
Suara adzan terdengar menggema, Farhan bangun dari tidurnya untuk melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim. Dia lalu mengusap pipi istrinya, untuk membangunkan.
"Sayang, bangun. Solat subuh dulu! Setelah solat kamu bisa lanjutkan tidurnya," ucap Farhan.
"Mas, kepalaku pusing. Aku tidur sebentar lagi, ya?" Rachel memohon pada Farhan.
"Pusing banget, Chel?" tanya Farhan, lalu memegang dahi Rachel istrinya.
Farhan kaget dan kuatir saat memegang dahi istrinya yang terasa sangat panas. Pria itu lalu duduk di tepi ranjang.
"Sayang, kamu demam. Kita ke rumah sakit ya. Tunggu aku solat sebentar. Aku akan minta supir siapkan mobil," ucap farhan.
"Mas, aku nggak apa-apa, kenapa harus ke rumah sakit?" tanya Rachel dengan suara pelan.
"Nggak apa-apa gimana, Chel? Badan kamu panas begini. Aku keluar dulu, minta supir segera siapkan mobil," ucap Farhan.
Farhan langsung keluar dari kamar dan mencari supir mereka. Dia minta disiapkan mobil buat ke rumah sakit.
Setelah solat subuh , Farhan membantu Rachel mengganti pakaiannya. Lalu menggendong istrinya menuju mobil yang berada di lantai paling bawah gedung apartemen ini.
Farhan meminta supir sedikit cepat mengendarai mobil menuju rumah sakit. Farhan sangat takut terjadi sesuatu dengan istrinya itu.
"Chel, apa yang kamu rasakan saat ini?" tanya Farhan.
"Pusing dan mual, Mas. Aku rasanya ingin muntah," ucap Rachel yanga berada dalam pelukan Farhan.
"Kalau mau muntah, jangan ditahan. Muntah saja, Sayang," ucap Farhan sambil memijat dahi istrinya.
Rachel yang sudah tak bisa menahan mualnya, akhirnya muntah di perut Farhan. Pria itu membiarkan istrinya mengeluarkan isi perutnya. Setelah melihat Rachel sedikit tenang, barulah dia mengambil tisu dan membersihkan bibir istrinya.
Farhan juga membersihkan pakaiannya. Dia menyandarkan tubuh Rachel di sandaran jok mobil. Lalu membuka pakaiannya dan menggantikan dengan pakaian yang ada di mobil.
Farhan memang selalu menyediakan baju ganti di dalam mobil. Untuk persiapan jika suatu waktu harus ke luar kota atau meeting mendadak.
"Chel, gimana sekarang? Masih mau muntah lagi?" tanya Farhan dengan tangan yang terus memijat dahi Rachel.
"Maaf, Mas," ucap Rachel pelan, dia merasa bersalah karena muntah dibaju suaminya.
__ADS_1
"Maaf untuk apa?" tanya Farhan.
"Maaf, karena aku tadi muntah di perut Mas."
"Nggak apa, Chel. Jangan dipikirkan," ucap Farhan dengan lembut. Farhan kembali membawa Rachel ke dalam pelukannya.
"Pak, bisa lebih cepat lagi!" ucap Farhan, dia sangat kuatir melihat wajah Rachel yang terlihat pucat.
Mobil Farhan yang ssat ini dikendarai supir mulai memasuki area rumah sakit. Dia segera turun menggendong tubuh Rachel menuju ruang unit gawat darurat rumah sakit itu.
Setelah Rachel dibaringkan di salah satu tempat tidur di ruang UGD, salah seorang dokter datang memeriksa. Farhan diminta menunggu diluar ruangan. Pria itu tampak mondar mandir depan ruangan menunggu dokter selesai melakukan pemeriksaann di tubuh istrinya itu.
Setengah jam menunggu, akhirnya pintu ruang periksa Rachel terbuka. Tampak dokter keluar dari ruangan itu.
"Dokter, bagaimana istri saya? Apa yang terjadi Dengannya?" tanya Farhan kuatir.
"Bapak jangan kuatir ...."
"Bagaimana saya nggak kuatir dokter. Istri saya sedang sakit, " ucap Farhan memotong ucapan dokter.
