TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 5 S2. Kesedihan Dita


__ADS_3

Axel pulang ke rumah dengan senyum semringah. Rachel yang melihat putranya itu menjadi penasaran. Kenapa anaknya begitu terlihat bahagia?


"Sepertinya anak mama lagi bahagia, nih!" ucap Mama Rachel sambil menyiapkan makan buat Axel.


"Ibu benar, hari ini aku bahagia banget, karena sesuatu yang aku simpan dan pendam telah aku nyatakan!" ucap Axel dengan tersenyum.


"Apa mama boleh tahu? Apa yang membuat kamu sebahagia ini?" tanya Mama Rachel.


"Tadi aku menyatakan cinta dengan gadis inceranku dan dia membalasnya. Dia menerima cintaku," ujar Axel dengan suara yang begitu bahagianya.


Rachel menghentikan kegiatannya mendengar ucapan sang putra. Pikirannya langsung tertuju pada Dita. Sebagai seorang wanita, dia tahu jika putri Yuni dan Reno itu menyimpan perasaan cinta untuk putranya.


Jika saja dia bisa mengatur hati sang putra, pasti Rachel akan meminta pada Axel untuk menerima Dita. Dia tahu bagaimana gadis Itu. Dita seorang gadis yang baik, ramah dan lembut. Cocok dengan putranya yang sedikit keras kepala.


"Apa Dita melihat dan mengetahui itu?" tanya Rachel.


"Mungkin dia melihatnya karena aku menyatakan cinta di lapangan. Lagi pula apa hubungan aku menyatakan cinta dengan Dita, Ma. Dia bukan pacarku!" ucap Axel kurang suka dengan pertanyaan mamanya.


"Kamu pasti tahu, tidak ada pacaran dalam islam, Nak!" Rachel berusaha mengingatkan putranya.


"Jika aku dekat dengan Dita, kenapa mama maupun papa tidak melarang. Dia juga wanita. Apa benar gosip yang mengatakan jika Mama, papa, dan Tante Yuni serta Om Reno telah sepakat ingin menjodohkan aku dengan Dita?" tanya Axel kurang suka.


Rachel menghela napas dalam. Putranya sedikit keras kepala. Dia harus menghadapi dengan kelembutan agar bisa luluh. Apa lagi masa remaja saat ini masa di mana anak-anak sedang mencari jati dirinya.


Masa remaja adalah masa transisi yang ditandai oleh adanya perubahan fisik, emosi dan psikis. Masa remaja yakni antara usia 10-19 tahun, adalah suatu periode masa pematangan organ reproduksi manusia, dan sering disebut masa pubertas.


Pubertas adalah periode dalam rentang perkembangan ketika anak-anak berubah dari makhluk aseksu*l menjadi makhluk seksu*l. Kata pubertas berasal dari kata latin yang berarti “usia kedewasaan”. Kata ini lebih menunjukkan pada perubahan fisik daripada perubahan perilaku yang terjadi pada saat individu secara seksu*l menjadi matang dan mampu memperbaiki keturunan.


"Siapa yang mengatakan jika kami menjodohkan kamu dan Dita. Zaman sekarang tidak ada yang namanya perjodohan, semua tergantung kamu. Yang akan hidup denganmu, adalah pilihanmu sendiri," ucap Rachel dengan lembut.


"Banyak keluarga mengatakan itu. Ma, aku lapar, apa makanannya sudah siap?" tanya Axel mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Makanlah, mama mau mandi dulu," ujar Rachel. Dia meninggalkan putranya sendiri.


Rachel mengambil ponselnya. Mencoba menghubungi Dita, tapi ponselnya tidak aktif. Wanita itu lalu menghubungi Yuni, bertanya tentang putrinya.


"Apa aku bisa bicara dengan Dita, Yun?" tanya Rachel setelah mengucapkan salam.


"Dari pulang sekolah dia tidur, ada apa Chel?" tanya Yuni penasaran.


"Tak ada apa-apa, aku hanya ingin mengobrol. Tadi mencoba menghubungi tapi tidak aktif," ujar Rachel.


"Dia selalu begitu, kalau tidur ponselnya dimatikan," jawab Yuni.


"Nanti kalau sudah bangun, tolong katakan Mama Rachel sudah kangen sama anak gadisnya. Pengin tidur bareng," ujar Rachel.


