
"Kayaknya mogok,"
Jawaban dari Gafi membuat Dita menatap malas pada suaminya, ia memilih keluar dari mobil tersebut dengan menggenggam handphonenya disusul Gafi.
"Udah gak ada sinyal, mana daerah sini nggak ada orang yang bisa diminta in tolong," protes Dita duduk di depan mobil dengan mengibaskan handphonenya berharap ada sinyal disana.
"Maaf, aku lupa ngecek mobilnya," ujar Gafi ikut duduk disamping Dita.
Gafi tampak merasa bersalah, semua rencana bulan madunya harus lambat dijalan karena ini. Dita yang melihat itu hanya mengelus bahu suaminya dan masih berharap akan ada sinyal yang setidaknya nyasar ditempat itu bersama mereka.
"Kira-kira kalau kita jalan ke depan buat ke jalan raya, jauh nggak?" tanya Dita pada suaminya.
"Satu jam jalan kaki? Kamu bisa? Kita coba aja telpon pihak bengkel terdekat kalau ada sinyal, atau nunggu mobil lain yang lewat untuk minta pertolongan," jawab Gafi.
"Emang Kakak nggak bawa alat-alatnya?"
tanya Dita. Gafi menggeleng.
Melihat hal itu Dita hanya menggeleng maklum, kemudian menyandarkan kepalanya ke bahu dan meletakkan handphonenya disamping sana. Wanita itu sesekali mengedarkan pandangannya ke kiri dan ke kanan berharap ada sesuatu yang menarik sampai ia menemukan tanaman anggur di semak belukar.
Melihat itu Dita menunjukkan mata berbinar kemudian masuk kedalam mobil mengambil antiseptik untuk makanan.
"Mau kemana?" tanya Gafi pada Dita
Dita hanya menarik tangan Gafi mengikutinya, sehingga mau tidak mau pria itu harus mengikuti istrinya itu.
"Ambil in," pinta Dita pada Gafi karena memang dia tidak bisa menggapai buah anggur tersebut.
Gafi yang melihat hal itu kemudian segera meraih buah anggur yang berwarna ungu dan menyerahkannya ke Dita. Dia semakin berbinar menatap buah anggur ditangannya dan menyemprotkan antiseptik yang dia bawa tadi.
Disaat sedang asyik memakan buah anggur, Gafi tiba-tiba menarik Dita sehingga wajah wanita itu yang sedang memakan anggur tersebut menghadap ke suaminya. Dia yang sibuk dengan anggurnya hanya menatap pria itu sekilas kemudian menaikkan alisnya.
"Mau?" tawar Dita hendak menyuapkan satu buah anggur pada suaminya.
Gafi hanya menggeleng pelan kemudian memberi kode kepada Dita yang membuatnya sedikit bingung. Pria itu yang sudah kehabisan akal memberi ide, langsung menyambar bibir istrinya untuk membagi anggur yang sedang dimakannya.
Dita yang mendapat perlakuan seperti itu tidak membalas ciuman Gafi, ia memilih mengalungkan tangannya dileher sang suami kemudian memejamkan matanya sekilas.
"Mesum," ucap Dita saat Gafi melepas ciumannya.
__ADS_1
"Biarin, Mesum sama istri sendiri, lagian disini gak ada siapapun," jawab Gafi kembali merangkul Dita.
Disaat mereka berdua melanjutkan romantisme ditengah pepohonan tersebut, tiba-tiba hujan turun dengan deras. Membuat Dita dan Gafi bergegas masuk kedalam mobil mereka.
"Huft!" Dita meniup tangannya karena kedinginan akibat sedikit basah terkena hujan. Gafi yang melihat itu segera mengambil selimut kecil dari dashboard atas dan menyelimuti tubuh istrinya itu.
"Dingin yah?" tanya Gafi dan beralih mengambil tangan istrinya kemudian menggosoknya perlahan.
"Masih dingin?" tanya Gafi lagi.
Dita hanya mengangguk sembari menatap Gafi. Pria itu melepas jasnya dan kemejanya kemudian menempelkan telapak tangan wanita itu di dadanya sebelum mendekap erat tubuh istrinya untuk memberikannya kehangatan.
