
Gafi melihat Reno, ayahnya Dita duduk di bawah pohon di halaman kos gadis itu saat mengantarnya pulang. Dia lalu menghampiri pria itu.
"Selamat Sore, Om," sapa Gafi begitu berada dihadapan ayah Dita itu.
"Selamat Sore, Gafi," balas Reno.
Gafi lalu duduk di samping pria itu. Dita langsung memeluk dan mencium pipi cinta pertamanya. Reno membalas mengecup pipi putrinya.
"Cantik banget putri Ayah hari ini? Dari mana tadi?" tanya Reno.
Pertanyaan ayahnya itu mampu membuat wajah Dita memerah karena menahan malu. Dia melirik ke arah Gafi. Pria itu tertunduk karena malu.
"Tentu saja aku cantik, karena aku seorang wanita. Ayah dan Gafi itu baru ganteng," ucap Dita mengalihkan pembicaraan sang ayah.
Dita membuatkan dua gelas jus jeruk untuk ayahnya dan Gafi, mereka bertiga duduk sambil mengobrol. Tentang apa saja.
Reno telah mengetahui jika putrinya pergi dengan Gafi, sehingga dia tidak begitu terkejut saat melihat Gafi. Keduanya berbagi cerita. Tampak Gafi begitu mudah berbaur dengan Reno.Setelah hari menjelang magrib, barulah Gafi pamit.
"Om, aku pamit dulu," ucap Gafi.
"Om besok akan kembali ke Jakarta. Om titip Dita. Jika ada sesuatu jangan sungkan hubungi Om," ucap Reno.
__ADS_1
"Baik, Om. Aku akan menjaga Dita seperti Om menjaganya," jawab Gafi. Dia lalu menyalami dan mencium tangan Reno. Dia titip salam untuk Yuni, karena ibunya Dita itu sedang berada di kamar mandi.
Dita mengantar hingga ke mobil. "Aku pulang, besok biar aku saja yang antar ayah dan ibu ke bandara."
"Biar naik taksi saja, Kak. Nanti merepotkan," ujar Dita.
"Aku tidak pernah merasa direpotkan. Atau kamu yang merasa terganggu jika aku sering dekatmu?" tanya Gafi.
"Tidak, Kak. Aku senang dekat Kakak, Kok. Baiklah, besok jam 10 Kak Gafi bisa ke sini. Hati-hati," ucap Dita dengan tersenyum.
Gafi hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Dia lalu melambaikan tangannya ke Reno sebelum meninggalkan halaman kos Dita.
Setelah makan malam, Dita dan kedua orang tuanya menonton televisi. Dita meletakan kepalanya di paha sang ayah.
Ibu Yuni memandangi putrinya, Dita, dengan tatapan tajam saat ia tiba-tiba bertanya, "Dita, ada hubungan apa antara kamu dan Gafi?"
Dita merasa terkejut dengan pertanyaan mendadak tersebut, namun ia mencoba untuk tetap tenang. "Tidak ada hubungan apa-apa, Bu," jawabnya singkat.
"Tapi, kamu menghabiskan waktu bersamanya dan banyak berbicara dengan Gafi," tanya Ibu Yuni mencoba menggali informasi lebih lanjut.
"Sekali lagi, tidak ada hubungan spesial antara kami," ulang Dita, kali ini dengan sedikit frustrasi.
__ADS_1
Ibu Yuni mengangguk, namun ia masih belum yakin. "Apakah kamu yakin tidak ada yang kamu sembunyikan dari kami?"
Dita merasa tertekan dengan pertanyaan tersebut karena ia memang merasa tidak menyimpan sesuatu. Antara dirinya dan Gafi memang hanya teman biasa. Bagi Dita, pria itu tidak lebih dari sekadar sahabat.
"Tidak ada hubungan apa pun, Bu. Cuma Kak Gafi selalu membantuku. Dia juga yang menemani aku jika aku perlu mencari sesuatu. Aku hanya menganggapnya sebagai teman dan sekaligus Kakak, tidak lebih," jaeab Dita.
Reno hanya diam mendengar ibu dan anak itu bicara. Dia mengusap kepala putrinya.
Ibu Yuni merasa sedikit tenang mendengar alasan tersebut, namun ia tetap tidak sepenuhnya yakin. "Tapi, teman biasanya tidak menghabiskan waktu setiap hari bersama-sama dan menawarkan bantuan setiap saat."
"Ma, Gafi adalah teman dekatku. Seperti teman pada umumnya, kami saling membantu dan mendukung satu sama lain," berkata Dita dengan agak lelah karena merasa terus-menerus harus membela hubungannya dengan Gafi.
Ibu Yuni mengangguk, tetapi baik ia maupun Dita tahu bahwa jawaban tersebut tidak membantu membuka pikirannya. Ibu Yuni merasa bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Dita.
"Sudahlah, Bu. Dita sudah menjawab berapa kali jika dia dan Gafi tidak memiliki hubungan apa pun. Pasti putri kita saat ini hanya fokus pada pendidikannya. Dan ayah rasa itu lebih baik, dari pada memikirkan hal lainnya," ucap Reno menengahi.
"Ibu senang melihat sikap Gafi yang dewasa," ucap Yuni dengan lirih.
Dita yang merasa kurang nyaman dengan pertanyaan ibunya mencoba memejamkan mata agar Yuni tidak bertanya lagi. Saat ini gadis itu tidak tahu perasaan apa yang ada dihatinya untuk pria itu. Dia merasa nyaman jika bersama dengan Gafi, tapi untuk membuka hatinya, bagi Dita belum waktunya. Dia masih trauma dengan kisah cintanya yang bertepuk sebelah tangan dengan Axel dulu.
...----------------...
__ADS_1