TAK SEINDAH SURGA S1/S2

TAK SEINDAH SURGA S1/S2
Bab 73 S2. Kesadaran Gafi


__ADS_3

Syifa tersipu malu saat Dita bertanya. Dia lalu memandang ke arah Axel. Pria itu hanya menunduk. Tidak membantu memberikan jawaban. Dita lalu memandangi keduanya dengan bergantian.


"Sudahlah ...! Tidak perlu di jawab. Aku sudah tahu jawabannya," ucap Dita dengan tersenyum.


Syifa kebetulan masih libur kuliah, sehingga dia yang akan menjaga Dita selama satu minggu ini. Dia meminta Yuni dan Reno istirahat di rumah saja.


Kedua orang tua Dita merasa bersyukur putrinya memiliki sahabat sebaik Syifa. Dia sangat perhatian dan telaten dalam menjaga Syifa.


Tiga hari sudah Syifa menjaga Dita. Setiap hari dia dan Axel yang mengantar Dita bertemu Gafi. Keadaan suami Dita itu semakin membaik.


Seperti hari sebelumnya, Dita menjenguk suaminya. Alya sang mertua masih setia menunggu di depan ruang ICU.


"Ma, aku mau masuk. Bagaimana keadaan Kak Gafi, Ma?" tanya Dita sebelum masuk ke kamar.


"Sudah semakin membaik. Kita hanya menunggu dia sadar saja, Nak," jawab Alya dengan lembut.


"Ma, Pa, aku masuk dulu. Mau menjenguk Kak Gafi."


"Silakan, Nak. Sejak kamu sering menjenguk, kesehatannya semakin membaik," ucap papanya Gafi.

__ADS_1


"Itu semua berkat doa kita bersama, Pa," jawab Dita.


Kedua orang tua Gafi tersenyum dan memandang dengan penuh kasih sayang. Mereka menyayangi Dita sama seperti putranya.


Dita masuk ditemani Syifa. Dia memegang dan mencium tangan suaminya.


"Kak, aku datang lagi. Aku akan datang terus dan menemani Kak Gafi hingga Kakak membuka mata," ucap Dita.


Dita mendekati wajah Gafi, mengelus dengan lembut. Luka ditubuhnya sudah mulai mengering.


"Hiduplah lebih lama, Sayangku. Kamu harus kembali sehat. Kamu harus selalu kuat untuk melindungi aku yang lemah ini. Bawa aku dalam setiap bahagiamu dan juga sakitmu. Karena sakitmu adalah sakitku juga. Hiduplah lebih lama denganku hingga kita menua, karena setelah menikah kamulah duniaku. Ternyata yang bikin berat dan nyesek itu bukan rindu, tapi ketika tahu seseorang yang kita sayangi sakit tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya lewat doa yang bisa aku panjatkan agar kamu kembali sehat dan baik-baik saja, Sayang," ucap Dita pelan sambil menahan air matanya.


"Sayang, kamu telah sadar. Syifa, lihatlah jari tangan Kak Gafi bergerak," ucap Dita.


Syifa mendekat dan melihat jari tangan Gafi memang bergerak. Dia lalu memeluk Dita.


"Iya, Dit. Kak Gafi sadar. Tangannya bergerak. Alhamdulillah ...," ucap Syifa dengan suara terbata karena menahan tangis.


Dita memeluk pinggang Syifa yang berdiri di sampingnya. Tangisnya pecah dalam pelukan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Sayang, bukalah matamu. Ini aku di samping kamu," ucap Dita serak menahan tangis.


Dita melihat Gafi mulai membuka matanya. Dia tersenyum melihat kelopak mata suaminya membuka.


"Sayang ... kamu telah sadar," ucap Dita lagi.


Gafi menggerakan tangan dan mengangkatnya pelan ke udara.


"Sayang, kamu di mana. Kenapa di sini gelap? Aku di mana ini, Sayang. Apa mati lampu?" tanya Gafi pelan dan terbata.


Dita tampak terkejut mendengar ucapan suaminya itu. Dia memandangi Syifa, berharap sahabatnya dapat memberikan jawaban. Tubuh Dita terasa lemah, dia tidak ingin memikirkan hal buruk itu terjadi pada suaminya.


Dita menggenggam tangan suaminya. Lalu mengecupnya pelan.


"Sayang, ini aku. Kamu merasakan genggaman tanganku'kan," ucap Dita pelan. Dia merasakan dadanya sesak. Rasanya ingin berteriak dan menangis.


"Ya Allah, cobaan apa lagi ini? Apa mungkin penglihatan Kak Gafi terganggu," gumam Dita pada dirinya sendiri.


"Sayang, kenapa aku tidak bisa melihat cahaya sedikitpun. Semua gelap. Apa aku buta?" tanya Gafi pelan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2