Meng Huan panjang lebar.
Ting Ting terus menangis.
Meng Huan menghela napas dan mendekat. Dibelainya rambut Ting Ting sambil memandanginya dengan lembut dan penuh kasih.
“Jangan menangis sendirian lagi,” bisiknya halus.
Ting Ting hanya mampu menunduk dan terus menangis sampai bahunya berguncang.
“Bila kau ingin menangis, menangislah di dadaku. Aku akan selalu menghiburmu, menjagamu, dan melindungimu dari segala bahaya.” Meng Huan mengelus bahu gadis itu.
Ting Ting membiarkan Meng Huan menariknya dan memeluknya. Ting Ting menangis di dada Meng Huan yang bidang dan hangat. Kini ia baru merasakan kasih sayang Meng Huan yang begitu tulus terhadapnya. Ia merasa bahwa selama ini ia telah buta. Bagaimana ia bisa mencintai orang yang kejam macam Chien Wan dan mengabaikan ketulusan cinta Meng Huan?
Namun mendadak Ting Ting tersentak. Ia menarik diri dari pelukan Meng Huan. “Jangan... Jangan bersikap begini baik padaku, Kakak Huan!” desisnya panik. “Aku sudah kotor!”
Meng Huan terpana dan menggeleng kuat-kuat. “Jangan begitu.”
“Aku sudah ternoda! Aku kotor! Aku cacat!” isak Ting Ting memilukan.
“Ting Ting!” hardik Meng Huan tegas. “Jangan berkata seperti itu. Kau adalah gadis yang baik. Di mataku, kau sempurna! Jangan pernah berkata bahwa dirimu kotor lagi!”
__ADS_1
Ting Ting terhenyak di kursinya sambil menutupi muka.