"Nanti aku sampaikan. Salam untuk Farhan dan Axel," ucap Yuni sebelum menutup ponselnya.


Yuni menjadi heran dengan sikap Rachel. Tidak biasanya dia telepon. Jika merindukan Dita, dia biasanya langsung ke rumah dan membawa pergi.


Dengan melangkah pelan, takut membangunkan putrinya. Yuni mendekati Dita. Tampak di wajah Dita sisa air mata yang membasahi pipi. Sebagai seorang ibu, Yuni sangat kuatir. Dia membangunkan anak gadisnya itu.


"Sayang, sudah jam enam. Kamu tak mandi?" tanya Yuni dengan lembutnya.


Dita mencoba membuka matanya. Saat melihat ibunya, Dita bangun dan memeluk erat Yuni. Saat ini yang dia butuhkan pelukan.


"Anak Ibu kenapa?" tanya Yuni dengan lembut.


Dita merenggangkan pelukanmya. Dia berusaha tersenyum, walau sangat berat. Yuni melihat mata putrinya bengkak, jelas sekali jika dia habis menangis.


"Ada apa, kenapa kamu menangis?" tanya Yuni.


"Siapa yang bilang aku menangis, Ma?" Dita bukannya menjawab pertanyaan, justru balik bertanya.

__ADS_1


Yuni tersenyum dan mengusap kepala putrinya itu. Dia tidak ingin berpikir buruk. Lebih baik bertanya langsung penyebab putrinya menangis.


"Aku ini ibumu, Nak. Aku bisa melihat semua tentangmu. Aku tahu apa yang kau pikirkan.


"Maksud Ibu, apa?" tanya Dita lagi.


Yuni menyimpulkan pasti ada sangkut pautnya dengan Axel putranya Rachel. Dia makin yakin setelah Rachel Menghubunginya.


"Benar, Bu. Aku tak apa-apa. Kenapa ibu berpikir begitu?" Kembali Dita bertanya.


"Ini tentang Axel, benar bukan?" tanya Ibu lagi.


"Bukan, Bu." Dita menjawab dengan menunduk. Dia tidak berani menatap wajah ibunya. Gadis itu selama ini tidak pernah berbohong dengan ibunya. Kali ini dia harus melakukan itu.


"Sayangnya kamu tidak pintar berbohong. Matamu bengkak, suara serak, itu juga sudah pertanda kamu habis menangis. Kamu juga berkata bohong, buktinya tidak berani menatap ibu," ucap Yuni.


Dita tidak bisa lagi menutupi kebohongannya. Dia memeluk ibunya dan menumpahkan tangisnya.


"Ternyata sakit jika mencintai seseorang tapi orang itu tidak pernah menganggap kita ada," ucap Dita.


"Apa yang terjadi, Nak?" tanya Yuni dengan mengusap punggung putrinya.


"Tadi Axel menyatakan cinta dengan gadis lain. Dia cantik, pantas Axel memilihnya!" ucap Dita terbata di sela isak tangisnya.


"Kamu juga cantik. Axel tidak menyadari itu karena sering bersama. Suatu saat nanti, dia pasti akan menyadari kehadiranmu. Iklaskan semua yang terjadi. Sekuat apa pun kamu menggenggam jika dia bukan milikmu, pasti akan terlepas juga. Dan sejauh apa pun dia pergi menjauh, jika dia jodohmu, pasti akan kembali lagi," ucap Yuni.


Dita hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dasi ucapan ibunya. Yuni menghapus air mata yang menetes di pipi putrinya. Dalam hatinya juga hancur melihat putrinya bersedih, tapi cinta tidak bisa dipaksakan. Apa lagi ini juga bukan salah Axel, antara Dita dan Axel tidak ada ikatan apa pun juga.


"Yakin bahwa setiap yang patah akan tumbuh. Yang hilang akan diganti dengan yang lebih baik. Setiap luka akan sembuh dengan sendirinya. Waktu yang nanti akan menyembuhkannya. Dan yakin bahwa setiap sulit, Tuhan akan bersamai setiap kesulitan itu dengan selaksa kemudahan. Tak ada yang perlu dikuatirkan. Kita hanya perlu baik-baik sangka sama Tuhan."


Yuni menasihati putrinya. Setelah itu meminta Dita mandi. Dia harus segera makan agar tidak sakit.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2