TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 2 S2. Tak Suka Diikuti


__ADS_3

Saat ini Dita anaknya Reno dan Yuni juga bersekolah di tempat Axel. Walau usia mereka terpaut satu tahun, tapi mereka sekolah dengan tingkat yang sama karena Dita yang terlalu cepat masuk sekolah. Itu karena waktu TK dia menangis ingin sekolah di tempat Axel.


Axel duduk di meja belajarnya dan berusaha fokus pada pelajarannya, tetapi pandangannya terus tertuju pada Dita yang duduk tepat di belakangnya. Gadis itu selalu mengikuti Axel di sekolah, bahkan ketika pria itu mencoba untuk menghindar.


Axel menggelengkan kepalanya ketika Dita mulai berbisik-bisik padanya. "Apa yang kamu pelajari?" tanyanya dengan sedikit kesal.


"Matematika," jawab Dita sambil menyeringai. "Aku tidak suka pelajaran ini, jadi aku hanya mengamati kamu saja."


Axel menggeram. "Kenapa kamu tidak belajar saja?" serunya dengan berapi-api.


"Kamu lebih menarik," jawab Dita. "Aku suka mengamati kamu ketika kamu bekerja atau belajar."


Axel menatap gadis itu dengan tidak sabar. "Maaf, tetapi aku tidak suka jika kamu mengikuti aku di sekolah," katanya dengan tegas. "Aku ingin punya waktu untuk fokus pada pelajaranku dan tidak terganggu."


Dita mengangguk dan mengerutkan bibirnya sedikit. "Maafkan aku, Axel," katanya dengan sedih. "Aku hanya ingin berteman denganmu."

__ADS_1


Axel mengedarkan matanya dan melihat sekeliling. "Kamu bisa mencari teman yang lain." Jawabnya. "Aku yakin kamu punya banyak teman selain aku."


Dita menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak punya banyak teman selain kamu," ujarnya dengan jujur. "Kita selalu bersama sejak aku masih kecil, jadi aku merasa nyaman denganmu."


Axel merasa sedikit terharu mendengarnya, tetapi dia masih tidak menyukai fakta bahwa Dita terus mengikutinya di sekolah. Dia merasa terganggu dengan keberadaannya yang selalu membuntuti di mana pun dia pergi.


Saat bel pelajaran berbunyi, Axel berdiri dan membawa buku-bukunya. Saat dia berjalan pergi, Dita mengikuti di belakangnya.


Axel melompat dan menoleh pada Dita. "Sudah cukup, Dita!" serunya dengan kesal. "Aku tidak ingin kamu mengikuti aku di sekolah atau ke mana pun aku pergi. Kamu membuatku tidak nyaman."


"Kamu bukan anak kecil lagi, cobalah bergaul dengan yang lain, Dita," bisik Axel dengan sedih. "Ayo, bangun dan cari teman baru yang akan membuatmu bahagia."


Dita mengangguk dan kemudian berjalan pergi dengan kepala tertunduk.


Di rumah, ayah Axel bertanya mengapa dia kesal dan Axel menceritakan tentang Dita yang selalu mengikutinya di sekolah.

__ADS_1


Ayahnya mengerti dan mengajak Axel untuk mempertimbangkan perasaan Dita. "Dia selalu mengagumimu, Axel," ujarnya dengan lembut. "Mungkin kamu bisa mencari cara untuk membantunya menemukan teman yang baru."


"Dia bukan anak kecil lagi. Seharusnya bisa mencari teman sendiri!" jawab Axel masih dengan kekesalannya.


Rachel yang baru selesai membersihkan meja bekas makan malam, menghampiri putranya. Memeluk pundak pria itu.


"Kamu seharusnya mengerti jika Dita itu dari kecil terbiasa denganmu. Apa salahnya dia selalu mengikuti kamu?" tanya Rachel dengan lembut.


"Aku tidak suka, Ma. Nanti teman-teman mengira dia pacarku. Aku juga ingin berteman dengan yang lain. Jika dia terus mengikuti kemana aku pergi, bagaimana aku bisa bermain dengan yang lain. Selama ini aku tidak keberatan, tapi kali ini aku mau papa dan mama bicarakan ini dengan Dita atau Tante Yuni," ucap Axel lagi.


"Apa kamu merasa terganggu karena ada wanita lain yang kamu suka?" tanya Rachel.


Axel hanya diam membisu. Dia memang ingin mendekati salah satu teman sekelasnya. Semua menjadi sulit karena Dita yang selalu mengikuti kemana dia pergi.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2