"Masih dingin?" tanya Gafi mengelus rambut Dita.
Dita hanya terdiam sembari membenamkan kepalanya di dada Gafi yang bidang, merasakan kehangatan dari tubuh suaminya itu.
"Maafin aku, yah. Ini semua gara-gara aku." Gafi menyesali permintaan bulan madu yang membuat mereka terjebak di situasi seperti ini.
"Aku tak apa-apa kok, cuma pengen tidur aja di pelukan Kak Gafi, boleh?" tanya Dita dengan mendongak menatap wajah suaminya.
Gafi hanya tersenyum kemudian semakin erat memeluk tubuh istrinya yang perlahan mulai tertidur. Tidak dirasa suasana yang hening membuat Gafi juga ikut tertidur ditengah suasana hujan seperti ini.
"Iseng," keluh Gafi membuka sebelah matanya. Dita terkekeh kemudian memperbaiki duduknya.
"Kak?"
"Hamm?"
"Laper," rengek Dita pada Gafi.
"Okey mau apa? Burger? Pizza? Atau jus jeruk? Kita bisa memesan online saja dan memberi alamat untuk mengantarnya ditengah hutan seperti ini," jawab Gafi mengecek handphonenya yang masih saja belum ada sinyal.
Gafi beralih menyalakan lampu mobilnya agar memberi sedikit penerangan, karena handphonenya yang mulai kehabisan baterai. Dita hanya memajukan bibirnya setengah senti mendengar jawaban suaminya itu yang membuat Gafi mencubit gemas pipi istrinya.
"Hanya ada ini, makan snack aja kalau gitu," saran Gafi hendak mengambil kantong snack di jok belakang.
Dia menyodorkan ke istrinya. Dengan segera Dita memilih makanan yang dia suka dan melahapnya dengan cepat. Tampak sekali dia lapar.
"Mau?" tawar Dita menatap dengan mata poppy eyes suaminya.
__ADS_1
Gafi tersenyum dan mengacak rambut istrinya. "Gak,"
Mendapat penolakan Dita lebih memilih melanjutkan memakannya sampai habis yang membuat Gafi bertambah gemas dibuat istrinya itu.
"Makannya sampai belepotan," Gafi mengelap pinggir bibir Dita dengan tangannya yang langsung turun mengelus dagu istrinya. "Kadang aku bingung, kenapa kamu bisa jatuh cinta denganku. Aku bahagia banget bisa jadi suamimu,"
"Aku juga!" jawab Dita
"Serius?" tanya Gafi.
"Gak,"
"Ya, kok gitu jawabnya," ujar Gafi dengan cemberut. Dita tertawa dan memajukan kepalanya ke depan kepala Gafi dan menyatukan kening mereka.
"Definisi bahagia aku itu adalah, Kakak," bisik Dita sensual yang membuat Gafi menatapnya tanpa terpejam.
"Kamu serius dengan ucapanmu?" tanya Gafi.
Dita menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Gafi menatap wajah istrinya dengan intens. Hampir lama mereka dalam posisi seperti ini. Sebelum akhirnya Dita kembali membuka suara untuk memecahkan keheningan diantara mereka berdua.
"Kak," panggil Dita
"Iya!"
"Ngantuk," ujar Dita lagi.
Gafi tersenyum dan melepaskan posisi mereka kemudian beralih ke jok belakang yang ia luruskan ke belakang sehingga membentuk tempat tidur.
"Sini," ajak Gafi melepas kemejanya yang menyisakan kaos putih sebagai dalaman.
Dita mengangguk kemudian beranjak menyusul suaminya yang sudah menyiapkan lengannya untuk dijadikan bantal.
"Hangat?" tanya Gafi menghadap Dita yang sudah tidur dalam ringkuhannya.
"Iya," jawab Dita memainkan jari-jarinya di perut sixpack suaminya.
"Selamat tidur, Kesayangan," bisik Gafi dan mengecup dahi Dita.
...----------------...
__ADS_1