Suling Maut

Suling Maut
Luo Ting Ting Mengandung


__ADS_3

Ouwyang Ping dan Sui She menunggui Ting Ting di kamarnya. Mereka bergantian mengganti kompres di kening Ting Ting yang suhu badannya mendadak meninggi setelah histerisnya tadi.


Tak berapa lama, Ting Ting terjaga dari tidurnya. Ia melihat kedua perempuan yang tengah menjaganya dengan penuh kasih sayang. Sepasang matanya langsung merebak melihat bibi dan sepupu yang selama 40 hari ini selalu dipikirkannya dengan penuh kebencian. Kebencian yang ternyata keliru. Ia sangat malu.


Sui She tersenyum gembira. “Kau sudah bangun, Ting Ting?” sapanya lembut.


“Bibi....”


Ting Ting bangkit dengan lamban karena kepalanya pusing. Ouwyang Ping membantunya sampai ia duduk dengan bersandar pada kepala tempat tidur.


“Bibi!” Ting Ting terisak penuh duka bercampur penyesalan.


Sui She memeluk gadis yang memelas itu erat-erat. Air matanya berderai. Ia tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Hanya tangannya yang sibuk membelai-belai rambut Ting Ting, penuh kasih sayang.


Ouwyang Ping mundur dan memperhatikan mereka berdua. Ia menyeka air mata yang menggenang di sudut matanya. Keharuan merebak di hatinya. Ia amat iba pada Ting Ting.


Akhirnya Ting Ting meredakan tangisnya.


“Ma... maafkan aku.... Aku telah mengira....” Ting Ting mencoba mengatakan penyesalannya yang mengguncangkan hatinya. Ia telah salah menilai dan membenci Chien Wan. Ia telah keliru.


“Jangan minta maaf, Anakku. Kau sama sekali tidak bersalah,” bilang Sui She sedih.


Ting Ting menghela napas penuh isakan sebelum menoleh ke arah Ouwyang Ping. Penyesalan kembali melanda hatinya kala teringat kekasaran sikapnya dulu. Ia tidak mau menerima hiburan dari Ouwyang Ping, bahkan selalu mengusirnya jauh-jauh. Padahal dalam hatinya, ia membutuhkan hiburan itu.


“Ping-er....”


Ouwyang Ping mendekat dan meraih tangan Ting Ting yang dingin.


Ting Ting menggigit bibirnya. “Aku... aku bersalah padamu. Aku sangat... kasar... dan....”


Remasan tangan Ouwyang Ping menguat. “Jangan berkata begitu. Aku memahami keadaanmu. Tidak ada yang menyalahkanmu, Ting Ting.”


“Aku... aku... mengandung anak haram...!” Tangis Ting Ting kembali meledak.


“Sssst!” Sui She memeluknya lagi. “Jangan bilang begitu.”


“Aku tidak mau anak ini!” seru Ting Ting pilu.


“Kau mau menggugurkannya?” bisik Ouwyang Ping serius. “Kau yakin bisa menanggung akibatnya?”


Ting Ting tertegun. “A... akibatnya...?”


“Apa kau tidak akan merasa berdosa menggugurkan anakmu sendiri?” tanya Ouwyang Ping.

__ADS_1


Ting Ting terpana, tak bisa menjawab. Otaknya sibuk berputar sampai-sampai kepalanya terasa mau pecah. Ouwyang Ping benar. Anak ini memang anak penjahat. Tapi sebagian darinya merupakan benihnya. Tegakah dia membuang anaknya sendiri?


“Jadi apa yang harus kulakukan?” tanya Ting Ting sedih.


“Maukah kau melahirkan anakmu? Setelah itu... kita akan lihat bagaimana jadinya nanti,” usul Ouwyang Ping hati-hati.


Ting Ting menunduk. Digigitnya bibirnya dengan hati sedih.


Sui She dan Ouwyang Ping ikut membisu.


Beberapa saat lamanya mereka bertiga diam dengan pikiran masing-masing. Tak ada yang mencoba bicara sebelum Ting Ting sendiri memutuskan untuk bicara. Mereka tidak mau mencoba mempengaruhi Ting Ting dengan perkataan apa-apa lagi. Keadaan ini sudah terlalu berat untuk ditanggung oleh gadis semuda Ting Ting.


Akhirnya Ting Ting membuka mulutnya.


“Aku... Aku akan mencoba mengandung anak ini!”


Ouwyang Ping dan Sui She berpandangan.


***


Fei Yu meninggalkan kamar Ting Ting dan pergi menuju taman belakang. Ia diikuti oleh A Nan yang tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia teramat sangat sedih dan menderita melihat keadaan Ting Ting. Beberapa saat kemudian, A Nan meninggalkannya karena ingin melihat kalau-kalau mereka semua membutuhkan bantuannya.


