
Chi Meng Huan tergeletak di atas pembaringan di dalam sebuah kamar yang luas. Ia terluka cukup parah oleh serangan Tuan Ouwyang yang tak bisa dicegahnya. Lukanya membuat Cheng Sam terpaksa harus mundur sejenak dan membawa putranya ke tempat sahabatnya di perbatasan.
Sahabat Cheng Sam adalah seorang Khitan bertubuh jangkung. Orang Khitan itu menguasai ilmu silat dan sihir serta ilmu pengobatan. Ia tidak terkenal di Dunia Persilatan karena memang tak pernah membiarkan siapa pun tahu keberadaannya. Karena menyukai Cheng Sam, ia mau menolong putra Cheng Sam. Ia juga yang mengajarkan ilmu sakti kepada Chi Meng Huan.
Ia mengenal Cheng Sam saat mereka masih sama-sama muda. Ia mengetahui jalinan asmara antara Cheng Sam dengan Ho Chui Lan. Cheng Sam seringkali mengeluh kepadanya betapa sulitnya hubungannya dengan Ho Chui Lan, betapa keluarga Ho Chui Lan memandang rendah kepadanya, serta betapa menderitanya Ho Chui Lan karena harus menikahi orang bermarga Chi itu.
Orang Khitan itu bernama Tonggu. Dia keturunan bangsawan Khitan yang memilih untuk mengasingkan diri karena semasa mudanya ia kalah bersaing dengan Raja Khitan yang sekarang memerintah. Persahabatannya dengan Cheng Sam berawal dari terlukanya dirinya saat melawan tantara Khitan yang ditugaskan menangkapnya. Cheng Sam; yang saat itu sedang berkelana di perbatasan Tionggoan dan Khitan, bertemu dengannya dan membantunya menyembunyikan diri dari kejaran tantara. Selama beberapa hari Cheng Sam merawatnya hingga dia pulih. Itulah sebabnya ia merasa berhutang budi pada Cheng Sam dan bersedia membantu Cheng Sam mencapai tujuannya.
Cheng Sam memperkenalkan Chi Meng Huan pada Tonggu saat Chi Meng Huan masih berusia 13 tahun. Setiap malam, Tonggu datang ke tempat pertemuan rahasia mereka untuk menggembleng Chi Meng Huan dengan ilmu-ilmu tingkat tinggi. Salah satunya adalah Tendangan Penghancur Jiwa.
Setiap Tonggu datang, tak jarang Cheng Sam juga ikut serta. Cheng Sam menungguinya berlatih. Saat Chi Meng Huan sedang beristirahat atau bersemedi, Cheng Sam selalu mengocehkan hal-hal yang membangkitkan ambisinya. Cheng Sam selalu menjelek-jelekkan Dunia Persilatan. Cheng Sam juga berulangkali mengatakan bahwa kasih sayang Keluarga Luo padanya tidaklah tulus. Bahwa Keluarga Luo selalu pilih kasih, tidak memberikan perlakuan yang adil terhadap Chi Meng Huan. Bahkan pelayan macam Chien Wan saja mendapatkan perlakuan yang lebih baik darinya.
Awalnya Chi Meng Huan tidak berniat untuk mengkhianati Keluarga Luo. Dia senang mendapat ilmu-ilmu sakti, namun tidak bermaksud untuk melukai keluarga yang sudah begitu baik kepadanya. Chi Meng Huan pun tidak pernah merasa dekat dengan Cheng Sam yang mengaku sebagai ayahnya.
Namun iri dan dengki hatinya kepada Chien Wan membuat pikirannya berubah. Ia memperhatikan sikap gurunya terhadap Chien Wan, terutama sejak jati diri Chien Wan terkuak. Ia merasa diperlakukan tidak adil. Ia pun menjadi kejam.
Sejak dikuasai oleh kebencian, Chi Meng Huan pun menjadi tidak ragu-ragu untuk menyakiti siapa saja. Chi Meng Huan juga memanfaatkan siapa saja, dan salah satunya adalah A Ming. Ia memanfaatkan kecemburuan A Ming. Dan pada akhirnya ia memanfaatkan perasaan A Ming yang ternyata jatuh cinta kepadanya.
