
Alya menatap wajah Axel dengan tersenyum. Tampak menarik napas berat, dia lalu memilih duduk di samping keponakannya itu.
"Kak Gafi akan menikah dengan Dita," jawab Alya dengan suara pelan.
Axel merasa kebingungan dan terkejut ketika ia mendengar kabar yang cukup mengejutkan tentang sepupunya, Gafi, yang akan segera menikah dengan Dita. Ia tidak menyangka bahwa kabar tersebut akan tiba-tiba muncul, karena selama ini ia tidak pernah mendengar kabar mengenai Gafi akan segera menikah dengan siapa.
"Dita ... secepat ini?" tanya Axel dengan gugupnya.
Bukan saja Axel yang terkejut, tapi juga mamanya, Rachel. Wanita itu langsung meremas tangannya, tidak percaya dengan pendengarannya.
"Jika itu niat baik, bukanlah harus dipercepat?" tanya Alya lagi.
"Bukankah Dita masih kuliah?" Axel balik bertanya.
"Dita akan tetap melanjutkan kuliahnya, tapi mungkin akan pindah ke sini," jawab Alya.
Axel lalu berdiri. Tampaknya dia akan pergi. Dia lalu pamit pada semuanya.
__ADS_1
"Maaf Mama Alya, aku harus menjemput Lisa. Nanti aku langsung ke rumah Dita saja," ucap Axel.
Dia langsung berjalan keluar. Rasanya tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Axel langsung melarikan mobilnya ke kos Lisa. Sejak kuliah, gadis itu memutuskan kos di dekat kampus agar tidak jauh.
Saat sampai di kamar kos, Axel yang ingin mengetuk pintu kamar kekasihnya mengurungkan niatnya. Dia mendengar obrolan yang sangat menyakitkan hatinya.
"Jadi kamu mau menjadi kekasih Axel hanya karena dia calon pewaris tunggal dari perusahaan orang tuanya?" tanya teman satu kamar Lisa yang bernama Desy.
"Tentu saja. Aku bersabar dengannya selama ini, hanya agar dapat menikah. Setelah menikah, aku bisa berfoya-foya dengan uangnya. Sekarang saja, dia begitu royal dalam memberikan uang, apa lagi nanti setelah jadi CEO. Aku akan porotin dia," ucap Lisa dengan tertawa.
Dengan langkah pelan, Axel meninggalkan kamar kos Lisa. Dia takut kekasihnya tahu kehadiran dirinya.
Axel mengendarai mobil menuju rumah Dita. Tampak sedikit keramaian. Axel langsung masuk setelah mengucapkan salam.
"Axel, mana yang lainnya?" tanya Yuni heran.
"Masih di rumah Mama Alya, Tante."
__ADS_1
"Oh, Tante kira sudah pada datang semuanya. Padahal janjinya jam delapan. Ini baru jam tujuh. Dita juga belum selesai," ucap Yuni lagi.
"Tante, aku mau minta izin bertemu Dita. Apa boleh, Tante?" tanya Axel.
"Ketemu Dita?" Bukannya menjawab pertanyaan Axel, Yuni bahkan memberikan pertanyaan.
"Tante, aku hanya ingin bicara sebentar. Aku tidak akan menyakiti atau mengganggu Dita," ucap Axel.
Yuni hanya bisa menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Axel langsung berlari menuju ke lantai atas. Dia telah hafal di mana kamar gadis itu.
Sampai di depan kamar Dita, Axel yang melihat kamar itu terbuka langsung masuk. Dia menatap Dita yang sedang merias wajahnya. Dita tampak sangat cantik. Gadis itu akhirnya menyadari kehadiran sahabatnya itu dari kaca.
"Apa kamu memang tidak menganggap aku lagi, Dita? Sehingga hari bahagiamu saja, tidak kau kabari. Apa begitu besarnya rasa bencimu itu padaku? Bukankah kau mengatakan telah memaafkan aku?"
Axel memberondong Dita dengan banyak pertanyaan. Rasanya hatinya dua kali diremukan hari ini. Setelah mengetahui kenyataan jika Dita akan menikah dengan sepupunya Gafi, dia juga harus menerima kenyataan jika gadis yang telah dia cintai selama hampir tiga tahun, telah membohonginya. Rasanya dunia Axel runtuh seketika.
...----------------...
__ADS_1