Untuk beberapa saat lamanya ia terpekur di sana. Berdiri dalam kegelapan malam. Ia tidak berniat kembali ke ruang dalam untuk bergabung dengan yang lainnya. Ia belum siap untuk bertemu dengan mereka semua. Perasaannya masih teramat kacau, campuran antara sedih, marah, dan tersinggung.


Fei Yu geram sekali.


Setelah melamun selama beberapa saat, ia kembali ke rumah induk dan pergi ke dekat kamar Ting Ting. Kala itu waktu sudah berlalu beberapa lama. Malam sudah semakin larut dan semua orang sudah tidur.


Tepat saat ia sedang melintas, pintu kamar Ting Ting terbuka dan Ouwyang Ping keluar sambil menutup pintu pelan-pelan.


Fei Yu berhenti dan menunggu sampai gadis itu berbalik.


“Fei Yu?”


“Apa... dia baik-baik saja?” tanya Fei Yu sambil menganggukkan kepalanya ke arah pintu kamar Ting Ting.


Ouwyang Ping mengangguk. “Sekarang dia sudah tidur lagi. Ibuku menungguinya.”


“Oh.”


“Kau begitu memperhatikan Ting Ting,” kata Ouwyang Ping.


“Salahkah?” ketus Fei Yu.

__ADS_1


“Tidak. Tentu saja tidak.” Ouwyang Ping menggeleng. “Tetapi serba salah bila kau memperlihatkannya di hadapan Kakak Chi. Dia sangat cemburu padamu.”


“Tidak perlu! Toh Ting Ting juga tidak suka padaku,” tukas Fei Yu kesal.


“Itu tidak benar,” geleng Ouwyang Ping. Ia menepuk tangan Fei Yu dengan akrab seperti terhadap saudara laki-lakinya. “Sebenarnya Ting Ting juga suka padamu. Dia hanya tidak pernah menampakkannya saja.”


“Benarkah?” Mata Fei Yu mulai bersinar.


Ouwyang Ping tertawa kecil. “Entahlah.”


Fei Yu merengut lagi. Ia mengawasi langkah ringan Ouwyang Ping yang meninggalkannya. Ia sendiri segera meninggalkan tempat itu untuk menuju kamar tamu yang tadi sudah dipersiapkan A Nan untuknya.


Mereka tak menyadari bahwa ada sepasang mata tajam mengawasi mereka. Pemilik sepasang mata itu bukan lain adalah Sen Khang.


Sen Khang datang untuk memeriksa keadaan adiknya, sekaligus untuk meminta Ouwyang Ping bicara dengannya. Dengan sepenuh hati ia bermaksud memohon maaf atas segala tuduhan dan kekasaran sikapnya selama ini. Namun ia membatalkan niatnya manakala melihat gadis itu berbincang-bincang dengan Fei Yu.


Ia memperhatikan mereka berbincang-bincang. Namun karena ia menyaksikannya dari kejauhan, ia tidak bisa mendengar percakapan mereka. Ia hanya melihat Ouwyang Ping menyentuh lengan Fei Yu dengan sangat akrab dan lembut dan ia langsung menyimpulkan sendiri.


Hatinya sedih melihat Ouwyang Ping tersenyum begitu lembut kepada Fei Yu. Sebab sewaktu bersamanya dulu, jarang sekali Ouwyang Ping tersenyum. Sekalinya tersenyum, selalu tampak sedih dan terpaksa.


Dengan muram ia menyadari, ia mungkin sudah kehilangan kesempatan untuk bisa bersama Ouwyang Ping setelah peristiwa itu. Bukan tidak mungkin sekarang ini Ouwyang Ping tengah menjalin hubungan dengan Fei Yu. Bukankah mereka bersama-sama menjalankan rencana sandiwara untuk menyadarkan dirinya?


Dengan hati bergejolak, Sen Khang menuju kamar Ting Ting.


***


Ting Ting terlelap di tempat tidurnya. Bahkan dalam tidur pun, air mata menggenang dari sudut matanya. Wajahnya pucat dan kurus, begitu mengibakan. Sesekali terdengar isakannya.


Luo Sui She menyeka air matanya, lalu membelai kepala Ting Ting. “Tidurlah dengan tenang, Ting Ting. Bibi akan menjagamu,” bisiknya penuh kasih saying.


Pintu kamar terbuka dan masuklah Sen Khang.


“Bibi,” sapanya pelan.


“Sen Khang,” sahut Sui She. “Ting Ting agak demam, tadi Bibi sudah memberinya obat penurun panas. Semoga besok pagi, demamnya turun.”


“Bibi istirahatlah. Biar aku yang menjaga Ting Ting.”


Sui She tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Tidak apa. Biar Bibi di sini juga. Kamu laki-laki, biarpun dia adikmu, dia akan merasa risih jika harus meminta tolong padamu.”


Sen Khang tidak memaksa. Dia duduk di kursi meja rias Ting Ting. Ia ingin mengatakan sesuatu, namun terasa berat.


Sui She pun tidak mengatakan apa-apa. Ia mengerti perasaan keponakannya itu.

__ADS_1


***


__ADS_2