Setelah beberapa hari, Chi Meng Huan pun mulai pulih. Ia memaki-maki Cheng Sam dan anak buahnya.
“Dasar goblok!” bentak Meng Huan murka. “Kalian sungguh tak berguna! Menghalangi Chien Wan dan teman-temannya saja tak bisa! Dan mengapa kalian tidak menahan A Ming supaya perempuan itu tidak bicara macam-macam!”
“Anakku, kau masih terluka.” Cheng Sam khawatir dan berusaha menenangkan anaknya.
Namun Chi Meng Huan mendorong ayahnya. “Minggir!”
“Meng Huan!” tegur Tonggu.
Meng Huan berusaha bangkit, namun ia terhempas duduk kembali sambil memegangi dadanya yang nyeri. “Mengapa dadaku masih sakit? Ilmu apa yang dipakai Tua Bangka itu?” serunya marah.
__ADS_1
“Ilmu pusaka Lembah Nada yang sangat terkenal, Ilmu Genderang Surgawi.”
Meng Huan mengernyit. Selama ini ia tak pernah mendengar ilmu itu.
“Ilmu itu hanya bisa diturunkan kepada satu orang dari tiap generasi. Sungguh aneh memang, mengapa Ouwyang Cu tidak mengajarkan ilmu itu kepada putranya. Seharusnya ada satu orang dari tiap generasi keluarga Ouwyang. Dari ayah ke putra atau putri,” gumam Tonggu sambil mengelus jenggotnya.
“Ouwyang Chien Wan sudah terluka parah olehmu, Nak. Dia takkan bisa disembuhkan lagi!” Cheng Sam menyela.
Meng Huan mendengus. “Ilmu Tendangan Penghancur Jiwa milikku akan memporakporandakan Chien Wan!”
“Kau benar,” angguk Tonggu serius. “Kau menyerangnya secara mematikan. Hanya keberuntungan saja yang bisa menyelamatkan nyawanya sekarang. Namun kau juga beruntung, Meng Huan. Ilmu Genderang Surgawi bisa membunuhmu seketika. Untung Ouwyang Cu tidak mengerahkan seluruh tenaganya dan yang diserangnya juga bukan daerah mematikan. Kalau kau sial, isi perutmu sudah hancur sekarang!”
Meng Huan menggeram, namun tidak membantah. Dadanya memang luar bisa nyeri sekarang.
“Sekarang ini kau harus memulihkan luka dalammu,” lanjut Tonggu. “Dengan keadaanmu sekarang ini, kau hanya bisa mengerahkan sekitar 50 persen dari kemampuanmu. Jelas itu tidak cukup kuat untuk melanjutkan rencana kita.”
“Jadi berapa lama sampai aku sembuh?”
“Brengsek!” Chi Meng Huan menggeram dan menggebrak meja. Gerakannya ini membuatnya meringis menahan sakit. Seketika wajahnya memucat.
“Hati-hati, anakku!” Cheng Sam menepuk bahu Chi Meng Huan, yang langsung ditepiskan olehnya.
“Aku takkan pernah membiarkan mereka merasa tenang,” gumam Chi Meng Huan, tangannya mengepal erat hingga urat-uratnya bermunculan. “Ouwyang Chien Wan… kau harus mati di tanganku!”
Karena luka dalam yang diderita Meng Huan, Cheng Sam dan anak buahnya membatalkan rencana mereka untuk membuat rusuh Dunia Persilatan. Mereka menundanya sampai Meng Huan pulih. Setelah Meng Huan sembuh, barulah mereka bergerak. Dengan Meng Huan yang hebat sebagai pemimpin mereka, mereka yakin bisa menguasai Dunia Persilatan, dan akhirnya seluruh Daratan Tionggoan!
***
Pulau Ginseng merupakan sebuah pulau kecil yang diberkahi dengan tanah yang sangat subur. Ribuan jenis tanaman tumbuh di sana. Tanaman-tanaman yang tidak terdapat di tempat lain tumbuh dengan subur di pulau ini. Semua jenis tanaman ada di sana, namun yang paling banyak adalah tanaman obat-obatan. Bukan hanya itu, semua tanaman yang mengandung racun juga ada di sana. Seseorang tidak bisa masuk ke pulau itu seorang diri karena bisa saja dia akan memakan berbagai buah yang kelihatan menggiurkan, yang sesungguhnya mengandung racun mematikan.
