
Ibu Yuni masuk ke kamar putrinya. Melihat Axel yang telah bersiap ke luar kamar, dia lalu tersenyum.
"Maaf, Axel. Seluruh keluarga kamu telah datang. Tante ingin mengingatkan Dita agar lebih cepat dandannya," ucap Yuni.
"Aku juga sudah selesai mengobrolnya. Maaf karena aku, Dita jadi telat dandannya," ucap Axel.
"Baiklah. Dita dipercepat ya, Nak. Setelah itu langsung ke ruang keluarga semua telah menunggu," ujar Yuni.
"Iya, Bu. Aku hanya tinggal ganti baju saja," jawab Dita.
"Ibu langsung ke lantai bawah," pamit Ibu.
"Iya, Bu." Dita menjawab dengan singkat.
Axel dan Yuni menuruni tangga secara bersamaan. Langkah kaki Axel yang tampak berat dan raut wajah yang murung, membuat Yuni bertanya. apa yang terjadi dengannya. Matanya juga tampak merah menahan air mata. Sampai di ruang keluarga keduanya bergabung dengan keluarga lainnya.
**
Rumah Dita dipenuhi oleh hiruk pikuk persiapan lamaran. Gafi dan keluarganya telah tiba dan menunggu Dita . Mereka mengobrol dan menikmati secangkir kopi, meskipun Gafi terlihat sangat gugup, dia mencoba menyembunyikan perasaannya.
__ADS_1
"Apa kamu sudah siap?" tanya Mama Alya dengan berbisik.
"Sudah, tapi aku merasa gugup sekali, Ma," jawab Gafi.
"Tenang saja," ujar Mama Gafi yang memberikan dukungan. "Mama yakin semua akan berjalan dengan lancar."
Sementara itu, Dita sedang bersiap-siap di dalam kamarnya. Ia memeriksa riasan dan gaunnya. Ia sangat senang karena hari ini akan menjadi hari yang istimewa dalam hidupnya. Dia sangat mencintai Gafi, dan ia yakin Gafi adalah jodohnya.
Dita turun dari lantai dua menuju ruang keluarga. Semua mata menatap Dita tanpa kedip, Gadis itu sangat cantik dengan gaun putihnya.
Dita menyalami satu persatu tamu yang hadir. Saat menyalami Mama Rachel, wanita itu tampak menahan air mata. Dita tahu, pasti Rachel kecewa dengan diirnya. Setelah semua disalami termasuk Axel, Dita duduk di antara kedua orang tuanya.
Axel melirik terus ke arah Dita. Gadis itu memang tampak berbeda. Dia sangat cantik.
"Belum, tapi saya akan melakukan hal itu sebentar lagi," jawab Gafi.
Gafi tampak gugup, kakinya gemetar saat salah satu keluarga Dita mengatakan acara akan di mulai. Dita tersenyum, karena dia tahu bahwa saat itulah momen lamaran dimulai. Semua orang yang hadir mulai mengambil posisi mereka, menunggu momen yang ditunggu-tunggu itu terjadi.
Gafi bangkit dari kursinya dan meminta semua orang untuk berdiri. Dita pun melihat Gafi yang sudah menggenggam kotak kecil di tangannya. Dia tahu, di dalam kotak itu, ada sesuatu yang akan mengubah hidupnya selamanya.
__ADS_1
"Dita," ujar Gafi seraya menyembunyikan gugup-nya, "Sudah lama saya ingin mengatakan ini kepadamu. Sejak kita pertama kali bertemu, saya tahu bahwa kamu adalah orang yang spesial. Saya bersyukur bisa berada di sini saat ini, dan saya ingin meminta sesuatu yang sangat penting dari kamu."
Ketika Gafi membuka kotak itu, ada cincin yang bersinar di dalamnya. Semua orang yang hadir melihatnya dengan bahagia dan riang. Dita amat terharu, air matanya menetes ketika ia melihat Gafi memasang cincin itu di jarinya.
"Dita," lanjut Gafi, "Aku ingin kau menjadi istriku. Aku tahu masih banyak hal yang harus kita lewati bersama, tetapi aku ingin kita melakukannya bersama."
Dita menatap Gafi dengan tulus, "Tentu saja saya bersedia menjadi istrimu, Kak Gafi. Saya sekarang terlihat bahagia lebih daripada kata-kata yang bisa saya katakan."
Semua orang di ruangan tercengang dan tersenyum karena kebahagiaan. Keluarga Gafi sangat bahagia dan memeluk Dita. Mereka merencanakan pesta akad dan resepsi yang menyenangkan nanti.
Dita dan Gafi saling memandang dan tersenyum satu sama lain. Mereka merasa seperti satu-satunya pasangan di dunia..
"Kita melakukan ini untuk selamanya," ucap Gafi.
"Ya, selamanya," balas Dita.
Semuanya bersorak dan merayakan lamaran Gafi dan Dita. Tidak ada yang lebih bahagia dari ini, dan mereka menunggu dengan sabar untuk memulai babak baru dalam hidup mereka sebagai suami dan istri.
Hanya Axel dan Rachel yang tidak tersenyum. Keduanya tampak sedikit sedih.
__ADS_1
"Ya Allah, sebenarnya aku tidak ingin bersedih. Sebenarnya aku ingin terlihat kuat. Tapi entah mengapa, hari ini aku merasa sangat lemah. Bahkan rasanya ingin menangis, aku juga tidak tahu apa yang membuat aku ingin menangis. Ingin sekali bercerita, tapi tidak tahu harus cerita sama siapa ...? Ya Allah kuatkanlah aku, jika aku rapuh peluklah aku, dan jika aku lemah berikanlah kekuatan pada hatiku ini. Aku tahu semua salahku, aku ingin berubah. Mungkin semua ini balasan atas semua perbuatanku pada Dita," ucap Axel dalam hatinya.
...----------------...