
Wajah Andin terlihat pucat mendengar ucapan Reno. Tangannya tampak gemetar. Dia meremas jemarinya. Mia yang melihat perubahan pada temannya itu tampak kuatir. Lalu bangun dan memeluk tubuh Andin.
"Jika kami kau katakan mulut sampah, bagaimana dengan mulutmu. Ngomong tidak ada filternya. Apa untungnya jika kau mengatakan kebenaran itu? Mau mendapat simpati dari Farhan dan Rachel?" tanya Mia sambil memeluk tubuh Andin yang tampak melemah.
"Apa kau takut kebusukan Andin diketahui? Atau kau juga seperti dia?" tanya Reno.
Mia tampak emosi. Tangannya terangkat ingin menampar Reno. Namun, Reno cepat menangkapnya sehingga tangan itu tidak jadi mendarat dipipinya.
Melihat keributan itu Farhan dan Rachel berdiri. Dia tidak ingin nanti warga datang.
"Sudahlah Kak Reno! Jangan buat keributan. Kasihan arwah ayah dan ibu jika melihat ini," ucap Rachel.
Reno melepaskan cengkeraman di tangan Mia. Memandangi Rachel dengan wajah sendu, merasa sangat bersalah.
"Maaf Chel, maaf Han, aku tidak bermaksud membuat keributan. Aku mau pamit saja. Jika terus di sini aku takut tidak bisa menahan menahan emosi," ucap Reno.
Dia mengambil tasnya dan berjalan meninggalkan ruangan. Sebelum keluar dari pintu, Reno membalikkan tubuhnya.
__ADS_1
"Aku lupa ... Farhan, aku harap kamu bisa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi kemarin. Jangan lagi melakukan kesalahan yang sama. Lepaskan semua perasaanmu pada Andin, dia lebih tak pantas untukmu. Jika kau berpikir masa lalu Rachel hitam, lebih hitam lagi Andin," ucap Reno.
Rachel dan Farhan saling pandang. Mereka berdua langsung paham, berarti Reno tahu masa lalunya. Yang jadi pertanyaan, kenapa Reno bilang masa lalu Andin lebih hitam.
"Mas, kejar Kak Reno! Beri nasi kotak ini. Dia belum makan," ucap Rachel.
Farhan langsung mengambil sekotak nasi dan mengejar Reno. Beruntung mobilnya belum berjalan.
"Reno ...," teriak Farhan.
"Ada apa?" tanya Reno.
"Ini nasi untukmu, tadi nggak jadi makan."
"Terima kasih, maaf aku jadi mengganggu acaramu," ucap Reno.
"Aku yang seharusnya mengucapkan terima kasih karena kamu telah memberikan sesuatu untuk ayah dan ibu," ujar Farhan.
__ADS_1
Reno hanya tersenyum dan mengambil nasi kotak yang Farhan ulurkan.
"Farhan ingatlah, jika kau tidak bisa membuat istrimu tersenyum, jangan kau buat dia menangis. Bila kau tidak bisa membuatnya bahagia, jangan kau buat dia menderita. Jika kau tidak bisa memujanya, jangan kau mencelanya. Jika kau tak mampu membawanya ke surga, jangan jerumuskan ke neraka. Istrimu bukan pembantu yang hanya dibebankan kewajiban untuk melayanimu, tapi dia amanah yang memiliki hak atas dirimu. Hak bahagia dan dimuliakan. Jangan pernah membuat istrimu menangis lagi karena akan menyakitkan bila ada pria lain yang membantu mengusap air matanya," ucap Reno pelan.
"Terima kasih atas nasihatnya. Aku akan berusaha semampuku untuk membahagiakan Rachel. Terima kasih karena membantu Rachel kemarin. Aku nggak tahu jika dia sampai minta bantuan pria lain," ujar Farhan dengan tulus.
"Aku minta maaf karena tidak mengatakan keberadaannya padamu. Aku pamit dulu. Ingatlah kata-kataku tadi, jika Andin tidak sebaik yang kira. Jika kau berpikir Rachel tidak pantas untukmu, lebih tidak pantas lagi Andin. Kamu terlalu baik untuk wanita seperti Andin," ujar Reno.
"Aku sudah tahu semuanya," ucap Farhan lirih.
Reno yang akan menghidupkan mesin mobil menjadi kaget mendengar ucapan Farhan. Saat dia ingin bertanya lagi, Reno melihat keempat temannya keluar dari rumah. Sehingga pria itu mengurungkan niatnya bertanya lebih jauh lagi.
"Aku cabut dulu," ucap Reno dan langsung tancap gas meninggalkan halaman rumah Farhan.
"Andin, jika aku tadi mengurungkan niat untuk mengatakan semua kebenaran itu, bukan tanpa alasan. Aku hanya tidak ingin Rachel mengingat kembali masa lalunya. Aku takut dia juga merasa tersinggung jika mendengar aku mengatakan tentang klub. Tapi aku tidak akan membiarkan kamu mendekati Farhan dan menghancurkan rumah tangganya. Bagiku Rachel sudah seperti adikku sendiri," gumam Reno pada dirinya semdiri.
...----------------...
__ADS_1