__ADS_1
Pulau tersebut dinamakan Pulau Ginseng karena tepat di tengah pulau, tumbuh bermacam-macam jenis ginseng yang aneh-aneh, yang konon berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit dan menambah tenaga dalam. Bahkan ada kisah yang menyebutkan bahwa entah di mana di bagian pulau itu, ada tanaman ginseng yang berumur sepuluh ribu tahun, yang bila dikonsumsi akan menimbulkan energi yang luar biasa.
Tentu saja sampai saat ini, ginseng tersebut belum pernah ditemukan sehingga orang-orang yakin bahwa itu hanya kabar burung semata.
Saat ini Pulau Ginseng dihuni oleh Pai Tin Fung, seorang ahli pengobatan yang namanya mengharum sebagai Dewa Obat. Keahliannya dalam hal pengobatan tidak ada duanya. Semasa muda, ia mengembara ke seluruh pelosok negeri untuk menyelidiki berbagai macam obat dan racun yang terdapat di mana-mana. Sampai akhirnya ia menemukan pulau subur yang penuh dengan tanaman obat dan racun ini, dan diakuinya sebagai miliknya.
Pada waktu muda, Dewa Obat bersahabat baik dengan Ouwyang Cu yang pada waktu itu belum menjadi Majikan Lembah Nada. Hubungan persahabatan mereka begitu baik sehingga sering melakukan pengembaraan berdua. Namun hubungan mereka memburuk karena suatu masalah.
Keduanya jatuh cinta pada seorang gadis yang luar biasa cantik dan cerdas. Gadis itu sendiri tak dapat memutuskan pilihannya karena kedua pemuda yang mencintainya sama-sama memiliki keistimewaan. Akhirnya ia meminta mereka berdua saja yang memutuskan siapa yang paling berhak atas dirinya.
Ouwyang Cu muda dan Pai Tin Fung muda berdiskusi dengan panas. Mereka masing-masing merasa paling pantas mendapatkan gadis itu. Akhirnya karena diskusi mereka tak juga mencapai kata sepakat, mereka memutuskan untuk mengadu ilmu silat.
Kepandaian keduanya berimbang. Ouwyang Cu muda memiliki kesaktian luar biasa sebagai calon pewaris Lembah Nada. Namun ternyata Pai Tin Fung muda bukan hanya ahli dalam hal pengobatan, melainkan juga ilmu silat.
Pertarungan mereka berlangsung dua hari dua malam. Pada saat itu Ouwyang Cu belum menguasai Ilmu Genderang Surgawi dengan sempurna, maka ia kewalahan menghadapi kesaktian temannya yang lebih sering mengembara ketimbang dirinya. Akhirnya ia terpaksa harus mengakui keunggulan Pai Tin Fung.
Ouwyang Cu muda terus menggerutu karena dikalahkan oleh sahabatnya sendiri. Ia menerima kekalahannya namun tak rela menyerahkan gadis yang dicintainya. Akibatnya ia menjauh dan memusuhi temannya itu.
Celakanya, ternyata gadis itu diam-diam mengharapkan kemenangan berada di tangan Ouwyang Cu. Maka ketika Pai Tin Fung menang, ia sangat kecewa dan mengatakan perasaannya yang sebenarnya. Pai Tin Fung sangat gusar dan menyalahkan Ouwyang Cu.
Ouwyang Cu terlalu sportif untuk mau menerima gadis yang seharusnya menjadi milik sahabatnya. Maka ia menolak gadis itu dan menerima perjodohan dirinya dengan putri bangsawan—yang kelak menjadi ibu Ouwyang Kuan.
Akhirnya tak ada seorang pun dari mereka yang mendapatkan gadis itu.
Pai Tin Fung tak pernah menikah karena tak bisa mengalihkan cintanya pada gadis lain. Gadis itu pun tak pernah menikah karena cintanya pada Ouwyang Cu tidak pernah padam. Ouwyang Cu sendiri tidak pernah bahagia dengan perkawinannya.
Tiga orang yang luar biasa harus menderita dan berseteru karena cinta.
Menyakitkan!
__ADS_1
***