"Bapak, dengar dulu ucapan saya. Istri bapak hanya demam. Itu semua terjadi karena perubahan hormon tubuh yang biasa terjadi pada awal kehamilan ...," ucap Dokter menjelaskan.
"Ya, menurut pemeriksaan awal istri Bapak sedang hamil muda. Tapi hasil pastinya sebentar lagi diberikan, menunggu hasil periksa darahnya dari labor," ucap dokter lagi.
"Baiklah, Dok. Apa yang sebaiknya saya lakukan, Dok?" tanya Farhan gugup.
"Bapak ke bagian administrasi saja untuk melakukan pendaftaran rawat inap. Biar istri Bapak bisa kami pindahkan ke ruang perawatan," ujar Dokter.
"Baik, Dok. Terima kasih" ucap Daniel menyalami Dokter.
Setelah itu dengan tergesa dia menuju administrasi untuk mengurus semuanya.
Rachel dipindahkan ke ruang VVIP sesuai permintaan. Farhan membantu perawat mendorong tempat tidur Rachel menuju ruang yang telah dipilihnya.
Sambil mendorong tempat tidur Rachel, Farhan terus menggenggam tangan kiri istrinya yang bebas dari selang infus. Sampai diruang perawatan pria itu menggendong istrinya agar pindah ke tempat tidur yang ada disana.
Setelah para perawat keluar dari ruangan, Farhan duduk disamping tempat tidur Rachel dan mengecup tangan istrinya.
__ADS_1
"Mas, aku sakit apa?" tanya Rachel sambil memandang heran ke arah suaminya yang terus tersenyum.
"Sakitnya kamu itu karena perbuatan aku," jawab Farhan dengan senyum jahilnya.
"Sakit karena perbuatan, Mas? Emang Mas melakukan apa? Aku rasa tidak ada yang Mas lakukan," ucap Rachel.
"Kamu tuh sakit karena juniorku yang bersarang di goa kamu," ucap Farhan tersenyum.
"Jangan becanda, Mas. Aku sakit apa sebenarnya?" tanya Rachel lagi.
Farhan mendekati wajah Rachel dan mengecup seluruh bagian diwajah istrinya. Wanita itu semakin heran melihat suaminya. Tadi di mobil dia tamlak sangat kuatir melihat dirinya muntah, tapi sekarang malah kelihatan senang.
"Sayang, terima kasih karena telah menjadi istriku yang sabar. Kamu sekarang sedang mengandung benih cinta kita," bisik Farhan.
"Maksud Mas aku saat ini sedang hamil?" tanya Rachel kaget.
"Iya Rachel, Sayang," ucap Farhan dan kembali mengecup bibir istrinya.
Rachel bahagia mendengar kabar jika dirinya saat ini sedang mengandung benih yang ditanamkan Farhan. Air matanya tanpa sadar menetes.
"Sayang, kok menangis. Kamu nggak bahagia mendengarnya?" tanya Farhan.
"Ini tangis bahagia, Mas. Aku senang bnaget mendengarnya," ucap Rachel sambil menangis.
"Kamu harus janji, Chel, akan menjaga benih cinta kita bersama-sama. Mulai hari ini kamu tak boleh kecapekan. Kamu nggak boleh kemana mana tanpa aku. Kamu juga tak boleh makan sembarangan, kamu nggak boleh ...."
Ucapan Farhan terhenti karena mulutnya ditutup Rachel.
"Udah, Mas. Banyak banget sih larangannya," ucap Rachel memotong ucapan Farhan.
"Sayang, ini semua demi kebaikan kamu dan calon bayi kita."
"Tapi bukan berarti aku nggak boleh melakukan apa-apa, Mas!" ucap Rachel dengan penuh penekanan.
"Chel, sebenarnya sejak kita menikah aku telah membeli rumah. Sebentar lagi renovasi rumah itu juga selesai. Kita pindah bertepatan dengan acara empat bulanan kehamilan kamu aja. Bagaimana menurut kamu, Sayang?" tanya Farhan.
Rachel tidak tahu harus berkata apa. Dia sangat bahagia. Namun, Rachel takut jika kebahagiaan ini hanyalah sementara .
__ADS_1
...----------------...